
Beberapa hari berlalu setelah kepulangan Bu Mae dari rumah sakit. Keadaan menjadi normal kembali. Bu Mae juga sudah bisa membantu menjaga warung meskipun hanya duduk di meja kasir. Awalnya Tari sudah melarangnya, tapi wanita paruh baya itu bersikukuh ingin beraktivitas dan bosan bila harus berbaring terus menerus.
Seperti sekarang ini. Pagi yang cerah dimanfaatkan Bu Mae untuk berjemur. Sinar matahari pagi memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Seperti menambah kekebalan tubuh, misalnya.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Mencuri perhatian Bu Mae yang sedang berjemur. Seorang pria muda keluar dari dalam mobil. Pakaian modis dengan kacamata yang bertengger di atas kepala semakin memperlihatkan bahwa ia adalah orang berada. Melihat siapa sosok pria itu, Bu Mae sangat terkejut. Dengan perlahan ia bangkit dan segera berjalan masuk ke warung.
"Tari!" panggil Bu Mae dengan suara sedikit tinggi.
"Kenapa, Bu?"
"Masuk! Kunci pintu sini!" Bu Mae menarik Tari untuk masuk dalam rumah.
"Ada apa sih, Bu?"
"Dia datang! Ibu nggak mau lagi kamu berurusan dengannya!" ucapnya sambil mengunci pintu penghubung antara warung dan rumah. Bu Mae juga mengunci pintu depan dan menutup jendela.
"Siapa sih, Bu?" Tari yang penasaran mengintip dari balik gorden.
Yoga, berjalan memasuki halaman rumahnya.
"Yoga?"
"Jangan kamu bukakan pintu untuknya, Tari! Sekali kamu membukanya, kamu akan jatuh ke dalam jurang kembali."
"Enggak, Bu. Yoga baik. Ia yang membiayai pengobatan Ibu selama ini. Dan Yoga sudah datang jauh-jauh ke sini masa nggak di bukan pintu."
"Jadi kamu nggak jadi jual rumah ibu?"
"Yoga yang membelinya, Bu."
Tari dengan santai membuka kembali pintu yang baru saja dikunci oleh ibunya.
"Kamu nggak ngerti maksud ibu, Tar." Sungguh, wanita paruh baya itu khawatir akan nasib Tari selanjutnya.
Tari tak lantas menjawab. Ia menatap Bu Mae dan memeluknya.
"Ibu tenang aja. Semua berjalan dengan baik." Jawabnya dengan tersenyum.
Bu Mae menghela napas kasar. Ia takut nasib anak gadisnya akan kembali seperti dulu. Hidupnya tak akan pernah lepas dari jerat Tuan Anton dan anaknya. Meskipun mereka baik Bu Mae tahu, Tari tak benar-benar bahagia.
"Selamat pagi," sapa Yoga saat sudah berada di depan pintu.
Tari menyambutnya dengan senyum hangat.
"Selamat pagi," balas Tari.
"Gimana kabarnya?" tanya Yoga.
"Baik, kamu sendiri?"
Yoga menjawab pertanyaan Tari dengan mengangguk.
__ADS_1
"Oh iya, gimana keadaan ibu dan adik-adikmu?"
"Mereka baik. Ayo masuk dulu!"
****
"Jadi, maksud kedatanganku ke sini kamu pasti tau kan, Tar?"
Yoga bertanya pada gadis yang sedang membungkuk di hadapannya sambil menaruh minuman dan beberapa camilan untuknya.
"Di mana ibumu?" Yoga sudah melempar satu pertanyaan lagi.
"Tari?" Yoga tak sabaran.
Gadis yang diberondong pertanyaan hanya menghela napas. Ia mendudukkan dirinya di kursi kosong depan Yoga. Mata mereka beradu pandang. Terlihat jelas bahwa Yoga benar-benar berharap keinginannya dapat terwujud.
Ya, keinginan membawa Tari untuk ikut dan hidup bersamanya. Membantu mengembalikan ingatan sang papa hanya alasan agar ia bisa selalu bersama gadis itu.
"Diminum dulu!" Sebuah jawaban yang tidak Yoga inginkan. Diraihnya secangkir teh suguhan Tari, meniupnya kemudian menyeruputnya pelan.
"Aku nggak tau, Ga." Ucap Tari pelan. Kini pria itu beralih padanya.
"Apa harus aku kembali?" tanya Tari.
"Ya, kamu harus kembali! Demi kita, Tar. Demi cinta kita," jawab Yoga mantap.
"Aku ingin kita bersatu. Sudah cukup selama ini kita terpisah jarak dan waktu. Aku ingin kamu kembali, Tari!"
"Kembali ke mana?" Tiba-tiba Bu Mae muncul dari balik pintu kamarnya. Matanya tajam menatap dua insan di hadapannya secara bergantian.
"Bu ...." Dengan tersenyum Yoga bangkit dan mendekat. Diraihnya tangan Bu Mae untuk menyalaminya. Namun, tangannya ditepis oleh ibu sambung dari Tari itu.
Merasa kecewa, tapi Yoga tetap tersenyum. "Apa kabar, Bu?"
Wanita paruh baya itu benar-benar acuh pada pria yang kini sedang bertamu di rumahnya itu. Dari awal kedatangannya, Bu Mae memang tidak suka. Hidup keluarganya sudah tenang tanpa mereka. Kini, ia tidak mau ketenangannya terusik kembali.
"Tari, ibu tidak mengijinkanmu untuk pergi dari rumah ini!" tegas Bu Mae.
Tari diam. Ia sudah tahu saat ini akan terjadi. Hubungannya dengan Yoga tidak akan pernah berjalan mulus. Bayangan masa lalu akan selalu teringat dalam benak Bu Mae dan adik-adiknya. Apalagi jika mengingat bagaimana Yoga mempermalukannya di depan orang tuanya, Bu Mae pasti sangat sakit hati.
