
Satu Minggu berlalu, setelah Aina resign dari perusahaan Wisnu dia fokus mempersiapkan resepsi pernikahan bersama mertuanya. Mulai dari fitting baju, memesan undangan dan mencari souvernir untuk tamu undangan.
Riyan hanya mengikuti kemauan istri dan mamanya.
Bisa di lihat, siapa yang lebih heboh dalam mempersiapkan pernikahan. Dan tentu saja, Aina hanya sebagian kecil yang dia suka,lainnya terserah mertuanya.
Sementara itu, Wisnu yang masih tidak rela Aina resign dari kantornya membuat Riyan berkali-kali harus bolak-balik kantor Wisnu dan restoran.
"Lo tega banget sih ke gue harus bolak-balik kantor restoran. Tinggal terima apa susahnya sih sekretaris baru yang gue ajuin kemarin." sungut Riyan pada sahabatnya.
Wisnu yang di ajak bicara malah santai melakukan kerjaannya. Dia hanya mengangkat bahunya tanpa dosa. Sebenarnya Wisnu ingin mengerjai sahabatnya menjelang resepsi pernikahan. Sekretaris yang di ajukan Riyan di tangguhkan untuk bekerja nanti setelah Riyan sudah mendekati acara pentingnya.
"Pokoknya gue ngga mau tahu, tiga hari menjelang acara gue cuti. Jangan menyuruh gue datang lagi ke kantor Lo." ucap Riyan memberi ultimatum.
"Siapa suruh istri Lo berhenti kerja, jadi Lo harus menggatikan istri Lo yang tanggung jawab. Lagi pula apa salahnya sih kerja jadi sekretaris gue." kata Wisnu menimpali ucapan Riyan.
"Ya terserah gue lah, istri gue sendiri. Lo yang marah. Lagi pula orang yang gue ajukan ke Lo itu lebih kompeten, dia cepat tanggap. Cocok buat jadi sekretaris Lo." kata Riyan lagi.
"Lo mengatakan istri Lo ngga kompeten dan lemot begitu?" pancing Wisnu.
"Enak aja, bagi gue dia lebih dari segalanya terutama usuran ditempat tidur, lebih kompeten dia." ucap Riyan tak kalah semangat.
"Ck, yang punya istri bangganya minta ampun. Ngga ada lawan." cibir Wisnu.
"Jelaslah, mending punya istri. Mau melakukan apa aja enak. Dari pada pacaran ngga jelas, udah begitu masih di gantung lagi. Mau mengajak balik tapi ngga berani. Mau-maunya di ajak jalan menghabisi duit ngga jelas buat orang yang ngga tahu masih cinta apa di manfaatin." kali ini Riyan balik menyindir sahabatnya itu.
Wisnu yang di sindir begitu jadi diam, dia menatap Riyan kesal. Memang ada benarnya apa yang di katakan oleh Riyan.
"Bener kan ucapan gue." kata Riyan, Wisnu masih diam.
"Sudahlah, berisik Lo! Gue keluar mau mengajak seseorang menikah. Bicara sama Lo ngga ada solusi buat masalah gue." ucap Wisnu yang langsung beres-beres berkas yang tadi dia tanda tangani.
"Lo mengajak menikah sama siapa? kucing?" kali ini satu map melayang ke arah muka Riyan. Riyan menngkis dengan cepat sebelum mendarat di wajahnya.
"Jaga kantor, gue pergi dulu." kata Wisnu sambil melenggang pergi meninggalkan Riyan yang masih kebingungan dengan sikap bosnya itu.
"Woi! Mau kemana?" teriaknya, Wisnu hanya melambaikan tangan saja. Riyan berdecak kesal.
"Sialan gue di tinggal." umpatnya. Lalu dia duduk di kursi yang tadi di duduki Wisnu sambil membuka-buka berkas yang tadi di tandatangani oleh Wisnu.
****
Akhirnya detik-detik resepsi pernikahan sudah di depan mata.Beberapa jam lagi Aina dan Riyan bersanding di pelaminan walau telat. Namun bagi mereka, sudah sah di mata negara dan agama lebih penting di banding sebuah resepsi pernikahan.
__ADS_1
Dan kini, keduanya akan menjadi ratu sehari. Keluarga Aina sudah sampai dari kemarin, semua keluarga besar yang hadir pas di hari acara resepsi. Semua tampak siap dan rapi,tinggal menunggu kedua mempelai pengantin yang masih di dalam kamar, di rias oleh MUA yang cukup terkenal di Jakarta.
Satu jam selesai pengantin di rias, lalu keduanya keluar. Semua menatap takjub dengan mempelai pengantin, terutama mempelai wanita. Sangat cantik. Riyan yang merasa takjub akan kecantikan istrinya itu tak mau lepas menggenggam tangan Aina. Wajah bahagia keduanya tampak terlihat.
Semua ikut merasakan kebahagiaan pengantin, terutama ayah Aina dan ibu Erni..Siapa sangka, anaknya yang pendiam dan jarang menggunakan make-up tebal terlihat cantik luar biasa. Apalagi terpancar kebahagiaan yang membuat kecantikan Aina jadi luar biasa.
"Yah, anak kita sangat cantik ya?" kata ibu Erni pada suaminya.
