KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 46


__ADS_3

"Papa?"


Sekali lagi Yoga memperjelas penglihatan nya dengan mengusap matanya berulang kali. Yang dilihatnya memang benar sang papa. Apa yang dilakukannya di rumah itu? Kenapa pagi-pagi begini sang papa keluar dari sana? Apa hubungan papa nya dengan Tari?


Banyak pertanyaan yang hingga di kepalanya. Dia harus segera menyelidiki nya. Apa yang terjadi sebenarnya. Sedangkan mobil sang papa keluar melewati gerbang rumah itu.


Merasa suasana hatinya yang mulai berubah, Yoga memilih pergi dari tempat itu. Ia menghidupkan mesin mobilnya dan berlalu pergi. Sekali lagi dirinya berpikir untuk segera mencari tahu apa yang terjadi. Apa yang mereka sembunyikan darinya?


****


Tari sudah berada di area sekolah. Gadis itu melewati lorong sekolah yang masih terlihat sepi. Mungkin sebagian para siswa dan siswi di sekolah itu belum berangkat. Tunggu! Ada yang aneh. Seperti ada sesuatu yang hilang. Tari yang biasanya berjalan menunduk kini memberanikan diri untuk melihat ke sekeliling.


'Tumben, Yoga belum kelihatan.' batinnya.


Tari merasa heran karena Yoga tidak mengganggu nya karena biasanya hampir setiap hari pasti Yoga akan merengek minta untuk ditunjukkan di mana rumahnya. Mungkin Yoga belum berangkat, pikirnya.


Sampai di kelas Tari menghentikan langkahnya tepat di gawang pintu dan langsung tersenyum kala melihat Yoga yang sudah duduk di bangku nya sembari membaca buku. Dipandangi nya yoga dari tempat itu, wajah yang mirip dengan Tuan Anton itu memang benar-benar tampan. Apakah Yoga adalah cerminan Tuan Anton di masa mudanya? Tunggu, kenapa dia malah memikirkan pria mes*um itu?


Tari menggelengkan kepalanya agar sosok Tuan Anton bisa Terhempas dari pikirannya. Kemudian ia memasuki kelas dan duduk di bangkunya. Gadis itu menoleh ke kanan di mana Yoga berada. Ada yang aneh pada laki-laki itu. Tidak biasanya teman lelaki nya tersebut diam seperti itu.


"Ehm," Tari mencoba memancing perhatian Yoga.


Tari sudah terbiasa dengan berbagai gangguan dari Yoga. Dia malah merasa aneh bila Yoga tiba-tiba tidak bertingkah aktif seperti ini. Tari kembali berdehem namun Yoga tetap diam. Yoga malah semakin fokus membolak-balik buku yang sedang ia baca. Seperti nya yoga sedang berusaha menghindari Tari. Atau Yoga marah dan balas dendam karena dia tidak mau memenuhi permintaan Yoga?


"Yoga," panggil Tari dengan pelan dan Yoga langsung menoleh.


"Hmm?" jawabnya.


"Kamu, kenapa?"


Yoga menautkan alisnya. "Maksudnya aku kenapa?"


"Kamu lagi ada masalah? Atau kamu lagi sakit?"


"Enggak."


"Terus kenapa kamu diem gitu? Biasanya ...."


"Cieee, yang kangen aku gangguin." Yoga memotong kalimat Tari.


Yoga tertawa melihat bibir Tari yang mengerucut kesal.


"Aku nggak kenapa-kenapa, Tari." ucap Yoga sembari menepuk pelan bahu Tari.


"Terus kenapa kamu diem dari tadi?"


"Aku diem karena aku nggak ngomong." Yoga tergelak.

__ADS_1


"Dih, nggak lucu." Tari kesal.


Tiba-tiba bel tanda masuk kelas pun terdengar. Para siswa juga satu persatu memasuki ruang kelas. Termasuk Sarah yang belum berperang namun sudah kalah. Apalagi dirinya sekarang melihat Tari dan Yoga yang sedang tertawa. Semakin kesal dirinya.


Tari mulai mengeluarkan beberapa buku untuk mata pelajaran pertama. Sedangkan Yoga, dia masih setia memperhatikan sahabatnya itu. Sungguh, dirinya tidak bisa jika harus berlama-lama mendiamkan Tari. Gadis baik dan lugu seperti Tari, sangat sulit menemukan sosok teman sepertinya. Tunggu, baik dan lugu?


Yoga teringat dengan ucapan tetangga Tari yang mengatakan bahwa Ana adalah Tari. Jika benar demikian, apa Tari bisa dibilang gadis yang lugu? Lagi pula, sang papi juga memiliki suatu hubungan dengan Tari.


"Siapa kamu sebenarnya, Tar?" gumam Yoga dalam hati.


****


"Malam, Bro!" sapa Mas Jho pada Yoga.


