
Sudah dua Minggu Aina bekerja di bagian keuangan. Dia menikmati pekerjaannya walaupun begitu rumit dengan mengecek keluar masuknya keuangan perusahaan. Tak ada kata lelah dan bosan,mungkin karena baru dua Minggu bekerja.
Tapi baginya mengotak atik angka-angka yang begitu banyak dan butuh ekstra konsentrasi,tapi dia menyukainya. Siang ini Aina seperti biasa makan sendiri, walaupun dia punya tim dan juga rekan kerja yang bisa di ajak makan bareng tapi dia lebih suka makan sendiri. Dia pergi ke kantin yang ada di lantai bawah.
Gedung kantor pusat yang Aina tempati berlantai dua puluh, semua milik perusahaan Media Karya Hutama. Setiap satu lantai itu bagian divisi yang berkaitan satu sama lain. Bagian keuangan berada di lantai lima belas, karena lima lantai teratas adalah tempat para direktur dan manager.
Tepat gedung di atas Aina kerja yaitu lantai enam belas adalah kantor CEO dan asisten pribadinya itu. Aina lebih memilih lantai bawah untuk makan di kantin,walaupun di lantai tujuh juga ada kantin.Namun Aina lebih suka di lantai bawah, karena pengunjungnya banyak yang tidak dia kenal.
Aina mencari tempat duduk paling pojok setelah dia sampai di kantin. Setelah duduk, pelayan menghampirinya dan menanyakan pesanannya.
"Mba, mau pesen apa?" tanya pelayan itu.
"Saya pesen soto sapi ada?" tanya Aina pada pelayan itu.
"Ada, minumnya apa?"
"Mm,, es jeruk enak kayaknya ya siang-siang panas gini." katanya bicara sendiri.
Pelayan masih menunggu pesanan Aina.
"Boleh deh es jeruk aja satu. Eh, sotonya di kasih bawang goreng yang banyak ya mba."
"Baik, mba. Ada lagi?"
"Udah itu aja."
"Baik, di tunggu ya mba." lalu pelayan tersebut pergi ke belakang untuk mempersiapkan pesanan Aina.
Dari tempat duduk di belakang Aina, seorang laki-laki menoleh ke arah Aina. Dia tersenyum, lalu dia bangun dan duduk di hadapan Aina yang sedang menopang dagu wajahnya dia hadapkan ke arah jendela di depannya.
Aina tidak menyadari ada seorang laki-laki di hadapannya yang sedang memandangnya dengan intens. Tangannya bersedekap,matanya masih terus memandangi Aina.
Saat sadar ada seseorang yang sedang memperhatikannya, Aina menoleh dan dia terlonjak kaget. Jantungnya berdetak tak karuan karena rasa terkejutnya itu. Laki-laki yang sedang menatapnya itu tersenyum padanya.
"Maaf, saya mengagetkanmu." kata lelaki itu yang ternyata adalah Aspri CEO.
"Kenapa bapak ada di sini?" tanya Aina sedikit heran.
"Saya lihat kamu diam sendirian aja, jadi saya temani. Bolehkan?" katanya lagi.
"Mm .... Ya boleh saja sih kalau bapak ngga keberatan duduk dengan saya di sini." kata Aina.
"Ngga kok, saya malah senang bisa sekalian berkenalan dengan kamu." katanya.
"Oya, saya lupa nama kamu, a..Ai..Aisa...Ai.." katanya sambil mengingat.
Aina tersenyum dengan tingkah laki-laki itu. Mencoba mengeja namanya, membuat Aina merasa lucu.
"Aina pak, nama saya Aina Saraswati lebih tepatnya." masih tersenyum.
"Astaga! Kenapa nama secantik itu saya bisa lupa yah?!"
"Bapak bisa aja, kita juga baru kenalan sekarang kan pak?"
"Mmm ... iya juga sih, tapi saya sangat familiar dengan wajah kamu."
"Berarti wajah saya pasaran ya pak?"
"Ah, ngga juga. Maksud saya, saya pernah liat kamu waktu di meeting karyawan pindahan itu." katanya.
"Oya, saya Riyan. Riyan Yudhistira." Riyan memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
Aina menatap tangan yang ada di hadapannya lalu beralih menatap wajah Riyan dengan wajah terkejut.
"Kenapa diam?" tanyanya lagi.
"Oh, bapak yang bernama Riyan?" tanya Aina masih bingung dan terkejut.
