KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 77


__ADS_3

"Terus, apa lagi yang terjadi?" Gadis itu sepertinya penasaran dengan kejadian beberapa tahun silam saat tidak ada dirinya.


"Aku menikah."


Tari tersenyum. "Jadi benar, Raka adalah jagoan kecilmu? Tadinya aku nggak percaya kamu sudah menikah. Ah ... lebih tepatnya nggak mau percaya."


"Raka adalah adikku," jelas Yoga singkat.


Loh, sudah jelas tadi Raka memanggilnya dengan sebutan papa. Kenapa Yoga mengakui Raka sebagai adiknya? Dahi Tari mengerut. Tidak mengerti apa yang diucapkan Yoga.


"Raka bukan darah dagingku, Tar." Seakan Yoga mengerti dengan kebingungan Tari.


"Ia anak kedua papa. Raka adalah adikku," imbuhnya. Namun, Tari masih tidak mengerti.


"Waktu itu, papa mabuk berat. Yang ada di pikirannya hanya kamu dan kamu. Papa selalu datang ke klub tempat kamu bekerja dulu. Dari cerita Om Beni, di klub itu papa tidak sengaja bertemu seorang wanita. Karena dalam pengaruh alkohol, ia mengira wanita itu adalah kamu, Tar. Tiba-tiba saja papa menghilang dari pengawasan Om Beni."


"Pagi harinya, papa pulang dengan penampilan yang menyedihkan. Seperti tidak terawat dengan baik. Brewok di wajah, pakaian yang tidak rapi. Badannya sangat kurus. Itu pertama kali aku bertemu papa lagi setelah berbulan-bulan." Tari masih setia mendengarkan cerita Yoga.


"Dua bulan kemudian, seorang wanita datang ke rumah. Ia meminta pertanggung jawaban atas perbuatan papa."


Pandangan Tari dan Yoga bertemu. Tari tahu apa yang dimaksud Yoga.


"Wanita itu hamil," ucapnya lirih.


"Mau tau siapa wanita itu?" tanya Yoga yang masih terus menatap mata Tari dengan sayu.

__ADS_1


"Sarah." Yoga menjawab pertanyaannya sendiri.


Tari menampakkan reaksi terkejut di wajahnya. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ya Tuhan, banyak sekali kejadian yang terjadi akibat ulahnya yang nekat pergi demi kebahagiaannya sendiri. Gadis biasa sepertinya, nyatanya berdamage besar bagi kehidupan Yoga dan Tuan Anton. Ia pikir dengan pergi menghilang Yoga dan papanya juga akan hidup tenang seperti dirinya. Namun pada kenyataannya, justru ia menghancurkan keduanya sekaligus.


"Papa yang berpikiran buntu bisanya hanya mabuk dan mabuk. Apalagi setelah mengetahui bahwa wanita yang ia tiduri tengah mengandung darah dagingnya. Papa tidak bisa menerimanya."


"Sampai suatu saat papa menyetir dalam keadaan mabuk dan terjadi kecelakaan hebat. Mobil papa terguling ke sungai hingga hancur mengakibatkan Om Beni meninggal dunia. Sedangkan papa, Ia mengalami luka berat di kepala."


"Papa menderita Amnesia retrograde. Papa tidak bisa mengingat sebagian memori masa lalunya."


"Ternyata itu alasan kenapa papih mengusirku?" Yoga mengangguk pelan.


"Maaf ya, papa udah berkata kasar sama kamu. Harusnya tadi aku bilang dulu keadaan papa. Jadi kamu nggak merasa sakit hati."


Tari mengangguk. Awalnya gadis itu merasa benar-benar sakit hati atas perlakuan Tuan Anton padanya. Namun setelah tau ada alasan kenapa Tuan Anton bertindak seperti itu, ia mencoba memaklumi.


"Hampir saja aku gila karena mendapat tekanan yang bertubi-tubi. Masih ingin dengar ceritaku?" Tari kembali mengangguk.


