Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
06. Meminta Izin


__ADS_3

Malam hari, pukul tujuh tiga puluh. Keluarga Aina kumpul bersama, sudah jadi kebiasaan keluarga berkumpul setelah makan malam. Tidak ada yang tertinggal, mereka asyik bercerita tentang aktivitas masing-masing dari pagi hingga pulang ke rumah.


Memang di keluarga Aina aturan yang selalu di patuhi yaitu, ketika ngumpul bersama keluarga seperti sekarang ini tidak ada yang di perbolehkan bermain ponsel.


Jika ada yang penting, mereka akan izin terlebih dahulu kemudian harus kembali berkumpul lagi. Biarpun hanya satu jam,tapi waktu yang sangat berharga untuk bercengkrama dengan keluarga. Tak ada yang membantah perintah ayahnya, sekalipun itu menentang keinginan pribadi masing-masing.


Hanya satu jam lebih saja, atau dua jam jika topik pembicaraan belum selesai dan menarik. Jika ada yang berpendapat untuk kepentingannya, harus di diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga agar tidak berbenturan dengan kehendak atau aturan ayahnya.


Hal inilah yang di pikirkan Aina malam ini. Walaupun berkumpul dan asyik ngobrol, tapi pikirannya masih mencari cara untuk mengungkapkan tentang kepindahannya ke kantor pusat. Agar semua keluarga terutama ayahnya tidak kecewa dan memberinya izin tanpa ada perdebatan yang panjang.


Suasana tiba-tiba hening. Ibu Erni melirik suaminya agar segera membicarakan rencana lamaran adiknya. Pak Edi menghela napas panjang, kemudian menatap putri sulungnya. Aina yang sedang asyik ngobrol dan bercanda dengan kedua adiknya.


Dia tidak tega untuk menyampaikan kabar mengejutkan itu. Di tatapnya lama sekali lagi, hatinya sedih. Namun dia harus menyampaikan berita itu kepada Aina.


"Aina." panggil ayahnya ragu.


"Iya, Yah. Ada apa?" sahut Aina.


Ayahnya masih diam, belum meneruskan ucapannya. Dia sekali lagi menatap lalu menghela napas kembali, membuat Aina jadi heran. Lama dia tatap anak kesayangannya itu. Aina yang di tatap menjadi bingung dengan tatapan ayahnya itu.


"Ada apa,, Yah?" tanya Aina sekali lagi.


"Apa kamu sudah punya pacar?" tanya ayahnya.


Aina diam beberapa saat. Pikirannya berkelana, menebak-nebak apa yang akan di bicarakan ayahnya itu. Menoleh ke arah ibunya, juga Shella adiknya yang juga sama tegangnya dengan ibu Erni.

__ADS_1


"Kenapa, Yah?" tanyanya lagi.


"Kalau kamu punya pacar, tolong kenalkan pada ayah. Ayah pengen tahu dan pengen kenal pacarmu itu." kata ayahnya berbasa-basi.


Yang di tanya diam lagi, bingung. Menjawab belum, dia bingung. Tapi sudah akan tambah bingung, lalu menghela nafas panjang. Semua menunggu jawaban dan sekaligus menatap Aina dengan harapan orang yang selama ini selalu baik pada keluarga itu menjawab, sudah.


Terutama Shella, dia yang tahu maksud dari pertanyaan ayahnya itu hanya untuk meneruskan rencana tentang perundingan dengan Aina. Sekaligus meminta izin untuk melangkahinya.


Walau bagaimanapun, dia adalah adik dari kakaknya yang akan melangkahi untuk menikah lebih dulu, harus izin padanya.


Dia yakin sebenarnya kakaknya itu akan mengizinkannya, tapi tetap saja ada rasa bersedih dan tidak enak juga. Dia percayakan semua rencana pacarnya pada ayahnya. Karena ayahnya pasti bisa menyelesaikan masalahnya tanpa menyakiti kakaknya.


"Aina?"


"Mm ... belum yah." jawab Aina sambil menunduk sedih.


"Ngga usah yah, aku bisa cari sendiri kok." jawab Aina menolak tawaran ayahnya.


Biarlah, jodohnya menjadi rahasia Tuhan untuknya. Lagi pula dia belum berminat untuk menikah dalam waktu dekat. Ingin mencari suasana baru, juga dia yakin akan mendapatkan jodoh juga.


"Nanti kamu di langkahi adikmu, Shella ngga apa-apa?" tanya ayahnya di buat sesantai mungkin agar Aina tidak merasa sedih dan kecewa.


Aina diam lagi, dia sudah menduganya kemana arah pembicaraan ayahnya itu. Kembali dia menghela napas, dia pikir ini juga saatnya untuk membicarakan tentang pekerjaannya. Tapi nanti setelah pembahasan adiknya itu selesai.


"Ngga apa-apa kok Yah. Silakan aja kalau Shella mau mendahuluiku. Aku ikhlas kok Yah, ngga usah khawatir aku akan kecewa. Mungkin jodoh Shella lebih dulu dari padaku."ucap Aina menguatkan hatinya.

__ADS_1


Siapa juga yang tidak sakit hati dan sedih jika di langkahi oleh adik sendiri. Tapi dia berpikir mungkin sudah takdir dari Tuhan, dia bisa apa jika sudah nasibnya begitu. Protes juga ke Tuhan tidak boleh dan sangat lancang sekali.


Menentang keputusan ayahnya juga tidak mungkin, karena dia yakin keputusan ayahnya juga berat.


"Kamu ngga apa-apa sayang jika di langkahi oleh adikmu?" ini pertanyaan ibunya yang sejak tadi diam karena takut anak sambungnya itu kecewa.


Walaupun Aina anak sambungnya, tapi bagi Erni dia sudah seperti anak kandungnya. Dia tidak membeda-bedakan antara Aina dan kedua putra putrinya. Yang salah juga tetap di anggap salah, dan yang benar akan dia bela mati-matian.


"Ngga Bu, aku malah seneng kok akhirnya Shella ngga seenaknya pacaran. Setidaknya dia sudah ada yang menjaganya selain ayah dan ibu." jawab Aina meyakinkan ibunya.


Jawaban Aina membuat terharu ibunya, dia langsung memeluk Aina dengan erat. Ingin menangis, tapi rasanya berlebihan. Jadi dia hanya memeluknya saja.


"Terima kasih sayang, kamu memang anak yang baik." kata ibu Erni, Aina hanya tersenyum tipis.


"Sebenarnya ayah sudah menyampaikan keberatan ayah pada si Arya itu untuk melangkahi kamu. Tapi keluarganya mendesak untuk segera menikahi Shella. Jadi ayah ngga bisa menolak. Maafkan ayah ya sayang." kata ayahnya lagi, dan Aina kembali tersenyum saja.


"Aku juga mau minta izin Yah." ucap Aina.


Ini kesempatan untuk membicarakan maksudnya. Menyampaikan kabar bahwa minggu depan akan pindah kerja ke kota Jakarta.


"Minta izin untuk apa?" tanya pak Edi heran.


_


_

__ADS_1


***************


__ADS_2