
"Nih An, minuman Loe." Gadis yang menawarkan diri untuk mengambilkan minuman untuk ana datang dengan membawa dua gelas minuman. Satu untuknya dan satu lagi untuk Ana.
"Makasih." ucap Ana dengan tersenyum. Ia segera meminum minuman itu. Wajah Ana berubah, ia mengernyit. Minuman itu rasanya aneh, tapi enak. Kemudian ia meminumnya kembali sampai habis.
Merasa apa yang diminum sangat manis, Ana memesan kembali kepada pelayan yang ada di luar ruangan. Sembari menikmati alunan lagu yang teman-temannya nyanyikan, Ana sudah menghabiskan beberapa gelas minuman.
Satu gelas, dua gelas, tiga gelas, gadis itu merasa kurang dan ingin minum lagi. Saat dirinya mencoba berdiri dan berjalan untuk memesan kembali minuman itu, kepalanya tiba-tiba pusing. Apalagi melihat cahaya lampu yang berkedip-kedip membuat kepalanya semakin pusing. Ia duduk kembali sembari memijat pelipisnya.
"Ana kamu kenapa sayang?" tanya mami khawatir. Ia melihat Ana yang duduk melemas dan memijit kepalanya sendiri.
"Ngga tau Mi, kepalaku tiba-tiba pusing."
Mami Mira melihat gelas sisa minuman milik Ana. "Astaga Ana, kamu mabuk?"
Sang mami terkejut saat mencecap setetes minuman di gelas Ana. Ternyata yang Ana minum adalah minuman beralkohol jenis Black Royale whisky. Minuman dengan kadar alkohol sedang dan tidak berbau. Pantas saja Ana tidak mencium bau alkohol di minumannya, yang Ana rasakan hanyalah agak pahit saat di mulut namun terasa manis saat ditelan.
Untuk seorang pemula seperti Ana, hanya minum beberapa gelas saja sudah membuatnya tak karuan, pusing, mual namun tubuhnya terasa ringan.
"Mending kamu pulang sekarang An, mami antar ya!"
"Iya Mi, mending Ana pulang sekarang." Ana mencoba berdiri dibantu sang mami.
Kepala Ana benar-benar pusing tak karuan. Ternyata omongan orang tentang alkohol itu bisa memberikan ketenangan hanyalah bualan belaka. Nyatanya, Ana malah pusing dan semakin berat. Gadis itu berjalan perlahan dibantu oleh mami Mira meninggalkan teman-teman yang masih asyik berlenggok dalam ruangan itu.
"Ana!" Yoga girang ketika melihat Ana dari kejauhan. Namun ada yang aneh, kenapa jalan Ana sempoyongan begitu? Bahkan harus dibantu oleh seseorang. Apa dia mabuk?
__ADS_1
Yoga segera bergegas menghampiri gadis yang ia cari itu. Melewati orang-orang yang sedang menari karna efek alkohol.
"Ana, kamu kenapa?" tanya Yoga khawatir ketika ia sudah berada di hadapan Ana dan mami Mira.
Kedua wanita itu menghentikan jalannya. Ana mendongak, samar-samar ia mengenali siapa lelaki yang ada di depannya itu.
"Hai Yoga, hahaha ...." efek alkohol itu mulai terasa.
"Apa dia mabuk? Yoga bertanya pada mami Mira.
"Iya," Sang mami mengangguk.
"Biasanya dia tidak pernah minum alkohol. Tapi ngga tahu ini kenapa dia malah minum." jelasnya.
"Biar saya yang antar Ana pulang Bu." Yoga menggantikan mami Mira memapah Ana.
"Tidak apa Bu, biar saya yang antar. Saya temannya." Yoga mencoba meyakinkan. Pasti mami takut akan terjadi hal buruk jika Ana bersamanya.
Bukan itu yang mami Mira khawatirkan. Kemurkaan tuan Anton lah yang ia takuti. Ia takut melakukan kesalahan karna membiarkan Ana pergi dengan laki-laki lain.
"Mami, Ana pulang dulu ya. Yoga udah jemput, Ana mau pulang sama Yoga aja." Ana angkat suara dengan lagat seperti orang mabuk. Gadis itu segera bersender di bahu Yoga. Alkohol membuatnya berani melakukan apapun.
"Tap ...."
"Kami pergi dulu," Belum selesai bicara Yoga sudah menyela. Ia segera memapah Ana keluar dari klub itu menuju mobilnya.
__ADS_1
"Haeh," Mami Mira hanya bisa menghela napas, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi, ia harus mengumpulkan mental jika nanti tuan Anton tahu Ana pergi dengan lelaki lain.
Di perjalanan menuju mobil, Ana selalu tertawa riang sembari bergelayut manja di lengan Yoga. Gadis itu merasa senang bisa bertemu dengan Yoga, lelaki yang telah memenuhi hatinya. Yoga pun juga merasa senang, ini pertama kalinya ia bisa sangat dekat dengan Ana. Bahkan Ana sampai memeluknya meski sedang dalam keadaan mabuk.
Yoga sedikit kesusahan ketika membuka pintu mobil, ia harus menopang tubuh Ana yang bergelayut di lengan kirinya. Ketika sudah terbuka Yoga segera membantu Ana duduk dan memasang sabuk pengaman.
"Cantik," Suara Yoga hampir tak terdengar. Yoga tak sengaja memandang wajah Ana.
Lelaki itu begitu mengagumi kecantikan Ana yang natural. Bibir itu, ingin sekali Yoga mengecupnya barang sebentar. Tanpa sadar, ia mendekati wajah Ana perlahan. Benda lembut itu begitu menggodanya.
"Emh," Ana beringsut memiringkan kepalanya membuat Yoga terkejut.
Dug,
"Aw ...." Yoga mengerang kesakitan saat kepalanya tak sengaja terbentur atap mobil.
Ia tersenyum sembari mengusap kepalanya di bagian belakang. Ia merasa lucu dengan apa yang ingin dirinya perbuat.
Di perjalanan Yoga fokus menyetir, sesekali ia menoleh untuk melihat keadaan Ana yang sedang tertidur.
Sampai di gang dekat rumah Ana, Yoga menghentikan mobilnya.
"Ah," Yoga memukul setir mobilnya sedikit frustasi. Ia lupa dirinya tidak tahu rumah Ana di sebelah mana. Keadaanpun juga sangat sepi karna sudah lewat tengah malam.
Yoga diam sejenak untuk berpikir. Tidak mungkin ia mengetuk setiap rumah satu persatu menanyakan keberadaan rumah Ana. Ah, Tari. Iya Tari, kenapa ia bisa lupa kalau rumah Ana dan Tari satu daerah.
__ADS_1
Yoga segera melajukan mobilnya kembali ke rumah Tari. Semoga Tari bisa membantunya mencari tempat tinggal Ana.