Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
23. Seperti Masa Lalunya


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, gosip-gosip itu pun akhirnya menguap dengan sendirinya. Yang Aina kerjakan sekarang adalah total sebagai sekretaris CEO. Bagian keuangan dia sudah keluar dan keluarnya Aina tanpa banyak yang tahu.


Alih-alih pindah jadi sekretaris, Aina makin sibuk dengan jadwal meeting atasannya. Seringkali dia makan bersama dengan atasannya itu, sehingga dia jarang makan di kantor dan lebih banyak makan di restoran di tempatnya meeting tersebut.


Sudah satu Minggu Aina tidak melihat asisten pak Wisnu. Dia jarang ada di kantor, dua hari yang lalu dia hanya melihat sekilas di lobi kantor ketika Aina mengikuti Wisnu untuk bertemu klien di ruang pertemuan. Dia seperti kehilangan sosok laki-laki itu. Laki-laki yang ramah dan sedikit humoris itu membuat Aina penasaran dengan sosok pribadinya.


Tapi dia tidak terlalu ingin mencari tahu tentang kehidupan asisten Wisnu itu, hanya sedikit penasaran saja. Hari ini Aina sedang mengetik jadwal harian Wisnu untuk satu Minggu ke depan. Jari jemarinya dengan lihai mengetik huruf demi huruf tanpa kesalahan.


Aina tidak sadar ada seseorang yang sudah satu minggu menghilang dari kantor. Dia memperhatikan Aina yang sedang asyik mengetik tanpa beralih sedikitpun, senyumnya mengembang karena sejak tadi kehadirannya tidak di sadari Aina. Hingga derap langkah Wisnu yang menghentak membuat Aina mendongak dan tersentak karena ada seseorang yang memperhatikannya.


Pandangan Aina beralih di hadapan atasannya yang juga ikut menatap Aina dengan wajah dingin, berbeda dengan Riyan wajah Wisnu lebih tajam dan mengintimidasi. Aina sedikit gugup di tatap dua laki-laki tampan. Mau tidak mau Aina kembali menunduk, dia menyapa atasannya masih dengan wajah tertunduk.


"Selamat pagi pak Wisnu." ucap Aina sambil membungkuk hormat.


Wisnu hanya melambaikan tangan saja dan melewati Riyan yang sejak tadi berdiri di depan Aina. Lalu tanpa menyapa Aina, Riyan masuk ke ruangan Wisnu. Sampai di dalam, Riyan duduk di sofa dengan santai.


"Ada kabar apa sejak gue ngga masuk?" tanya Riyan.


Yang di tanya hanya diam, seperti memikirkan sesuatu. Kedua tangannya di topang ke dagunya sambil memutar kursi kebesarannya. Riyan hanya melirik sahabatnya itu, lalu dia bermain ponselnya.


"Mama maksa gue segera nikah." cerita Wisnu pada akhirnya. Satu tatapan serius di tujukan ke Wisnu.


"Gue belum siap nikah cepat-cepat." katanya lagi.


"Masih nunggu perempuan itu lagi?" tanya Riyan.


"Dia punya nama, dodol. Gue belum bisa melupakan dia, dia bawa sebagian hati gue." tutur Wisnu dengan wajah sendu.


"Lo harus move on, bro. Dia sudah mencampakkan Lo tanpa kabar. Sudah hampir setahun ini dia ngga kasih kabar Lo kan?" Wisnu hanya mendesah, di tatapnya sahabatnya dengan kosong.


"Come on, bro. Lo itu sukses, tajir juga penampilan oke, pastilah banyak perempuan yang mau sama Lo jadi pacarnya atau suaminya." kata Riyan menasehati sahabatnya itu.

__ADS_1


"Halah, Lo juga jomblo abadi. Jangan sok nasehatin gue lagi." Wisnu mencibir.


"Gue lagi cari-cari yang pas di hati. Lagi pula orangtua gue ngga memaksa banget gue cepet-cepet nikah. Masih santailah gue."


"Gue tahu, Lo lagi dekati sekretaris gue kan?jangan macam-macam sama dia ya?!" ancam Wisnu.


"Yang jangan macam-macam tuh Lo, Lo pikir gue ngga tahu kalo Lo semena-mena sama sekretaris Lo itu. Gila Lo ya, ngerjain dia dengan menjelaskan pada klien pake bahasa Inggris." kata Riyan kesal.


"Gue cuma pengen tahu dia sesiap apa ketika mendadak ada klien dari luar negeri kan dia bisa di andalkan." kata Wisnu.


"Tapi kan dia baru ikut meeting sama Lo."


"Lo kok jadi sewot sama gue, dia aja ngga keberatan kenapa Lo yang sewot?" kata Wisnu kesal.


