
Saat di mobil menuju pulang, Aina hanya diam saja. Hatinya benar-benar merasakan kecewa dan sakit hati. Bukan karena Wisnu tidak datang, tapi keadaan yang selalu dia alami. Di kecewakan oleh laki-laki, menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya. Riyan memberi ruang untuk Aina berpikir.
"Aku pernah seperti ini, mas. Juga pernah di hianati teman." Aina memulai cerita.
Baginya dia sudah tidak kuat menahan semua perlakuan seperti itu sedari sekolah dulu. Entah kenapa dia sangat ingin bercerita pada Riyan. Tentang masa lalu yang pahit, bahkan sering di kecewakan dan salah paham.
"Di tinggal sahabat karena salah paham, di buat merasa di perhatikan sama teman juga dan di hianati sama sahabat. Makanya aku ngga aneh jika pak Wisnu ngga tepat janji, bagiku sudah biasa." lanjutnya dengan nada lirih.
Riyan hanya mendengarkan dengan seksama. Tangannya memegang kendali mobil, dia lambatkan laju mobilnya karena ingin mendengarkan cerita Aina lebih lama dan lebih jauh lagi.
"Dulu waktu SMP aku punya sahabat, di depanku dia baik sekali tapi di belakangku dia menjelekkan ku sama teman-teman sekelas. Sehingga teman sekelasku menjauhiku kecuali dia. Aku juga ngga mengerti, kenapa dia seperti itu. Akhirnya aku tahu kalah dia menjelek-jelekkanku, saat itu juga aku putus persahabatan dengan dia."
Riyan masih mendengarkan, belum menanggapi cerita Aina. Dia tahu Aina hanya butuh di dengatkan. Rinya melajukan mobilnya masih melambat.
"Waktu SMA aku di tinggalin sahabat, gara-gara salah paham. Sampai sekarang kesalah pahaman itu belum tuntas, kita juga ngga pernah ketemu. Tapi aku ngga pernah cari tahu sih, males aja." ucap Aina.
Aina diam, matanya memandang ke depan. Pikirannya menerawang, dia mengenang masa lalu yang pahit. Ingin dia melupakan itu semua, tapi entah sekarang kenapa terulang lagi.
"Terus, siapa yang bikin kamu terbawa perasaan?" tanya Riyan penasaran.
Aina malah menghela nafas panjang, dia menatap Riyan sekilas.Kemudian kembali matanya dia alihkan ke depan.
"Calon adik ipar ku, dia teman satu kampus. Aku pikir dia mendekatiku suka padaku, ternyata dia suka adikku. Naif banget ya hidupku, mas?" Aina tersenyum kecut, ada guratan kesedihan di wajahnya.
"Udah sampai, mas. Terima kasih ya sudah antar aku pulang." kata Aina sebelum keluar dari mobil.Lalu dia membuka pintu mobil, tapi tangan Aina di pegang Riyan. Aina menoleh.
"Jangan sedih, masih ada aku yang akan setia jadi temanmu, sahabatmu atau ..."
"Terima kasih mas, aku ngga sedih karena itu semua. Hanya sedih kenapa Tuhan mempertemukan aku dengan orang-orang seperti itu."
Lalu Aina keluar dari mobil Riyan kemudian dia melambaikan tangan sebelum mobil Riyan bergerak lalu dia masuk rumah, tanpa menoleh. Dia hanya tidak mau terlihat menyedihkan di hadapan Riyan.
Satu kata yang tertanam di benak Aina, dia tidak akan pernah mempercayai orang yang hanya main-main dengan hati. Baginya dia akan menutup hatinya bagi siapa saja yang hanya main-main saja.
_
Riyan memencet bel apartemen Wisnu. Pulang dari mengantar Aina, Riyan langsung pergi ke apartemen Wisnu, dan dia ada di depan pintu apartemennya. Dia pencet-pencet tombol berkali-kali tapi tidak juga di buka pintu itu.
Dia ambil ponselnya lalu mencari kontak Wisnu dan di hungungi nomor itu, tapi tetap tak ada jawaban. Satu jam dia menunggu, tetap tidak di buka juga. Akhirnya dia kembali pulang. Mungkin besok dia akan menemui sahabatnya lagi.
Pagi-pagi Riyan sudah berdiri di depan pintu apartemen Wisnu lagi, dia tidak sabar ingin melabrak sahabatnya. Berkali-kali juga ponselnya di hubungi tapi tetap tidak aktif. Dengan kesal dia menendang pintu itu lalu pergi meninggalkan apartemen Wisnu.
"Kemana perginya si brengsek itu, aku sudah khawatir dia meminta Aina untuk jadi pacarnya, karena akan begini juga akhirnya." Riyan mengomel sendiri di mobil.
__ADS_1
Mobil dia lajukan ke kos-kosan Aina, dia akan mengajak Aina sarapan di luar. Setidaknya untuk menghibur wanita itu, pikirnya. Sesampainya di kosan Aina dia menelepon terlebih dahulu, sebelum dia keluar dari mobil. Panggilanpun terjawab.
"Ada apa mas Riyan pagi-pagi nelpon aku?" tanya Aina di seberang sana.
"Keluarlah, kita sarapan di luar sambil olahraga pagi." jawab Riyan.
Lalu telepon pun di putus sebelum Aina menjawab lagi. Lalu tak lama pintu gerbang terbuka, Aina muncul dengan pakaian rumahan dengan rambut di cepol ke atas. Wajah polos tanpa make-up nampak manis di mata Riyan.
