
"Aina kerja di kantor Wisnu sudah berapa tahun?" tanya ibu Sarah ketika mereka ngobrol santai di ruang tamu.
Aina yang di tanya dengan sikap hangat ibu Sarah jadi nyaman untuk mengobrol, padahal ini pertama kali ketemu sang calon ibu mertua, eh?
"Belum lama kok Tante, baru juga beberapa bulan." jawab Aina sopan.
"Kok bisa akrab ya sama Riyan? Dia suka menggoda kamu ngga?" tanya ibu Sarah penasaran.
"Ngga kok Tante, awalnya pak Wisnu suka ngga masuk karena halangan jadi saya dan pak Riyan suka pergi bareng karena ada pekerjaan di luar kantor." jawab Aina jujur, jika berkata jujur lagi, memang Riyan suka sekali menggodanya akhir-akhir ini.
"Ooh, jadi kamu tahu ngga Aina, Riyan itu baru pertama kali bawa perempuan ke rumah.Dan sepertinya kamu sudah mencuri hati anak Tante deh." kata ibu Sarah sambil senyum-senyum.
Dia ingin tahu sebenarnya perempuan di depannya ini peka atau tidak dengan perlakuan anaknya yang manis itu. Terkadang Riyan memang tidak langsung mengungkapkan perasaannya, tapi melalui sikapnya itu adalah bentuk dari rasa cintanya. Hanya saja, Aina sebagai perempuan perlu penegasan. Bukan sikap yang di tunjukkan.
"Ngga tahu sih Tante, karena saya dan pak Riyan kan baru dekat." jawab Aina.
Dia tidak mau besar kepala dengan ucapan ibu Sarah. Karena Riyan sendiri belum mengungkapkan perasaannya pada Aina. Aina tidak mau terbuai. Dan dia tidak mau kekecewaan yang berulang di hidupnya.
'Ah, ternyata dia ngga peka.' pikir ibu Sarah.
Tapi dia senang, juga merasa nyaman ngobrol dengan Aina walau cuma sebentar.
"Tante senang sama kamu, semoga kamu bener jadi mantu Tante, ya Aina." kata ibu Sarah dengan wajah berbinar.
Wajah memerah Aina, dia semakin gugup dengan ucapan ibu Sarah. Hanya senyuman saja tanggapan Aina dengan ucapan ibu Sarah itu. Semoga benar begitu tante, pikir Aina dalan hati.
Empat puluh menit, Riyan meninggalkan Aina ngobrol dengan mamanya, lalu dia menghampiri keduanya di ruang tamu. Dia melirik jam di tangannya, sudah pukul sembilan. Aina sudah harus pulang ke kos-annya.
"Ai, yuk kita pulang." kata Riyan.
"Lho, kok pulang sih. Mama belum puas ngobrol dengan Aina, Yan." kata ibu Sarah.
"Udah malam ma, Aina pasti udah mengantuk. Lagi pula anak gadis ngga boleh pulang malam-malam." kilah Riyan.
__ADS_1
"Idih, kamu posesif banget jadi orang." ucap ibu Sarah dengan kesal.
"Nanti kalau udah jadi menantu mama bebas kok ngobrolnya." kata Riyan lagi, membuat Aina kembali tersipu dan memerah wajahnya.
"Yuk Ai, aku antar kamu pulang." yang di ajak hanya mengangguk.
Hatinya menghangat, ibu dan anak itu sangat menyenangkan. Entahlah, Aina masih di buat bingung dengan sikap Riyan. Tapi dia masih dengan belum yakin jika Riyan menyukainya. Masih pada sikapnya yang dulu, tak mau terbuai oleh sebuah sikap manis namun belum ada kepastian.
Mereka pun segera menaiki mobil dan Riyan mengantar Aina ke kosannya. Dalam mobil keduanya tidak banyak bicara, masih tenggelam dalam pikiran masing-masing tentang makan malam ini. Karena sudah lelah keduanya, Riyan hanya mengantarkan saja sampai depan halaman kos.
