
"Mas Riyan, bisa di terusin ngga cerita tadi di mobil?" tanya Aina ragu.
Dia penasaran tentang lelaki di hadapannya ini, penuh dengan kejutan hidupnya pikir Aina. Ngga ada salahnya kan mengenal asisten bosnya itu. Dan Aina melupakan tentang janjinya memberikan jawaban pada Wisnu, karena dia sendiri masih bingung dengan semuanya. Apalagi dia belum mengenal jauh dengan Wisnu.
Tapi kenapa Wisnu dengan cepat ingin dia jadi pacarnya? pikiran Aina tambah bingung.
"Cerita yang mana?" tanya Riyan.
"Tentang pak Riyan, tentang sahabatan dengan pak Wisnu, tentang semuanya." jawab Aina.
"Aina?" Riyan sedikit kesal dengan sebutan pak dari Aina.
"Apa, mas Riyan?"tanya Aina heran.
"Kamu kalau memanggil yang konsisten dong, kok salah terus sih?"
"Iya maaf, lupa." dengan mimik wajah cemberut yang membuat Riyan jadi gemas melihatnya.
Baru kali ini Riyan melihat sisi lain dari Aina, yang biasa datar-datar saja penampilan dan wajahnya. Melihat wajah kekanakan Aina membuat Riyan betah dekat dengan Aina.
"Ternyata kamu orangnya lucu juga yah. Bisa di ajak cemberut juga, baru kali ini aku liat ekspresi wajah lain dari seorang Aina. Jadi gemas aku Ai." ledek Riyan.
"Ish, mas Riyan jangan bikin aku malu dong."
"Ngga kok, beneran aku baru tahu aja kamu lucu kalau lagi cemberut gitu."
"Ya udah, Terima kasih. Terus itu ceritanya gimana?" tanya Aina.
Belum sempat bicara, pesanan sudah datang dan pramu saji meletakan makanan di atas meja. Setelah selesai pramu saji itu keluar.
"Ayo makan dulu, Ai." Aina diam, dia tidak menyentuh makanan di depannya. Riyan memandang Aina heran.
"Kenapa belum ambil makanannya?"
"Saya mau dengar ceritanya dulu"
"Makan dulu, baru cerita." tegas Riyan, lucu juga Aina merajuk seperti itu.
Aina akhirnya nurut,dia sendiri aneh kenapa bisa memaksa dan merajuk pak lelaki di depannya. Bukankah ini baru pertemuan terlama selama dia mengenalnya. Entahlah, dia merasa sangat akrab dan nyaman.
Lama mereka diam dalam makan, meresapi hidangan yang tersaji dan menikmatinya. Tak ada sepatah kata yang mengiringi makan mereka, Aina pun tak berani mengeluarkan suara.
Setelah selesai, semua sisa-sisa dan bekas piring pun di bersihkan oleh pramu saji yang telah siap sejak tadi di luar. Aina masih menunggu dengan sabar, sedangkan Riyan sedikit sibuk dengan ponselnya.
Dia mengotak Atik sebentar kemudian meletakkan kembali ponselnya di meja, lalu menatap Aina dengan intens. Aina yang di tatap seperti itu oleh Riyan semakin kikuk, dia jadi salah tingkah.
"Mas Riyan?" kata Aina mengurai kecanggungannya itu.
Riyan menghela nafas panjang, wajahnya dia tundukkan sebentar. Ada rasa berat ketika dia menatap Aina, mungkin cinta pada pandangan pertama yang dulu dia rasakan ketika meeting pertama bertemu dengan Aina harus dia kubur dalam-dalam.
__ADS_1
Ya, dia menyukai Aina. Tapi dia harus melupakan juga secepatnya perasaan nya itu, karena sahabatnya. Menoleh ke arah Aina lalu membuangnya lagi ke samping.
"Mas Riyan kalo ngga mau cerita ngga apa-apa kok." ucap Aina lagi, Riyan tersenyum.
"Apa yang ingin kamu tahu tentang aku Ai?"
"Apa saja."
"Mending kamu aja yang cerita tentang kamu, aku lihat kamu jarang bergaul dengan karyawan di kantor."
"Ck! Mengalihkan pembicaraan." ucap Aina kembali merajuk.
"Hahah! ngga usah marah Ai, aku perhatikan kamu itu ngga punya teman. Di kantor banyak yang ngga suka sama kamu? Padahal kamu tuh cantik, pintar, baik dan lucu serta menggemaskan." ucap Riyan dengan senyumnya.
Aina menghela nafas panjang, dia mulai lupa dengan rasa penasarannya pada Riyan. Pikirannya menerawang tentang masa lalu.
"Aku memang ngga punya banyak teman, temanku OB. Tapi OB di sini kurang bersahabat, ya udah ngga masalah ngga punya teman." kata Aina.
"Ngga punya teman? Kalau aku apa?"
Kalau mas Riyan itu kan atasanku. Eh, kok jadi aku yang cerita sih? "kata Aina menautkan alisnya, tangannya bertopang dagu membuat Riyan betah menatap Aina lama-lama.
