
Setelah mengantar Aina pulang ke kos-annya, Riyan tidak langsung pulang ke apartemennya. Tapi pulang ke rumah orangtuanya. Karena dalam perjalanan tadi, mamanya menelepon menyuruhnya segera pulang ke rumah.
Riyan kesal, rencananya tadi dia mau makan malam bersama Aina di dekat kostannya Aina. Tapi gagal total karena mamanya ngotot untuk cepat pulang ke rumah. Mau tidak mau Riyan harus pulang dan langsung pamit pada Aina.
Setelah sampai di rumah, mobil dia parkir tepat di depan teras rumah mamanya. Riyan keluar dari mobil dan membanting sedikit keras pintu mobil, sehingga satpam yang berjaga didepan terkejut dengan suara dentuman pintu mobil. Satpam itu hanya menggeleng melihat kelakuan majikannya.
Riyan langsung masuk rumah,dia menuju ruang keluarga yang biasa di tempati mamanya ketika malam sudah tiba. Langsung duduk di samping mamanya dan memberondong pertanyaan dengan nada kesal.
"Mama kenapa sih maksa banget Riyan pulang?" masih dengan wajah kesal.
"Datang-datang langsung marah-marah aja. Salam dulu kenapa?" protes mamanya.
"Ya, tadi mama merusak acara Riyan malam ini." sungutnya masih dengan nada kesal.
"Memang tadi mau ada acara apa?" tanya mama Sarah penasaran.
"Kencan!" jawab Riyan ketus.
"Hah! Kencan, serius kamu Riyan?"tanya mama Sarah tidak percaya.
"Ck! Ngga jadi, gara-gara mama jadinya gagal kencan." menghela napas kasar, tangan Riyan menjulur ke toples yang berisi cemilan kacang goreng lalu memakannya.
"Ya, maaf deh. Coba tadi ngomong di telepon, mama pasti sabar nunggu kamu pulang setelah selesai kencan." ucap mama Sarah merasa bersalah.
"Sebenarnya ada apa sih mama menyuruh aku cepat pulang?" tanya Riyan penasaran, mulut masih mengunyah kacang goreng.
"Ingat ngga waktu nikahan Arya di Cirebon?" tanya mama Sarah.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tante Irma mau mengenalkan kamu sama perempuan anak besannya, ya kalau kamu mau." kata mama Sarah. Riyan masih terus mengunyah kacang yang ada di tangannya, dia berpikir buat apa berkenalan. Lebih baik mengejar Aina.
"Ngga deh, aku lagi dekat sama cewek. Gara-gara mama jadi gagal." tolak Riyan masih sangat kesal.
"Ya udah sih, sampai segitunya marah. Mama juga udah minta maaf. Terus, bagaimana kelanjutannya?" tanya mamanya penasaran.
"Ya nanti, kalau udah jadi pacar aku kasih tahu mama." ucap Riyan.
"Langsung ajak nikah aja sih. Kamu kan udah cukup umurnya." kata ibu Sarah.
"Ish, mama bagaimana sih. Jadian aja belum di suruh langsung nikah." ucap Riyan.
"Ya kan siapa tahu ceweknya langsung mau di ajak nikah. Lagi pula kamu kalau dekati cewek kelamaan mikir, jadi kabur kan seperti dulu." sindir mamanya.
"Ya tapi, kalau kamu tembak dia dulu kan ngga kabur juga ceweknya." ucap mamanya.
"Udah sih, aku pulang dulu. Di rumah bikin pusing aja." gerutu Riyan,
Dia kesal selalu di pojokkan terus dengan urusan perempuan. Lalu dia bangkit dan berlalu begitu saja tanpa permisi lagi. Sarah sampai hanya menggelengkan kepalanya kelakuan anaknya.
_
Flashback :
Riyan masih menunggu di restoran yang di rintisnya sejak enam bulan lalu. Memang baru beberapa bulan dan masih kecil namun dia merasa bangga dengan bisnis kulinernya itu, karena tidak ada campur tangan siapapun,tidak terkecuali orangtuanya.
__ADS_1
Semenjak membuka restoran itu, Riyan mengurangi kesibukan di kantor perusahaan tempatnya bekerja. Walaupun sebagai asisten pribadi dari ayah sahabatnya, tapi bos yang ternyata ayah sahabatnya memberi dia kesempatan untuk membuka bisnis kecil-kecilan.
Riyan tampak senang sekali. Setengah jam Riyan menunggu seseorang yang amat dia cintai. Rencananya malam ini dia akan menyatakan cinta kepada perempuan yang sudah setahun lebih dia dekati.
Ya, perempuan adalah Chika, yang dia suka itu adalah karyawan magang di tempat di kantor yang sama dia dan perempuan itu bekerja. Walaupun perempuan sudah tidak magang, namun Riyan masih berhubungan dengannya. Masih sering mengantarnya pulang dan sering makan siang bareng.
Mungkin ini saatnya dia menyatakan isi hatinya. Makanya di restoran kecilnya dia akan melamarnya sekalian. Di tengah kegalauannya karena lama menunggu,ponsel Riyan berbunyi. Dia mengambil ponsel yang dia simpan di kantong celananya. Terlihat nama Chika muncul di layar, lalu Riyan mengangkat telepon dari Chika.
"Halo, kamu di mana?" tanya Riyan.
"Maaf mas Riyan, Chika ngga bisa datang." jawab Chika di seberang sana.
"Kenapa, Chika?" tanya Riyan heran.
"Besok Chika ceritakan ke mas Riyan." lalu sambungan telepon tiba-tiba terputus.
Riyan menatap ponselnya, hatinya kecewa. Sudah hampir satu jam menunggu, tapi yang di tunggu tidak datang. Tapi pikirannya masih positif saja pada Chika. Hingga dia melihat status di sosial media milik Chika, memperlihatkan Chika dan laki-laki bersamanya dengan senyum bahagia.
Dengan caption, hari pertama dengan cintaku yang tampan. Tentu saja Riyan merasa sesak hatinya, dia benar-benar kalah cepat oleh laki-laki yang bersama dengan Chika di foto tersebut. Riyan menghela nafas panjang, dia kecewa dan kesal sendiri. Kenapa tidak dari dulu dia dekat dan menyukai gadis itu menyatakan cinta padanya?
"Aku terlambat, dia sudah punya orang lain." gumam Riyan dengan lesu.
Di tatapnya kursi di depannya, rencana mau menembak Chika dengan romnatis justru dia mendapat kekecewaan. Bahkan hatinya benar-benar sakit, bukan karena di khianati. Tapi pada dirinya sendiri karena tidak bergerak cepat menyatakan cinta pada Chika. Sampai akhirnya Chika sudah ada yang melamarnya.
_
_
__ADS_1
****************