
Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, tapi tamu masih saja berdatangan,baik tamu ayah,ibu, Shella ataupun tamu Arya terus saja berdatangan.
Kini Aina menatap kedua pengantin dengan senyum mengembang, setidaknya dia kini bahagia untuk adiknya. Walaupun banyak tamu undangan ibunya yang selalu memandang sedih karena dia di langkahi adiknya, tapi hari ini Aina benar-benar bahagia.
Satu sapaan dari belakang membuyarkan lamunan Aina. Dia menoleh dan melihat di belakangnya berdiri Aldo dengan tersenyum.
"Apa kabar Ai?" tanya Aldo.
"Eh, Aldo. Baik, kok aku baru lihat kamu?" tanya Aina heran.
"Iya, aku ngga bisa datang cepat karena kerjaan di kantor ngga bisa aku tinggal. Aku udah bilang sama Arya sih sebelumnya."
"Emm, begitu ya. Oya, udah makan belum?"
"Iya nih, dari kantor langsung ke sini. Jadi belum makan, hahah! Sengaja ngga makan, biar bisa makan di sini." ucap Aldo sambil tertawa.
Aina pun ikut tertawa kecil, lalu dia mengajak Aldo untuk mengambil makanan di tempat prasmanan. Dari jauh Riyan memandang Aina dengan akrabnya bersama Aldo. Ada rasa cemburu di hatinya ketika Aina berbicara akrab dengan Aldo. Matanya tak lepas dari Aina.
Sesekali dia mendengus kesal ketika Aina tertawa lepas dengan laki-laki lain. Riyan menghampiri Aina dan Aldo yang sedang duduk di kursi sambil makan dan mengobrol santai.
"Aina."
Panggil Riyan dengan tatapan tajam pada Aina. Aina heran dengan tatapan Riyan yang seakan tidak suka dia berbicara dengan Aldo.
"Ya, mas Riyan. Ada apa?" pura-pura tidak mengerti untuk menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba berdetak ketika di tatap Riyan karena merasa takut.
"Aku ingin bicara denganmu."jawab Riyan singkat.
Lalu Aina berdiri dan pamit pada Aldo, kemudian mengikuti Riyan dari belakang.
"Mau bicara apa, mas Riyan?" tanya Aina lagi ketika mereka menjauh dari Aldo.
"Dia siapa Ai?" tanya Riyan seolah mengintimidasi. Aina mengerutkan dahinya heran.
"Aldo maksudnya?"
"Namanya Aldo? Siapanya kamu?" tanya Riyan lagi.
"Mas Riyan aneh deh, aku kok seperti seorang pacar yang lagi di curigai selingkuh ya." kata Aina heran dengan tingkah Riyan. Tapi dalam hatinya, sejujurnya Aina senang.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya ngga ada teman lagi di sini. Aku kan dari jauh, jadi ya teman aku di sini cuma kamu." salah tingkah Riyan menjawab pernyataan Aina tadi. Aina pun tersenyum dikulum.
"Aldo itu teman satu kampus dulu. Kebetulan sahabatnya Arya, jadi aku juga kenal. Tapi dia hanya teman saja yang kebetulan sedikit akrab. Menerima orang yang mau berteman juga ngga apa-apa kan?" kata Aina tenang.
Riyan mengalihkan pandangannya, berusaha membuang rasa kesal yang sejak tadi di pendamnya. Dan kenapa juga dia kesal melihat Aina bicara akrab dengan laki-laki lain, dia sendiri siapanya Aina?
"Maaf soal yang tadi. Oya, kita foto bareng sama pengantin yuk?" ajak Riyan.
"Ngga mau, aku ngga suka foto. Adikku paham akan hal itu, jadi jangan maksa aku untuk foto." kilah Aina.
"Ya udah, kita foto berdua aja. Sini, dekat sama aku." Riyan menarik tangan Aina untuk mendekat padanya. Tanpa aba-aba Riyan langsung mengambil Poto mereka berdua.