Riyan yang masih di dalam mobil terpana dengan penampilan Aina yang sangat menggemaskan menurutnya. Riyan baru sadar ketika kaca mobil di ketuk Aina dari luar. Dan Riyan keluar dari mobil dan menghampiri Aina, dengan wajah malas Aina menatap Riyan.
"Ada apa pagi-pagi udah kesini?" tanya Aina sedikit ketus.
"Kan aku udah bilang, kita sarapan di luar." kata Aina.
"Tapi aku udah sarapan tadi."
"Kalau begitu, temani aku sarapan."
"Biasanya juga sarapan sendiri kan di rumah, kenapa mas Riyan tiba-tiba ajak aku sarapan sama-sama?"
"Pengen aja Ai, mumpung lagi libur juga kan?"
"Ya udah, tunggu. Aku ganti baju dulu."
"Ish, aku udah mandi ya. Belum ganti baju aja ini tuh." Riyan tertawa renyah, dia senang menggoda Aina.
Ada sisi lain dari Aina yang kalo di kantor terlihat kaku dan datar saja. Kenyataannya jika sudah dekat seperti ini,keluar sifat aslinya. Sepuluh menit Aina sudah keluar dengan kaos polos pink dan di padu celana training hitam, rambut masih tetap di cepol ke atas.
Sedikit polesan bedak dan lipglos mengurangi muka pucatnya. Lalu mereka pergi mencari sarapan yang dekat dekat saja. Sampai di sebuah taman, mereka berhenti dan keluar dari mobil. Mereka menuju kerumunan pedagang yang berjejer, mereka duduk di tenda lesehan.
Satu pedagang menghampiri dan menanyakan makanan apa yang mau di pesan. Riyan menoleh ke arah Aina.
"Aku mau bubur kacang aja sama teh anget." kata Aina.
"Bubur kacang dua mangkuk dan teh angetnya dua, bang." kata Riyan pada pedagang itu.
"Kok pesannya sama aja? Kenapa ngga yang lainnya?" tanya Aina heran.
"Ya ngga apa-apa, pengen sama aja makannya sama kamu." jawab Riyan santai.
"Tapi kan bubur kacang ngga bikin kenyang." dalih Aina.
"Biasanya juga aku sarapan cuma air putih aja, jadi makan bubur kacang sudah bikin kenyang." senyum Riyan mengembang melihat raut wajah Aina yang lucu seperti itu.
__ADS_1
Aina menarik napas dalam, dia tak bisa berkata apa-apa. Tak berapa lama,pesanan bubur kacang datang. Mereka menyantap bubur kacang dengan lahap. Tak ada pembicaraan, hanya suara kecap mulut mengunyah bubur kacang.
"Mas Riyan kenapa tiba-tiba ngajak aku begini ngga ada modus lain kan?" tiba-tiba Aina bertanya karena rasa penasarannya sejak tadi. Dia hanya takut, kejadian dulu terulang lagi.
"Modus apaan?" tanya Riyan heran.
"Ya, kali mas Riyan janjian sama cewek di sini terus minta di temani, atau cuma mau manas-manasin ceweknya." kata Aina melantur.
Riyan tertawa terbahak-bahak, dia merasa lucu dengan pikiran Aina itu. Aina hanya menatap kesal dengan tingkah Riyan. Bibirnya dia monyongkan karena kesal.
"Kamu tuh lucu, Ai. Aku udah bilang kalau aku ngga punya pacar, lagi pula kalau kamu mau jadi pacar aku juga ngga apa-apa." kata Riyan dengan candaan tapi serius.
"Ish, mas Riyan suka ngawur kalau ngomong."
"Kamu masih mengharapkan Wisnu jadi pacar kamu?" tanya Riyan tiba-tiba dingin.
"Entah, sesuatu yang terlalu cepat datangnya akan cepat juga perginya. Jadi, aku ngga bisa berpikir mengharapkan pak Wisnu. Setelah tadi malam, aku kurang percaya aja sama komitmen sementara." kata Aina.
""Komitmen sementara?" tanya Riyan heran.
"Yah, pacaran itu komitmen sementara. Kalau ngga cocok lagi bisa putus kalau sudah nyaman satu sama lain bisa lanjut ke tingkat yang lebih jauh, menikah. Karena pada dasarnya komitmen untuk menikah itu butuh pemikiran yang matang." kata Aina menjelaskan sesuai pikirannya.
"Apa menikah juga bisa tanpa ada cinta?"tanya Riyan serius.
"Bisa, cinta juga nanti datang dengan sendirinya karena sering bersama dan saling mensyukuri satu sama lain, tidak melihat kekurangannya. Apa lagi menikah dengan saling jatuh cinta, akan selalu terus bersyukur karena saling mencintai, artinya saling menerima kekurangan masing-masing." ujar Aina panjang lebar. Riyan takjub dengan pikiran Aina.
"Kamu pintar juga ya, ternyata kedewasaan tidak hanya umur yang lebih tua, tapi pemikiran kamu menunjukkan bahwa kamu lebih dewasa." puji Riyan tulus.
"Itu karena aku mengalami banyak hal, jadi pemikiran itu datang begitu aja." kata Aina.
"Kamu pernah mengalami apa?"
"Udah siang mas, pulang aja. Aku mau beres-beres dulu buat mudik."
"Eh, kamu mau pulang kampung?"
"Ya, rencananya besok mau mengajukan cuti."
Riyan ingin bertanya terus, tapi Aina mengajaknya pulang. Lalu mereka pergi dari taman, karena sudah siang Aina meminta pulang ke kosan saja, walau Riyan membujuk untuk jalan-jalan sebentar tapi Aina tetap ingin pulang.
_
_
__ADS_1
*****************