"Besok pagi aku jemput kamu ya." kata Riyan sebelum Aina turun dari mobil. Karena sudah merasa mengantuk, Aina hanya mengiyakan saja. Lalu dia keluar dari mobil dan melambaikan tangan setelah mobil melaju meninggalkan Aina.
_
Pagi-pagi Riyan sudah memarkirkan mobilnya di depan gerbang kosan Aina. Di hubungi Aina yang ternyata baru merias wajahnya. Hatinya senang bisa bertemu Aina di pagi hari.
Tuuut.
"Halo mas Riyan, ada apa?" tanya Aina yang heran pagi-pagi sekali Riyan sudah menghubunginya.
Aina mengerutkan dahinya, lalu dia menepuk dahinya setelah dia ingat ucapan Riyan semalam.
"Oh iya. Ya udah tunggu, mas. Sebentar lagi selesai." ucapnya.
"Ya."
Klik!
Lalu Aina dengan cepat menyelesaikan polesan bedak di wajahnya kemudian mengoleskan lipstik seperlunya. Kali ini dia lagi suka lipstik warna peace, senada dengan blouse yang dia kenakan yang di padukan dengan blazer hitam dan rok hitam.
Setelah selesai, dia langsung keluar setelah tas selempang dia cangkolkan di pundaknya. Sampai di depan mobil Riyan, Aina tersenyum ketika Riyan sudah membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih mas Riyan." lalu Aina duduk. Jantungnya benar-benar di buat olah raga di pagi ini dengan perlakuan Riyan.
__ADS_1
Riyan melajukan mobilnya dengan agak cepat, agar tidak terlalu terjebak macet. Dalam mobil pembicaraan tadi malam pun berlanjut.
"Semalam kamu mengantuk banget ya, sampai lupa pagi ini aku jemput." kata Riyan di sela-sela mengemudikan mobilnya.
Sesekali dia membunyikan klakson ketika ada motor yang lewat sembarangan di depannya. Aina hanya tersenyum malu, Riyan menoleh lalu ikut tersenyum.
"Maaf, mas. Aku benar-benar lupa." kata Aina.
"Ngga apa-apa." masih memperhatikan jalanan yang mulai padat merayap. Setengah jam perjalanan, akhirnya sampai juga di kantor Aina. Sebelum turun, Aina menatap Riyan ragu.
"Kenapa?" tanya Riyan seolah tahu keraguan Aina.
"Mas Riyan ngga masuk kantor?" tanya Aina akhirnya.
"Ngga, hari Senin baru bisa masuk kantor. Sekarang lagi sibuk mengurus restoran di Bogor. Sebentar lagi beres, jadi aku ngga mau meninggalkannya, nanti ngga selesai-selesai. Ya sudah, sana masuk dulu. Nanti terlambat." ucap Riyan.
Dengan ragu Aina membuka pintu mobil, lalu dia menoleh ke arah Riyan.
"Nanti sore aku pulang kampung. Libur panjang ini ayah minta aku pulang." ucap Aina ragu.
"Maaf, aku ngga bisa antar kamu ke stasiun Ai." kata Riyan menyesal.
"Iya ngga apa-apa mas." lalu Aina keluar dari mobil Riyan dan langsung masuk ke gedung perusahan Media Karya Hutama.
Riyan turun dari mobilnya dan mengejar Aina yang sudah melangkah masuk. Menarik pundaknya dan menatapnya lembut lalu tersenyum.
"Aina, hari Minggu aku akan ke Cirebon, ingin silaturahmi sama ayah dan ibumu." ucap Riyan tiba-tiba.
Aina menatap Riyan kaget. Lalu dia tersenyum dan mengangguk. Setelah mengatakan itu, Riyan lalu pergi meninggalkan Aina yang masih tak percaya dengan ucapannya. Mau apa ya mas Riyan? Gumam Aina. Lama berpikir, Aina pun masuk ke dalam gedung perusahaan Media Karya Hutama.
_
_
__ADS_1
*********************