"Bukan sewot, tapi kasihan aja tugas dari bagian keuangan dia yang pegang di level satu. Bisa Lo bayangkan tim di level itu rumitnya minta ampun. Belum lagi ku lihat timnya ngga solid." kata Riyan.


"Lo kok tahu banyak tentang dia, jangan bilang Lo suka sama dia yah?!"


"Ngga bisa!"


"Lo juga suka?"


"Nanti dia kurang fokus kerjanya di goda terus sama Lo. Tadi aja Lo menatap dia ngga berhenti-berhenti." kata Wisnu dengan sinis.


"Halah, bilang aja Lo suka sama dia."


Hening, tak ada bantahan dari Wisnu, Riyan menatap Wisnu curiga. Dia menghela nafas panjang, lalu memainkan ponselnya lagi.


"Seperti kata Lo, gue harus move on. Gue mau dekati dia, ternyata dia manis juga." kata Wisnu sambil senyum-senyum sendiri.


Riyan kembali menghela nafas panjang, dia harus mundur ketika sahabatnya itu benar-benar ingin move on dan benar menyukai Aina. Meski hatinya kecewa, tapi memberi peluang pada Wisnu sebelum rasa sukanya semakin besar pada Aina.

__ADS_1


"Oke, gue mumdur. Jika Lo mau deketi Aina, tapi jangan main-main. Sekali Lo memyakiti dia, gue akan rebut dia apapun caranya. Dia tidak pantas untuk Lo mainkan." ucap Riyan,dia sedikit khawatir dengan ucapan Wisnu.


Dia tahu Wisnu masih mencari pacarnya yang menghilang itu, dia pikir Wisnu akan main-main dengan Aina. Tapi Riyan akan memberi kesempatan pada Wisnu, sejauh mana dia mendekati Aina. Wisnu hanya tersenyum simpul. Dia hanya mau mengetes keseriusan sahabatnya dengan sekretarinya.


_


Sejak obrolan itu dengan Wisnu, Riyan jarang sekali masuk kantor. Dia lebih sering mengurus bisnis restoran dan cafenya yang ada beberapa cabang di Jabodetabek. Suatu hari nanti dia akan keluar dari perusahaan sahabatnya itu, mungkin karena sibuk atau memang dia akan memberi kesempatan pada sahabatnya untuk dekat dengan Aina.


Dan sejak obrolan itu juga, Wisnu semakin sering mendekati Aina walau dengan alasan meeting dan sering makan bersama. Sering juga Aina di antar pulang ke kos-annya jika waktu pulang malam karena lembur. Berbagai gosip yang Aina dapat sejak kedekatannya dengan CEO, dia hanya tersenyum dan tak menanggapinya.


Siang itu, setelah meeting dengan klien di cafe milik Riyan di Depok. Wisnu tanpa sengaja melihat sekilas seorang wanita yang sedang duduk termenung sendirian. Ketika itu Wisnu dan Aina menunggu pesanan datang. Wisnu terus mperhatikan wanita yang duduk membelakanginya itu, sepertinya dia kenal wanita itu.


Tapi dia takut salah jika menghampiri dan menyapanya. Dia masih saja memperhatikan wanita itu, hingga membuat Aina heran dan penasaran siapa yang di tatap bosnya itu. Mata Aina mengikuti arah pandangan Wisnu, dia menatap wanita itu dan Wisnu secara bergantian.


Lama menunggu, akhirnya pesanan pun datang. Aina merapikan makanan yang tersaji di meja lalu dia memanggil Wisnu yang sejak tadi tidak beralih dari tatapannya pada wanita itu.


"Pak, makanannya sudah datang." kata Aina mengingatkan. Tidak di indahkan, Aina memanggil sekali lagi.


"Pak Wisnu, makanannya sudah datang. Ayo makan dulu, keburu dingin makanannya." kata Aina lagi.


Wisnu pun menoleh ke arah Aina. Dia tersenyum lalu mengangguk. Setelah makannya selesai, Wisnu melihat wanita yang tadi dia lihat. Tapi sudah tidak ada. Dia terlihat sedikit kecewa, apa yang di pikirkannya. Jika benar wanita itu adalah masa lalunya, maka dia akan mempertanyakannya jika bertemu lagi.


"Kita pulang ke kantor, sudah cukup lama kita keluar kantor." kata Wisnu.


"Baik pak." kata Aina.


Lalu keduanya pergi dari kafe Riyan menuju kantor perusahaan Karya Media Hutama. Sejak keluar dari restoran itu, hati Wisnu semakin gelisah. Aina melihat Wisnu seperti sedang melamun, dia tidak berani bertanya pada bosnya itu.


_


_

__ADS_1


*****************


__ADS_2