_
Sore harinya,rombongan keluarga pengantin laki-laki berpamitan pada keluarga Aina. Yang di tinggal hanya Arya yang masih menerima tamu undangan. Ketika Riyan pamit sama Aina,dia merasa sedikit berat.
"Mas Riyan langsung pulang ke Jakarta?" tanya Aina ketika mengantar Riyan sampai depan rumah.
"Mungkin, ngga tahu juga sih." jawab Riyan ragu.
"Lho, bukannya besok masuk kerja mas. Katanya mau menggantikan aku menemani pak Wisnu ketemu klien?" kata Aina mengingatkan.
"Ya, mau ngga mau harus pulang malam ini. Ya udah, aku titip salam yah buat keluargamu. Lain kali aku mau main ke rumah kamu." ucap Riyan penuh misteri.
"Mau apa? Akunya aja ada di Jakarta, kok mau main ke sini sih?" tanya Aina heran.
"Ya mau apa aja nanti kalau udah di sini, main game sama calon ayah mertua juga ngga apa-apa." canda Riyan yang membuat Aina kaget.
"Hahah!... Mas Riyan ada-ada aja deh." ucap Aina dengan perasaan yang sedikit aneh.
"Ya udah, aku pulang yah. Assalamu Alaikum."
"Wa Alaikum salam." jawab Aina.
Lalu Riyan masuk ke dalam mobil, sebelum mobil berlalu Riyan melambaikan tangan pada Aina sambil tersenyum, kemudian melajukan mobilnya pelan.
Acara pesta pernikahan berjalan dengan lancar sampai sore juga malam hari. Tamu-tamu pak Edi dan juga Arya berdatangan di waktu sore hari. Aina menyibukkan diri di tempat prasmanan.
Ibu Erni mendekat pada putri sambungnya yang sedang sibuk memasukkan makanan ke dalam wadah prasmanan. Dia memperhatikan Aina dengan seksama, hingga Aina menyadari jika ibunya memperhatikannya.
__ADS_1
"Ibu sudah makan?" tanya Aina mengambil piring untuk ibunya.
"Belum sayang, ibu lapar." kata ibu Erni.
"Aku ambilkan ya." kata Aina menawarkan.
"Sedikit aja sayang, ibu ngga bisa makan banyak kalau sedang ramai begini." ucap ibu Erni.
"Iya bu."
Aina lalu mengambil nasi dan lauk pauk untuk ibunya, ibu Erni menatap dari jauh Shella dan Arya yang begitu bahagia. Beralih lagi pada Aina yang selesai mengambilkan makanan.
"Kamu duduk di sini sayang, sekalian ibu mau tanya-tanya." kata ibu Erni menyuap makanannya.
"Tanya apa bu?"
"Emm, tadi ibu lihat kamu bicara sama siapa itu?"
"Aldo bu?"
"Bukan, sebelum bicara dengan Aldo." kata ibu Erni.
"Emm, pak Riyan bu. Itu atasannya Aina." kata Aina.
"Lho, tapi kok datang ke acara pernikahannya Shella?"
"Dia saudara sepupunya Arya bu."
"Ooh, jadi kamu kenal sepupunya Arya. Dia ganteng ya." kata ibu Erni.
"Hahah! Orang kota pasti ganteng bu. Aina juga lama-lama tinggal di Jakarta jadi putih bersih, hahah!" ucap Aina bercanda dengan ibunya.
"Kamu bisa saja, Ai.".ucap ibu Erni.
Aina kembali merapikan tempat prasmanan, dia tahu maksud dari ucapan ibunya. Sedangkan ibu Erni tidak berani meneruskan pertanyaannya, karena takut Aina tersinggung. Lagi pula, sekarang waktunya menikmati pesta pernikahan putri keduanya. Jadi tidak boleh di rusak oleh kesedihan Aina.
_
_
__ADS_1
********************