Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
32. Godaan Viola


__ADS_3

Sejak Viola menginap di apartemennya, Wisnu mulai akrab kembali. Tidak kaku seperti waktu Viola baru datang. Mereka seperti sepasang kekasih kembali, bercanda dan tertawa. Membuat masakan bersama dan makan bersama.


Mereka asyik dan menikmatinya. Walaupun Wisnu tidur di kamar sebelahnya yang dia ubah untuk tempat kerjanya, tapi dia tetap menjaga privasi Viola. Sebagai laki-laki normal kadang dia merasa tersiksa ketika tidak sengaja melihat Viola hanya memakai handuk saja setelah selasai mandi.


Dan malam ini, Wisnu mengetuk pintu kamar Viola dia hendak mengajak Viola makan malam yang dia bikin sendiri. Memang sejak dulu pindah ke apartemen, Wisnu membiasakan diri untuk bisa masak. Dia belajar memasak pada Riyan.


Pintu kamar di ketuk Wisnu, tiga kali ketuk tetap tidak ada sahutan dari dalam kamar. Mungkin Viola sudah tidur, dia memastikan bahwa pintu itu sudah di kunci dari dalam tapi ternyata pintu terbuka tatakala Wisnu menarik handle ke bawah.


Dia mencoba membuka pintu secara perlahan, takut jika benar Viola sudah tidur akan mengganggunya. Wisnu melongok masuk kepalanya, dia melihat ranjang tapi di ranjang tidak ada Viola. Matanya dia edarkan ke segala penjuru, tapi tidak di temukan sosok Viola.


Lalu dia masuk lebih dalam mencari barangkali di kamar mandi,pikirnya. Tapi begitu Wisnu sudah masuk ke dalam, tiba-tiba pintu di tutup pelan. Wisnu menoleh ke arah pintu dan terlihat Viola berdiri dengan manis.


Mata Wisnu membulat, ketika dia melihat Viola yang hanya berbalut pakaian transparan saja, jantungnya langsung berdegup kencang. Tenggorokan terasa susah untuk menelan ludah. Wisnu membuang muka ke sembarang tempat.


Sesekali dia melirik,namun tetap saja jantungnya tak bisa diam. Viola mendekati Wisnu,dia menarik tangan Wisnu dan menggenggamnya lama. Dia tempelkan tangan Wisnu di dadanya lama. Wisnu masih tersadar, dia tarik tangan itu lalu keluar.


"Cepatlah keluar, makan malam sudah siap." ucap Wisnu tak berani melihat Viola.


Viola hanya menunduk, wajahnya memerah menahan malu. Dia pikir Wisnu akan tergoda.


"Maaf." ucap Viola.


Lalu Wisnu keluar, dia langsung masuk ke kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. Dia langsung mencuci muka dan buang air kecil, dia tidak perlu mandi karena dia bisa menguasai diri ketika Viola berusaha menggodanya lebih lama. Buru-buru Wisnu keluar dari ruang kerja yang sekarang jadi kamar tidurnya sementara.


Dia menuju meja makan dan di sana Viola sedang menyiapkan piring dan menaruh nasi untuknya dan Wisnu. Sekali lagi Wisnu memandang Viola, dia merasa bersalah karena menolak, dan itu menjatuhkan harga diri Viola.


Biarlah, dia akan bertahan untuk satu hari lagi. Malam ini dia akan membicarakan sampai kapan Viola akan tinggal di apartemennya, karena hari Jum'at Wisnu harus masuk kantor. Suara dentingan piring dan sendok dari keduanya, memecahkan keheningan di antara mereka.


Mereka masih diam sampai makanan keduanya telah habis. Setelah selesai makan, Viola mengambil piring bekas makan Wisnu dan dirinya, lalu mencucinya di westafel dapur. Awalnya Wisnu melihat Viola dari depan biasa saja, namun ketika melihat kaki putih mulus dari ujung kaki sampai pangkal paha Viola dari belakang terasa celana yang dia pakai tiba-tiba terasa sesak.


Bagai di hipnotis, Wisnu menghampiri Viola. Dia berdiri di belakang Viola yang sedang cuci piring.

__ADS_1


"Vi, kamu sudah selesai?" tanya Wisnu dengan suara agak berat.


Viola menoleh, ada kabut di mata Wisnu. Viola tersenyum manis lalu dia berbalik menatap Wisnu. Masih berpakaian seperti tadi, hanya saja di balut dengan baju kimono. Namun tetap saja terlihat, sengaja Viola di ikat agak longgar, agar terlihat belahan di dadanya.


Wisnu menelan ludah, dia menunduk. Matanya menatap belahan dada Viola tanpa berkedip. Untuk beberapa saat Wisnu berpikir, lalu tanpa aba-aba Wisnu mere*as b*ah d*da Viola dengan pelan dan berulang. Viola melenguh pelan, mulutnya sedikit terbuka serasa menikmati apa yang Wisnu lakukan.


Wisnu menyambar bibir Viola dengan ganas, dia hasratnya sudah di ambang batas. Mereka berciuman dengan nappsu yang membuncah. Tangan Wisnu terus saja menjelajah setiap lekuk tubuh Viola.


