Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
22. Gosip Di Pantry


__ADS_3

Setelah sampai di pantry, Aina membuatkan kopi untuk Riyan. Sedangkan Riyan duduk dan memperhatikan Aina yang sedang membuat kopi. Pikirannya melayang membayangkan jika sosok wanita di depannya kelak menjadi istrinya.


Pagi membuatkan kopi dan menyiapkan sarapan untuknya. Senyum mengembang di wajahnya. Belum sempat jauh menghayal, Riyan di kagetkan dengan suara Aina yang sudah menyodorkan kopinya.


Dia mendongak ke arah Aina lalu tersenyum," Terima kasih." ucapnya menutupi rasa kagetnya.


Lalu Aina ikut duduk di depan Riyan. Melihat Riyan menyeruput kopinya dengan pelan karena panas. Aina tertawa kecil ketika Riyan kepanasan.


"Kamu ngga ngopi juga?" tanya Riyan.


Dia menyeruput kopinya lagi dengan pelan, merasakan kopi buatan tangan Aina. Walau ini yang kedua kali Aina membuat kopi untuknya, tapi tetap saja masih sedikit penasaran dengan rasa kopinya.


"Ngga, saya kurang suka kopi." jawab Aina.


Riyan hanya mengangguk anggukkan kepalanya masih menikmati kopi buatan Aina. Rasanya tidak ada yang mengalahkan, selain kopi buatan Aina. Terlalu berlebihan, tapi itu kenyataan bagi Riyan.


"Enak."


Satu kata tulus dia ucapkan pada Aina. Aina hanya tersenyum manis, begitu manis kelihatannya dari pandangan Riyan. Hingga mata Riyan betah berlama-lama menatap Aina. Aina yang tahu di tatap Riyan begitu lama, dia semakin grogi.


Mukanya merona,entah apa yang di pikirkan, sedetik kemudian Aina sadar dengan tingkahnya. Dia menetralkan suasana agar tidak canggung, matanya menatap ke arah lain.


"Ehm, pak Riyan ngga ikut meeting juga sama pak Wisnu?" tanya Aina meutupi rasa canggungnya.


Yang di tanya tersenyum, lalu dia menyesap kopinya lagi. Di letakkannya cangkir itu di meja, mata Aina mengikuti cangkir di atas meja.


"Tadinya sih mau ikut, tapi bosmu itu melarang ku." kata Riyan.


"Mm, saya perhatikan, pak Riyan sepertinga nyantai banget kerjanya. Saya pikir asisten pribadi itu sangat sibuk bahkan lebih sibuk dari bosnya. Kok bapak santai banget, dan jarang ada di kantor." tanya Aina dengan rasa penasarannya.


"Hahah! Saya beda dengan yang lain, saya kerja sesuka hati walaupun saya asisten, tapi santai seperti bos. Enak kan?" senyum mengembang tak lepas dari bibir Riyan.


Aina ikut tersenyum. Tak di sadari mereka ada yang memperhatikan keakraban keduanya. Seulas senyum smirk tercetak di bibir orang yang sejak tadi memperhatikan keduanya.


"Bisa jadi bahan gosip nih.." gumamnya


Lalu dia pergi keluar dari pantry. Aina melirik jam di tangannya, sudah jam setengah sepuluh. Dia sedikit gelisah, kenapa pak Wisnu jadi telat banget datangnya, pikirnya.


"Kenapa?" tanya Riyan yang tahu kegelisahan Aina.


"Pak Wisnu udah datang belum ya?" ucap Aina.


"Ya udah, kita ke ruangannya aja. Siapa tahu sudah datang." lalu mereka pergi dari pantry.

__ADS_1


Sampai di ruangan atasannya, di ketuknya pintu kantor pak Wisnu. Suara dari dalam menyahut dengan keras, lalu keduanya masuk beriringan. Tatapan tajam dari kursi kebesaran dia tunjukkan pada Aina dan Riyan.


