
Tok ... Tok ... Tok ....
Yoga mengetuk pintu rumah Tari berulangkali. Namun tidak ada satupun penghuni rumah yang membukakan pintu. Rumah itu juga terlihat gelap tanpa cahaya sedikitpun.
"Kemana kamu Tar?" Yoga resah, ia mencoba menghubungi sabahatnya itu.
Yoga duduk di kursi teras rumah Tari sembari menelpon gadis itu. Beberapa kali ia hubungi tapi tidak ada jawaban. Sedangkan di dalam mobil, ponsel Ana terus berdering namun si empu nya sedang tertidur.
Yoga memutuskan untuk pergi dari tempat itu. Ia tak tega membiarkan gadis yang disukainya terlalu lama tidur di dalam mobil. Yoga melajukan kendaraannya keluar menuju jalan raya. Tujuan utamanya kini adalah apartemen miliknya. Hanya tempat itu yang ia pikirkan sekarang dan yang penting Ana bisa istirahat dengan leluasa disana.
"Emh ...." Ana menggeliat menghadap Yoga. Mencari posisi agar nyaman untuk melanjutkan tidurnya. Yoga merasa gemas dengan tingkah Ana.
Sampai di depan lobi apartemen Yoga menghentikan mobilnya dan segera keluar. Ia membantu Ana yang masih tak sadarkan diri keluar dari mobil. Dari dalam gedung, seorang petugas valet menghampirinya dan Yoga memberikan kunci mobilnya pada petugas tersebut.
Yoga menjatuhkan tubuh Ana dengan pelan di atas ranjang miliknya ketika ia sudah sampai di dalam kamar apartemennya.
"Sshh, Yoga!" panggil Ana lirih. Ia mendesis karna pusing di kepalanya belum hilang.
"Ya, An? Kamu ngga papa?" Yoga duduk di bibir ranjang. Raut wajahnya menunjukan kecemasan. Ia takut terjadi sesuatu pada gadis cinta nya itu.
Gadis itu mengerjap samar. Kesadarannya belum pulih betul. Tiba-tiba Ana tersenyum. Ia merasa sangat bahagia saat ini berada di sisi Yoga secara dekat karna Yoga mencintai dirinya yang masih sebagai seorang Ana. Gadis itu menarik lengan Yoga untuk lebih mendekati wajahnya. Ia ingin melihat wajah tampan yang ia cintai itu secara dekat.
Jantung Yoga berdetak cepat, ia tak tahu apa yang ingin Ana lakukan dengan mendekatkan dirinya. Seketika manik Yoga langsung mengarah pada benda yang sedari tadi ingin ia kecup. Bibir tipis merona milik Ana benar-benar sedang menggodanya sekarang. Yoga pun semakin mendekati benda itu. Satu senti lagi, keduanya saling memejamkan mata seakan tahu apa yang di inginkan oleh masing-masing.
Tiba-tiba Ana membuka matanya dan mendorong Yoga menjauhinya. Laki-laki itu terdorong jatuh ke lantai.
"Huek ... Huek ...." Ana memuntahkan semua isi dalam perutnya ke lantai. Kepalanya terasa pengar dan perutnya mual.
__ADS_1
Gadis itu menjatuhkan kembali kepalanya di atas bantal. Kesadarannya mulai menghilang dan kemudian ia pingsan.
"Ana, Ana!" Yoga mencoba membangunkan gadis itu namun ia tak kunjung sadar. Tanpa pikir panjang Yoga segera menelpon seorang dokter, takut terjadi sesuatu pada Ana.
Sembari menunggu dokter datang, Yoga membersihkan lantai yang kotor dan juga membersihkan bibir Ana dari sisa-sisa muntahnya.
"Gadis polos sepertimu kenapa harus terjatuh dalam lubang hitam seperti ini An?" Yoga berbicara pada Ana yang masih belum sadar.
"Aku janji, setelah ini aku akan membantumu lepas dari om-om itu dan membantumu mencari pekerjaan lain." imbuhnya.
***
"Bagaimana Dok?" tanya Yoga pada dokter yang baru saja selesai memeriksa Ana.
Dokter itu tersenyum dan mengatakan bahwa Ana tidak apa-apa. Itu hanya efek dari alkohol yang Ana minum dan sebentar lagi ia akan siuman. Setelah memberi jawaban pada Yoga, sang dokter kemudian pamit pergi.