__ADS_1
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Riyan penasaran.
"Bapak tuh jadi idola di kantor saya, banyak yang terkagum-kagum sama bapak. Setiap pojok meja, selalu nama bapak yang jadi obrolan." kata Aina.
"Termasuk kamu?" tanya Riyan.
"Saya ngga suka gosip, jadi saya ngga ikuta-ikutan menghosipi bapak." kata Aina.
"Wah! Jadi saya terkenal ya di kantor kamu. Memang wajah saya ngga mudah di lupakan orang kok, terutama para gadis-gadis." katanya dengan bangga sambil membenarkan kerah bajunya.
Aina hanya tersenyum dengan tingkah atasannya itu. Agak narsisi, tapi lucu. Setelah lama menunggu, pesanan Aina datang juga. Pelayan yang membawa pesanan Aina pun meletakannya di meja lalu pergi setelah semua sudah tersaji.
"Terima kasih, mba." kata Aina.
"Sama-sama."
"Eh, mba pesanan saya di antar ke meja sini aja ya." kata Riyan pada pelayan.
Pelayan itu hanya menganggukkan kepala.
"Mari makan pak Riyan." ajak Aina.
"Ya, silakan."
"Ngga enak jadinya kalau duluan makan." kata Aina.
"Ngga apa-apa, kamu makan aja kalau lapar."
Aina pun melahap makanannya, lalu tak lama pesanan Riyan pun datang. Aina melirik isi mangkok yang di pesan Riyan.
"Bapak suka soto sapi juga?" tanya Aina.
"Ya, saya suka soto sapi juga. Rasanya enak sekali soto di sini, saya sering makan di sini." jawab Riyan sambil menyantap sotonya.
Aina membenarkan perkataan bosnya itu setelah dia mencicipinya. Mereka makan bersama, saling mengobrol.
"Kenapa? kan bapak atasan saya, masa panggil nama saja. Ngga sopan pak, apalagi saya baru kenal bapak dan bapak atasan saya jadi wajar saya panggil bapak." ucap Aina.
"Tapi saya masih muda, ganteng pula. Ngga keliatan seperti bapak-bapak."
Aina hanya tersenyum Riyan yang lucu membuat Aina jadi tidak kaku di hadapan atasannya itu.
Setengah jam mereka makan dan ngobrol dan bercanda. Baik Aina dan Riyan tidak menyadari bahwa waktu jam makan siang sudah hampir habis.
Aina melirik jam yang melingkar di tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Mm, sudah jam satu, pak. Waktunya kerja lagi." kata Aina mengakhiri obrolan singkatnya.
"Oya, sudah jam satu ya. Ya udah kita pergi dari sini." kata Riyan.
Mereka pun bangkit dari duduknya dan menuju lift untuk naik ke lentai atas tempatnya mereka bekerja. Lift terbuka, keduanya masuk. Riyan memencet tombol 15, lift berjalan ke atas. Aina dan Riyan saling diam, menunggu lift berhenti di lantai 15.
"Aina, kamu kos di daerah mana?" tanya Riyan membuka keheningan.
"Di daerah Ulujami pak." jawab Aina singkat.
"Di mana itu, maksudnya sebelah mana pesantren?"
"Masuk gang pak."
Lift pun akhirnya berhenti, Aina berpamitan pada Riyan. Yang di balas senyum manis dari laki-laki tampan itu. Lalu Aina keluar dari lift itu. Kemudian Riyan memencet tombol angka enam belas,lift pun naik ke lantai enam belas.
_
Sampai di ruang kerjanya, ponselnya berdering. Riyan merogoh saku celananya dan di lihat nama Wisnu memanggil..
"Halo!" kata Riyan.
__ADS_1
"Keruanganku sekarang!"
"Iya." lalu panggilan pun di tutup.
Riyan keluar dari ruangannya dan menuju ruang CEO. Dia berjalan sedikit santai,dia tahu jika bosnya memanggilnya dengan nada kesal di telepon dia sedang pusing masalah kerjaan. Tapi entah apa. Sampai di depan pintu, Riyan mengetuk lalu masuk ke dalam.
Dia melihat bosnya sedang memejamkan mata sambil menggoyang-goyangkan kursinya.
"Ada apa, Lo manggil gue?" tanya Riyan sambil duduk di depan bos sekaligus sahabatnya itu.
