
Setelah kemarin Aina menghadap bos besarnya, dia merapikan semua berkas yang ada di mejanya untuk di bawa ke kantor CEO. Sebelum menuju ruangan CEO, Aina pergi ke ruang pak Andi terlebih dahulu untuk membicarakan tugas-tugasnya itu sebelum jam kantor mulai sibuk.
Dia menunggu di sofa sambil membuka-buka berkas proposal yang kemarin di berikan. Dia sengaja datang lebih cepat agar bisa lebih lama diskusi dengan pak Andi.
Sepuluh menit berlalu, pak Andi akhirnya datang. Dia langsung masuk ke ruangannya dan mendapati Aina sedang memeriksa berkas di tangannya. Mendekat pada Aina yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Aina, kamu lagi apa?" tanya pak Andi heran.
"Saya lagi menunggu pak Andi." jawabnya.
"Ada apa?" tanya pak Andi lagi.
"Saya mau membicarakan tentang tugas kemarin, pak. Saya bingung." kata Aina.
"Ya, terus mau bagaimana lagi, Ai. Atasan sudah memerintahkan seperti itu. Saya juga tambah bingung. Nanti siapa yang menggantikan kamu. Kamu sudah bagus kerja di bagian keuangan, sayang sekali kalau ilmu kamu tidak di kembangkan di sini." kata pak Andi.
"Lagi pula pak Wisnu kenapa ngga cari yang lain sih pak?" tanya Aina.
"Nah, itu dia. Pak Wisnu bilang mau cari yang cepet, katanya mau bertemu klien penting besok. Saya juga ngga tahu, tapi katanya kamu masih kerja di sini juga Ai. Apa kamu ngga merasa repot nantinya?" tanya pak Andi.
"Justru itu, tugas saya jadi bertambah. Apa pak Andi ngga bilang ke pak Wisnu kalau target selesainya kan satu Minggu lagi?" tanya Aina.
"Saya sudah bilang, Ai.Tapi tetap saja maunya kamu yang jadi sekretarisnya, malah kamu bisa rangkap tugasnya." kata pak Andi menambah bingung Aina.
"Jadi saya sekarang ke kantor CEO ya pak?" tanya Aina pasrah.
"Ya mau bagaimana lagi, titah bos yang sudah absolut tidaj bisa di tawar lagi. Takutnya kalau kamu menolak, bisa-bisa kamu di pecat Ai." kata pak Andi.
"Ya sudahlah, pak. Saya ke kantor bos, nanti laporan keuangan saya bawa pulang saja yang akan saya kerjakan." lalu Aina pamit pada pak Andi.
Dia ke ruangannya dan mengambil berkas-berkas yang akan di kerjakan nanti malam. Dan malam ini dia akan lembur, rencananya mau menghubungi ayahnya dan bercerita panjang pada ibunya tentang pekerjaannya.
"Lho, Aina kamu mau kemana?" tanya Citra heran.
"Saya mau ke kantor CEO, sekarang saya berkantornya di sana." jawab Aina.
Dia tidak langsung mengatakan kalau sekarang dia jadi sekretaris CEO. Sekretaris pak Wisnu, yang seenaknya saja memerintah. Lebih baik asistennya dari pada bosnya, pak Riyan. Ups!
"Kok begitu? Terus siapa yang akan mengerjakan tugas kamu di sini?" tanya Citra cemas dengan tugas-tugasnya akan di limpahkan padanya.
"Kamu tenang saja, tugas saya tetap saya kerjakan kok. Ngga saya limpahkan ke kamu atau Suci." jawabnya yang tahu akan kekhawatiran Citra.
"Enak banget ya, kamu ngantornya di ruangan CEO. Kamu ada main sama pak Wisnu ya?" tanya Citra sinis dan curiga.
Dia curiga kenapa Aina jadi lebih mudah dan dekat dengan CEO perusahaan ini. Sudah pasti akan sering bertemu dengan dua laki-laki ganteng di kantor itu, dan itu membuat Citra merasa iri.
