
Pagi itu pukul tujuh, Tari baru saja bangun. Subuh tadi ia membantu Bu Mae belanja persediaan warung. Sampai di rumah karena lelah gadis itu ketiduran hingga bangun kesiangan.
Setelah melihat jam dinding yang menunjukkan angka tujuh lebih, Tari segera bangkit dan keluar kamar. Dia bergegas menuju kamar adik-adiknya untuk membangunkan mereka. Ia takut mereka juga bangun kesiangan seperti dirinya. Namun, setelah membuka pintu kamar dan melihat ke dalam, adik-adiknya sudah tidak ada di dalam. Tari menghela napas lega, pasti mereka sudah berangkat ke sekolah.
Gadis itu pun kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Hari ini dia tidak mau ke mana-mana. Hanya ingin membantu Bu Mae menjaga warung seharian agar Bu Mae dapat beristirahat di kamarnya. Saat di pasar tadi, Bu Mae terlihat pucat dan lemas. Sepertinya dia sedang sakit, tapi Tari belum sempat menanyakannya.
"Ibu nggak apa-apa?"
"Eh, Tari." Bu Mae sedikit terkejut ketika Tari tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Ibu lagi sakit? Wajah Ibu pucat banget."
"Enggak kok, Ibu nggak apa-apa."
Bohong jika Bu Mae berkata tidak apa-apa. Wajah Bu Mae terlihat sangat pucat dan seperti menahan sesuatu. Bahkan sedari tadi wanita itu hanya duduk lemas di warung dan selalu memegang perutnya.
"Ibu mending istirahat di dalem deh, di sini dingin," ucap Tari sembari memakaikan jaket pada Bu Mae.
"Tapi,"
"Sudah, Ibu istirahat di kamar aja. Hari ini Tari nggak kemana-mana, jadi bisa bantu jaga warung."
Beberapa saat kemudian, terlihat beberapa ibu-ibu datang. Sepertinya mereka hendak berbelanja di warung itu. Tari segera meminta Bu Mae untuk beristirahat di dalam. Semua pekerjaan warung dia yang akan menanganinya. Tari tidak mau ibu sambungnya itu menjadi sakit karena terlalu lelah.
"Pagi, Tari!" sapa salah seorang ibu.
"Pagi juga, Bu!" balas Tari dengan senyum di bibirnya.
"Tari, gula pasir sekilo sama garam dong," pinta salah satu ibu.
"Iya, Bu." Tari segera mencarikan apa yang dipesan ibu itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik.
__ADS_1
"Ini, Bu. Ada lagi?" tanya Tari ramah.
Yang lain pun turut menyebutkan barang-barang yang ingin mereka beli. Sesekali mereka saling berbincang dan terlihat tertawa. Namun, terkadang mereka juga tampak serius dan berbisik. Tari hanya diam sambil membersihkan warungnya. Ia tidak begitu tertarik dengan perbincangan mereka, karena para ibu-ibu itu sedang bergosip seperti biasanya. Warung memang biasa dijadikan tempat menggali atau mencari informasi dari berbagai masalah oleh para pelanggan. Apalagi warung Tari mau memberikan keringanan dengan ambil dulu bayar nanti, alias ngutang.
"Semuanya jadi tiga puluh ribu lima ratus, Bu," jelas Tari pada seorang ibu.
"Aduh, ibu cuma bawa dua puluh ribu, Tar." Ibu itu menjulurkan empat lembar uang kertas lima ribuan pada Tari.
"Ah, nggak papa, Bu. Kurangnya bisa nanti atau besok."
"Duh, makasih ya Tari. Kamu emang baik. Nggak salah kalau warung kamu selalu ramai karena yang punya baik banget," puji ibu tersebut.
"Selagi masih bisa, ya Tari bantu, Bu. Kalau nggak bisa ya maaf," jelas Tari sambil tersenyum.
"Nah kamu bener Tari. Kamu ini, udah cantik, baik lagi. Ibu doakan semoga kamu cepet dapet jodoh." Ibu yang lainnya ikut menimpali.
"Aamiin," jawab Tari.
"Lah, siapa Jeng Ut?" tanya Bu Ngatinem pada temannya yang ternyata bernama Bu Utari.
