
"Syukurlah, kenyang!" Tari menyandarkan punggungnya di kursi. Satu porsi bubur ayam dengan teh hangat yang ia pesan sudah pindah untuk mengisi perutnya.
Tungkling,
Ponsel yang ada di meja bersuara. Segera Tari mengambilnya dan membuka ponsel tersebut. Ternyata balasan pesan dari pembeli yang mengatakan akan datang pukul sebelas siang ini. Tari tersenyum, akhirnya ia bisa bertemu pembeli dengan cepat. Ia ingin segera pulang dan bertemu keluarganya. Kalau semua urusan bisa selesai sore ini juga, ia akan langsung berangkat pulang karena tidak ingin berlama-lama di tempat ini. Enam tahun, rasanya sudah tidak nyaman berada di sini apalagi sendirian.
Karena tidak ada yang dikerjakan, Tari pergi membersihkan diri kemudian ke rumah Bu Mae untuk melihat-lihat. Dari luar memang rumah itu sangat terawat bahkan cat tembok di rumahnya dan rumah Bu Mae pun masih terlihat bersih tanpa noda. Sekali lagi, ia terheran siapa yang menyempatkan diri untuk membersihkan kedua rumah itu? Atau mungkin ada warga yang baik hati merawatnya? Ah, tapi tidak mungkin kan sampai debu di dalam rumah dibersihkan.
Tari mencoba membuka pintu rumah Bu Mae dengan kunci yang ia bawa. Perasaannya masih sama, ia masih bertanya-tanya siapa yang merawat rumah itu. Karena bukan cuma rumahnya, dalam rumah Bu Mae pun sama bersihnya. Belum sempat masuk lebih dalam, tiba-tiba ada seseorang dari luar menyapa.
"Selamat pagi, Nona!" Suara seorang wanita yang usianya sekitar kepala empat.
Tari urung masuk ke dalam dan kembali berbalik. "Selama pagi juga, Ibu!" balas Tari sambil tersenyum.
"Maaf, Ibu ini siapa ya?" tanya Tari.
Ibu itu tersenyum. "Saya Bu Lela. Saya yang biasanya membersihkan rumah ini setiap hari, Nona."
"Maksud Ibu?" Dahi Tari berkerut.
"Iya, saya ditugaskan untuk membersihkan rumah ini dan yang itu." Sambil menunjuk rumah Tari.
"Kalau boleh tau, siapa yang menyuruh Ibu?"
"Tuan Besar, Nona,"
"Tuan Besar?" Bu Lela mengangguk.
"Kalau begitu, saya pamit masuk dulu." Pamitnya.
__ADS_1
Siapa yang disebut Tuan Besar itu? Perasaan dirinya tidak pernah mengenal siapapun apalagi meminta orang untuk merawat rumahnya. Tari lalu masuk ke dalam untuk menemui ibu itu.
"Bu," panggil Tari.
"Iya, Nona?" Bu Lela menghentikan kegiatannya menyapu lantai di dapur.
"Tuan Besar itu siapa?" Tari benar-benar ingin tahu.
"Mm, saya juga tidak tau namanya. Yang saya tau, orang-orang bawahannya sering memanggilnya Tuan Besar. Saya juga belum pernah bertemu beliau," jelas Bu Lela.
"Oh, ya udah. Maaf ya Bu saya ganggu pekerjaan Ibu," kata Tari.
Bu Lela tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Tari, ia kembali ke rumahnya. Entah apa yang akan ia lakukan sekarang.
****
Tari tengah bersandar di pohon dengan dedaunan yang lebat. Sebuah padang rumput hijau terpampang sejauh mata memandang. Suara angin yang menerpa pun membuai telinga. Gadis itu melihat ke sekeliling, menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan.
Tunggu! Sepertinya Tari mengenalinya. Semakin dekat, wajah pria itu semakin terlihat. Ah, dia ....
"Ah ...." Tari terbangun dan langsung duduk.
Dilihatnya sekeliling. Ternyata ia tertidur di kursi ruang tamu. Yang barusan? Hanya mimpi. Ya, gadis itu bermimpi di siang bolong. Tari meraih ponsel di atas meja. Pukul satu siang. Astaga, dia tidur sudah berapa jam?
