Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
63. Hamil?


__ADS_3

Sampai di hotel, Aina langsung berbaring.Dia benar-benar capek dan kepalanya entah kenapa jadi pusing. Matanya dia pejamkan sejenak untuk mengurangi rasa pusingnya. Sementara Riyan setelah mengantarkan Aina ke kamar hotel, dia pergi untuk menemui Wisnu.Entah apa yang akan di bicarakan ya.


Satu jam Riyan meninggalkan Aina di kamar hotel, dan satu jam pula Aina tertidur masih memakai baju pengantin. Dia benar-benar. Pintu kamar terbuka dan Riyan masuk,,dia melihat istrinya masih memakai baju pengantin.


"Lho, kok belum ganti baju?" tanya Riyan menghampiri Aina yang masih duduk di ranjang.


"Maaf, tadi kepalaku pusing jadi ketiduran. Ini baru bangun. Mas Riyan dari mana?" tanya Aina yang mulai melepas atribut riasan di rambutnya.


"Habis ketemu Wisnu di bawah." membantu melepaskan atribut di kepala Aina.


"Nanti malam kita berangkat ke Bali." kata Riyan lagi. Aina menatap suaminya.


"Kenapa? Aneh begitu."


"Mau apa ke Bali?" pertanyaan Aina membuat Riyan menatap dengan wajah lucu, dia tersenyum jail.


"Mau bikin Riyan junior." bisik Riyan tersenyum. Aina menunduk malu, wajahnya merona.


Cup.


Satu kecupan mendarat di bibir Aina.


"Kita mau bulan madu, sayang." ucap Riyan lagi.


Mata Aina berbinar, dengan reflek dia merangkul suaminya lalu mengecup pipi suaminya. Tapi kemudian wajahnya merona. Riyan tertawa senang melihat tingkah Aina yang mengejutkan itu. Dia balik mencium Aina bertubi-tubi, seluruh wajahnya tak ada yang tertinggal. Dia makin gemas dengan istrinya itu.


Pukul sepulu malam, Riyan dan Aina berangkat ke bandara. Karena pesawat yang akan mereka tumpangi berangkat jam sepuluh tiga puluh. Sengaja Riyan mengambil penerbangan malam hari karena tidak terlalu ramai. Dia lebih santai dan tidak merasa risih di pesawat karena orang-orang akan tertidur karena lelah.


"Mas, kenapa malam sih berangkatnya?" tanya Aina heran.


"Biar bisa lihat lebih dekat langit malam yang indah bertabur bintang sayang." jawab Riyan sekenanya.


"Eh, memang benar gitu?" tanya Aina tak percaya. Riyan tersenyum kecil.


"Kita lihat aja nanti kalau pesawatnya sudah ada di atas." senyum Riyan masih mengembang. Jika bukan di bandara, pasti Riyan akan menciumnya bertubi-tubi karena gemas dengan kepolosan istrinya itu.


Lalu Aina dan Riyan sudah masuk di dalam pesawat, kebetulan keduanya duduk dekat jendela. Jadi mereka bisa leluasa melihat awan hitam malam hari.Sepuluh menit pesawat pun mulai take off. Jantung berdebar dan gugup Aina rasakan. Karena ini pertama kalinya dia naik pesawat terbang.


Di pegangnya tangan Aina erat memberi kekuatan dan kenyamanan. Riyan tahu istrinya baru pertama naik pesawat terbang.


Jam dua belas malam, kedua pengantin baru itu sudah sampai di sebuah hotel yang lumayan mewah. Riyan sudah membookingnya jauh hari untuk tiga hari kedepan. Dia juga tidak mau lama-lama libur, karena ada tanggung jawab dengan kerjaannya.


Lagi pula Wisnu sudah mewanti-wanti untuk tidak lama-lama bulan madu. Riyan yakin, Wisnu punya masalah. Namun dia tahan untuk mencari tahu lebih jauh karena dia ingin menghadiahi istrinya jalan-jalan di Bali yang belum pernah dia kunjungi.


"Wah, kamarnya indah sekali mas." ucap Aina takjub.


Dia tidak percaya jika sudah ada di Bali dan di hotel mewah pula. Riyan memeluk istrinya dari belakang ketika Aina berdiri di balkon hotel.


"Ini hadiah buat istriku tercinta." ucap Riyan. Aina membalikkan badannya. Mereka saling berhadapan, menatap satu sama lain penuh dengan cinta.

__ADS_1


"Terima kasih mas. Kamu baik sekali." ucap Aina.


"Tentu aku akan selalu baik sayang, karena kamu segalanya bagiku." ucap Riyan dengan tulus.


Wajah Aina kembali memerah, dia tidak menyangka akan di cintai sebesar itu. Lalu dia memeluk suaminya dengan erat. Rasa bahagia dan terharu jadi satu, hingga kelopak matanya basah.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Riyan heran.


"Aku bahagia mas, benar-benar bahagia." ucap Aina lagi.