"Itu si Gaje, ponakannya Jeng Kis."
"Lah, iya juga ya. Si Tari kan sering banget keliatan berduaan sama keponakannya Jeng Kis."
Para ibu tersebut mulai bergosip kembali. Bahkan mereka tak segan di depan orang yang mereka bicarakan. Tari hanya bisa tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat mereka membicarakannya.
Tari menghela napas lega setelah para ibu-ibu tetangga tersebut pergi. Ia kembali membersihkan warung dan setelah itu duduk di meja untuk mencatat orang-orang yang berhutang di warung. Bisnis tetap bisnis. Meskipun Tari baik, usaha warungnya tak boleh berhenti hanya karena hutang para pelanggan. Jika terlalu lama mereka tidak membayar, maka Tari atau Bu Mae akan menagihnya. Itu juga bagian dari kebaikan Bu Mae dan Tari. Menyelamatkan mereka dari siksa api neraka dengan menagih hutang. Karena sampai matipun, hutang di dunia akan tetap dibawa ke akhirat.
Dari kejauhan, terlihat seorang wanita berjalan menuju warung. Tari yang sudah melihatnya pun langsung mendekat untuk menyapanya.
"Pagi, Bulik."
__ADS_1
"Pagi juga, Tar."
"Mau cari apa, Bulik?" tanya Tari.
"Ini, Tar. Bulik mau beli gula sama kopi hitam. Biasa paklikmu itu minta dibikinin kopi kalau pagi."
"Oh, iya Bulik. Sebentar Tari ambilkan." Tari segera mengambil gula dan kopi hitam yang diminta bulik.
Bulik Kiswanti atau yang akrab dipanggil Jeng Kis oleh para ibu-ibu, adalah bibi dari Gajendra. Dia lah yang turut berjasa membantu Tari dan keluarganya saat pertama kali datang ke kota ini.
"Oh iya Tari, kok ibu kamu nggak kelihatan?"
"Ibu lagi sakit, Bulik. Lagi istirahat di dalem," jawab Tari sambil menyodorkan satu kantung plastik berisi gula dan kopi pesanan bulik.
"Oalah ... sakit apa, Tar? Emang dari kemarin ibu kamu itu kelihatan pucat. Sedikit-sedikit pegang perut. Kayaknya pencernaannya lagi bermasalah. Coba deh kamu priksain, Tar. Takutnya nanti kenapa-kenapa."
Tari terdiam sesaat. Benar kata bulik, dia harus membawa ibunya ke dokter. Selama ini Bu Mae tidak pernah sakit, bahkan pusing pun jarang dia rasakan. Semoga Bu Mae tidak kenapa-napa.
****
"Kak, ibu demam." Adnan tiba-tiba masuk ke dalam kamar Tari dan memberitahukan ibunya demam.
Pukul sepuluh malam, Tari hampir memejamkan matanya jika Adnan tidak tiba-tiba membuka pintu dan membangunkannya. Mendengar ibu demam, Tari segera bangun dan melihat keadaan Bu Mae.
Wanita itu terlihat lemah tak berdaya berbaring di atas tempat tidurnya. Wajah pucat dan menggigil. Sesekali memegangi perutnya dan meringis kesakitan. Tari yang mulai panik langsung mendekat. Disentuhnya kening sang ibu yang sudah basah karena berkeringat. Panas tinggi, tapi keringat yang keluar sebesar biji jagung. Bahkan Bu Mae sampai tak bisa membuka matanya, mungkin karena tubuhnya mulai melemas.
"Dek, panggil abang mu! Kita bawa ibu ke rumah sakit," perintah Tari pada Adnan yang tengah berdiri di sampingnya.
Tanpa menjawab, pria kecil itu langsung berlari keluar kamar untuk memanggil Farhan dan juga Bilal. Beberapa saat kemudian, Adnan dan kedua kakak laki-lakinya datang.
"Ibu kenapa, Kak?" tanya Farhan mulai khawatir.
__ADS_1
"Ibu sakit, kita harus bawa ke rumah sakit sekarang. Kakak takut ibu kenapa-napa." Tari mulai mengangkat tubuh Bu Mae. Tanpa pikir panjang, Farhan membantu kakaknya memapah Bu Mae.