Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
14. Malam Pertunangan


__ADS_3

Malam hari pertunangan yang akan di gelar di rumah Aina pukul tujuh tepat. Semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Aina sedang sibuk di dapur mempersiapkan segala hidangan untuk para tamu undangan.


"Ai, kenapa kamu belum dandan juga?" tanya bude Diyah yang sejak Maghrib sudah ada di rumah Aina.


"Ini bude, semua harus di rapikan dan di siapkan supaya nanti ngga repot nantinya." jawab Aina masih sibuk dengan kegiatannya.


"Iya, tapi kan kamu juga harus dandan cantik, sayang. Bukan hanya yang akan bertunangan saja." kata bude Diyah.


"Iya, bude. Nanti Aina siap-siap setelah ini selesai ko. Nah, ini sudah rapi semua. Baiklah, aku siap-siap dulu bude." lalu Aina meninggalkan budenya.


Budenya hanya geleng-geleng kepala saja.


Dalam kamar Aina sudah berganti baju dan tinggal memoles wajahnya saja. Dia menatap dirinya sendiri di cermin,tampak wajah sedih yang dia lihat. Namun wajah itu harus dia sembunyikan di malam ini,tidak boleh ada yang tahu dengan kesedihannya itu.


Tok tok tok. Suara pintu kamar di ketuk dari luar.


"Siapa?" tanya Aina.


"Ini Tante Rossi, Ai." jawab Tante Rossi dari luar.


Aina menghela napas berat, dia pasti akan di berondong pertanyaan dari tantenya. Aina diam sejenak, mengatur sesak yang tiba-tiba di dadanya. Bukan apa-apa, pastinya bukan hanya pertanyaan. Tapi juga terkadang menyindirnya juga.


"Ai, Tante boleh masuk ngga?" tanya tantenya itu.


"Masuk aja, Tan. Ngga di kunci kok." jawab Aina.


Lalu pintu kamar pun terbuka, tampak Tante Rossi yang berpakaian agak gelamor itu menghampiri Aina yang sedang menata rambutnya. Sekali lagi, wajahnya dia sapu dengan bedak. Agar tidak terlalu pucat dan biasa saja.


"Ada apa Tante mencariku?"tanya Aina sambil mengoles lipatstik di bibirnya, ia olesi tipis-tipis saja.


"Aina sayang, Tante ikut terharu lho sama kamu. Kamu berbesar hati mau di langkahi sama adik kamu. Sayang, Tante jadi pengen meluk kamu." kata Tante Rossi sambil memeluk Aina erat.


Aina yang di peluk hanya diam kaku. Dia heran dengan tingkah tantenya itu, biasanya akan cerewet dan selalu pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat Aina malas untuk menjawabnya.


"Terima kasih Tante, memang seharusnya begitu kan." kata Aina dengan bijak.


Syukurlah pikirnya, setidaknya dia tidak selalu bingung dengan pertanyaan yang itu-itu saja. Setidaknya malam ini dia harus terlihat ceria dan bahagia walau masih jomblo. Mungkin akan ada tatapan-tatapan kasihan juga tatapan-tatapan sinis,tapi dia harus terlihat cuek dan masa bodoh dengan itu.


"Ayo kita keluar sayang, semua sudah pada kumpul lho." kata Tante Rossi sambil meraih tangan Aina.


"Iya Tante." jawab Aina meraih tangan tantenya dengan senang hati.


Lalu Aina dan Tante Rossi pergi dari kamar Aina. Tante Rossi sempat melihat koper yang sudah siap di kemas.


"Itu tadi koper buat apa Ai?" tanyanya.


"Besok sore Aina harus ke kota Tante." jawab Aina.


"Ngapain ke kota?" tanya Rossi heran.

__ADS_1


"Aina di pindah tugas kerjanya di kota Tante." jawab Aina santai.


"Jadi kamu mau ninggalin Tante ya Ai?" nada kaget tantenya bikin hati Aina geli dengan reaksinya.


"Bukan Tante aja, tapi ayah, ibu dan adik Aina juga Tan." kata Aina lagi.