"Gue pusing, si Maya mau resign, mana mendadak lagi. Belum kerjaan numpuk, bingung gue." ucap Wisnu bingung.
"Yaelah, lo kayak ngga biasa aja ngrepotin gue kalo lagi banyak tugas, biasanya juga gue yang pegang kerjaan elo kalo si Maya ngga masuk. Kenapa sekarang jadi pusing." kata Riyan meledek Wisnu.
"Ya masalahnya, si Maya ngga masuknya satu dua hari, dia mau risgn selamanya. Jadi mau tidak mau harus cari sekretaris baru. Dan Lo jadi Aspri gue juga nyantai banget, ngga ada repot-repotnya juga. Pakai nyindir segala." ujar Wisnu sambil mencibir.
"Ya kan gue cuma atas nama doang jadi Aspri Lo, bokap Lo yang nyuruh gue. Pengennya sih gue mau ngurus bisnis gue sendiri, tapi bokap Lo maksa-maksa gue. Ya udah, lumayan aja buat nambah pundi-pundi uang gue." jawabnya santai.
Wisnu cuma menatap sahabatnya dengan tajam. Riyan santai saja di tatap seperti itu oleh sahabatnya. Wisnu mendengus kesal.
"Dari pada Lo ngomong ngga berguna vegitu, carikan gue sekretaris baru yang cekatan dan pintar, urgen soalnya. Karena besok lusa gue ada meeting dengan klien penting."
Riyan berdecak kesal, dia lalu berpikir, tak lama kemudian dia jentikkan tangannya. Dengan wajah sumringah.
"Lo masih inget ngga, waktu meeting sama karyawan dari berbagai cabang. Cari dari situ aja." usul Riyan.
"Tapi kan karyawan itu dari bagian keuangan semua. Mana bisa mereka jadi sekretaris, nanti gimana presentasi ke klien kita." kata Wisnu.
"Ya kan kemarin Lo lihat presentasi mereka waktu itu, pastilah ada yang Lo ingat."
"Pikiran gue lagi kosong waktu itu, jadi ngga fokus sama penjelasan mereka." kata Wisnu sambil sambil nyengir.
"Bos apaan Lo, mereka capek-capek ngomong, belum lagi mengatasi kegugupan mereka, Lo malah ngga fokus. Gila Lo ya." Riyan mendamprat sahabatnya itu, dia kesal dengan tingkahnya itu.
"Udah sih, gue yang pusing kenapa Lo yang marah! Gue pecat juga sekalian Lo ya." kata Wisnu.
"Bagus itu, gue jadi lebih tenang dengan bisnis gue. Ngga ada yang mengganggu konsentrasi gue." kata Riyan dengan senang.
"Eeits, tunggu dong, jangan marah gitu. Ya udah gue terserah elo, siapa di antara mereka yang paling bisa di andalkan jadi sekretaris gue?" akhirnya Wisnu menyerah.
"Sebenarnya sih ada rekomendasi dari gue, tapi agak ragu." kata Riyan ragu-ragu.
"Kalo Lo ragu, mending ngga usah. Cari yang lain lagi."
"Gue ragu dia mau apa ngga, bukan ragu karena potensinya. Gue percaya dia mampu, feeling gue yakin banget dia bisa."
"Ya udah, bujuk aja. Bila perlu di ancam di pecat kalo ngga mau. Hubungi bagian keuangan untuk menunjuk jadi sekretaris gue."
"Lo main ancam-ancam aja, sabar sedikit kenapa? Gue kenal orangnya, tadi aja habis makan bareng sama dia."
"Ooh, jadi Lo telat masuk kantor gara-gara asyik ngobrol sama dia?" tatapan sinis Wisnu jadi Riyan sedikit keki.
"Ya udah, gue kesana ke bagian keuangan buat menunjuk Aina jadi sekretaris Lo." kata Riyan akhirnya.
Lalu dia berdiri untuk pergi, tapi di cegah oleh bosnya.
"Eh, kenapa Lo harus kesana? Telepon aja kepala keuangannya suruh ke sini." sergah Wisnu.
"Gue harus ngobrol secara rinci sama pak Andi. Siapa tahu ada alternatif lainnya."
"Eh, Lo diem sini. Biar gue yang telepon pak Andi." lalu Wisnu mengambil gagang telepon dan menghubungi bagian keuangan. Riyan hanya diam,dia berdecak kesal.
_
_
**************
__ADS_1