KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 45


__ADS_3

Malam ini Tuan Anton tidak bisa tidur. Badannya sudah lelah namun matanya tak mau terpejam. Tuan Anton memikirkan hal yang terjadi tadi siang. Hampir saja dirinya melakukan sesuatu yang bisa menyakiti gadis kesayangannya. Rasa bersalahnya semakin besar ketika ia mengingat sang gadis yang menangis dan takut pada dirinya.


Tuan Anton bangun dari ranjang dan meraih sebungkus rokok di atas nakas. Dia berjalan menuju balkon sambil menyulut sebatang rokok di mulutnya. Tuan Anton berjalan menuju pagar pembatas yang tingginya hampir separuh badannya. Tangannya memegang ujung pagar sebagai tumpuan beban tubuhnya. Dia memandang lurus jauh ke depan sembari menyesap rokok.


Ingin sekali dia menemui gadisnya sekarang dan meminta maaf sekali lagi. Namun, sepertinya sudah sangat larut dan mungkin gadisnya itu sudah tidur atau mungkin Tari tidak akan mau menemuinya?


Ah, bo*doh. Tuan Anton kembali merutuki dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia bisa hilang kendali seperti itu? Hampir 13 tahun dia bisa menahannya. Banyak pula wanita di luaran sana yang berlomba menampilkan bentuk tubuhnya untuk menggodanya. Dirinya masih tetap bisa menolak walaupun tubuh mereka jauh lebih menggoda dari tubuh Tari. Namun kali ini, hanya melihatnya beberapa detik saja sudah membuatnya hilang akal.


"Shitt," umpat pria itu. Tubuhnya kembali menegang karena bayangan tubuh Tari kembali tergambar di pikirannya.


Sedangkan Tari di dalam kamarnya, matanya masih terjaga di dalam selimut. Dirinya meringkuk sambil sesekali terisak. Siang tadi, gadis itu hampir saja kehilangan mahkotanya karena sang papi. Kalau saja dia tidak menendang perut Tuan Anton mungkin dia sudah mati bunuh diri sekarang.


Ya, siang tadi Tuan Anton hampir saja merenggut mahkota gadis itu. Tari sudah berada dalam kungkungannya di atas tempat tidur. Pria itu pun sudah melucuti semua pakaian Tari juga miliknya. Tangisan dan teriakan sang gadis pun tak menyurutkan hawa naf*su nya. Tuan Anton sudah tertutup oleh gairah yang membara. Yang ada di pikirkan nya hanyalah rasa ingin menggagahi dan memiliki gadis itu sepenuhnya.


Ketika Tuan Anton sedang berfokus ingin melakukan penyatuannya, Tari berhasil menendang perut sang papi dengan satu kakinya yang tak terkunci. Ia pun langsung lari masuk ke kamar mandi untuk menyelamatkan diri. Setelah itu, dia mendengar samar suara sang papi yang mengucapkan kata maaf kemudian pergi.


Mengingat hal itu membuatnya kembali menangis. Dirinya tak sebo*doh itu untuk terlena dengan perlakuan lembut Tuan Anton padanya. Tari tetaplah seorang perempuan yang harus menjaga kehormatannya sampai saatnya dia harus melepaskannya. Namun, Tari juga menyadari kebo*dohannya selama ini. Hidup bersama seorang pria dewasa yang menduda selama belasan tahun, tidak mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.


Atau mungkin, tujuan sang papi memang itu? Mendapatkan apa yang ia jaga selama ini kemudian pergi meninggalkannya? Apakah pria yang selama ini begitu baik hati padanya akan melakukan hal seperti itu? Pertanyaan demi pertanyaan yang hinggap di kepalanya membuat Tari semakin takut akan sosok Tuan Anton. Dirinya seperti melihat orang lain dalam tubuh sang papi saat sedang terbakar gairah.


Tari semakin meringkuk ketakutan. Ia merasa tidak aman jika harus tinggal di rumah ini mulai sekarang. Gadis itu takut jika sang papi akan melakukan hal yang sama kembali. Dia tidak mau ... Tidak. Dia belum siap untuk melakukan itu.


Semakin terlarut dalam pikirannya, rasa kantuk pun semakin menyerang hingga tanpa sadar gadis itu tertidur dalam selimut.


****

__ADS_1


Pagi menjelang. Saatnya kembali beraktivitas seperti hari sebelumnya. Pagi-pagi sekali Tari sudah bangun untuk membantu pelayan dan Bu Mae menyiapkan sarapan. Walaupun Tuan Anton sudah mempekerjakan beberapa pelayan, tetap saja kebiasaan Bu Mae dan Tari tidak pernah hilang. Menyiapkan sarapan sebelum Tari dan adik-adiknya berangkat sekolah.


"Nona, biar saya saja yang kupas bawangnya." ucap salah seorang pelayan.


"Nggak usah, Mbak. Mbak bantuin siapin meja makan saja, ya!"