Tangannya bersedekap dengan bibir di tarik ke samping. Wisnu berdecak kesal karena Aina dan Riyan begitu dekat kelihatannya. Bahkan mereka datang terlambat.


"Bagus ya, kalian enak-enakan berdua ngobrol. Siapa di sini bosnya? Kenapa kalian anak buah jadi santai begini, sedangkan saya menunggu di sini tanpa tahu kalian sedang apa." ucapan kesal dia tumpahkan pada keduanya.


Aina hanya menunduk, dia merasa tidak bersalah. Mau membantah, tapi pasti tambah marah, jadi dia pilih diam saja. Sedangkan Riyan menanggapi dengan santai. Dia duduk di sofa dengan kaki di tumpang dan tangan di rentangkan.


"Dan Lo, jangan mengajarkan orang membangkang sama atasan!" tatapan tajam Wisnu di tujukan pada Riyan kali ini.


"Maaf, pak." kata Aina masih dengan wajah di tekuk.


"Kamu kira kerja di sini untuk main-main? Kamu di gaji di sini untuk bekerja, bukan bersantai-santai!" suara bentakan itu mengagetkan Aina, dia semakin merasa bersalah.


"Hei, Lo jangan memarahi dia berlebihan bro, dia cuma menuruti gue membuatkan kopi. Lagi pula yang datang telat siapa? Melimpahkan kesalahan pada orang lain!" kata Riyan dengan kesal.


Kalau Wisnu datang lebih cepat, tidak mungkin mereka menunggu di pantry sambil ngobrol santai. Meminum kopi sambil menikmati kopi buatan Aina.


"Gue yakin, Lo tu baru nmdatang di kantor. Tapi sok-sok an jadi bos disiplin menyalahkan bawahan." kata Riyan ikut kesal juga.


"Lo juga sama aja, kenapa juga menyalahkan gue." ucap Wisnu.


Pada akhirnya perdebatan antara asisten dan atasannya berakhir dengan saling menyalahkan. Aina jadi heran pada kedua orang itu, dia bingung asisten lebih tegas dari bosnya, tapi itu jika masalah pribadi.


"Maaf pak, apa meetingnya di cancel?" Aina menyela perdebatan mereka.


"Kamu cepat siapkan berkasnya, jangan ada yang tertinggal. Dan siapkan semua bahan yang akan kamu jelaskan pada klien. Ingat! jangan ada kesalahan." kata Wisnu penuh penekanan.


"Baik pak." jawab Aina pasrah.


"Lo urus kerjaan gue yang kemarin belum selesai. Gue cabut dulu, awas kalau gue datang belum selesai, gue kirim Lo ke Papua." kata Wisnu mengancam Riyan.


"Kapan gue lari dari tanggung jawab? Yang ada Lo tuh yang males kerja. Resek banget jadi orang." gerutu Riyan.


Lalu Aina dan Wisnu pergi dari ruangannya. Aina pergi ke mejanya, mengambil berkas yang sudah dia siapkan sejak tadi. Lalu mengikuti Wisnu untuk pergi meeting dengan Mr. Tanaka.


_


Setelah satu jam setengah meeting dengan Mr Tanaka, akhirnya selesai juga. Aina yang sejak tadi tegang dengan presentasinya di depan Mr Tanaka, sedikit bingung campur kesal. Pasalnya Mr.Tanaka fasih berbahasa Indonesia. Di sini siapa yang merasa bodoh, dia atau Mr. Tanaka yang merasa santai menanggapi penjelasan Aina.


Jantung Aina berdetak kencang tatkala dia mulai menjelaskan, tapi ternyata rasa gugupnya karena takut itu sia-sia. Dia menatap bosnya dengan wajah dingin, dia merasa di kerjai. Dia mendengus kesal, semalam dia berlatih mengucapkan bahasa Inggris agar lancar dan tidak grogi. Tapi nyatanya dia di buat jengkel bukan main.


