
Malam hari, Aina uring-uringan di kamarnya. Dia masih bingung dengan Riyan yang tiba-tiba memutus teleponnya tadi siang.
'Kenapa yah mas Riyan begitu? Apa terlalu sibuk dengan kerjaannya.' gumam Aina dalam hati.
Satu ketukan pintu membuyarkan lamunan Aina. Aina menghela napas berat, dia malas keluar kamar. Tapi akhirnya membuka pintu juga.
"Ada apa Bu?" tanya Aina malas.
"Kamu kok kusut begitu mukanya?kenapa?" tanya ibu Erni melihat anaknya yang kelihatan tidak bersemangat.
"Aina hanya lelah aja Bu, kan tadi habis jalan-jalan sama Jhody." ucap Aina beralasan.
"Makan dulu yuk, ibu tadi masak sambel goreng ati lagi lho." kata ibu Erni.
"Iya nanti Aina ke sana." ucap Aina lagi.
"Cepat ya, ayah sudah menunggu di meja makan."
"Iya."
Ibu Erni kembali lagi ke meja makan, Aina merapikan kasurnya lalu menyisir rambutnya yang berantakan karena tadi sedang berbaring di ranjangnya. Setelah selesai, dia lalu keluar dari kamarnya kemudian menuju meja makan untuk makan malam yang sebenarnya dia tidak lapar. Tapi dia takut ayahnya yang akan mencarinya terus.
_
Setelah selesai makan, Aina langsung masuk kamar lagi. Memang dia merasa lelah hari ini, mungkin karena hati dan pikirannya tertuju pada Riyan yang tadi siang agak aneh. Jadi dia memutuskan langsung tidur saja malam ini lebih cepat.
Sedangkan di ruang tamu,ayah Aina sedang mengobrol santai dengan istrinya ibu Erni. Membicarakan masalah pekerjaan di kantor dan juga tentang Aina. Mereka tidak akan bertanya apa pun kali ini tentang jodoh Aina, biarkan Aina menikmati liburannya di rumah.
"Assalamu Alaikum.." suara salam dari luar. Baik pak Edi dan Bu Erni merasa aneh ada tamu malam-malam begini. Keduanya saling pandang, dan ibu Erni menjawab salam dari luar.
"Walaikum salam." jawab keduanya.
__ADS_1
Lalu Bu Erni membukakan pintu. Terlihat laki-laki berdiri dengan agak kaku menyapa Bu Erni. Wajah yang tidak asing bagi ibu Erni, tapi dia lupa siapa laki-laki yang berdiri di depan pintu itu.
"Selamat malam, Tante. Aina ada?" dengan terpaku, Bu Erni mengingat-ingat siapa laki-laki di depannya itu.
"Nak An..to, bukan ya?" tanya Bu Erni ragu.
"Iya Tante, saya Anto." jawab Anto tersenyum ramah.
"Owalah, Tante sampai lupa. Mari masuk nak Anto." ajak Bu Erni.
"Terima kasih tante." ucap Anto.
Kemudian Anto masuk menuju ruang tamu dan juga menyapa pak Edi yang sedang duduk sambil menatapnya datar. Ada kecanggungan pada Anto, dia merasa seperti mau di sidang.
"Selamat malam, om." sapa Anto ramah. Pak Edi tersenyum segaris.
"Kamu Anto temannya Aina?" tanya pak Edi.
"Lama tidak main-main ke sini." kata pak Edi lagi.
"Oh, iya om." jawab Anto dengan senyum canggungnya.
"Cari Aina?" tanya pak Edi lagi, kali ini dengan tatapan menyelidik.
"Iya om."
"Kenapa datangnya malam sekali?" tanya pak Edi lagi.
"Iya om, maaf. Tadi saya ada urusan, jadi kesininya malam." jawab Anto, dia menunduk malu. Sedangkan tatapan pak Edi tidak lepas dari Anto yang sedang menunduk.
"Bu, coba anakmu di panggil. Ada temannya datang." kata pak Edi pada istrinya.
__ADS_1
IBlbu Erni pun pergi menuju kamar Aina, memanggil anaknya yang mungkin sudah tidur. Ibu Erni mengetuk pintu kamar Aina, dan dengan malas Aina membuka pintu kamarnya dan bertanya pada ibunya.
"Ada apa bu?"
"Ada teman kamu di depan." jawab ibu Erni.
Ania pun keluar menuju ruang tamu menemui siapa teman yang di maksud ibunya. Pak Edi masih duduk di hadapan Anto. Aina terkejut, dia tidak menyangka ucapan Anto tadi siang ternyata benar.
Lalu Aina duduk di kursi sofa kecil, wajahnya masih tampak kaget dan menatap Anto yang juga menatapnya sambik tersenyum padanya. Dia melirik ayahnya yang sejak tadi hanya diam tak mau pergi. Mau tidak mau baik Aina maupun Anto masih saling diam.
"Ehm!" deheman keras membuat Anto tambah kaget. Dia lirik Aina sebentar lalu katanya.
"Saya mau bicara sama Aina, om." kata Anto gugup. Wajah tegang masih tercetak jelas.
"Mau bicara apa sama Aina?" tanya pak Edi.
Sebenarnya dia hanya ingin tahu maksud Anto tiba-tiba datang ke rumahnya setelah bertahun-tahun tak pernah main ke rumah. Dia pikir, dulu antara anaknya dan Anto punya masalah yang rumit.
"Saya mau bicara, ...."
"Assalamu alaikum!"
Belum selesai kalimat Anto, tiba-tiba dari luar terdengar suara orang mengucapkan salam. Ke empat orang itu pun tampak kaget, apa lagi Aina. Dia melihat seseorang yang dia kenal, lalu pak Edi dan Aina menjawab salam laki-laki itu secara bersamaan.
"Wa alaikum salam."
_
_
******************
__ADS_1