"Habisin dulu supnya. Baru aku lanjut cerita lagi."


Tari segera menghabiskan sup jagung yang tinggal beberapa suap. Dengan telaten Yoga menyuapi gadis itu sampai isi dalam mangkuk berpindah dalam perutnya. Bahagia, ya ... Pria itu sangat bahagia. Berulang kali ia meyakinkan hatinya kembali bahwa rasa itu masih ada. Rasa cinta untuk gadis itu masih berkobar dalam dada. Ingin sekali ia mengutarakan cintanya dan memiliki Tari selamanya. Namun, apa gadis itu mau dimiliki olehnya?


"Ntar malam tidur aja di sini. Besok pagi-pagi baru pulang. Kamu masih sakit, kata dokter selain terjatuh, pingsanmu juga karena syok. Hebat ya kamu! Bisa menyembunyikan apa yang kamu rasakan. Bahkan aku nggak tau loh perasaan apa yang sekarang kamu rasakan setelah mendengar ceritaku."


Yoga meletakkan mangkuk di nampan dan menaruhnya di atas nakas. Ia kembali duduk sambil membawa segelas air untuk diberikan pada Tari.

__ADS_1


"Aku bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hati, bahkan melalui ekspresi wajah sekalipun." Balas Tari kemudian meminum air yang diberikan Yoga.


"Opa dan oma mendapat serangan jantung secara bersamaan setelah mendengar kabar papa menghamili seorang wanita dan kecelakaan. Opa terkena serangan jantung dengar kabar papa dan oma karena opa tiba-tiba meninggal." Tari diam dan menelan salivanya.


Kehilangan sosok yang dicintai memang selalu menyakitkan. Begitu juga dengan Yoga. Mungkin sekarang hatinya sedang sakit saat bercerita tentang kisahnya. Tari mengelus lembut bahu Yoga kemudian memberi senyuman. Mencoba memberi energi positif agar Yoga bisa lebih kuat.


"Aku sendirian, Tari," ujarnya kemudian menangis.


Ya, pria itu mencoba kuat meskipun sudah rapuh. Ujian hidupnya datang secara bersamaan. Yoga berasal dari keluarga kaya, tapi batinnya sangat tersiksa. Ini bukti bahwa materi tak selamanya bisa membeli kebahagiaan.


Tak tega, Tari langsung memeluk Yoga yang sedari tadi duduk di hadapannya. Dulu, ia juga sempat seperti itu. Bersedih meratapi nasib ditinggal kedua orang tua, tapi ia berpikir masih ada adik-adiknya yang harus melanjutkan hidup. Jalan mereka masih panjang, kalau bukan ia yang menemani lalu siapa lagi?


"Udah, nggak usah ditangisi! Sekarang semua sudah berlalu kan, Ga? Opa dan oma pasti sudah bahagia." Kata Tari mencoba menenangkan.


"Tapi, Tar ...." Yoga melepas pelukan Tari.


"Semua ini berat, mengingat lagi masa-masa menyedihkan rasanya aku udah nggak sanggup."


"Karena papa hilang ingatan, aku harus menggantikannya untuk menikahi Sarah. Mau tau bagaimana rasanya di sini?" Sambil menunjuk dadanya sendiri.


"Sakit, Tar! Aku harus menikahi wanita yang tidak aku cintai."


Tubuh Yoga bergetar kembali. Ya, melakukan sesuatu atas dasar keterpaksaan memang menyakitkan. Harus menekan ego agar semua tetap berjalan sebagaimana mestinya.


"Aku ... aku masih mencintaimu, Tari," ucapnya lagi kemudian memeluk Tari.

__ADS_1


"Tolong jangan pergi lagi! Aku hancur tanpamu, Tar." lirihnya.


Gadis itu membeku dalam pelukan Yoga. Pengakuan cinta Yoga padanya membuat jantungnya berdegup kencang. Rasa yang dulu hilang kini kembali pulang. Haruskah ia ikut terbang dan damai bersama bintang?


__ADS_2