Aina hanya menghela nafas panjang, dia malas untuk menanggapi ocehan tidak masuk akal itu. Dia pergi meninggalkan Citra yang masih penasaran, setelah semua yang dia perlukan sudah di ambil. Lalu dia naik lift menuju ruang bos barunya Sekarang.
Sampai di ruangannya, Aina mendapati pak Wisnu sudah berdiri di depan pintu, dia menatap Aina dengan kesal. Aina melihat jam di tangannya,masih pukul tujuh lebih lima menit tapi pak Wisnu sudah menunggunya dengan tatapan yang kurang menyenangkan.
Hari pertama jadi sekretaris pak Wisnu saja seperti di interogasi pak polisi, sedikit tegang. Apalagi seterusnya, mundur pun rasanya akan sulit. Hadapi saja, pikir Aina. Dia diam dan menantap Wisnu.
"Selamat pagi pak Wisnu." sapa Aina dengan senyum manisnya, pura-pura tidak menyadari kesalahannya.
"Kamu terlambat lima menit." kata pak Wisnu dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
"Maaf pak, saya .... " belum selesai bicara.
Wisnu sudah memotongnya dengan memberikan tugas membuat proposal baru. Dia menyerahkan berkas yang akan di kerjakan Aina di tugas pertamanya.
"Buat proposal baru dan harus selesai hari ini juga." kata Wisnu masih ekspresi dinginnya.
"Proposal apa pak?" tanya Aina bingung.
"Proposal pengajuan kerja sama dengan PT Tanaka Shi, dan nanti siang harus sudah selesai. Sebelum jam makan siang harus sudah di serahkan pada saya,mengerti?!" katanya.
Aina hanya mengangguk, dia tidak mau memperpanjang perdebatan. Karena dia merasa bersalah sudah telat, tapi telat juga baru Lima menit. Aina pun meminta maaf pada bosnya itu.
"Kamu dari mana saja tadi?" tanya pak Wisnu lagi.
"Saya ke ruangannya pak Andi dulu pak, untuk menanyakan tugas saya yang di sana." kata Aina jujur.
"Lain kali kamu ke ruangan saya dulu, baru ke kantor keuangan." kata Wisnu ketus.
"Iya pak, maaf." Aina mengalah.
Kemudian pak Wisnu masuk ke ruangannya, sampai di ruangannya dia langsung membuka berkas yang akan di tanda tangani. Berkas pengajuan gaji karyawan yang Minggu depan harus di bagikan. Tak lama, dia memencet tombol sambungan keruangan sekretaris.
"Buatkan saya kopi, jangan terlalu manis." katanya.
"Baik, pak." jawab Aina di seberang sana.
Lalu Wisnu melanjutkan lagi pekerjaannya. Tak lama pintu di buka, dia tidak melihat siapa yang datang. Riyan masuk dan merasa heran dengan ucapan Wisnu.
"Simpan saja kopinya di depan." katanya tanpa melihat sedikitpun siapa yang datang.
"Hei, Lo serius banget kerjanya. Sampai ngga lihat siapa yang datang." katanya Riyan, Wisnu mendongakkan kepalanya.
"Hei, gue baru lihat ya CEO Media Karya Hutama sibuk kerja dan tak peduli dengan sahabatnya ini." kata Riyan aneh.
Yang di ajak bicara malah mengedipkan bahu dan melanjutkan lagi tugasnya. Riyan menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul. Dia pun duduk di sofa dan bermain ponselnya. Terdengar pintu di ketuk dari luar.
Tok tok tok
"Masuk."
Lalu pintu terbuka dan Aina masuk membawa secangkir kopi. Dia letakkan kopinya di meja Wisnu.
"Kopinya pak." kata Aina.
"Ya, terima kasih."
Riyan menatap Aina dari pintu hingga di meja Wisnu, Lalu Aina beranjak pergi, tapi sebelum sampai pintu Aina di panggil oleh Riyan.
"Mm, bisa bikin kopi satu lagi?" tanya Riyan.
Aina menoleh dan mengangguk kan kepalanya, dia keluar lalu menutup pintunya. Riyan senang pagi ini ada yang membuatkan kopi untuknya.
"Lo jangan modus ya." kata Wisnu memperingatkan.
