
Ketika Riyan sudah selesai mandi, Aina tidak ada di kamar. Dia lalu mengambil baju Koko dan memakainya dengan sarung untuk sholat. Tapi Riyan tidak langsung sholat karena menunggu Aina kembali ke kamar.
Sambil menunggu Aina masuk, Riyan mengecek ponselnya. Dan terlihat beberapa panggilan dari Wisnu. Dia tersenyum, lalu membuka aplikasi email untuk memeriksa apakah ada email masuk dari Denis. Tak lama Aina pun masuk membawa nampan berisi makanan.
"Udah sholat mas?" tanya Aina sambil meletakkan teko berisi air di meja dan menghampiri suaminya.
"Belum,kan nunggu kamu. Kita sholat berjamaah." kata Riyan masih fokus pada ponselnya.
"Aku, .... ngga sholat, mas." kata Aina ragu. Dia takut Riyan kecewa.
Riyan menoleh dan menatap istrinya itu tak percaya. Matanya tidak berkedip, membuat Aina merasa bersalah. Tapi takdir malam ini mereka tidak bisa malam pertama, dan Aina pun hanya tersenyum saja.
"Lagi dapet, maksudnya?" tanya Riyan tak percaya.
"Iya." jawab Aina merasa bersalah.
"Jadi?"
"Jadi apa?" tanya Aina heran.
"Malam pertama gagal dong." ucap Riyan dengan wajah kecewa. Aina hanya tersenyum kaku dan menunduk saja, merasa bersalah. Tapi mau bagaimana lagi.
"Yaah ...." ucapnya lagi muka kecewa Riyan tampak jelas terlihat.
"Ya udah, aku sholat dulu aja." lalu Riyan beranjak dari duduknya.
Dia mengambil sajadah dan meletakkannya di pinggir ranjang lalu mulai sholat. Aina hanya geleng-geleng kepala saja. Lalu Aina merapikan semua baju yang masih berserakan di kasurnya.
Malam ini bak Aina dan Riyan tidur dengan pulas. Tak ada kegiatan panas di kasur mereka. Mereka hanya tidur saling memeluk. Aina terbatuk dan membuka matanya. Dia hendak bangkit dari tidurnya, tapi tangan kekar Riyan mengapitnya sangat erat.
__ADS_1
Dengan pelan Aina menyingkirkan tangan Riyan pelan. Lalu sudah terlepas, dia langsung turun dari kasurnya. Saat hendak mengambil air minum di meja, tiba-tiba ponsel Riyan berbunyi sangat nyaring.
Aina melihat ponsel Riyan yang sejak tadi berbunyi. Tertulis di situ nama Wisnu yang memanggil beberapa kali. Aina menghampiri Riyan dan membangunkan suaminya itu yang baru beberapa jam lalu. Siapa tahu sangat penting, pikirnya.
"Mas bangun, ada telepon nih dari pak Wisnu. Banyak banget panggilannya." kata Aina menyerahkan ponsel Riyan.
Dengan malas Riyan bangun dari tidurnya, duduk sebentar, tidak ketinggalan dia mencium bibir Aina singkat. Aina yang di cium mendadak itu jadi kaget. Wajahnya merona, Riyan tersenyum dan mencium bibir Aina lagi lebih lama. Tak ada balasan, hanya diam saja.
"Balas dong, sayang." ucap Riyan yang membuat Aina tersipu. Riyan terkekeh, lalu dia mencubit pipi Aina dengan gemas.
"Kamu itu menggemaskan banget kalau lagi malu-malu begitu." ucap Riyan lagi.
"Ish, apa sih mas. Itu ada telepon dari pak Wisnu." kata Aina menunjuk ponsel Riyan yang berbunyi lagi.
Dia kemudian mengambil ponsel yang sejak tadi berbunyi tanpa henti. Dia matikan panggilan tersebut dan beralih melakukan panggilan video call dengan Wisnu. Riyan mendekati Aina lagi, duduk di sampingnya sambil memeluk dengan posesif. Dagunya di topang ke pundak Aina sambil ponselnya mengarah ke wajahnya.
Tak lupa Riyan mencium pipi Aina, sengaja untuk meledek sahabatnya itu. Membuat Aina merasa malu dan melepas pelukan suaminya itu, tapi Riyan malah mengeratkannya.
"Biarin aja, Lo nanti iri lagi kalau gue bilang." jawab Riyan tanpa dosa, masih mencium pipi Aina.
Lagi-lagi Aina yang sudah malu dengan kelakuan suaminya itu bangkit dan menghindar dari ciuman Riyan.
"Sengaja Lo mesra-mesraan depan gue. Gue tutup!" kata Wisnu kesal.
"Tutup aja, Lo ganggu tahu!" lalu Riyan yanv langsung metutup panggilan video call dengan Wisnu.
Tapi panggilan Wisnu berbunyi lagi, tapi hanya panggilan suara. Dia benar-bsnar kesal pada Riyan.
"Ada apa sih? Gue sibuk!" tanya Riyan kesal.
__ADS_1
"Kampret banget sih lo. Sibuk apaan? Paling juga comot sana comot sini doang. Ngga berani lo melakukan itu." ucap Wisnu yang ambigu.
"Jelaslah gue sibuk. Sibuk bermesraan sama istri gue. Lo ganggu aja, ada apa memangnya?"
"Gue ngga mau tahu, Aina hari Senin harus masuk. Kalau tidak, gaji gue potong tujuh puluh persen!"
"Ish! Bisanya mengancam aja. Iya gue sama Aina besok berangkat. Gue tanggung jawab, lagi pul nelepon cuma mau ngomel-ngomel, ngga usah telepon!"
"Takut nanti Lo kebablasan liburannya, jadi gue ingatkan lo. Lagi pula minta ijin istri lo Jum'at ngga masuk kerja, maksa banget. Mana pula gue paling terakhir tahu lo nikah. Jahat banget lo." rutuk Wisnu penuh kekesalan.
"Iya sori. Kalau ngga ada lagi gue tutup. Gue mau enak-enak sama istri gue." ucap Riyan lagi.
"Kampret ..."
Klik!
Belum selesai Wisnu mengumpat, Riyan sudah menutup sambungan teleponnya. Dia tahu pasti, Wisnu sangat kesal dengan tingkah tak tahu malunya itu. Lalu dia tertawa senang.
Sedangkan di tempat Wisnu, dia mengumpat pada Riyan yang telah menutup teleponnya secara sepihak.
"Sialan banget dia, awas aja kalau udah masuk kantor. Gue kerjain istrinya." ucap Wisnu dengan nada kesal.
Dia melempar ponselnya di ranjang, lalu Winsu masuk ke dalam kamar mandinya. Karena dia baru saja pulang dari kencannya dengan Viola.
_
_
********************
__ADS_1