Nafas mereka memburu, keduanya melepas pagutan bibir mereka untuk mengambil napas, sedetik kemudian Wisnu membopong Viola untuk di bawa ke kamar dan melanjutkan kegiatan panas tadi di dapur.


Malam itu mereka melakukan percintaan yang memang keduanya sedang bergairah. Tidak mengingat kalau kegiatan mereka itu tidaklah boleh di lakukan, namun jika sudah di kuasai gairah. Apa pun bisa saja di lakukan untuk memuaskan hasrat mereka.


****


Pagi harinya Wisnu bangun lebih dulu, dia bangun dan langsung keluar kamar Viola dan menuju ruang kerjanya. Sampai di ruang kerja Wisnu langsung mandi, dalam kamar mandi Wisnu berpikir. Yang dia lakukan semalam adalah salah, tetapi sebagai lelaki normal yang punya hasrat dia tidak bisa menahan begitu lama ketika godaan itu ada di depan mata.


Berpikir bagaimana Viola secepatnya keluar dari apartemennya, sehingga tidak terjadi lagi seperti tadi malam. Hari ini Wisnu harus membicarakannya, karena sudah empat hari Viola berada di apartemennya. Setelah selesai mandi,Wisnu langsung memakai baju santai kaos polos dan celana pendek.


Wisnu duduk di meja makan, lalu Viola menyiapkan roti panggang yang di olesi selai kacang. Dua potong roti panggang dia suguhkan ke hadapan Wisnu, dan dua lagi di piringnya sendiri.Mereka sarapan tanpa bersuara. Lama tidak ada pembicaraan di antara mereka, setelah kejadian tadi malam kebekuan terjadi lagi di antara mereka.


Akhirnya Wisnu membuka obrolan yang sedikit canggung,entahlah. Tapi dia harus membicarakannya, Viola harus segera pergi dari apartemennya.


"Vi besok aku sudah mulai kerja. Tidak enak meninggalkan kantor tanpa kabar, kamu juga sudah amankan dari kejaran orang-orangnya Erick" ucap Wisnu pelan tapi cukup terdengar di telinga Viola.


Viola berhenti mengunyah, dia menatap Wisnu lalu, bicara padanya.


"Nanti siang aku pergi dari apartemen kamu. Tapi tolong, jangan kaku seperti ini." ucap Viola sendu, Wisnu menghela napas pelan.


"Kita sudah putus, Vie."


"Belum Wisnu, aku masih mencintai kamu." Wisnu diam, di tatapnya wajah Viola yang sedih.

__ADS_1


"Terus, Erick? tunangan kamu?" cecar Wisnu.


Viola menapakkan wajah sedih dan kecewanya, wajahnya merah menahan emosi.


"Aku ngga mau sama dia, dia egois dan terlalu posesif. Aku hanya di jodohkan papaku, aku di paksa Wisnu.",ucap Viola terisak.


"Selama aku pergi tanpa memberi kabar ke kamu, aku di bawa pergi papaku ke Jepang. Hingga aku di tinggalkan di sana hanya sama Erick. Awalnya aku mencoba menerimanya tapi setelah enam bulan, dia semakin egois dan posesif. His hiks, aku langsung pulang ke Indonesia dan menemui papa. Tapi papa malah memarahiku dan menyuruhku ke rumah Erick. Papa mengancam akan membekukan semua fasilitas yang aku miliki." lanjut Viola. Dia menangis tersedu.


"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"


"Ngga, bukan begitu aku ..." kata-kata Wisnu terpotong.


"Kamu masih mencintaiku, Wisnu. Matamu ngga bisa bohong, kamu masih sayang sama aku." ucap Viola.


Perlahan dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Wisnu. Viola memegang tangan Wisnu, lalu menangkup kedua tangannya di wajah Wisnu.


"Tolong, jangan kaku seperti ini. Aku bisa gila Wisnu." ucapnya menatap Wisnu dengan sendu.


Wisnu terpejam, di tariknya napas dalam lalu dia bangkit dan menarik tubuh Viola ke dalam pelukannya. Tubuh Viola sedikit bergetar karena masih terisak. Lama mereka berpelukan saling menguatkan. Lalu Wisnu merenggangkan pelukannya dan menatap Viola dalam.


"Tapi hari ini kamu pulang, kamu bisa mengunjungiku kapan saja." ucap Wisnu.


Viola tersenyum dan tiba-tiba dia mengecup bibir Wisnu tanpa canggung. Wisnu tak membalas, dia masih canggung dengan sikap Viola yang terlalu agresif sekarang ini. Dulu Viola tidak seagresif sekarang, sifat manjanya memang ada tapi tidak seagresif sekarang.


Wisnu jadi heran, dia mengingat kegiatan panas yang tanpa dia sangka memikirkan sesuatu yang sedikit janggal. Tapi dia tepis pikiran itu,baginya sekarang dia lega karena Viola ada bersamanya. Sebisa mungkin Wisnu berpikir akan melindungi Viola dari papanya dan juga Erick.


_


_


****************

__ADS_1


__ADS_2