KIRANA (Dia Juga Dia)

KIRANA (Dia Juga Dia)
Eps 58


__ADS_3

"Yoga, lempar ke sini!" seru salah satu teman Yoga di kelas baru nya.


Yoga pun segera melempar bola basket yang ada di tangannya. Saat ini kelas yoga sedang mengikuti pelajaran olahraga. Yoga dan beberapa murid laki-laki yang lainnya sedang bermain basket. Semua gadis yang melihatnya pun terpana. Bak mendapatkan emas dalam lumpur yang menghitam, para gadis terlihat gembira melihat Yoga sedang bermain basket. Pasalnya, jarang sekali Yoga melakukan aktivitas seperti sekarang ini. Ia lebih sering menemani Tari yang sendirian dan bercanda dengannya.


Semua gadis terpesona akan sosok Yoga yang semakin terlihat keren saat bermain basket. Begitu juga dengan Tari, gadis itu kini juga tengah memperhatikan laki-laki itu. Mereka memiliki jam pelajaran olahraga di waktu yang sama. Tari, masih setia duduk di bangku pinggir lapangan seperti dahulu. Sendirian, tanpa teman.


Bahagia rasanya bisa melihat orang yang dicintainya meskipun tak bisa menyapa. Tari tersenyum. Sepertinya, sahabatnya itu baik-baik saja setelah apa yang terjadi. Bahkan kini Yoga juga berbaur dengan yang lainnya. Dalam benaknya, Tari memantapkan hatinya untuk melepas perasaannya pada Yoga. Biarlah terlepas, benih cintanya terhempas. Bagai kapas yang diterpa angin, Tari mantap menyingkir meski hatinya tak ingin.


Ketika pikiran Tari jauh melayang mencoba melepaskan rasa yang terbayang, pandangan mereka tak sengaja saling bertemu. Tari yang tersadar pun langsung membuang muka ke arah lain agar mereka tak saling bersitatap. Pun dengan Yoga, ia juga kembali fokus ke permainannya. Tatapan yang hanya sesaat berhasil membuat jantung keduanya saling berdetak dengan cepat. Rasa yang coba mereka hambat nyatanya malah semakin mencuat.


Yoga terlihat kecewa kala ia ingin melihat gadis itu kembali. Orang yang ingin dilihatnya ternyata sudah pergi dari tempatnya. Entah ke mana gadis itu. Ingin mencarinya, tapi harga dirinya terlalu tinggi. Yoga pun kembali melanjutkan permainan basketnya bersama teman-teman yang lainnya.


***


"Kapan kamu bawa calon menantuku ke sini, Anton?" tanya sang mama pada anaknya.


"Nanti sore setelah dia pulang sekolah aku akan bawa dia untuk bertemu dengan Mama." jawab Tuan Anton sembari menyeruput jus mangga nya.


Saat ini, Bu Ratih dan anaknya tengah bersantai di teras depan rumah. Suasana yang sejuk dan hari yang cerah membuat Bu Ratih ingin berlama-lama duduk santai di tempat tersebut.


"Setelah kami menikah, aku akan ajak dia tinggal di tempat yang baru, Ma."


"Kenapa nggak tinggal di sini saja?"


"Rumah ini aku berikan untuk Yoga. Biar dia yang tinggal di sini sambil mengurus usahaku."


"Kamu egois, Anton." kesal Bu Ratih.


"Kamu enak-enakkan setelah menikah bisa berduaan dengan istri barumu. Sedangkan di sini Yoga harus bekerja keras mengemban tugas yang kamu berikan." imbuhnya.

__ADS_1


"Ingat, Anton! Yoga adalah anakmu, darah daging mu. Kamu harus mengutamakan dirinya dibandingkan yang lain. Mama sangat mendukung jika kamu menikah lagi, tapi kamu tidak boleh mengabaikan kebahagiaan Yoga. Dia masih muda, dia juga butuh masa muda nya. Tidak hanya melulu mengerjakan pekerjaan yang harusnya kamu selesaikan. Mama tidak setuju jika Yoga harus memimpin perusahaan mu yang besar itu. Lebih baik Mama bawa dia kembali tinggal bersama dengan Mama kalau kamu masih keras kepala." ucap sang mama panjang lebar.


Tuan Anton yang mendapat celotehan panjang dari sang mama pun hanya diam. Dirinya tidak mungkin melepas perusahaannya begitu saja pada Yoga. Dia juga akan ikut memantau dari kejauhan. Namun, untuk tinggal bersama membangun keluarga kecil sepertinya tak bisa ia lakukan. Mengingat Yoga yang mungkin kini sangat membenci gadisnya. Sebisa mungkin dia akan memisahkan keduanya agar Tari tidak tersakiti.


