Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
31. Cerita Wisnu


__ADS_3

Sampai di apartemen Wisnu, Riyan dengan tidak sabar memencet bel dengan terus menerus.


Lima menit dia memencet bel, pintu akhirnya terbuka. Terlihat sosok wanita yang tidak asing bagi Riyan.


Wajah wanita itu terkejut dan nampak ketakutan. Riyan pun tak kalah terkejut dengan wanita di hadapannya, dia menatap tajam ke arah wanita itu. Lalu dia mendorong pintu hingga terbuka lebar dan masuk ke dalam. Dia mencari Wisnu ke kamarnya, tapi tidak ada.


"Wisnu mana?" tanya Riyan dengan nada sedikit keras, yang di tanya hanya menunduk.


Riyan semakin kesal wanita di depannya hanya diam saja. Sekali lagi dengan nada membentak Riyan bertanya pada wanita itu.


"Mana si brengsek itu?!"


"Dia lagi keluar ke minimarket" jawabnya dengan ketakutan.


Riyan menghela napas kasar, dia menatap tajam pada wanita itu. Ya, dia adalah wanita yang selama ini membuat Wisnu selalu seenaknya kerja di kantor. Tak berapa lama, Wisnu muncul di balik pintu.


Dia terkejut dengan kedatangan Riyan, Wisnu berjalan pelan. Dia menatap Riyan dengan rasa bersalah, kemudian menarik tangan sahabatnya yang masih menatap tajam pada wanita di depannya.


"Apa maksudnya ini?" tanya Riyan dengan nada keras, dia makin emosi dengan kedatangan Wisnu.


Wisnu menarik tangan Riyan untuk menjauh lagi dari Viola yang sedari tadi menunduk ketakutan. Dia tidak mau Riyan berbuat nekad akan menampar Viola, wanita yang selama ini meninggalkan Wisnu.


"Gue nanti jelasin ke lo, sekarang gue ngga bisa bicara sama Lo. Lo pulang aja." kata Wisnu dengan tidak tahu malunya.


Biarlah sekarang dia tidak tahu malu pada sahabatnya yang sedang marah itu. Riyan mengendus kasar, tidak percaya dengan ucapan Wisnu. Lalu membuang nafas kasar lagi lalu mendekat pada Wisnu.


"Brengsek Lo! Lo ingat ngga kalau punya janji?!" dengan napas naik turun Riyan mengumpat Wisnu.


Jika tidak ada Viola, Riyan ingin sekali memukul sahabatnya itu. Seenaknya saja mengingkari janji, sudah dua kali Wisnu mengingkari janji pada Aina.


"Iya, gue minta maaf. Tapi tolong, untuk saat ini gue belum bisa berdebat dengan Lo." Riyan mendengus kesal, dia menatap tajam pada Viola yang sejak tadi menunduk ketakutan.


"Gue tunggu jam sepuluh malam ini di kantor Kemang. Kalau ngga datang, gue laporkan semua kelakuan Lo sama om Hutama!" ancam Riyan, dia sudah muak dengan kelakuan sahabatnya itu.


Wisnu hanya mengangguk, lalu dia menggiring Riyan untuk keluar dari apartemennya. Sekali lagi, Riyan mengumpat Wisnu karena kesal. Lalu dia pulang dengan keadaan marah.


_


Pukul sepuluh lebih lima menit, Wisnu tiba di restoran Riyan yang ada di Kemang. Kali ini dia memang ingin menepati janji, dia tidak mau menyembunyikan semua dari sahabatnya itu. Setidaknya dia bisa bertukar pikiran dan mencari solusinya dengan masalahnya.


Dia memasuki restoran, beberapa pengunjung sudah mulai meninggalkan tempat itu. Wisnu terus masuk ke dalam menuju ruang kantor sahabatnya itu. Seorang pelayan menghampirinya dan dia menanyakan keberadaan Riyan.

__ADS_1


"Oya, pak Wisnu sudah di tunggu pak Riyan di ruangannya." kata pelayan tersebut.


"Terima kasih ,saya langsung ke sana." ucap Wisnu.


Lalu Wisnu langsung naik ke atas menemui Riyan. Di sana Riyan sudah menunggunya. Dengan wajah di hadapkan ke arah pintu, sesekali Riyan melirik jam di tangannya. Pintu pun terbuka, terlihat Wisnu melangkah masuk dan langsung duduk di sofa.


Riyan menatap tajam ke arah Wisnu. Wisnu menoleh, dia serasa di intimidasi dengan tatapan Riyan seperti itu. Dia pun berdecih melihat sahabatnhnya itu.


"Ceritakan!" langsung Riyan menyuruh Wisnu untuk bercerita.


Wisnu menghela napas pelan, lalu dia pindah duduk di kursi depan meja kerja Riyan. Pandangan dia alihkan ke arah lain lalu menatap Riyan lagi yang sejak tadi tidak berpaling darinya.


"Satu bulan lalu gue lihat Viola ke restoran Lo yang di pondok indah. Awalnya gue pikir bukan dia, karena mau ku hampiri dia gue sedang makan siang bareng Aina.Tapi dia sudah ngga ada ketika gue lihat dia lagi." berhenti sejenak, menarik napas berat.


"Lalu?"


