Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
10. Salah Sangka


__ADS_3

Alun-alun kota Cirebon di hari Minggu sangat ramai oleh orang-orang yang ingin berolah raga. Apa lagi di stadion Bima, banyak sekali para pedagang dan juga orang-orang yang berolah raga. Aina, Arya dan juga Shella setelah dari alun-alun mereka pergi ke stadion Bima.


Di sana banyak sekali pedagang dengan berbagai macam dagangan. Ada pedagang pakaian, kerudung juga makanan. Seperti sedang ada pameran, namun itulah kegiatan di hari Minggu pagi.


"Lelah juga ya berkeliling stadion ini?" kata Shella sambil mengelap keringat di pelipisnya.


"Ngga lelah kok kalau larinya sama kamu." ucap Arya sambil tersenyum.


Shella tersipu dengan ucapan Arya itu, wajahnya merona. Dia pun menepuk pundak Arya dengan manja.


"Kak Arya bisa aja." kata Shella dengan senyumnya dan pipi merona.


"Kamu cantik kalo lagi merah gitu." ucap Arya lagi yang sukses membuat hati Aina sakit sejak tadi Arya selalu memuji adiknya.


Dia pergi meninggalkan mereka berdua.Tak peduli Shella yang memanggilnya. Dia hanya melambaikan tangan tanpa melihat dua orang yang sedang kasmaran.


Hatinya begitu kecewa, setelah apa yang Arya ucapkan tadi. Dia berpikir, jadi selama ini yang Arya lakukan, mendekatinya dan membuatnya merasa seperti orang jatuh cinta padanya. Itu karena perlakuan manisnya hanya modus untuk mendekati adiknya.


Tak terasa pipinya basah karena aliran air mata yang jatuh tak terbendung. Dia tersedu di belakang kursi taman setelah dia berlari kecil keluar dari dalam stadion. Hatinya perih, terjadi lagi. Kekecewaan karena salah sangka, apakah senaif itu dirinya selalu di manfaatkan?


Aina kemudian pergi dari taman meninggalkan kisah pilunya sendiri yang ternyata hanya salah sangka. Seharusnya dia bisa membentengi dirinya dari bentuk rayuan dan perhatian dari yang namanya laki-laki. Tapi, hati tak bisa di atur dengan baik.


Cukup sudah untuk saat ini, bahwa hatinya tak mau sakit karena cinta sepihak. Dia tak mau memberi waktu hanya untuk sakit hati. Rasa lelah karena sebuah penghianatan, atau pemanfaatan dirinya.


_


"Kakak, kenapa pulang duluan?" tanya Shella sambil duduk di tepi ranjang Aina.

__ADS_1


"Perut kakak sakit, jadi kakak duluan pulang. Maaf yah." jawab Aina tanpa menoleh ke arah Shella.


"Mm ... kak, bagaimana sih kak Arya itu orangnya?" tanya Shella ragu-ragu.


Deg!


Ini seharusnya sudah dia duga, tapi kenapa hatinya kecewa dan sakit hati dengan pertanyaan itu. Apakah secepat itu mereka saling menyukai?


"Kak Ai, di tanya kok diam aja sih?" ucap Shella masih belum mengerti jika Aina sedang kecewa padanya dan juga Arya.


"Maksudnya apa?" pura-pura tak mengerti.


"Ya, maksudnya kak Arya itu orangnya baik atau dia pura-pura baik begitu kak." kata Shella.


"Baik kok." jawabnya singkat.


Aina mengela napas berat.Dia duduk di samping adiknya. Dia menatap adiknya, di telitinya wajah itu yang ceria dan penuh harap bahwa dirinya menjawab Arya adalah laki-laki yang baik.


"Memang dia bilang apa sama kamu tadi?" menguatkan hatinya.


Dia juga sudah ikhlas dengan rasa kecewanya. Sudah tidak berpikir tak perlu sakit hati lagi. Itu juga karena hatinya saja yang mudah di bawa perasaan. Shella diam sambil menunduk, kedua tangannya di mainkan satu sama lain. Aina memperhatikan apa yang di lakukan oleh adiknua itu.


"Shella apa yang di katakan Arya sama kamu?" tanya Aina.


"Kak Arya bilang suka sama Shella." sambil takut-takut dan melirik ke arah kakaknya.


Aina diam, di genggamnya sprei di atas ranjang yang dia duduki bersama Shella. Wajahnya berpaling ke arah lain, dia kembali sakit. Ingin marah, namun pada siapa dia tidak tahu. Perasaan cinta itu tidak bisa di paksakan, tapi beruntung dia sudah mengetahuinya lebih dulu. Jadi, rasa sakit hati pun tidak terlalu besar.

__ADS_1


"Kamu tahu kan aturan ayah, kalo belum lulus sekolah ngga boleh pacaran?" kata Aina mengingatkan.


Shella mengangguk ragu, wajahnya masih menunduk. Ada rasa kecewa, namun juga rasa takut mengingat ayahnya menerapkan ketentuan pada anaknya jika punya pacar harus setelah lulus sekolah SMA.


"Bilang sama Arya, kamu ngga boleh pacaran sebelum lulus sekolah. Kalau mau menunggu, nanti setelah lulus sekolah, itu pun harus ijin lagi sama ayah." kata Aina.


"Tapi Shella juga suka kak Arya, kak." kata Shella, sedangkan Aina menghela napas kembali.


"Kalo dia bener-bener suka sama kamu, pasti dia nungguin kamu kok. Nggak usah khawatir, jika Arya orang baik dia pasti menuruti aturan ayah itu. Makanya kamu bilang sama Arya sebelum nanti kalau dia kesini dan ayah tahu kamu pacaran sama dia sebelum sekolah lulus, ayah akan langsung mengusirnya dan ngga boleh main lagi kesini." ancam Aina.


"Iya iya kak, cerewet sekali kak Aina." kata Shella.


"Ya kalau kamu minta pendapat kakak, ya seperti itu. Harus menurut aturan ayah. Kamu paham ngga?" tanya Aina.


"Iya. Ya udah, Shella mau mandi dulu. Terima kasih kakakku yang bawel." Shella bangkit dari duduknya lalu menjewer pipi kakaknya yang tembem.


"Shella!!"


"Hahah!!"


Shella hanya tertawa terbahak-bahak sambil berlari keluar kamar. Aina hanya menggeleng-gelengkan kelakuan adiknya itu. Dia bangkit dari duduknya dan merapikan ranjangnya. Lalu menghela nafas panjang, seharusnya tidak seperti itu lagi. Kecewa pada teman dan sahabat.


"Apa aku terlalu naif? Kecewa lagi dan lagi." gumam Aina.


_


_

__ADS_1


************


__ADS_2