Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
64. Kebahagiaan Riyan


__ADS_3

Riyan begitu mengetahui Aina hamil, dia sangat bahagia. Berkali-kali Riyan mencium wajah Aina, hingga Aina merasa risih.


"Mas, udah dong. Ngga enak di lihat orang." kata Aina.


Dia malu di pesawat Riyan tak henti memeluk dan mencium, sehingga beberapa orang menatapnya aneh.


"Aku sangat bahagia sayang." ucap Riyan, dia masih memeluk Aina dengan posesif.


"Ya tapi jangan kelewatan begini. Lihat tuh orang-orang pada ngeliatin kita." kata Aina berusaha menyingkirkan tangan suaminya, tapi justru semakin erat pelukannya.


"Biarin aja sih. Mereka syirik dengan kebahagiaan kita. Udah kamu diam aja, aku lagi bahagia banget." mau tidak mau Aina hanya pasrah.


Wajahnya dia tundukkan menghindari tatapan aneh orang-orang dalam pesawat. Sampai di bandara, Riyan dan Aina di jemput oleh supir mamanya. Riyan sengaja meminta ibu Sarah untuk memerintahkan supirnya untuk menjemput di bandara.


Setelah sampai di rumah ibu Sarah, Aina dan Riyan keluar dari mobil dan masuk ke ramah. Mereka di sambut oleh ibu Sarah dan Juli. Ibu Sarah menghampiri Aina dan memeluknya erat.


"Bagaimana sayang bulan madunya?" tanya ibu Sarah pada menantunya.


Belum sempat Aina menjawab, Riyan malah menarik mamanya untuk melerai pelukannya pada Aina.


"Eh, mama jangan kencang-kencang meluk Aina, nanti perut Aina sakit." kata Riyan khawatir.


Ibu Sarah dan Aina heran dengan sikap Riyan. Dia menatap Aina, dengan isyarat ada apa dengan suaminya itu. Dan Aina hanya tersenyum saja.


"Lho kenapa?" tanya ibu Sarah heran.


"Nanti anak aku ke pencet." jawab Riyan.


"Anak?!" ucap ibu Sarah terkejut.


"Iya,,anak aku." jawab Riyan dengan bangga.


"Kamu hamil sayang?" tanya ibu Sarah pada menantunya tak percaya. Aina hanya tersenyum dan mengangguk pelan.


"Alhamdulillah ya Allah, akhirnya doa mama terkabul. Mama bakal punya cucu. Terima kasih sayang.",ibu Sarah kembali memeluk menantunya, dia sangat bahagia.


"Wah, aku bakalan jadi Tante nih. Tapi kok cepet banget hamilnya.",kata Juli dengan polosnya.


"Iyalah, kakakmu ini tokcer bikin anak." jawab Riyan bangga.


"Mm..mama tahu, pasti habis nikah kalian ngga langsung malam pertama kan." kata ibu Sarah sambil tertawa.


"Iya mah, aku sampai ke siksa harus menahan juniorku ini." ucap Riyan santai.


Aina melotot pada suaminya. Dia malu dengan kejujuran suaminya itu. Sementara ibu Sarah dan Juli hanya tertawa lucu.


"Kasihan banget. Tapi dapat hadiah istimewa juga,,kamu akan jadi seorang ayah." kata ibu Sarah lagi.


Lalu mereka masuk ke dalam rumah.,Aina dan Riyan langsung masuk untuk beristirahat. Sementara ibu Sarah memberi kabar pada suaminya bahwa mereka akan jadi kakek nenek. Pak Johan begitu senang mendengar kabar gembira tersebut.


_

__ADS_1


Semenjak Aina hamil, Riyan begitu protektif dan cerewet. Dia akan langsung memarahi istrinya jika dia tahu Aina melakukan pekerjaan yang menurutnya berat. Karena pesan dari dokter, Aina tidak boleh bekerja terlalu berat dan tidak boleh cape karena masih trisemester pertama.


Alhasil, Aina hanya diam saja. Segala pekerjaan rumahan ketika Aina kerjakan akan dia kerjakan. Seperti mencuci baju, mengepel, mencuci piring dan menyapu. Aina hanya menonton saja. Terus terang Aina tidak enak dan juga bosan harus diam saja sedangkan suaminya yang bekerja.


"Mas, ngga apa-apa kok aku ngerjain cuci piring..Kan ngga berat juga.Lagi pula cuma beberapa piring dan alat masak aja kok." kata Aina ketika mereka selesai makan malam.


"Sayang, jangan bandel ya.Kalo kataku ngga boleh ya ngga boleh. Udah kamu duduk aja." omel Riyan, dia langsung membereskan piring-piring yang tadi habis di pakai makan.


Aina hanya cemberut, lalu duduk di sofa depan televisi sambil memakan apel yang tadi dia kupas. Dia nyalakan tv dan mencari Chanel yang menarik untuk di tonton. Setengah jam Riyan berkutat di dapur, dia langsung menghampiri istrinya setelah pekerjaannya selesai.


