
Siang ini, Aina dan Riyan pamit pada pak Edi untuk berangkat lagi ke Jakarta. Mereka saling berpelukan lalu menyalaminya. Sebenarnya, pak Edi keberatan mereka harus berangkat lagi, tapi ijin cuti sudah Aina ambil waktu Shella menikah. Jadi Aina tidak boleh cuti lagi.
"Ayah, ibu Aina sama mas Riyan berangkat dulu ya." kata Aina ambil memeluk ayahnya dan bergantian memeluk ibunya. Ada rasa sedih dan tak rela harus berangkat.
"Iya sayang, hati-hati di jalan. Jangan lupa kasih kabar kalau sudah ada calon cucu di perutnya ya." ucap ibu Erni, terang saja membuat Aina malu.
"Tenang aja Bu, Riyan akan beri cucu secepatnya dan sebanyak mungkin." kata Riyan dengan santai, ibu Erni tertawa saja.
Aina malah memukul lengan suaminya itu dengan manja, dan yang di pukul malah tertawa saja. Pak Edi senang melihat sikap Aina yang manja itu, ingat dulu sewaktu masih SD seperti itulah Aina padanya.
"Ya udah, sana berangkat. Nanti kesorean di jalan." kata pak Edi.
Lalu keduanya masuk mobil setelah pamit dari kedua orang tua Aina. Aina melambaikan tangannya pada pak Edi dan ibu Erni, keduanya pun membalas lambaian tangan anaknya yang kembali pergi ke Jakarta.
Perjalanan cukup lama, hingga pukul tujuh malam Aina dan Riyan sampai di kosan. Dia turun dari mobil di ikuti suaminya dari belakang. Dia langsung menuju kamarnya dan merapikan baju serta berkas penting dia masukkan dalam koper. Barang-barang yang sekiranya kurang penting dia tinggal, seperti piring dan gelas serta alat masak sederhana.
Mungkin bisa di pakai oleh penghuni baru atau di serahkan ke ibu kos. Setelah selesai, Aina menuju rumah ibu kos dan mengetuk pintu rumahnya.
Tok-tok-tok...
Pintu terbuka muncullah ibu kos. Aina tersenyum ramah dan menyalami ibu kosnya.
"Eh nak Aina sudah pulang. Lho, kok bawa koper? mau pindah atau bagaimana ini?" tanya ibu kos.
"Iya Bu. Saya mau pamit, mau pindah ke tempat suami saya.",jawab Aina sambil melirik ke arah Riyan. Riyan yang di lirik maju ke depan dan menyalami ibu kos yang masih terkejut.
"Baru kemarin sih Bu." jawab Riyan yang di angguki oleh Aina.
"Oalah pengantin baru tho. Selamat ya nak Aina. Semoga langgeng." kata ibu kos menyalami Aina.
"Iya terima kasih Bu. Oya, di kamar ada beberapa barang yang sengaja saya tinggalkan, mungkin jika ibu mau ambil aja atau ada penghuni baru di pakai aja ngga apa-apa." kata Aina.
"Oya, nanti ibu lihat."
"Ya udah Bu, saya pamit dulu. Terima kasih."
Merekapun pergi meninggalkan kosan Aina dan langsung menuju apartemen Riyan. Sesampainya di sana, Aina masih tertidur. Riyan menatap istrinya yang sedang tertidur, senyum mengembang di bibirnya. Sifat jahilnya muncul,,dia dekatkan wajahnya ke wajah Aina.Dia cium bibir Aina.
Tak ada pergerakan, sekali lagi Riyan menciumi bibir Aina dengan lembut, belum juga bangun. Sedetik kemudian dia melumatanya dengan rakus. Kelopak mata Aina bergerak-gerak, dia terbelalak melihat Riyan yang sedang menciumnya dengan rakus dan menggigit bibirnya.
Aina mendorong dada Riyan kasar, hingga tubuh Riyan sedikit terjungkal. Riyan pun terkejut karena di dorong begitu keras oleh istrinya, lalu tertawa kecil.
"Mas Riyan apaan sih?" kata Aina terkejut melihat suaminya terjungkal di depan kemudinya.
__ADS_1
"Pulas banget tidurnya, sampai di cium berkali-kali ngga bangun juga." kata Riyan.
"Mas Riyan aja yang cari kesempatan." kata Aina cemberut.
"Siapa yang cari kesempatan, tadi aku membangunkan kamu tapi ngga bangun-bangun." kata Riyan.
"Membangunkan kok sambil cium-cium sampai mengigit begitu." kata Aina kesal.
"Hahah! Ya habisnya bibir kamu menggoda aku terus." kilah Riyan.
"Eh, memang ini udah sampai?" tanya Aina baru sadar.
"Sudah, ayo turun sebelum aku cium lagi." kata Riyan yang langsung mendapatkan tatapan tajam Aina. Riyan tersenyum senang, dia benar-benar bahagia bisa membuat Aina lebih manja.
Sampai di unit apartemennya, Riyan memencet password apartemennya setelah mereka sampai. Di bukanya pintu lalu menyuruh Aina masuk. Sementara Riyan membawa koper Aina ke dalam kamarnya, justru Aina mengelilingi setiap sudut ruangan.