Setelah mengantar dokter itu keluar apartemen, Yoga kembali menghampiri Ana di dalam kamarnya. Menunggu gadis itu hingga siuman kembali.
Pukul 3 dini hari, Ana merasa dingin di bagian bahunya. Ia mencoba menarik selimut ke atas dan memeluk guling hangat di sampingnya. Guling yang harum khas parfum lelaki dan bisa membalas pelukannya. Ana semakin memeluk erat guling itu dan menelusupkan wajahnya. Ia tidak ingin bangun hari ini. Ana ingin berlama-lama tidur bersama gulingnya itu.
Tunggu, Ana mulai berpikir. Guling yang bisa memeluknya? Gadis itu membuka matanya melihat tepat di hadapannya seseorang yang sedang memeluknya. Hampir ia menjerit terkejut namun iya tahan ketika ia melihat wajah lelaki yang disukainya sedang tertidur pulas.
Sungguh laki-laki yang sedang memeluknya ini adalah lelaki paling tampan di dunia ini. Sama tampannya dengan tuan Anton namun lebih tampan Yoga menurutnya. Gadis itu dengan berani menyentuh wajah itu dengan jemarinya. Dahi, alis, mata, hidung, pipi, tak luput dari sapuan mata dan jarinya. Ana sungguh mengagumi makhluk ciptaan Tuhan satu ini.
Hingga manik Ana berhenti pada satu tempat. Ana tersadar, semalam ia ingin mencium bibir itu. Merasa malu, gadis itu menundukkan kepalanya dan menjauhkan jarinya dari bibir Yoga. Namun tak disangka, jemari Ana ditahan oleh sang pemilik bibir itu.
"Kamu?" Ana terkejut karna ternyata Yoga tidak tidur.
__ADS_1
"Kenapa berhenti? Aku suka jari-jari kamu membalai wajahku. Telapak tanganmu sangat halus." Yoga meletakkan kembali tangan Ana di pipinya. Merasakan lembutnya jemari Ana di kulitnya.
Wajah Ana memerah, ia menarik paksa tangannya dan memasukannya ke dalam selimut. Melihat Ana yang gugup, Yoga merasa gemas. Ia menyentuh dagu Ana dan meminta gadis itu untuk melihatnya.
"Lihat aku!" pinta Yoga lirih.
Manik mereka saling beradu, menyiratkan sebersit rasa yang mereka pendam selama ini. Perlahan tapi pasti Yoga mendekatkan wajahnya pada wajah Ana. Jantung mereka saling berdetak dengan cepat. Bagaimanapun juga ini adalah pertama kalinya mereka saling berdekatan satu sama lain.
Cup,
Yoga mengecup bibir Ana dengan lembut. Mata yang tadinya saling menatap kini saling memejam merasakan kelembutan bibir mereka yang saling bersentuhan.
Perlahan, bibir Yoga mem*agut bibir Ana dengan lembut. Mengecupinya dan meminta lebih. Ana yang tidak tahu cara berci*uman pun hanya diam tanpa membalas cu*uman Yoga.
Ini pertama kalinya bagi mereka, yang Yoga lakukan murni naluri yang keluar entah darimana. Yoga menggigit bibir bawah Ana agar terbuka.
"Ah, sakit!" Ana memekik karna merasakan sakit digigit oleh Yoga. Sontak ia melepaskan ci*uman laki-laki itu.
Yoga membuka matanya dan melihat bibir ana sedikit berdarah.
"Maaf An," Yoga mengusap pelan bibir itu dan Mengecupnya sekali.
"Maaf udah bikin kamu terluka." Yoga segera memeluk gadis itu.
"Sekarang tidur lagi ya, besok pagi aku antar kamu pulang." ucapnya lagi.
Ana hanya menuruti perintah Yoga untuk kembali terpejam. Namun, meski matanya terpejam ia sama sekali tidak bisa tidur. Kejadian barusan adalah hal yang baru pertama kali ia lakukan. Dici*um oleh cinta pertamanya, ah ... Berjuta rasanya. Seperti diterbangkan ke angkasa dan melihat dunia yang indah dari atas sana.
__ADS_1