
Tari mangalungkan tas nya di belakang bangku. Kemudian ia duduk bersandar sembari menghela napas. Ia merogoh sakunya untuk mengambil ponsel yang sejak kemarin tidak disentuhnya. Tuan Anton membawanya pergi tiba-tiba tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk bersiap-siap bahkan tidak sempat mengambil ponselnya. Untung Bu Mae yang mengemasi barangnya tidak lupa membawa ponsel itu dan mengisi daya ponselnya.
Tari menekan tombol power untuk menghidupkan ponselnya. Setelah hidup, banyak sekali pesan yang masuk bahkan puluhan panggilan tak terjawab. Hanya dari seseorang yaitu Yoga. Sahabat nya itu ternyata mencarinya sedari kemarin. Tari menoleh ke samping mejanya, sudah jam tujuh tapi sahabatnya itu belum masuk kelas. Para murid juga sudah mulai duduk di bangku masing-masing.
"Tar, Loe dipanggil Guru BK!" Salah seorang murid laki-laki di kelas Tari memanggil gadis itu dengan nada tinggi.
Tari menoleh ke sumber suara. Salah satu teman sekelasnya itu datang menghampirinya.
"Loe dipanggil BK tuh. Heran, anak cupu kayak Loe gini bisa juga dapet masalah." ledek murid tersebut.
Tari hanya diam saja mendengar celotehan murid laki-laki itu. Dia segera bangkit dan berjalan keluar kelas menuju ruang BK. Gadis itu berjalan dengan menunduk karna banyak mata memandangnya dengan sinis.
Bugh,
Tari tak sengaja menabrak seseorang. Akibat keteledorannya tidak memperhatikan jalan di depannya. Tari mendongak melihat ke seseorang yang ia tabrak.
"Yoga?"
"Iya ini aku, Yoga. Yang katanya sahabatmu tapi tidak pernah diberi tahu apa yang kamu lakukan seharian kemarin." Wajahnya datar.
"Maaf," ucap Tari lirih kemudian ia menunduk lagi sebagai rasa bersalah.
"Hmm," Yoga tersenyum.
"Ngga papa. Nanti kamu harus ceritain kemana aja kamu kemarin. Yuk ke kelas!"
"Aku mau ke BK dulu Ga,"
"Kenapa?" tanya Yoga dengan menautkan alisnya. Apa yang sahabatnya perbuat sampai dia harus masuk ruang BK?
"Ngga tau," jawabnya singkat.
"Ya udah aku kesana dulu."
"Oke, aku ke kelas dulu. Nanti kamu harus ceritain apa yang terjadi." Tari mengangguk kemudian mereka berpisah. Tari berjalan ke ruang BK dan Yoga masuk ke kelasnya.
__ADS_1
****
"Sayang, kenapa pulang sekolah ngga bersemangat gitu? Capek?"
Tuan Anton menatap Tari yang tiba-tiba menjatuhkan diri di sebelahnya. Wajahnya terlihat tak bersemangat sekali. Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku nya lalu memberikannya pada sang papi.
"Apa ini sayang?" Tuan Anton menerima kertas itu.
"SP dari sekolah." jawabnya malas.
"Surat Peringatan?" Tari mengangguk.
Tuan Anton segera membukanya karna penasaran dengan isi surat itu. Tuan Anton merasa gadis nya sangat berperilaku baik di sekolah jadi tidak mungkin mendapatkan peringatan dari sekolah.
"Berkali-kali tidak masuk?" Tuan Anton menoleh pada gadisnya. "Kamu jarang masuk sekolah memangnya kemana, sayang?"
"Papih, ih. Kan Tari sering dibawa kabur sama Papih." jawabnya dengan kesal.
"Oh, iya ya." Tuan Anton cengar-cengir.
"Ngga usah Pih! Papih mau hubungan kita diketahui sama pihak sekolah?"
"Biarkan saja mereka tau. Mereka ngga akan berani macem-macem karna papi salah satu donatur terbesar di sekolah kamu." Tuan Anton membawa tubuh Tari untuk bersandar di bahunya.