Dia kagum, dengan setiap ruangan yang begitu rapi. Biasanya tempat laki-laki itu berantakan dan tidak teratur. Riyan memperhatikan istrinya yang masih mengelilingi setiap ruangan. Dia berdiri sambil di lipatkan kedua tangannya di dada. Ketika Aina sampai di ruang dapur, dia menghampiri istrinya dan bersandar pada meja.
"Dapurnya bersih." ucap Aina yang masih memeriksa setiap benda yang ada di dapur. Riyan hanya tersenyum.
"Lapar ngga?" tanya Riyan pada Aina, dia mendekati istrinya itu.
"Ya laparlah mas, dari tadi sore cuma makan cemilan aja. Mm .... di kulkas ada apa mas?" Aina membuka kulkas dan memperhatikan isi di dalamnya. Dia menoleh ke arah suaminya dan menatapnya.
"Aku sudah menyuruh orang untuk mengantar makanan dari restoran ke sini." kata Riyan ikut duduk di samping Aina.
"Aku siapkan piringnya ya." Aina kembali menuju dapur dan mengambil peralatan makan, sedangkan Riyan membuka pintu apartemen ketika suara bel berbunyi.
Seorang kurir pengantar makanan dari restorannya memberikan pesanan Riyan. Setelah sampai di tangan Riyan, mereka lalu makan malam dengan diam tanpa bersuara. Hanya suara dentingan alat makan yang terdengar.
"Mas Riyan besok ke kantor pak Wisnu?" tanya Aina setelah mereka selesai makan dan membereskan piring-piring yang tadi di pakai makan mereka, lalu langsung di cuci.
"Pagi mengantar kamu aja, setelah makan siang baru aku ke kantor Wisnu. Kenapa?" tanya Riyan sambil memainkan ponselnya.
"Ngga apa-apa, cuma bertanya aja." selesai cuci piring, Aina menghampiri Riyan dan duduk di sebelahnya.
"Mama sering ke sini?"
"Jarang. Paling aku yang sering ke rumah mama." jawab Riyan.
"Oh.."
"Ya udah yuk, tidur. Aku pengen istirahat." ajak Riyan, Aina mengikuti langkah Riyan menuju kamarnya.
__ADS_1
Aina melangkah ke arah lemari. Dia tidak melihat kopernya. Dia mencari baju-bajunya, Riyan melihat Aina mencari sesuatu pun menjawab.
"Bajunya udah aku pindahin ke lemari. Mau ke mana?" tanya Riyan.
"Mau ke kamar mandi, ganti pembalut. Kalau udah mengantuk duluan aja tidurnya."
"Jangan lama-lama." tanpa menunggu jawaban Aina, Riyan langsung ke tempat tidurnya dan berbaring.
Dia coba pejamkan mata, tapi tidak juga mengantuk. Padahal dia capek sekali. Di membuka matanya, menengok ke kamar mandi Aina belum juga keluar. Baru setelah lima belas menit Aina keluar dari kamar mandi. Dia langsung menghampiri Riyan yang ternyata belum tidur.
"Kok belum tidur mas. Katanya capek." kata Aina menyingkap selimut dan berbaring di samping suaminya.
"Ngga ada kamu jadi ngga bisa tidur. Kamu lama banget." ucap Riyan menarik Aina dalam pelukannya.
"Iya, buang air besar dulu sekalian gosok gigi jadi lama." jawab Aina meringsek masuk dalam pelukan suaminya.
Riyan semakin mengeratkan tubuh Aina kedalam pelukannya dan mencium singkat bibirnya. Mereka tidur sambil berpelukan dan langsung tertidur.
_
Pagi hari, baik Riyan maupun Aina sudah siap masuk kantor lagi. Dan pagi-pagi Riyan di buat kesal oleh sahabat sekaligus bosnya, karena menelepon berkali-kali dan hanya untuk menyuruh mereka cepat datang. Umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari mulut Riyan membuat Aina geleng-geleng kepala.
Aina sudah biasa melihat perselisihan kedua sahabat itu. Saat sampai di kantor Wisnu, Riyan hanya mengantar Aina sampai lobi.
"Mas ngga masuk dulu?" tanya Aina, tak lupa dia menyalami suaminya. Riyan mencium keningnya.
"Ngga usah, bilang aja aku masuknya habis makan siang. Nanti siang aku jemput." ucap Riyan yang masih kesal pada Wisnu.
Aina tidak mau memperpanjang urusan, lalu dia melambaikan tangan setelah Riyan sudah melangkah pergi. Dia bergegas masuk ke dalam lift, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas menit. Sudah pasti Wisnu akan marah padanya.
"Suami kamu kemana?" tanya Wisnu ketika Aina sudah ada di ruangannya.
Wisnu masih memeriksa berkas yang akan di bawa untuk bertemu klien jam sembilan nanti.
"Nanti siang katanya ke kantor." jawab Aina ragu. Dia takut Wisnu akan marah.
"Ck, suamimu itu seenaknya aja kalau kerja. Sudah aku bilang suruh berangkat ke kantor malah mengurusi restoran dulu." omel Wisnu. Aina hanya diam saja,dia merasa tidak enak dengan keadaan seperti ini.
"Periksa berkas ini, lalu di koreksi. Setelah itu kita langsung bertemu klien. Nanti aku periksa di mobil saja. Tapi jangan sampai salah." ucap Wisnu menyerahkan berkas di tangannya itu. Aina mengangguk dan mengambil berkas yang di tangan Wisnu, kemudian dia pamit keluar.
_
_
__ADS_1
******************