***


"Pih, kita mau ke mana?" tanya Tari yang bingung karena mobil yang dikendarai sang papi tidak melewati jalan menuju rumahnya.


"Kita ke rumah Papi, Sayang." jawab Tuan Anton yang tetap fokus menyetir mobilnya. Tuan Anton sengaja menjemput gadisnya hari ini.


"Buat apa?" Tari mulai sedikit panik. Pasalnya, di rumah itu lah Yoga tinggal. Ia takut jika terjadi kejadian seperti yang sudah-sudah.


"Bertemu orang tua Papi. Mereka sangat ingin bertemu denganmu."


"Tapi,"


Tari bernapas lega. Apa yang ia takutkan tidak akan terjadi karena Yoga tidak di rumah. Di sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam dan sesekali melihat keadaan di luar jendela. Gugup, sudah pasti. Apa lagi yang akan ia temui adalah orang tua sang papi yang akan menjadi calon mertuanya.


Sampai di rumah Tuan Anton, Bu Ratih dan Pak Widodo sudah menunggu mereka di teras depan. Keduanya terlihat sedang duduk di kursi yang tersedia. Tuan Anton segera memarkirkan mobilnya dan membantu Tari keluar dari mobil. Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat Bu Ratih dan Pak Widodo berada.


Bu Ratih dan Pak Widodo segera berdiri untuk menyambut mereka. Mereka dibuat terkejut dengan penampilan Tari saat ini. Pak Widodo pun sampai mengerutkan dahinya. Bukan karena Tari yang masih mengenakan seragam sekolah dan menggendong tasnya, tapi karena wajah Tari yang tidak seperti bayangan mereka. Anaknya bilang, Tari adalah gadis cantik dan manis. Semua orang pasti akan terpikat dengan kecantikannya.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Tuan Anton heran.


Sedangkan Tari, gadis itu menundukkan pandangannya tak berani melihat kedua orang tua sang papi. Rasa takut menyeruak dalam hati. Ia takut mereka tak menerima kedatangannya. Siapa pula yang akan menerima calon menantu seperti dirinya?


"Ah, tidak ada. Ayo silahkan masuk!" ajak Bu Ratih yang kemudian meraih lengan Tari dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Mereka berempat pun segera masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


"Tari, perkenalkan aku Bu Ratih, Mama nya Anton. Dan dia Papa nya Anton." kata Bu Ratih memperkenalkan dirinya dan sang suami.

__ADS_1


"Iya, Tante. Saya Tari." balas gadis itu dengan sopan. Jemarinya bergetar menahan rasa gugup yang menyerangnya.


Begini kah rasanya bertemu dengan calon mertua? Jantung bergemuruh dan keringat dingin pun mulai menetes.


"Kamu baru pulang sekolah ya?" tanya Bu Ratih.


"I-iya, Tante." jawab Tari gugup.


"Kamu jangan terlalu gugup begitu, Sayang." Bu Ratih mencoba menenangkan. Ia tahu gadis itu sangat gugup.


"Benar, kita ini kan keluarga. Jadi bersikap lah seperti biasa!" Pak Widodo angkat bicara.


"Kamu mau minum apa, Sayang? Biar Tante buatkan."


"Terserah Tante saja, Tan."


"Jus alpukat, Ma. Gadisku sangat menyukainya." timpal Tuan Anton sembari berpindah duduk di samping Tari.


Bu Ratih tersenyum. "Baiklah, Mama akan buatkan jus alpukat untuk kalian dan kopi hitam untuk Papamu."


Bu Ratih segera bangkit dan berjalan menuju dapur, meninggalkan dua lelaki tersayangnya dan Tari di ruang tamu.


"Kamu kenapa berkeringat gitu?" tanya sang papi pada gadisnya.


"E-enggak, Pih. Nggak apa-apa." lirih gadis itu.


"Oh iya, Papi belikan baju buat kamu. Kamu mau kan? Ada di mobil, sebentar Papi ambilkan."


Belum sempat dijawab oleh Tari, pria itu sudah beranjak pergi menuju mobilnya. Kini hanya ada Tari dan Pak Widodo. Gadis itu hanya diam menunduk karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan. Apa lagi sang calon mertua nya itu tengah mengamati dirinya. Ya, Pak Widodo sedang menatap Tari dengan heran. Banyak gadis cantik di luar sana yang dengan suka rela menjadi kekasih anaknya. Namun, dia memilih gadis seperti tari. Seragam yang lebih besar ukurannya, kulit yang gelap dan juga wajah yang tidak terawat. Apa yang membuat anaknya terpikat dari seorang Tari?

__ADS_1


__ADS_2