"Yah, nanti ngga ketemu kamu lagi dong."


"Ya, nanti Aina akan sering pulang kok kalo libur. Tante tenang aja,tumben nih Tante sedih sama Aina." canda Aina.


"Ish, kamu. Masa keponakan Tante mau pergi ngga sedih sih." rajuk Rossi sambil memeluk pinggang Aina, Aina hanya tersenyum.


"Aku bercanda kok. Ya udah yuk ke depan, Tante."


Lalu mereka bergabung dengan yang lain. Lima menit kemudian acara pun di mulai. Acara tukar cincin pun di saksikan semua undangan, mereka tampak bahagia dengan acara tersebut. Nampak Shella dan Arya tersenyum bahagia, mereka para undangan pun mengucapkan selamat.


Para orang tua pun turut lega dengan lancarnya pertunangan itu,kedua orang tua pun sekalian merundingkan tanggal dan bulan pernikahan. Setelah kesepakatan itu tercapai,akhirnya pernikahan akan di laksanakan dua bulan lagi.


Aina hanya bisa tersenyum,tak ada yang bisa dia ucapkan dengan kesepakatan itu. Semua di atur oleh orangtua. Setelah selasai acara,semua menikmati hidangan yang sudah tersedia. Tak banyak memang yang di undang, tapi cukup meriah.


Semuanya orang menikmati dan ngobrol dengan santai, ada tawa dan candaan di sela-sela obrolan. Aina sendiri menikmati malam ini dia keluar rumah, duduk di bangku di taman samping rumah. Dia menikmati malam yang di penuhi bintang-bintang di langit. Hatinya kini sudah tak lagi sedih, sungguh dia merasa ikut bahagia dengan pertunangan adiknya itu.


Ada senyum di wajahnya. Dia kembali menatap langit yang bertabur bintang. Mencoba melepas beban yang sejak tadi dia tahan di dalam ruangan berlangsungnya pertunangan adik dan temannya itu.


"Asyik ya sendirian aja di sini." sebuah suara yang mengagetkan Aina.


Dia menoleh ke arah suara tersebut, lalu tersenyum manis. Membuat laki-laki yang ternyata aldo pun senang melihat senyum manis Aina.


"Iya, saya menikmati dan berbahagia malam ini. Jangan khawatir, Al." kata Aina yang seolah tahu Aldo akan berbicara apa selanjutnya.


Aldo hanya tersenyum, dia ikut duduk di samping Aina lalu ikut memandang langit yang gelap itu. Entah dia sangat senang duduk dengan Aina berdua saja di teras rumah.


"Lihatlah Ai, bintang itu selalu bersinar walau gelap setia menemaninya." kata Aldo masih memandang ke atas langit.


"Iya, bintang selalu setia akan kegelapan. Tapi sinarnya tidak bisa merubah gelap itu sendiri, dia perlu bantuan rembulan untuk bisa menerangi bumi." kata Aina menjawab perumpamaan yang di mulai Aldo.


Aldo menatap Aina dengan seksama. Yang di tatap seolah acuh dengan tingkah temannya itu. Dia tahu Aldo mengharapkannya, namun dia merasa tidak peduli dengan perasaan Aldo itu.


"Maaf, saya tidak menerima tali persahabatan apalagi pacar." kata Aina masih setia menatap langit gelap.


Aldo masih diam, dia tahu apa yang di pikirkan Aina. Menghela nafas panjang, layu sebelum berkembang. Itulah perumpamaan hatinya saat ini.


"Kamu mematahkan semangatku Ai." kata Aldo mengalihkan pandangannya.


Aina hanya tersenyum, dia lalu bangkit dari duduknya. Dan menatap Aldo, sahabat dari arya itu sepertinya memiliki perasaan lain pada Aina.


"Kamu juga ngga perlu kasihan padaku, Al. Kamu bahkan tidak perlu menghiburku." kata Aina.


"Tidak bisakah kita berteman seperti biasa saja?" tanya Aldo.

__ADS_1


"Tidak." jawab Aina cepat.


