
Di depan pintu yang memang tidak di tutup, muncul laki-laki yang membuat Aina tegang sekaligus terkejut. Dia tersenyum pada Aina dan melihat ke arah ayah Aina. Dan di depannya Anto, wajah dingin dan kelihatan tidak suka, membuat Aina semakin bingung.
"Mm, ... masuk mas Riyan." kata Aina kaku.
Lalu Riyan masuk dan duduk di sebelah Anto. Keduanya saling menatap, ada aura permusuhan di hati keduanya. Dan tatapan itu pun terputus, keduanya pun menunduk.
"Anda siapa?" tanya pak Edi penuh selidik.
"Ayah, dia ini teman kantor Aina yah." kata Aina merasa takut pada ayahnya.
"Saya Riyan Yudhistira om, keponakan dari Tante Irma ibunya Arya yang kebetulan teman kantor Aina." kata Riyan memperkenalkan diri.
Pak Edi hanya menatap Riyan, lama. Lalu mendesah. Wajah datarnya tidak terbaca oleh Aina, Riyan dan juga Anto. Namun, ibu Erni tahu tatapan suaminya itu.
"Oya, nak Anto kamu mau bicara apa tadi?" tanya pak Edi mengalihkan pembicaraan.
Anto yang di tanya kembali tersenyum dan menarik napas, ini saatnya aku bicara. Ucap Anto dalam hati.
"Sebelumnya saya minta maaf om, baru bisa main kesini lagi.",berhenti sejenak, dan melirik Aina lalu ke arah Riyan. Tapi tatapan pada Riyan justru terlihat sinis.
"Saya suka sama Aina, om." ucap Anto, yang jelas membuat Aina dan Riyan terkejut.
Aina melirik ayahnya, lalu dia juga melirik Riyan yang terlihat tegang juga terkejut. Dia menarik tangan Anto untuk keluar dari ruangan yang membuat tegang semua orang.
"To, aku mau bicara sama kamu di luar." kata Aina.
Mau tidak mau Anto mengikuti Aina keluar. Riyan melihat Aina menarik tangan Anto jadi kesal. Tapi di tepisnya cepat rasa kesalnya, karena dia ingin bicara langsung pada ayahnha Aina. Dia menunduk, ada rasa kecewa pada Aina lebih memilih Anto yang di ajak bicara di luar. Dia juga merutuki keterlambatannya datang ke rumah Aina.
Sementara itu, Aina dan Anto duduk di kursi teras depan. Aina menarik nafas panjang dan di tatapnya Anto yang begitu senang bisa bicara berdua dengan Aina saat ini.
"To, kamu apa-apaan sih bicara seperti itu sama ayahku?" tanya Aina masih kesal dengan ucapan Anto tadi.
"Tapi bener Ai, aku suka sama kamu. Aku suka sama kamu sejak kita bertemu lagi di Jakarta." ucap Anto tegas.
"To, berhenti bicara omong kosong begitu. Kita tidak sedekat itu untuk saling suka. Dari dulu kamu selalu kuanggap sahabat, ngga lebih. Dan semenjak kejadian di mana kamu memutuskan persahabatan,,aku sudah tidak berharap adanya persahabatan antara kita, apalagi lebih To." ucap Aina tak kalah tegas.
"Kamu belum memaafkan aku Ai?" tanya Anto sedih, karena memang salahnya waktu itu.
"Aku sudah memaafkanmu, To. Dari dulu sudah ku maafkan, tapi untuk kembali seperti dulu apalagi hubungan lebih, aku tidak bisa." kata Aina.
"Apa karena laki-laki yang di dalam itu?" tanya Anto penasaran.
"Bukan hanya itu, tapi karena rasa yang menyakitkan dulu. Sahabatku sendiri membenciku dan memutuskan hubungan tanpa mau mendengar penjelasan aku. Aku sakit hati selama tiga tahun bersahabat denganmu, kamu putuskan hanya masalah pacar yang baru di kenal. Maaf To, aku selalu trauma dengan hal yang menyakitkan." kata Aina.