Namun, kenapa dia memimpikan pria itu? Pria yang sudah lama sengaja dilupakan, bahkan sekedar hadir dalam mimpi pun tak pernah. Kenapa sekarang tiba-tiba ia memimpikannya?
"Duh, aku laper," ucapnya sambil mengelus perut.
Segera ia membuka aplikasi pesan makanan online di ponselnya. "Nasi Padang sama es teh kayaknya enak."
__ADS_1
"Nah, beres. Tinggal tunggu makanan datang dan perut pun kenyang," tambahnya.
Setelah memesan makanan, Tari membuka pesan. Ada beberapa pesan dari Gajendra yang menanyakan bagaimana urusannya.
"Astaga, aku lupa. Ini kan udah jam satu. Kenapa belum datang juga? Janjinya jam sebelas kan."
Gadis itu beranjak ke luar rumah. Rumah Bu Mae sudah tertutup rapat. Ia juga tidak melihat Bu Lela atau mungkin sudah pulang. Keadaan sekitar juga sepi. Hanya beberapa warga yang lewat dengan bersepeda motor. Tari mendesah, apa ia tertipu?
Gadis itu mencoba menghubungi nomor si pembeli, tapi tidak diangkat. Sudah jauh-jauh datang, hanya untuk ditipu?
***
Tari mengemasi barangnya. Pukul empat sore, Tari berniat untuk pulang. Ia sudah menunggu si pembeli seharian ini, tapi tidak ada kabar sama sekali. Hanya pagi tadi si pembeli mengirim pesan akan datang pukul sebelas siang. Namun, nyatanya sampai sore tidak juga datang. Tari ingin segera pulang ke rumah bertemu Adnan dan juga Bu Mae.
Saat hendak mengunci pintu, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya dan perhatian Tari teralihkan. Namun, tidak ada pergerakan sama sekali. Pengendara mobil tersebut juga tidak kunjung keluar. Tari berbalik dan kembali mengunci pintu.
Seorang pria keluar dari mobil. Memakai celana chinos pendek dan kaos ketat berwarna navy. Pria itu membuka kaca mata hitam yang dipakainya. Menatap lurus pada gadis yang sedang berusaha mengunci pintu. Pria itu terus memandangnya dalam diam. Gadis yang selama ini ia cari. Gadis yang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan semakin cantik.
Setelah selesai, Tari membenarkan letak tas yang di cangklong di bahunya. Saat melangkah pergi, ia dikejutkan dengan sosok yang bersandar di samping mobil. Tari terpaku. Sekilas ia teringat dengan mimpinya di siang bolong tadi. Seorang pria yang ada dalam mimpinya kini sudah berdiri di depannya. Apa ini masih mimpi?
"Yoga!" katanya lirih.
Ya, pria itu adalah Yoga. Angga Yoga Pratama, teman sekolah, juga seorang yang namanya berhasil terukir di hatinya ... di masa lalu. Yoga berjalan mendekat, menghampiri Tari yang ternganga menatapnya.
"Maaf, aku baru datang." Kalimat yang pertama kali Yoga ucapkan.
Tari tak menjawab. Mulutnya terkunci rapat. Ini bukan mimpi, Yoga benar-benar nyata dan berada di hadapannya sekarang. Pria yang dulu sempat ia lupakan. Dengan usaha keras tentunya. Kini, Yoga dan Tari saling menatap. Jelas, kerinduan terpancar dari mata keduanya.
"Tari, apa kabar kamu?" Tari bergeming. Ia tetap diam.
__ADS_1
Namun, maniknya mulai memerah. Air matanya mulai menggenang. Hanya rindu yang kini ia rasakan. Ingin memeluk, tapi apa daya, tubuhnya tak mampu bergerak. Gadis itu mungkin sangat merindukannya. Enam tahun berlalu, Yoga tidak berubah. Hanya kumis yang sedikit menebal. Mengingatkannya akan masa saat mereka masih sama-sama menjalin persahabatan penuh kasih sayang. Hingga rasa tak biasa mulai mencuat.
"Tari, aku sangat merindukanmu!" Yoga segera memeluk gadis itu. Sungguh, ia juga sangat merindukannya. Yoga tak menyangka bisa bertemu lagi dengan gadis masa lalunya.