Satu deringan berbunyi dari ponsel Riyan. Terlihat nama Wisnu tertera di sana,lalu Riyan mengambil ponselnya dan mengangkat teleponnya.
"Halo?" sapanya.
"Lo di mana?" tanya Wisnu di seberang sana.
"Lo sedang menggantikan tugas gue kan sama Aina?" tanya Wisnu.
"Iya.kenapa memangnya?" jawab Riyan sambil berdiri dan menuju jendela menjauhi Aina.
Ia melirik sebentar ke arah Aina dan fokus lagi pada panggilan teleponnya. Aina hanya menatap Riyan yang sedang menelepon dan menuju jendela.
"Sori, gue mendadak harus keluar kota. Ada yang harus gue temui."
"Lo kebiasaan banget pergi mendadak, untung jadwal hari ini cuma kunjungan aja, kalau harus meeting repot jadinya." omel Riyan kesal.
"Iya, gue minta maaf. Lagi pula Lo asisten gue harus bisa di andalkan dong dalam keadaan apapun." kata Wisnu.
"Eh dodol, gue selalu siap ya kalau ada apa-apa di kantor. Lagi pula Lo kenapa sih keluar kota segala? Semua cabangkan lagi ngga ada masalah di kantornya."
"Berisik Lo! Gue cuma mau memastikan kerjaan aja sama lo. Gue tutup teleponnya!"
Klik!
Tut Tut Tut...
"Sialan, dia langsung tutup aja." Riyan mengumpat kesal, dia kembali duduk.
__ADS_1
"Sudah waktunya ke Depok, mas Riyan. Satu tugas lagi." kata Aina.
Dia bangkit dari duduknya, Riyan ikut bangkit. Lalu mereka keluar dari ruang privasi itu dan keluar dari restoran. Tak lupa Riyan menghampiri sang manajer restoran untuk berbincang sebentar dan kembali menghampiri Aina.
Lalu keduanya pergi meninggalkan restoran menuju parkiran lanjut naik mobil dan langsung pergi menunaikan tugas kedua. Melupakan cerita tentang Riyan karena waktu bekerja sudah mulai kembali.
****
"Aku tuh, asisten pribadi yang di tunjuk oleh om Hutama papanya Wisnu. Awalnya aku menolak, tapi karena om Hutama meminta terus dan aku ngga enak jadi ya mau juga. Tapi dengan syarat aku ngga harus selalu di kantor, kalau ada urusan mendadak aja aku harus siap. Dan om Hutama menerima syaratku, jadi ya akhirnya begini. Asisten yang santai kerjanya, biar bosnya yang kerja keras. Dan lagi, om Hutama menitipkan Wisnu untuk ku awasi. Karena dia kalo kerja suka seenaknya. Seperti sekarang, suka mendadak pergi." ujar Riyan panjang lebar ketika sudah di mobil.
Aina mendengarkan dengan seksama. Kepalanya manggut-manggut mengerti. Riyan melajukan mobilnya dengan santai, karena jalanan juga mulai padat.
"Apa mas Riyan punya kerjaan lain selain di kantor?" tanya Aina.
"Ya, aku punya bisnis restoran. Jadi waktu aku ngga bisa di kantor aja, ada yang harus di urus juga di restoran. Wisnu juga tahu itu, jadi dia ngga bisa menyalahkan aku kalau aku ngga selalu ada di kantor tiap hari. Dan juga kesepakatan dengan om Hutama." kata Riyan lagi.
"Kok aku belum pernah liat pak Hutama masuk kantor ya." kata Aina.
"Beliau tinggal di Malaysia, mengurus perusahaan juga di sana. Makanya perusahaan di sini di pegang Wisnu dan aku di suruh mengawasi dia."
"Mm, pak Wisnu itu gimana orangnya sih?" tanya Aina penasaran.
"Kamu penasaran, Ai?"
"Ya, ingin tahu aja." jawab Aina.
"Ingin tahu aja apa ingin tahu banget?" goda Riyan.
"Tuh kan, mas Riyan begitu terus." Aina merajuk. Riyan tertawa lepas, dia senang menggoda Aina.
"Oke, sebagai bocoran. Sebenarnya dia baik, cuma ya begitu. Di kantor suka agak jutek ke bawahan dan tegas karena memang dia karakternya begitu. Tapi kalau sudah kenal sih asyik aja." kata Riyan.
"Apa sudah punya pacar?"
"Kalau sudah punya pacar, mana mungkin dia nembak kamu Ai?"
"Maksudnya, mantan."
"Ya, dia mantannya banyak. Tapi mantannya itu di pacari ngga lama. Rata-rata paling enam bulan, sepuluh bulan. Yang terakhir lumayan lama sih. Kamu ngga cemburu kan Ai sama mantan-mantannya?" tanya Riyan.
"Kok tanya begitu? Jadi pacar aja masih belum, sudah cemburu aja. Bagaimana ceritanya."
"Hahah! Barangkali kamu cemburu Ai. Mm, apa kamu juga suka sama Wisnu?" tanya Riyan menyelidik.
Aina hanya mengedikkan bahu, membuat Riyan mengerutkan dahinya heran. Karena memang dia masih bingung dengan perasaannya sendiri.
_
_
__ADS_1
**************