Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
67. Riyan Sakit.


__ADS_3

Aina sekerang bekerja di restoran suaminya di Kemang. Meski sedang hamil, dia tidak merasakan mual atau pun pusing. Justru suaminya yang terkadang mengalami gejala mual dan pusing. Mungkin itu kehamlian simpatik yang di alami Riyan.


Kata ibu Sarah, Riyan mengalami kehamilan simpatik dari Aina.


Namun bergitu, Riyan tetap berangkat ke restoran untuk menemani Aina bekerja sebagai manajer keuangan.


"Sayang, aku mau makan udang goreng." kata Riyan pada istrinya.


"Ya, sebentar ya. Aku tanggung memeriksa semua laporan keuangan restoran." jawab Aina.


Mereka kini berada di restoran, Aina berkantor di ruangan Riyan.


Dia menghampiri istrinya yang sedang memegang kursor laptop dan memeriksa laporan yang di kirim oleh bagian keuangan di beberapa cabang restoran. Riyan mencium pipi Aina dan mengelus perutnya yang kini sudah mulai besar.


Menginjak usia kehamilan tujuh bulan, Aina semakin semangat bekerja. Riyan terkadang khawatir dengan istrinya yang begitu lincah dan aktif dalam bekerja. Namun demikian, entah sejak kapan Aina semakin galak jika dia di batasi gerakannya oleh Rinya.


Jadi, Riyan pasrah saja dan dia yakin Aina bisa menjaga kondisi kehamilannya. Masih mengelus perut Aina, Aina menoleh ke arah suaminya lalu mengecup pipi suaminya itu.


"Apa ngga mau di buatkan sama pelayan aja mas?" tanya Aina, dia takut lama memeriksa laporannya dan suaminya semakin kelaparan.


"Aku tunggu kamu selesai aja, aku pengen masakan kamu." kata Riyan lagi.


"Ya udah, aku selesaikan ini sebentar. Nanti aku bikin." ucap Aina.


"Ya, aku tunggu di sofa ya sayang." kata Riyan sambil memijat kepalanya yang pening.


"Ya mas." kata Aina.


Riyan lalu kembali duduk di sofa, entah kenapa kepalanya pusing dan ingin tidur. Dia medebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Aina menoleh ke arah suaminya yang ternyata sudah memejamkan matanya. Dia menyimpan laporan itu, kemudian keluar dari ruangan kantor suaminya menuju dapur.


Tak berapa lama, Aina pun masuk lagi dengan membawa makanan yang di minta Riyan. Dia meletakkan nampan berisi makanan itu, Aina memegang pipi suaminya. Terasa panas di tangan Aina pipi Riyan, tangan Aina beralih di leher. Tetap juga panas, Aina panik dia lalu menuju laptopnya untuk menyimpan laporan tadi.


Kemudian dia kembali mendekat pada suaminya yang masih terpejam. Menepuk pelan pipi suaminya dan berkata dengan lembut.


"Mas Riyan, katanya mau makan. Ini aku sudah siapkan makanannya." kata Aina.


"Oh, sudah ada ya." kata Riyan bangkit dari tidurnya dan duduk tegak meski kepalanya terasa pusing sekali.


"Mas Riyan sakit?" tanya Aina memegang leher Riyan lagi.

__ADS_1


"Aku pusing aja sayang." ucap Riyan dengan suara parau.


"Tuh, suara mas Riyan kok parau. Kamu sakit mas, nanti setelah makan minun obat ya." kata Aina membujuk suaminya.


"Hanya sakit biasa aja kok." kata Riyan.


"Sakit biasa juga tetap sakit mas, perlu di obati. Nanti aku suruh pelayan beli obat warung deh di mini market depan sana ya." kata Aina lagi.


"Terserah kamu aja sayang, suapi aku makan." kata Riyan berubah jadi manja.


Aina menurut, dia mengambil piring berisi makanan dan menyuapinya ke mulut Riyan. Riyan mengunyah makanan yang masuk ke dalam mulutnya dengan pelan. Menatap istrinya yanv sedang mengaduk makanan. Rasa pahit di mulut membuat dia enggan lagi makan.


"Kok rasanya pahit sih?" ucap Riyan.