"Tapi aku benar suka sama kamu Aina, kamu berbeda sekarang." kata Anto.
"Apanya yang berbeda?"
__ADS_1
Semuanya, kamu cantik juga dewasa. Dan kamu cerdas, aku suka Aina lebih dari yang dulu Aina." kata Anto lagi. Aina menghela nafas kasar, di tatapnya wajah Anto yang begitu senang dengannya.
"Sudahlah To, yang jelas aku tidak suka seperti ini. Berteman seperti biasa itu lebih baik, aku tidak mau mengingatmu itu membuatku merasa sakit hati." kata Aina.
Anto menunduk, dia menarik nafas panjang. Kecewa dengan ucapan Aina, tapi dia sadar juga mengerti perasaan Aina. Mungkin tidak mudah menerima sesuatu yang menyakitkan kembali hadir di hadapannya. Sedangkan dia datang dengan tiba-tiba bilang suka padanya. Tentu saja Aina terkejut akan dirinya yang tiba-tiba mengatakan suka ladanya.
"Maafkan aku, Ai. Seharusnya dulu aku percaya sama kamu. Aku tidak tahu kalau rasa sakit hatimu membuatmu trauma. Maaf." Anto menunduk, merasa bersalah. Aina diam saja, membuang wajahnya ke arah jalanan.
"Tapi, bolehkan aku jadi temanmu? Apa kamu masih dendam denganku?" tanya Anto lagi, dia semakin merasa bersalah. Biarlah, ini memang salahnya.
"Aku bukan seorang pendendam, hanya saja merasa trauma. Rasa percaya diriku hilang jika ada yang dekat denganku, makanya aku selalu menjaga jarak dengan orang lain. Tapi nyatanya mereka yang menjauhiku, tidak mau berteman denganku." kata Aina.
"Tapi dengan laki-laki di dalam itu, perlakuanmu beda Ai. Kamu sepertinya menyukainya."
"Mungkin, tapi aku ngga mau main-main dengan perasaan. Sudahlah, itu juga bukan urusanmu." kilah Aina.
Dia tidak mau lebih jauh membicarakan perasaannya pada Anto. Kenyataannya, dia hanya mau berteman dengan Anto. Dan berteman tidak harus berbagi cerita.
"Baiklah Ai, aku ngga akan ganggu kamu lagi. Jika ketemu denganku, kamu boleh abaikan aku. Aku ngga apa-apa, memang ini harus kuterima." akhirnya Anto mengalah.
"Ya ngga begitu juga. Perbedaannya sekarang kita bukan sahabat lagi, bukan tidak mau berteman dan tidak saling sapa. Maaf kalau sikapku menyakitimu, tapi rasa traumaku tidak bisa hilang dari ingatanku."
"Aku mengerti. Kalsu begitu, aku pulang. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dengan orang yang mencintaimu dengan tulus." kata Anto.
Aina hanya diam saja, lalu mengangguk. Dan Anto bangkit dari duduknya, kemudian masuk lagi untuk pamit pada ayah Aina. Aina mengikuti dari belakang dan dia duduk di kursinya lagi.
"Om, saya pamit pulang." kata Anto pada pak Edi.
"Iya om, tadi sudah bicara sama Aina. Hanya sebentar saja om, jadi saya pamit pulang."
"Ya."
Sejak Aina keluar bersama Anto, kini Riyan duduk gelisah. Entah apa yang di bicarakan, pikir Riyan. Walau dia berbicara berbasa basi dengan pak Edi, tapi hatinya tertuju pada Aina di luar.
Aina duduk lagi, Riyan menatap Aina penuh curiga. Tapi rasa curiga Riyan buyar ketika pak Edi bertanya padanya lagi.
"Nak Riyan, maksud kedatangan ke sini untuk apa? Apa karena pekerjaan Aina yang belum selesai sehingga harus menyerahkan sekarang." kata pak Edi.