Lalu Mr.Tanaka berpamitan, mereka bersalaman secara bergantian. Aina ikut menyalami Mr. Tanaka dan hanya menunduk ketika Mr. Tanaka bicara dengan Wisnu sebelum pergi.

__ADS_1


"Tuan Wisnu, sekretaris anda hebat dan manis." ucap Mr.Tanaka sambil tersenyum.


Wisnu hanya tersenyum puas dengan pujian itu, tapi bagi Aina dia itu adalah sebuah ejekan. Walaupun begitu, dia tetap tersenyum meski terlihat kaku. Setelah berlalu, Aina menanyakan maksud atasannya mengerjainya.


"Pak Wisnu sengaja mengerjai saya?" tanya Aina dengan mode kesalnya.


"Hahah, ... saya hanya ingin tahu kemampuan kamu dalam berbahasa Inggris. Lagi pula baguskan buat kamu, dengan begitu siapa tahu kamu bisa bertemu klien orang luar yang benar-benar harus berbahasa Inggris. Jadi tidak perlu bingung." jawabnya santai masih mengulum senyum.


Aina mendengus kesal dia kembali diam, Mendengar ucapan Wisnu itu hatinya semakin kesal. Ingin dia pergi meninggalkan bosnya itu, tapi itu tidak mungkin.


"Ayo kita ke restoran, makan siang. Saya suka cara kamu presentasi tadi, sangat jelas dan Mr.Tanaka setuju dengan kerja sama kita. Terima kasih ya." kata Wisnu tulus.


Aina yang tadi kesal kini tersenyum, memang tidak ada yang sia-sia dengan usahanya. Lalu keduanya pergi ke restoran yang dekat kantor, karena jam makan siang hampir habis.


_


Pasca kejadian di pantry dua hari yang lalu, Aina di timpa gosip yang kurang sedap di dengar.


Gosip yang beredar, dia dekat dengan CEO dan asisten pribadinya dengan cara merayu dan menggunakan pelet.


Semua rekan kerja yang ada di bagian keuangan membicarakan Aina.Yang di tambah-tambahin yang di besar-besarkan. Aina sendiri tidak peduli dengan gosip itu, selama tidak mengganggu kerjanya.


Sudah biasa baginya ada orang yang tidak suka padanya. Sejak dia SMP, terus saja ada yang tidak suka padanya. Aina sendiri heran, tidak ada yang salah yang dia lakukan, tapi kenapa ada saja yang tidak suka bahkan memfitnah yang tidak-tidak.


Memikirkan yang tidak penting baginya bisa membuat stres pikiran,maka dari itu dia tidak ambil pusing dengan gosip itu.


"Enak ya, bisa cari muka sana sini supaya jabatan bisa naik." ucap Citra sinis,


Diangguki oleh Rara dan Saskia yang sejak tadi bersama Citra. Sedangkan Suci hanya diam saja.


Tanpa ambil pusing, Aina mengabaikan ocehan Citra yang menurutnya kurang kerjaan mengurusi urusan orang lain.


"Dekat dengan bos juga asistennya, apa lagi yang di cari kalau bukan minta jabatan naik." ocehan Citra semakin membuat Aina terusik.


Dia menatap Citra dengan tajam, kata ramah bagi Aina sudah hilang dari ingatan jika menghadapi orang seperti Citra. Citra malah tersenyum sinis melihat Aina mulai emosi. Aina masih diam,pikirannya masih waras untuk tidak meladeni omongan Citra.


Ponsel Aina berdering, Aina mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut. Dia berlalu meninggalkan Citra yang masih ingin mengejek Aina, tapi Aina tidak peduli. Bersyukur ada panggilan dari pak Andi, sehingga dia tidak perlu meladeni Citra.


_


_


*****************

__ADS_1


__ADS_2