Riyan makin memeluk erat istrinya. Satu ungkapan perasaan yang baru dia dengar dari istrinya. Lama mereka berpelukan, hingga Aina melepas pelukannya dan kembali menatap suaminya.


Cup.


Satu kecupan di bibir Aina hadiahkan untuk suaminya. Riyan tersenyum, lalu membalas kecupan manis di bibir Aina lama sekali. Dan akhirnya kecupan itu berubah menjadi lebih panas dan menggairahkan.


Riyan menggendong Aina ala bridal dan membawanya ke tempat tidur. Malam semakin larut, kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu menghabiskan malam hanya di kamar dan menyalurkan rasa cinta mereka.


_


"Hoek..Hoek..." terdengar suara orang muntah dalam kamar mandi.


Riyan terkejut istrinya tidak ada di tempat tidur. Dia mendengar suara Aina yang muntah di kamar mandi. Segera dia bangkit dan berlari menuju kamar mandi. Dia melihat Aina muntah namun tidak keluar muntahannya. Riyan memijat tengkuk Aina beberapa kali.


"Sayang kenapa?" tanya Riyan panik. Dia mengelus punggung Aina.


"Ngga tahu mas. Tiba-tiba bangun tidur perut mual banget. Kepala juga pusing." ucap Aina lemah.


"Udah enakan?" tanya Riyan lagi.A ina hanya mengangguk, namun pusing di kepalanya belum hilang.


"Tapi pusingnya belum hilang mas." kata Aina.


"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Riyan.


"Aku ngga sakit mas, cuma pusing aja." jawab Aina.


"Tapi kamu kelihatan lemas sekali. Mukanya juga pucat banget." ucap Riyan khawatir.


"Ngga apa-apa mas. Mungkin aku kurang tidur semalam." kata Aina.


Riyan terdiam. Dia merasa bersalah karena semalam bercinta beberapa kali. Di elus kepala Aina, dan memang tidak panas tapi wajah pucat.


"Maaf ya sayang."


"Ngga apa-apa mas, udah kewajiban aku juga kan memenuhi permintaan kamu." ucap Aina lagi. Dia tidak mau suaminya merasa bersalah.


"Mau sarapan apa?"


"Mm... gado-gado aja, tapi yang pedas." ucap Aina.

__ADS_1


"Lho, kok gado-gado. Di hotel mana ada gado-gado?,pedas lagi." ucap Riyan heran.


"Ya kan pesan sama kokinya kan bisa mas." kata Aina manja.,Riyan tampak berpikir.


"Tapi nanti sarapan dulu ya." kata Riyan.


"Itu juga sarapan kan mas." kata Aina lagi.


"Tapi mintanya pedas, ngga boleh. Nanti sakit perut lagi, belum ke isi sama makanan berat perut kamu." kata Riyan.


"Ya kan di kasih lontong mas. Ya ampun mas Riyan kok aneh banget sih. Belum pernah makan gado-gado ya?" tanya Aina merasa kesal sendiri dengan suaminya.


"Aku kalau makan gado-gado cuma sayur aja sama kentang." ucap Riyan.


"Lha itu kentang kan karbohidrat. Bagaimana sih mas?" Riyan terdiam,,dia jadi keki sendiri dengan ucapan Aina.


"Ya udah nanti mas pesankan."


"Pengennya sekarang mas, jangan nanti."


"Kan mandi dulu,,belum sholat subuh juga." ucap Riyan tak mau kalah.


Aina cemberut, dia palingkan wajahnya ke samping. Entah bagaimana kini dia begitu kesal dengan Riyan yang bawel itu.


"Kok istriku jadi lebih manja ya." Ucap Riyan menggoda. Aina makin cemberut.


"Ya udah iya, aku pesankan." sambil memencet tombol telepon di sambungkan ke bagian pelayanan kamar.


"Ish, kenapa ngga dari tadi telepon ke bagian pelayanan kamar." ucap Aina kesal.


"Udah sih cemberutnya, bikin aku pengen cium aja tuh bibir." goda Riyan lagi.


"Udah sana mandi. Mas Riyan bau."


"Bau juga kamu suka." kata Riyan, lalu dia mencuri satu ciuman di bibir Aina dan kabur ke kamar mandi.


"Mas Riyaaan....!!" teriak Aina kesal.


"Hahah!"


Selama di Bali Riyan benar-benar memanjakan istrinya. Aina minta jalan-jalan kemana saja dia turuti. Hingga waktu untuk pulang ke Jakarta akhirnya tiba juga. Mereka sudah memesan tiket pulang,tapi tiba-tiba di bandara Aina pingsan.


Riyan panik bukan main,dia mencari klinik terdekat. Sampai di klinik Aina di periksa, Riyan tidak pernah sedetikpun meninggalkan istrinya itu. Dokter yang menangani Aina kemudian menghampiri Riyan.


"Selamat ya pak, istri anda sedang hamil muda." kata dokter jaga di klinik.


"Haah, hamil?!"


_

__ADS_1


_


*******************


__ADS_2