"Nak Yoga, kami memang banyak berhutang budi pada kalian. Uang yang kalian keluarkan untuk kelangsungan hidup keluarga ini tidak sedikit. Bahkan kami belum sanggup menggantinya. Apa Nak Yoga tega menambah beban lagi pada kami?" Suara Bu Mae terdengar melunak. Ah, tidak. Ibu sambung Tari dan adik-adiknya itu lebih terdengar memohon pengertian pada Yoga.
"Bu, biar aku jelaskan apa yang terjadi." Tari angkat suara.
"Apa yang ingin kamu jelaskan, Tar?" Bu Mae beralih pada Tari.
"Aku aja, Tar." Yoga menengahi.
Setelah meyakinkan gadis itu dengan tatapan matanya, Yoga kembali melihat ke arah Bu Mae.
"Bu, aku mencintai Tari. Sangat! Ini kesempatan kami untuk menyatukan cinta yang selama ini terpendam." Jelas Yoga.
__ADS_1
"Aku ingin Tari kembali bersamaku. Dan aku butuh bantuannya untuk mewujudkan semua itu." Lanjutnya.
Bu Mae menghela napas kasar. Jika sudah bicara masalah cinta, ia sebagai orang tua bisa apa? Terkadang orang-orang akan berbuat nekat jika cinta mereka tidak direstui.
Tanpa berbicara, Bu Mae masuk kembali ke kamarnya dan mengunci pintu. Yoga dan Tari pun saling menatap kebingungan. Apa arti dari helaan napas Bu Mae? Kenapa Bu Mae malah pergi tanpa memberi keputusan apapun?
"Tari, semua keputusan ada di kamu. Bantu aku mengembalikan ingatan papa lalu menikah denganku. Aku juga akan kirim orang untuk menjaga Bu Mae dan adik-adikmu."
Yoga berjalan mendekati Tari kemudian duduk di sampingnya. Menggenggam jemari lentik gadis itu dengan penuh pengharapan.
"Jika kamu menolak, aku tidak akan memaksamu." Yoga menunduk. Menunjukkan kesedihan mendalam pada gadis itu. Dan berharap Tari menyetujui keinginannya.
Hah licik! 😏
Tari diam. Ia tampak berpikir untuk membuat keputusan.
"Biar aku bicara sama ibu dulu," ucap Tari sambil membalas genggaman Yoga.
Sedetik kemudian pria itu mendongak dan menunjukkan rona bahagia. Senyum mengembang sebagai ekspresi kemenangan. Ya, Tari sudah pasti mau ikut dengannya.
"Tapi nggak sekarang, Yoga."
Seketika wajah Yoga berubah masam.
"Suasana hati ibu lagi nggak baik. Nanti aku bicara saat ibu sudah tenang." Jelas Tari.
Yoga menghela napas kasar. "Butuh berapa lama lagi aku harus nunggu kamu?"
"Yang bertahun-tahun aja kamu sanggup, kenapa yang sebentar kamu nggak sanggup?" ejek Tari kemudian tertawa.
"Hei, udah berani mentertawakanku?"
Yoga langsung mencubit gemas hidung Tari. Membuat gadis itu mengaduh pelan. Namun, pada akhirnya mereka saling bercengkerama dan sesekali tertawa.
Malam tiba, keluarga kecil itu tengah berkumpul sambil menonton televisi. Suasana hati Bu Mae juga sepertinya sudah membaik. Terbukti kini ia sedang bermain dengan Adnan. Ah, bocah kecil itu meski sudah besar, tapi masih saja bersikap manja. Berbeda dengan kedua kakaknya. Mereka sudah dipaksa dewasa sejak kecil.
Setelah Adnan tidur nanti, Tari berencana untuk membicarakan tentang keinginannya. Tidak bisa dipungkiri, meski sudah lama tak dipupuk, perasaannya pada Yoga malah semakin tumbuh. Apa salahnya mencoba rencana yang Yoga buat? Apa salahnya mencoba menyatukan cinta mereka?
Tari terlihat diam sambil menonton televisi. Sesekali ia menoleh pada Adnan untuk memastikan adiknya sudah mulai mengantuk atau belum. Jika dipaksa tidur sekarang, bocah itu pasti tidak mau. Apalagi ini masih pukul tujuh malam.
****
Dua hari setelah Yoga datang. Kini ia datang kembali. Keluar dari mobil dengan wajah yang segar dan senyum yang mengembang. Ia mempercepat langkahnya agar bisa segera menemui Tari yang berada di depan warung sambil menunggunya.
Tanpa sungkan Yoga langsung memeluk tubuh gadis itu. Kabar dari Tari melalui sebuah aplikasi hijau kemarin malam membawa secercah harapan untuknya. Ya, Bu Mae dan adik-adik Tari memperbolehkan Tari ikut dengan Yoga. Gadis itu menceritakan apa yang terjadi. Dari Tuan Anton yang hilang ingatan hingga Yoga harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak ia lakukan. Mereka pikir, dengan mengembalikan ingatan sang tuan besar, hutang budi kehidupan di waktu yang lalu akan terbayarkan.
"Udah siap?" tanya Yoga setelah melepas pelukannya. Kedua insan dimabuk asmara itu saling memandang dan melempar senyuman.
"Nggak perlu bawa apapun. Cukup bawa hatimu untukku."
"Ih, nggak jelas." Tari menepuk pelan bahu Yoga kemudian tertawa bersama.
__ADS_1
"Yang lain ke mana? Kita harus pamitan sama ibu dan adik-adikmu."
"Pamit ke mana, Tar?"