Pak Edi hanya mengangguk,dia tidak bisa berkata apa-apa. Lalu pak Edi menghampiri putrinya dan memeluknya erat. Rasa bahagia tak terkira pak Edi rasakan hingga tak terasa kelopak matanya basah. Buru-buru dia mengusapnya.
"Selamat ya sayang, ayah sangat bahagia melihat putri ayah bahagia." kata pak Edi terbata-bata.
Mau tidak mau Aina ikut menangis, dia juga merasa terharu. Dia tidak menyangka perjalanan hidupnya akan sampai di sini, menemani orang yang di cintai dan mencintainya sampai tua nanti.
"Terima kasih ayah." ucap Aina singkat.
Pemandangan seperti itu membuat orang yang melihatnya merasa terharu,terutama Shella adiknya. Dia juga ingin memeluk kakaknya itu. Setelah pak Edi melepas pelukannya, giliran ibu Erni lalu Shella.
"Kak Ai, selamat ya. Kakak cantik banget." kata Shella tulus.
Senyum Aina mengembang,dia benar-benar bahagia di kelilingi oleh orang yang sangat menyayanginya. Sedangkan Arya berpelukan dengan Riyan, mengucapkan selamat ala laki-laki pada umumnya.
"Selamat ya mas Riyan, semoga bahagia selalu." ucap Arya pada sepupunya itu.
Setelah acara haru biru kedua keluarga selesai, semua berangkat menuju hotel yang di tuju untuk acara resepsinya.
Setelah acara haru biru dengan keluarga, kini mereka sidah ada di gedung hotel, acara begitu meriah. Banyak kolega dari restoran dan kolega Wisnu yang Riyan kenal hadir di sana mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Serta jajaran karyawan baik di kantor dan di restoran turut serta hadir.
Hingga sore hari, Riyan belum melihat Wisnu hadir di pernikahannya, dia penasaran kemana sahabatnya itu. Agak kesal juga dia, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena dia dulu menikah dengan Aina di kampung tidak memberi kabar padanya, mungkin dia balas dendam'pikir Riyan. Riyan melihat sosok yang tidak asing datang menyalaminya.
"Selamat ya Riyan, semoga bahagia selalu." ucap pak Hutama papanya wisnu.
"Terima kasih, om." jawab Riyan.
Agak terkejut Riyan melihat pak Hutama datang ke pernikahannya. Dan lebih terkejut lagi di belakang pak Hutama berdiri dengan senyum mengembang ikut menyalaminya juga. Ya, dia adalah Rama. Sepupu Wisnu.
"Selamat Riyan atas pernikahannya." ucap Rama.
"Terima kasih." singkat jawaban Riyan.
Lalu keduanya berlalu dari hadapan Riyan dan menemui orang tua Riyan untuk menyapa dan ramah tamah.
"Mas, itu tadi siapa?" tanya Aina penasaran.
__ADS_1
"Om Hutama, papanya Wisnu." jawab Riyan masih mengedarkan pandangan mencari sosok Wisnu.
"Yang di belakang kakaknya pak Wisnu?" tanya Aina lagi.
"Bukan, dia sepupunya Wisnu. Rama namanya."
"Oh."
"Kenapa?"
"Mm, aku baru ingat, waktu di mall sama pacarnya pak Wisnu itu ya tadi yang sama pak Hutama." ujar Aina enteng.
Dan ucapan Aina membuat Riyan kaget. Dia menatap Aina lekat, tak percaya apa yang di katakan istrinya itu. Benar dugaannya, Viola dekat juga dengan Rama, sepupu Wisnu itu. Dan yang di tunggu Riyan akhirnya datang juga, dia kesal kenapa sahabatnya baru datang.
"Lo kemana aja sih, baru datang." sungut Riyan.
"Sori, gue tadi ada keperluan mendadak." jawab Wisnu. Dia tidak ingin bercerita pada sahabatnya di hari bahagianya itu. Biarlah nanti suatu saat akan dia ceritakan.
"Eh, gue kaget om Hutama datang ke sini. Lo nyuruh bokap Lo datang?,kan dia sibuk." kata Riyan memancing.
"Nggak, memang beliau ada urusan juga jadi sekalian datang ke acara Lo." jawab Wisnu.
"Sori ya, gue ngga mengundang bokap Lo. Karena gue pikir bokap Lo pasti lagi sibuk di Malaysia." kata Riyan.
"Santai aja bro." jawab Wisnu singkat. Dia sedikit gelisah, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Lo kenapa? kusut banget?" tanya Riyan penasaran.
"Jangan pikirkan gue, pikirkan istri Lo yang kelelahan tuh." ucap Wisnu. Riyan melirik ke arah istrinya, terlihat muka pucat dan kelelahan.
"Lelah ya?"tanya Riyan.
"Iya. Kapan selesainya mas?"
"Setengah jam lagi. Duduk aja dulu ya." ujar riyan. Aina hanya mengangguk dan menuruti perintah suaminya itu.
Lalu Riyan mencari Wisnu yang tadi sudah pergi dari hadapannya. Riyan mengedarkan pandangan mencari sosok Wisnu yang tiba-tiba datang dan tiba-tiba pergi lagi. Dia menghela nafas panjang, lalu ikut duduk dengan Aina.
Acara cukup meriah, hingga waktu selesai semua sudah bubar dan Riyan langsung membawa Aina ke kamar hotel untuk beristirahat.
_
_
__ADS_1
*******************