"Ya kan kamu sakit mas, mungkin mulutnya berubah karena kamu sakit. Sudah, teruskan aja makannya." kata Aina.


Riyan ingin menolak, tapi dia kasihan sama Aina yang tadi dia ganggu minta makan di buatkan udang goreng untuknya. Aina menyuapkan lagi, namun hanya sedikit yang masuk.


"Ngga enak ya mas?" tanya Aina.


"Iya, pahit rasanya." kata Riyan.


"Obat apa sayang?"


"Obat parasetamol aja, kan kamu panas badannya mas. Biar turun panasnya." kata Aina.


"Kayak anak kecil aja sih obat parasetamol." kata Riyan dengan malas.


"Kan kamu panas mas, kalau panas ya di obati dengan parasetamol. Apa kita pergi ke dokter aja?" tanya Aina menatap suaminya yang berbaring lagi di sofa setelah makan itu.


"Terserah kamu aja sayang, yang penting aku di rawat olehmu." kata Riyan.


"Ya udah, jangan rewel kalau aku obati. Biasanya juga kalau aku sakit panas minum parasetamol udah sembuh. Kamu kelelahan kali mas, kemarin kan bolak balik aja Bogor Jakarta." kata Aina.


"Mungkin ya." ucap Riyan.


"Aku keluar dulu, mau minta belikan obat."


"Hmm."

__ADS_1


Aina membawa nampan itu sekalian untuk meminta di belikan obat. Riyan kembali tertidur setelah beberapa kali makan di suapi Aina. Dia memang sangat lelah sekali hari ini dan mengantuk. Kemarin acara pembukaan restoran yang ada di Bogor. Belum lagi Wisnu yang sudah berada di Jogja, entah dia sedang apa. Pikir Riyan.


_


Pulang ke apartemen mereka di antar oleh adik Riyan, Juli yang kebetulan main ke restoran Riyan. Ibu Sarah di beritahu kalau Riyan sedang sakit. Dia panik bukan main, dan pagi harinya ibu Sarah datang ke apartemen Riyan dengan membawa bubur.


"Aina, kenapa suamimu bisa sakit?" tanya mertuanya.


"Mungkin mas Riyan kelelahan ma, kemarin kan bolak balik aja Jakarta Bogor. Aku di kantor aja dan mas Riyan aja yang kesana." jawab Aina.


"Hemm, Riyan Riyan. Kamu biasanya ngga begini. Kenapa bisa sakit?" tanya ibu Sarah.


"Namanya juga manusia ma, kan bisa juga sakit. Untung aku sakitnya cuma panas aja. Aina udah memberikan obat untukku, dan aku udah lebih baik sih." kata Riyan.


"Ya udah, kamu jangan pergi ke restoran lagi. Istirahat aja dulu. Aina juga, kamu perutnya udah besar. Ngga boleh capek lho." kata ibu Sarah mengingatkan kedua menantu dan anaknya itu.


"Aina kan di kantor aja ma, ngga kemana-mana." kata Riyan.


"Kamu jangan bawel Riyan, oh ya. Mama mau mengadakan tujuh bulanan kehamilan Aina di rumah. Bagaimana Yan?" tanya ibu Sarah.


"Hemn, jadi mama kemari mau minta izin itu aja?" tanya Riyan.


"Ya ngga sayang, kan nengok kamu yang sakit. Jadi sekalian ngomong sama kamu. Aina juga pasti setuju kan?" tanya ibu Sarah.


"Terserah mama aja, aku ngga mngerti sih ma." kata Aina.


"Tuh kan, Aina mau. Ya udah, nanti minggu depan mama mau mengadakan tujuh bulanan dan mengundang teman-teman arisan mama. Uuh, senengnya mama mau punya cucu." kata ibu Sarah dengan semangat.


Aina dan Riyan hanya tersenyum dengan tingkah mamanya. Riyan lalu mengambil bubur yang di bawakan oleh mamanya itu.


"Ssyang, aku mau bubur mama." kata Riyan.


"Aku ambil mangkok dulu ya." ucap Aina.


Aina pun pergi dari kamarnya dan mengambil mangkok serta sendok. Sedangkab ibu Sarah memijat kaki anaknya dengan mengobrol tentang kehamilan menantunya.


_


_

__ADS_1


*****************


__ADS_2