
Tari memasuki room VIP no 3. Tak ada janji temu dengan sang papi. Namun ia selalu ada di sana menunggu papi datang. Jika jam sudah pukul 11 namun ia masih sendiri, itu artinya sang papi tidak datang dan ia hanya akan menemani mami Mira atau hanya sekedar duduk di bar bersama dengan mas Jho, si peracik minuman yang handal. Kenapa tidak saling mengabari lewat ponsel saja? Ah entahlah. Gadis itu selalu punya cara sendiri untuk menunggu papinya itu. Lalu tuan Anton, kenapa tidak memberi kabar lewat ponsel saja apa dia akan datang atau tidak. Jika memang Tuhan berkehendak mereka untuk bertemu, mereka akan bertemu tanpa saling memberi kabar.
Alamaak, ribet pokoke ribet!
Pukul 11 malam, papi tak juga datang. Akhirnya Tari memutuskan keluar dari ruangan itu dan pergi menemui sang mami.
"Mam,"
"Iya sayang?" Saat itu mami sedang bersama mas Jho.
"Ana sama Mami ya di sini." ucapnya.
"Memangnya papi kamu ngga datang?"
"Engga, mungkin sibuk." Wajahnya nampak lesu. Kemudian ia memesan orange juice pada mas Jho.
Setelah Tari mendapat minumannya, ia, mami, dan mas Jho pun asyik berbincang dan bercanda. Terkadang gurauan mereka terhenti karna mami harus melayani para pelanggan yang mencari teman bernyanyi atau hanya sekedar minum. Terkadang juga mereka melirik Tari yang ada di samping mami. Mereka ingin gadis itu menemani malam mereka. Namun, mami selalu menolak mentah-mentah permintaan mereka.
Tidak mungkin ia akan memberikan Tari pada para laki-laki hidung belang itu. Bisa mati konyol di tangan tuan Anton.
"Hai Mami," sapa salah seorang pelanggan mami. Usianya sudah cukup berumur. Mungkin 50 an, namun masih terlihat tampan dan segar.
"Hai," Keduanya saling bersalaman.
"Kok baru kelihatan?" tanya mami.
Pria itu tersenyum, sesekali ia melihat ke arah Tari yang terkadang juga memberi senyuman ramah pada pria itu. "Sedang mengurus usaha di luar kota." jawabnya.
Pria itu terlihat ramah dan baik. Berbeda dengan para lelaki yang keluar masuk klub itu.
"Ah, Mami apa ada barang baru?" tanya pria itu dengan mata yang terus memandangi Tari. Ya, pria itu baru pertama kali melihat Tari. Dan ia mungkin tertarik dengannya.
__ADS_1
Mami melihat itu, ia tahu siapa yang di maksud oleh pelanggan setia nya itu. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan pria itu.
"Ah, coba lihat di sana!" Mami menunjuk ke arah para wanita yang sedang bergerombol. Anak-anak didikan mami yang sedang menunggu pelanggan.
"Beberapa dari mereka adalah anak baru. Coba perhatikan, dan pilih salah satu. Nanti aku panggil dia ke sini."
"Tidak Mi, maksud q gadis yang ada di sebelahmu itu. Dia menarik perhatian ku."
Tari mendengar percakapan mereka dan sikapnya biasa saja. Karna ya, memang setiap hari seperti itu. "Lebih baik cari yang lain saja. Ana itu pengecualian."
Pria itu mencoba merayu sang mami. Dia juga menanyai Tari apakah ia mau menemaninya malam ini? Dan jelas jawabannya adalah tidak. Tari hanya milik tuan Anton. Tidak ada yang boleh menyentuhnya. Akhirnya, pria itu mengalah dan mencari gadis lain.
Tiba-tiba saja Tari memikirkan sang papi. Entahlah, rasanya tidak enak di hati. Iya mencoba menghubungi papinya. Tidak ada jawaban, Tari mengulangi panggilan telepon sekali lagi. Nihil, papi tak juga mengangkatnya.
Ah, mungkin benar-benar sibuk hingga tidak bisa di hubungi. Besok pagi Tari akan menelepon papinya lagi. Sekarang mungkin pulang saja, mau ngapain lagi? Tidak ada papi, yang ada hanya para hidung belang yang sedari tadi meliriknya.
Tari berpamitan pada mas Jho dan mami Mira. Kemudian ia berganti pakaian dan pulang. Seperti biasa, Tari selalu mengandalkan bang Rudi untuk mengantar jemputnya. Kemana pun yang Tari inginkan, pasti ia akan mengantarnya. Karna Tari sudah banyak membantu keluarga laki-laki itu.