"Bukan om, saya datang kesini mau melamar anak om. Saya mencintai Aina om, saya ingin mempersunting Aina jadi istri saya." ucap Riyan tegas.
Yang ada di pikirannya adalah secepatnya bicara sebelum ada yang mendahului. Baik Aina dan pak Edi terkejut, mereka tidak percaya dengan ucapan Riyan. Aina masih memandang Riyan yang masih menunggu jawaban dari ayahnya.
Sedangkan pak Edi menatap tajam wajah Riyan. Menyelidiki apakah ada kebohongan atau kebenaran yang di ucapkannya. Lama pak Edi menatap Riyan.
"Nak Riyan baru mengenal Aina, kenapa bisa seyakin itu untuk mempersunting anak saya?" tanya pak Edi lagi.
"Karena saya yakin Aina jodoh saya pak." ucapannya penuh keyakinan, dia melirik Aina. Aina menatap Riyan, menunggu ucapan selanjutnya.
__ADS_1
"Kamu seyakin itu pasti ada sebabnya." kata pak Edi lagi.
"Ya om, karena Aina juga mencintai saya." kali ini ucapan penuh percaya diri Riyan di pelototi Aina. Riyan hanya tersenyum padanya.
"Bener itu sayang?" tanya pak Edi.
Tentu saja membuat Aina gelagapan. Dia bingung untuk menjawabnya, ini jebakan Betmen mas Riyan, pikir Aina.
"Sayang, Aina?" tanya ayahnya lagi. Aina akhirnya mengangguk pelan, wajahnya merah menahan malu.
Tapi jangan di tanya, hati Aina senang bukan kepalang. Rasa penasaran dan juga hal yang di tunggu akhirnya keluar juga dari mulut Riyan bahwa dia mencintainya.
"Tapi tadi katanya Anto suka sama kamu, bagaimana itu?" pak Edi memancing Aina untuk cerita apa yang tadi mereka bicarakan di luar.
"Aina ngga ada apa-apa sama Anto yah, tadi cuma mau menyelesaikan masalah aja." kata Aina,,jujur dia tidak mau lamaran Riyan di tolak oleh ayahnya.
"Ya sudah, saya terima lamaran kamu karena anak saya juga menyukai kamu. Saya tunggu secepatnya orangtuamu datang melamar secara resmi." ucap pak Edi, membuat Aina dan Riyan terlihat bahagia.
Tidak di sangka, lamaran dadakannya itu di terima dengan mudah. Riyan tersenyum senang, dia menatap Aina, keduanya pun saling menatap lalu tersenyum malu.
"Bukan saya membatasi kalian, saya hanya tidak suka ada laki-laki berlama-lama dengan anak saya karena belum halal. Aina, antar calon suamimu ke depan. Dia harus segera pulang." ucap pak Edi, lalu dia bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam kamarnya.
"Terima kasih om." ucap Riyan. Walaupun dia kecewa, harus pulang lebih, tapi dia bahagia sekali.
Kemudian Aina dan Riyan keluar, tapi Riyan malah duduk di bangku teras, diam sejenak. Membuat Aina keheranan.
"Ada apa mas Riyan?" tanya Aina heran. Aina melihat tubuh Riyan bergetar, Aina panik.
"Mas Riyan kenapa?" tanya Aina panik.
"Ngga apa-apa, Ai. Aku cuma lapar aja, belum sempat makan dari siang." jawab Riyan.
"Kenapa belum makan?"
Membuat Aina diam. Dengan sigap dia hendak masuk kedalam, tapi di tahan oleh Riyan.
"Tunggu, jangan masuk."
"Aku mau ambilkan mas Riyan makanan."
"Ngga usah, temani aku aja cari makan di luar aja." ucap Riyan.
"Ya udah, aku ijin dulu sama ayah."
Aina masuk ke dalam rumah, meminta izin pada ayahnya untuk mengantar Riyan mencari makan di sekitar rumah saja. Setelah dapat ijin, mereka pergi dari rumah Aina untuk mencari makan bersama Riyan.
_
__ADS_1
_
****************