"Siapa yang modus? Gue dari rumah belum ngopi." jawab Riyan.Dia duduk di sofa masih bermain ponselnya.
__ADS_1
Tak lama, pintu terbuka. Aina masuk membawa kopi pesanan Riyan. Dia meletakkan di meja tamu di depan Riyan. Riyan tersenyum senang, lalu menatap Aina.
"Maaf pak, saya tidak tahu takaran gulanya. Jadi kalo kurang manis, harap maklum." kata Aina.
"Ngga apa-apa. Aku suka kok kopi pahit." kata Riyan.
"Kalau begitu, saya permisi."
_
Aina sedang mengetik tugas yang di berikan oleh pak Wisnu. Lima lembar proposal yang dia buat sudah hampir selesai, selanjutnya dia tinggal memperbaiki dan mengedit ulang kata dan bahasa yang salah dan kurang pantas di tulis.
Setelah selesai mengecek, kemudian Aina print lalu di potocopy. Kemudian dia menyerahkannya pada pak Wisnu. Aina akan mengetuk pintu, tetapi pintu terbuka dan keluarlah Riyan dengan mematung di depan pintu melihat Aina.
"Permisi pak, saya mau menyerahkan berkas pada pak Wisnu." kata Aina membuyarkan Riyan yang diam mematung.
"Oh, ya masuk saja Aina. Ini juga sudah masuk jam makan siang." kata Riyan.
"Iya pak, makanya saya mau menyerahkan tugas saya pada pak Wisnu, supaya saya bisa makan siang." kata Aina.
"Bagaimana kalau kita makan siang bareng, seperti kemarin di lantai bawah." ajak Riyan penuh harap.
"Nanti lihat hasil review dari pak Wisnu dulu, kalau berkasnya sudah oke dan ngga ada yang harus di perbaiki, boleh makan siang bareng." ucap Aina dengan tersenyum.
"Ya sudah, saya juga ikut masuk lagi. Sekalian tunggu kamu selesai di review. Lalu kita pergi makan siang."kata Riyan.
Lalu Riyan masuk terlebih dahulu, kemudian di susul Aina. Wisnu heran,kenpaa sahabatnya itu balik lagi dan dia melihat di belakang Riyan ada Aina sambil membawa map di tangannya.
"Ini pak proposal yang bapak minta." kata Aina sambil menyerahkan map biru itu.
Wisnu menerima map itu lalu membukanya dan mengeceknya satu persatu. Kepalanya manggut-manggut, tanda dia menyukai pekerjaan Aina.
"Bagus, ini sesuai dengan pikiran saya. Tapi lembar di bagian belakang nanti di perbaiki yah. Soalnya dan itu kurang pas dana yang di ajukan. Hanya sedikit yang di perbaiki." ujar Wisnu.
Kemudian dia menutup map itu dan menyerahkan lagi pada Aina. Riyan memperhatikan Wisnu yang menyerahkan proposal itu pada Aina.
"Apa boleh di kerjakan ya setelah makan siang pak?" kata Aina ragu-ragu.
"Tentu saja, ini kan sudah waktunya makan siang. Ya sudah, kamu boleh pergi." jawab Wisnu masih memeriksa proposalnya
"Baik pak, terima kasih. Kalau begitu saya permisi."
Lalu Aina pun pergi dan di ikuti oleh Riyan. Wisnu heran kenapa Riyan juga ikut keluar setelah Aina selesai pemeriksaan proposal.
"Eh, mau kemana Lo? Kok balik lagi." tanya Wisnu pada Riyan.
"Ya makan sianglah, mau apa gue di sini." kata Riyan ketus.
"Jangan bilang ya Lo makan siang bareng sama sekretaris gue." ucap Wisnu sewot.
"Kenapa? Aina aja ngga apa-apa kok di ajak makan siang bareng. Udah jangan sewot, nanti ngga keburu waktunya, gue duluan. By pak Bos." kata Riyan meledeka Wisnu.
Lalu Riyan keluar dan mengekor di belakang Aina. Aina yang melihat atasannya itu, jadi tidak enak. Dia cepat-cepat jalannya karena takut di panggil lagi.
_
__ADS_1
_
******************