Lalu duduk di samping Aina dan ikut makan apel yang ada di pangkuan Aina. Tak lupa dia mengelus perut Aina dan berkata.


"Anak papi baik-baik ya di perut mami." kata Riyan pelan, dia senang melakukan itu. Aina mengernyitkan dahinya.


"Papi? mami?" tanya Aina heran.


"Iya, nanti kita akan di panggil papi mami." kata Riyan dengan senyum mengembang.


"Engga ah, aku maunya di panggil bunda." kata Aina protes.


"Nanti aku di panggil ayah dong. Sama kaya ayah Edi." kata Riyan.


"Ya ngga apa-apa."


"Ngga mau, aku pengennya di panggil papi." kata Riyan kekeh, Aina cemberut.


"Ya udah, kita nanti manggilnya bunda sama papi aja." kata Riyan memberi solusi dengan perdebatan panggilan orang tuanya nanti.


"Ngga nyambung, mas. Masa papi sama bunda sih." sewot Aina.


Akhirnya perdebatan kecil itu terhenti dengan suara deringan telepon Riyan. Riyan mengambil ponselnya yang ada di meja. Dia melihat nama Wisnu yang memanggil.


"Halo bro, ada apa?" tanya Riyan.


"Besok Lo masuk kantor apa ke restoran?" tanya Wisnu di seberang sana. Riyan heran dengan pertanyaan sahabatnya itu.


"Tumben Lo nanya dulu, biasanya juga langsung perintah-perintah aja." kata Riyan mencibir.


"Gue lagi baik,lagi pula gue mau ngomong sama Lo." kata Wisnu.


"Oke, gue ke kantor besok." kata Riyan.


"Oke, gue tunggu. Jangan ngaret Lo!" ucap Wisnu.


"Mulai deh."


Lalu sambungan telepon di tutup. Riyan terdiam, ada yang dia pikirkan. Semenjak resepsi pernikahannya, Wisnu terlihat aneh.


"Mas, ada apa?" tanya Aina.


"Ngga ada apa-apa sayang. Oya, besok aku ke kantor Wisnu. Kamu di apartemen sendiri ngga apa-apa kan?" tanya Riyan membelai rambut Aina dengan lembut.

__ADS_1


"Ngga apa-apa sih mas, sekalian aku beres...",belum selesai bicara, Riyan sudah memotong.


"Ngga boleh kerja berat-berat. Pokoknya harus diam jangan banyak gerak." katanya galak.


"Ya kan kalo di sini sendiri ngga ngapa-ngapain, bete juga mas. Lagi pula seharian penuh. Janji deh ngga kerja yang berat, paling cuma masak dikit aja." kata Aina merayu suaminya.


"Sayang, jangan membantah. Atau kamu ke rumah mama aja, biar ngga bosen. Juli kayaknya ada di rumah." kata Riyan.


"Emang ngga ke kampus?" tanya Aina.


"Dia lagi menyusun skripsi, pasti banyak waktu di rumah." kata Riyan.


"Anak muda biasanya kan nongkrong sama teman-temannya kalau lagi bebas kuliah, mas."


"Ya udah aku telepon Juli dulu."


Aina menghela napas, dia tidak bisa menolak keinginan suaminya.


"Halo, Juli. Besok kamu ngga kuliah kan?" tanya Riyan.


"Ngga mas, kenapa?"


"Besok kak Aina ke rumah mama. Kamu temani kakakmu ya." kata Riyan.


"Boleh, nanti aku ajak shoping." kata Juli.


"Ngga boleh!,Harus di rumah. Melakukan apa kek, pokoknya jangan melakukan yang berat dan melelahkan." kata Riyan dengan galaknya.


"Dih, mas Riyan posesif banget." kata Juli.


"Biarin, kakakmu lagi hamil. Pokoknya jika besok mas tahu kamu sama kakakmu melakukan yang berat dan melelahkan, jatah jajan kamu aku potong!" lalu Riyan menutup teleponnya dengan kesal. Aina memutarkan bola matanya dengan sikap suaminya itu.


"Mas Riyan begitu banget sih sama adik sendiri."


"Dia kadang suka aneh-aneh. Udah pokoknya besok kamu jangan aneh-aneh ya." kata Riyan.


"Iya." jawab Aina malas.


Percuma berdebat dengan suaminya. Satu kecupan Riyan berikan pada bibir Aina. Aina hanya pasrah saja dnegan sikap suaminya.


"Ke kamar yuk?" ajak Riyan.


"Mau apa?"


"Nengokin si bayi di dalam." tanpa menunggu jawaban Aina, Riyan membopong istrinya itu.


"Mas, memang boleh melakukan begitu lagi hamil?" tanya Aina khawatir.


"Boleh asal pelan-pelan sayang." tanpa menunggu, Riyan mencium bibir Aina dengan gemas, lama-lama jadi panas. Dan terjadilah pergulatan panas penuh cinta itu.


_

__ADS_1


_


********************


__ADS_2