"Jangan Pih, Tari bisa selesain ini sendiri. Ini kn juga salah Tari karna sering bolos."
"Papi juga kan yang buat kamu g masuk, sayang." Pria itu mulai merasa bersalah.
"Hufh, ngga usah Pih. Ngga papa mulai sekarang kalau Papih bawa pergi Tari lagi, Tari ngga bakal mau."
"Ya ngga lah sayang, kan kita udah tinggal satu rumah." Tuan Anton menciup kening Tari.
"Tatak! (Kakak!)" seru Adnan yang entah darimana. Di belakangnya ada pengasuh yang setia mengikuti kemana kaki Adnan melangkah.
"Adek, jangan lari-lari!" seru mbak Cika, pengasuh Adnan. Wanita berusia 25 tahun itu sangat takut jika anak asuhnya itu terjatuh. Bisa-bisa pekerjaannya jadi taruhannya.
__ADS_1
Adnan yang berlari kencang segera berhambur ke dalam pelukkan kakak nya. Sudah sejak kemarin malam bocah kecil itu tidak bertemu kakak perempuannya.
"Jangan lari-lari sayang!" seru tuan Anton.
"Papih, atu lindu Tatak. (Papih, aku rindu Kakak.)" Bocah kecil itu memeluk kakaknya dengan erat.
"Kamu lihat, kan sayang? Adnan begitu sangat merindukanmu. Jadi, jangan lagi datang ke klub atau pergi malam-malam. Pulang sekolah langsung pulang biar adik-adikmu itu mendapatkan kasih sayang yang semestinya dari kamu." titah sang papi.
Tari tak menanggapi ucapan pria itu. Dia hanya diam sembari mengelus-elus kepala sang adik yang sedari tadi bersender di dadanya. Sebenarnya gadis itu mendengarnya. Hanya saja dia enggan membahas apapun dengan pria itu. Pertama kali mendapat surat peringatan dari sekolah membuatnya lesu tak bersemangat.
****
"Tar, nanti aku antar ya pulangnya. Sekalian biar tau rumah baru kamu."
Yoga tiba-tiba mengalungkan satu lengannya di bahu Tari. Saat itu Tari sedang berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya. Tiba-tiba Yoga datang dan mengagetkannya.
"Yoga, bikin kaget." Gadis itu mengelus dadanya pelan.
Yoga meringis. "Hehe, maaf."
"Mau kan aku antar nanti? Biar nanti aku bisa antar jemput kamu."
Kemarin saat jam istirahat, Yoga menagih penjelasan pada sahabatnya itu. Tari pun menjelaskan sekenanya. Bahwa dirinya pindah ke rumah saudara Bu Mae yang sudah tidak dihuni lagi. Yoga pun mempercayainya.
Tari menghentikan langkahnya. Tiba-tiba dia gugup. Di antar Yoga? Apa dia mau cari mati?
"Kenapa, Tar?" tanya Yoga heran.
"Ng-ngga usah, Ga. Aku bisa pulang sendiri." Tari meneruskan langkahnya.
"Ayolah, Tar. Please!" Yoga berhenti di depan Tari dan memasang wajah memohon. Berharap sahabatnya itu bisa luluh.
Tari menggelengkan kepalanya. "Engga, kapan-kapan aja."
Gadis itu segera berjalan melewati Yoga yang masih mematung di hadapannya. Dia tidak mau terlena lagi dengan apapun yang berhubungan dengan Yoga. Dia takut konsekuensi yang akan didapat bila masih terus dekat dengan lelaki itu.
__ADS_1
Pelajaran pun dimulai. Semua murid mengikuti pelajaran dengan hikmat. Termasuk Yoga dan Tari. Sedari tadi Tari hanya diam mendengarkan penjelasan dari guru dan mencatatnya bila perlu dicatat. Yoga pun demikian. Sesekali dia menengok ke arah sahabatnya yang sepertinya mencoba menghindarinya.