Aldo menatap Aina lagi, dan keduanya menoleh ke arah seseorang yang mendekat pada mereka. Aina pun beranjak dari tempat dia berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan Aldo dan yang mendekat padanya.


"Aku ganggu kamu yah?" tanya Aldo mendekat.


"Ngga kok, memang aku mau masuk. Nanti di cari ayah, ayahku tidak bisa lama-lama kehilangan anaknya ini." Aldo hanya terkekeh mendengar ucapan Aina, dia melirik Arya yang diam seketika karena Aina bersikap acuh pada Arya.


"Anak kesayangan ayah ya ternyata. Sepertinya aku harus bicara pada om Edi, minta anaknya yang cantik ini" rayu Aldo, membuat Aina mencebikkan mulutnya.


"Aku serius Al, ngga bisa menerima persahabatan atau pacar, entahlah. Aku malas pada keduanya, kamu cukup jadi temanku saja."


"Sedih banget ya nasibku, hanya di anggap teman. Sahabat pun tidak." kata Aldo.


"Aku rasa kamu tahu maksudku ,Aldo. Sudah cukup ya pembicaraan ini, aku maj masuk." kata Aina.


Baru saja Aina akan melangkah, Arya datang menghampiri mereka. Dia


"Ai, kamu di sini ternyata." kata Arya.


"Kenapa?" tanya Aina heran.


Aldo hanya nemandang Aina dan Arya secara bergantian. Dia pun akhirnya yang pergi pamit duluan. Dia ingin memberi waktu Arya dan Aina bicara.


"Kalo gitu, aku pergi dulu. Kalian bisa ngobrol sesuka hati." Aldo langsung meninggalkan keduanya yang masih diam.


"Ada apa?" tanya Aina sedikit ketus.


Arya yang tahu dengan sikap Aina seperti itu padanya, dia akan langsung bicara maksud dan tujuannya menemui Aina. Aina mendengus kasar, menatap jauh ke samping lalu menunduk.


"Aku minta maaf Ai. Selama dua tahun ini aku merasa bersalah sama kamu, tapi aku ngga ada maksud membuat kamu sakit hati karena memanfaatkanmu." jelas Arya.


Aina hanya diam dengan penjelasan Arya. Dia memang sakit hati, tapi tidak sepenuhnya.Hanya saja, kenapa dia selalu menemukan orang yang selalu memanfaatkannya. Lalu pergi meninggalkannya.


"Aku sudah memaafkanmu.Jagalah adikku, bahagiakan dia dan jangan pernah menyakitinya." ucap Aina,


Aina lalu bangkit dari duduknya, dia tidak mau berlama-lama bicara dengan Arya dan pergi meninggalkan Arya dan masuk ke dalam rumah. Dia tidak mau ayahnya tahu dengan ketidak hadirannya dengan calon adik iparnya karena masalah hati.


Arya sendiri merasa sedikit lega, meskipun sebenarnya dia ingin banyak bicara dengan Aina. Tapi Aina rupanya tidak mau berbicara padanya terlalu lama. Tapi setidaknya Aina sudah memaafkannya. Dia bisa ngomong dengan Aina, walaupun nanti dia akan sering ketemu Aina setelah menikah nanti.


Setidaknya ini adalah awal yang bagus baginya setelah sekian tahun dia tidak berbicara dengan Aina. Karena Aina sendiri yang menghindarinya. Acarapun berlangsung sampai pukul sepuluh malam, setelah semua di sepakati, keluarga Arya pulang dengan hati yang bahagia.


Karena anaknya akan menikah sebentar lagi. Begitu pula keluarga Aina, semua nampak bahagia. Entah mengapa saudara dari ayah dan ibunya tidak ada yang menyinggung tentang kesendirian Aina yang akhirnya di dahului adiknya, mungkin ada semacam ultimatum dari ayahnya sehingga tidak ada yang berani menyinggung Aina.


Biarlah, bagi Aina itu lebih baik daripada dia harus menjawab semua pertanyaan yang nanti membuat hatinya sedih. Dia malas meladeni pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya susah di jelaskan.


_


_

__ADS_1


**************


__ADS_2