Yoga sekarang sudah berada di klub malam milik papa nya. Dia memutuskan untuk memulai penyelidikan. Langkah pertamanya adalah mencari tahu siapa Ana. Yoga berharap malam ini dia bisa bertemu dengan Ana di klub itu karena sejak kepindahan Tari ke rumah nya yang baru, Ana pun seakan ikut hilang bak ditelan bumi.


"Malam juga, Bro."


"Mau minum apa?" tanya Mas Jho.


"Jus jeruk aja. Aku nggak biasa minum kalau nggak benar-benar mau."


"Haha ... Kayak anak kecil aja minum jus." Ledek Mas Jho sembari membuat pesanan Yoga.


Yoga tak menanggapi candaan Mas Jho. Ia lebih fokus memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan Ana.


"Sudah lama Ana nggak kelihatan lagi di sini." jelas Mas Jho.


"Dia sudah berhenti kerja?" Yoga kini menatap serius Mas Jho.


"Kurang tau juga, Bro. Yang jelas dia ngga pernah datang ke sini lagi."


"Punya nomor ponselnya?"


"Enggak ada yang punya nomornya kecuali mami." jawab Mas Jho kemudian memberikan jus pesanan Yoga.


"Siapa itu mami?"


"Mami nya para gadis di sini. Nah itu orangnya."


Yoga menoleh mengikuti jari Mas Jho yang menunjuk seorang wanita. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan modis itu tengah berjalan bersama beberapa gadis yang terlihat cantik dan juga seksi.


"Aku tinggal dulu, Bro." Yoga bergegas menghampiri Mami Mira yang sedang berjalan menaiki tangga.


"Tunggu!" Yoga menghentikan langkah sang mami.


Mami Mira dan para gadis itu langsung menoleh ke belakang dan tercengang melihat lelaki tampan yang menghentikan langkah mereka.

__ADS_1


"Mami, brondong." ucap salah satu gadis yang terpesona akan ketampanan Yoga.


"Ya, sayang?" tanya Mami Mira dengan lembut.


"Bisa saya bicara sebentar?" ucap Yoga dengan sopan.


Para gadis yang berdiri di belakang Mami Mira pun terlihat kegirangan. Para gadis itu pikir Yoga akan menyewa salah satu dari mereka.


"Boleh dong. Silahkan, sayang."


"Saya mau bicara empat mata saja, Bu."


"Hei! Jangan panggil saya Ibu. Mami, oke!"


Yoga mengangguk, kemudian mereka pergi menuruni tangga meninggalkan para gadis pemandu itu.


"Sayang, kalian masuk duluan aja. Nanti Mami nyusul." ujar sang mami pada para gadisnya.


"Oke, Mi. Kalau deal, buat aku aja, ya!" kata salah satu gadis itu.


Kemudian Yoga berjalan mengikuti Mami Mira menuju ruangannya. Mami Mira membuka pintu dan mempersilahkan Yoga untuk masuk dan duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Kamu mau bicara apa, sayang?" tanya Mami Mira seraya mendudukkan dirinya di sofa yang berhadapan dengan Yoga.


Sang mami merasa lucu. Anak kecil seperti Yoga sedang berbincang dengannya. Bahkan wajahnya terlihat serius. Apa pria kecil itu mau menyewa seorang gadis?


"Haha ... Lucu sekali." tawa Mami Mira dalam hati. Wanita itu tidak tahu, bahwa laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah anak Tuan Anton.


"Saya sedang mencari seorang gadis."


Mami Mira tersenyum, "Di sini banyak gadis, sayang. Kamu mau yang seperti apa? Yang sudah dewasa dan berpengalaman atau yang seusia kamu? Anak-anak ku sangat berpengalaman dalam bernyanyi. Kalau kamu mau cari yang booking an, juga ada. Tapi itu termasuk perjanjian pribadi, yah. Kalau ada apa-apa itu diluar wewenang kami."


Yoga menautkan alisnya kemudian tertawa saat sang mami mengira dirinya akan mencari teman semalam.


"Apa Ana juga bekerja seperti itu?"


"Ana?"


"Iya, apa Anda lupa bahwa saya pernah membantu Ana saat mabuk waktu itu?"


Mami Mira terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian saat Ana tengah mabuk. Ah, iya. Waktu itu memang anak muda yang di hadapannya ini yang membawa Ana pergi. Dan sukses membuatnya terkena amukan sang majikan.


"Ah, iya. Aku ingat sekarang. Kamu yang bawa Ana pergi dan aku kena amukan tuanku." Tiba-tiba Mami Mira menjadi kesal.


"Maksudnya?" tanya Yoga kebingungan.


"Iya. Gara-gara kamu bawa pergi Ana, aku jadi sasaran kemarahan Tuan Anton." Mami Mira mendengus kesal.

__ADS_1


"Tuan Anton?"


__ADS_2