"Baik, Nona." Pelayan itu kemudian melaksanakan yang diperintahkan oleh Tari.


Sedangkan Tuan Anton yang juga sudah bangun segera mandi dan memakai pakaian santai. Hari ini dia tidak datang ke kantor. Beni sudah memberi tahu jadwalnya melalui pesan. Hari ini duda keren itu akan mengunjungi sebuah resort di kota X. Ada sebuah pertemuan dengan klien penting di sana. Sekalian jalan-jalan pikirnya.


Sebenarnya Tuan Anton ingin meminta Tari dan keluarga kecilnya untuk ikut. Namun, mengingat bahwa anak-anak itu harus sekolah membuatnya urung untuk mengutarakan keinginannya pada Tari. Pria yang sudah terlihat segar dan tampan itu langsung keluar kamar dan turun untuk bersantai di ruang keluarga sembari menunggu sarapan.


Ketika melewati jalan menuju dapur, ia mencium aroma masakan yang begitu menggugah selera makannya. Pria itu urung melakukan niatnya dan berjalan menuju dapur. Di sana, ia melihat gadisnya begitu piawai dalam memasak. Dari mulai menumis bumbu hingga menyulap sayuran menjadi masakan yang lezat.


Tuan Anton menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari bersedekap. Bibirnya tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Membayangkan Tari yang sudah menjadi istrinya dan dia akan setiap hari menemani istrinya memasak sarapan untuknya. Ah, betapa bahagianya dirinya bila itu menjadi nyata.


"Selamat pagi!" sapa Tuan Anton lirih.


Pria itu masih takut jika gadis yang dicintainya itu masih marah padanya. Tari menoleh dan terkejut. Kemudian ia mencoba mundur ketika Tuan Anton perlahan mendekatinya. Pasalnya, ia masih sedikit takut dengan duda keren itu.


"Sayang,"


Tuan Anton melemas bahkan langkah kakinya terasa berat, hatinya begitu sakit saat sang gadis terlihat takut padanya bahkan gadis itu tidak mau didekatinya.


"Maafkan, Papi." Pria itu menatap sayu pada gadis itu.

__ADS_1


"Hei, jangan menangis!"


Tuan Anton berjalan mendekati sang gadis saat melihat nya menangis. Namun, langkahnya kembali berhenti kala tangan Tari mengisyaratkan untuk jangan mendekat. Gadis itu semakin terisak kala mengingat kejadian yang membuatnya sakit hati.


"Jangan menangis, sayang! Papi nggak akan menyakitimu lagi. Papi berjanji. Berhentilah menangis! Hati papi sakit melihat air matamu jatuh seperti itu."


"Apa? Apa yang harus Papi lakukan agar kamu mau memaafkan Papi?" Tak ada jawaban sama sekali dari gadis yang tengah menangis itu.


"Kamu mau Papi pergi dari sini? Oke. Papi akan pergi. Papi nggak akan tinggal di sini lagi. Asal kamu jangan menangis seperti ini, sayang." Pria itu sebenarnya ingin sekali memeluk erat tubuh Tari. Tangisannya membuat hati pria itu seperti hancur.


"Oke. Papi pergi sekarang. Kamu jangan menangis lagi. Jaga dirimu, sayang."


Tuan Anton melangkah pergi dari ruangan itu kemudian kembali ke kamarnya. Setelah merasa dirinya benar-benar sendiri di dapur, Tari terduduk di lantai dan menangis kembali. Begitu takutnya dirinya pada sang papi sekarang. Harus bagaimana lagi sekarang? Haruskah ia mengklaim sang papi sebagai pria menakutkan? Atau mungkin papi nya itu sedang khilaf dan dia harus memaafkan nya. Kejadian kemarin siang bukan sepenuhnya kesalahan sang papi, bukan?


Beberapa saat kemudian, Tari sudah mulai tenang dan kembali menyelesaikan masakannya. Dia juga sudah kembali ke kamar dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Untuk adik-adiknya, sudah ada para pengasuh yang siap siaga memenuhi kebutuhan mereka.


Enak sekali. 🙈


***


Tari dan keluarga kecilnya sedang sarapan sebelum mereka berangkat sekolah. Tari menatap kursi yang biasa nya dipakai Tuan Anton duduk itu kini kosong. Artinya pria itu tidak sarapan pagi ini. Apa tuan Anton benar-benar sudah pergi?


"Aku tunggu di sini aja. Nanti kalau Tari keluar baru aq samperin dia." ucap Yoga yang sudah berada di depan rumah Tari.


Yoga sengaja datang pagi-pagi untuk mengejutkan sahabatnya. Yoga dengan setia menunggu Tari dari dalam mobilnya. Ketika ada pergerakan dari rumah Tari, Yoga langsung antusias mengamati nya. Namun, hal yang mengejutkan justru yang ia lihat. Matanya terbelalak kala melihat seseorang yang ia kenal keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Papa?"


__ADS_2