***
"Hallo?" suara seorang pria.
"Hallo, apa saya bisa bicara dengan Tuan Anton?" Tari tahu, itu bukan suara papinya. Bukan juga suara si Beni.
"Saya anak nya, papa sedang sakit dan sekarang sedang istirahat. Ada yang perlu di bicarakan? Nanti saya akan sampaikan setelah papa bangun."
Tari diam sesaat, papi nya sakit? Rasa khawatir benar-benar menyerang hati dan pikirannya.
"Hallo?" suara di seberang membuyarkan kediamannya.
"Ah, kalau begitu bisa saya meminta nomor telpon Tuan Beni?"
__ADS_1
"Boleh, bisa dicatat sekarang?"
Tari mengiyakan dan segera mencatat nomor ponsel Beni yang disebutkan orang itu. Kemudian ia menutup panggilannya dan segera menghubungi Beni.
Tuan Anton sekarang berada di rumah nya. Sejak pulang dari rumah baru itu, tuan Anton tiba-tiba demam tinggi. Mungkin karna terkena angin laut yang tidak baik untuk dirinya. Beni memberitahukan keadaan tuannya pada Tari. Gadis itu menjadi semakin khawatir. Ingin sekali ia menemui tuannya. Namun, ia takut pergi ke sana. Rumah utama tuan Anton dimana ada keluarganya di sana.
Sedangkan di rumah utama tuan Antonio Wododo, dirinya sedang terbaring lemah di kamarnya. Semua yang ada di kamar itu sedang dilanda kekhawatiran. Pasalnya, tuan Anton tidak mau di bawa ke rumah sakit dan hanya dokter keluarga yang memeriksanya. Bahkan sudah dua hari ini ia selalu memuntahkan makanan yang susah payah ditelan nya. Sebenarnya, sakit nya tidak terlalu parah. Namun suhu badan yang tak kunjung turun membuat semua orang khawatir. Jika saja ia mau di bawa ke rumah sakit, pasti keadaannya sudah membaik.
Beni melarang Tari untuk datang ke rumah utama. Karna belum ada yang mengetahui status hubungannya dengan tuan Anton, jika ia datang dan anak tuan Anton bertanya siapa Tari, mau dijawab apa nanti?
Akhirnya, Tari hanya tahu keadaan tuannya melalui Beni. Sampai tuan Anton sembuh 3 hari kemudian.
***
Pagi ini, Tari sudah ada di dalam kelas. Selama hampir satu minggu ini, Tari menghindari Yoga. Ya ... Memang selalu seperti itu kan? Terakhir mereka berbincang saat Yoga mengembalikan tas miliknya. Setelah itu, sikapnya selalu dingin pada Yoga. Namun Yoga tak pernah berhenti mencoba berbicara pada gadis itu. Seperti hari ini, sepanjang jam pelajaran, ada saja barang yang di pinjam Yoga darinya. Yoga ingin benar-benar berteman dengan Tari. Dia merasa gadis itu berbeda dari yang lain. Ya ... Walaupun fisiknya jauh dari kata cantik, namun Tari berbeda. Disaat semua berlomba-lomba ingin berteman dengannya, Tari malah enggan mendekatinya.
Ia tahu, Tari berpikir dirinya sama dengan yang lain. Suka mengerjai dirinya atau semacamnya. Padahal tidak, Yoga bukan anak yang seperti itu.
Saat pulang sekolah, lagi-lagi Tari tidak mendapat angkutan umum. Ia mencoba menghubungi bang Rudi. Saat sedang mencari nomor ponsel bang Rudi,
"Hei ...." Tari terkejut ketika ada yang mengambil ponselnya. Yoga, dialah yang merebut ponsel Tari.
"Kembalikan!" Tari mencoba mengambil ponselnya lagi, namun Yoga tetap mempertahankan ponsel yang ada di tangannya.
Saat Tari sudah lelah, Yoga mulai mengotak-atik ponsel Tari. "Apa yang kamu mau lakukan? Kembalikan!"
Tiba-tiba ada suara ponsel berdering. Yoga mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana. "Nah, sudah dapat. Ini ku kembalikan ponselmu."
"Apa maksudmu?" tanya Tari setelah ponselnya kembali. Yoga hanya menjawab dengan senyuman kemudian pergi.
"Ck, orang aneh." Tari mencebik, baru kali ini ia bertemu dengan orang seperti itu.
__ADS_1
To Be Continue ....