"Pas gue janjian makan malam, gue dapat telepon nomor ngga kenal, dia mengatakan tentang Viola yang sedang di paksa pergi sama ayahnya dari rumah. Awalnya gue ragu dengan informasi itu, tapi si penelepon meyakinkan gue. Mau tidak mau gue ngikutin saran dia, lalu gue ke rumah Viola.Gue lihat Viola bertengkar sama ayahnya di halaman rumah.


Lalu dia pergi naik taksi,gue ikutin mobilnya. Ketika berhenti di rumah mewah di daerah Bintaro, gue masih penasaran tetap gue menunggu tapi ngga keluar-keluar setelah itu gue langsung pergi." panjang lebar Wisnu bercerita.


"Terus Lo hari Seninnya ngga masuk kantor, kemana aja? Mengaku keluar kota" Riyan mendengus kesal, karena hari itu dia terus di repotkan kerjaan Wisnu.


"Gue niatnya mau ke kantor, tapi gue kaget tiba-tiba Viola sudah ada di depan apartemen gue." kata Winsu.


"Ya, mau ngga mau gue suruh masuk, terus tiba-tiba dia nangis."


Flashback ;


Tok-tok-tok...


Wisnu hendak berangkat kerja di kejutkan dengan ketukan pintu di apartemennya, dia heran, sepagi ini ada yang bertamu. Dia pikir jika mamanya, tidak mungkin karena mamanya masih di Malaysia.


Dengan rasa penasaran, Wisnu membuka pintu apartemen dan pintu terbuka, dia makin terkejut. Di depan pintu berdiri seorang wanita, ya dia Viola mantan pacarnya yang setahun yang lalu menghilang tanpa kabar.


Dengan keterkejutannya itu, Wisnu melihat ada mata sembab di wajah Viola, dia tebak Viola habis menangis. Masih terasa syok, Wisnu mempersilakan Viola masuk. Wanita itu pun masuk dan langsung duduk di sofa, Wisnu ikut duduk dan menatap Viola dengan heran.


"Ada apa?" tanya Wisnu penasaran.


"Hiks-hiks..." hanya suara tangisan dari Viola.


Wisnu menghela nafas, dia melirik jam di tangannya. Masih pukul tujuh, telat sedikit pun ngga apa-apa pikirnya.

__ADS_1


"Aku lelah, Wisnu. Papaku selalu memaksa-maksa untuk selalu pacaran sama Erick." nafas Viola berhenti, isak tangisnya keluar lagi.


"Siapa Erick?" tanya Wisnu penasaran.


"Rekan bisnis papa, dia adalah tunangan aku. Tapi aku ngga mau, papa maksa-maksa terus aku di suruh menikah dengan Erick, hik hik hik."


"Yang tadi malam kamu ke sana?" tanya Wisnu.


Viola mendongak, dia menatap Wisnu heran. Dari mana dia tahu, pikir Viola. Dia pun menangis lagi kemudian mengangguk cepat.


"Aku ngga sengaja ikuti kamu waktu itu." kata Wisnu seakan tahu keheranan Viola.


"Tapi aku udah putusin dia, aku benar-benar celah. Tingkahnya kekanakan dan selalu posesif, selalu di curigai. Belum lagi kalaj datang ke rumah selalu marah-marah ngga jelas." kata Viola.


Wisnu menghela nafas, dia kini mengerti permasalahan yang di hadapi Viola. Hatinya sedikikt kasihan, walau di benaknya banyak sekali pertanyaan kenapa dan mengapa Viola meninggalkannya setahun yang lalu.


"Apa aku boleh menginap di sini beberapa hari?" tanya Viola ragu-ragu, dia menatap Wisnu dengan rasa takut.


Tampak Wisnu berpikir,l alu dia anggukan kepalanya. Senyum Viola mengembang, lalu mengecup pipi Winsu dengan reflek. Wisnu kaget, namun dia hanya tersenyum saja.


"Aku harus kerja, kamu di sini sendiri ngga apa-apa kan?" tanya Wisnu, bangkit dari duduknya kemudian mengambil tas kerjanya.


Tak berapa lama, suara gaduh di lorong apartemen, Wisnu mendengar seseorang berteiak memanggil Viola dengan jelas. Lalu dia membuka pintu apartemen dan melihat siapa yang membuat gaduh di depan apartemenya.


Kenapa juga satpam tidak ada untuk menghalangi perusuh tersebut. Akhirnya beberapa penghuni apartemen keluar dan ikut melihat siapa yang bikin gaduh.


"Mana wanita sialan itu?!" ucap laki-laki yang berwajah garang menatap setiap penghuni yang keluar karena ulahnya. Yang lain tampak keheranan, ada juga yang masa bodoh lalu masuk lagi ke apartemennya.


"Siapa yang anda maksud?" tanya Wisnu memberanikan diri.


"Wanita yang berambut panjang, pake baju pink dia tadi ke sini." jawab orang itu dengan kasar.


Wisnu berpikir, mungkin dia mencari Viola. Lalu Wisnu berbalik masuk ke dalam, dia melihat Viola menangis ketakutan. Mau tidak mau Wisnu harus menyembunyikan Viola dari orang itu, yang masih berdiri dan berteiak menyebut Viola dengan kata-kata kasar.


Wisnu mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan pada Aina.


'Pending semua jadwal saya untuk empat hari ke depan'.


Begitu bunyi pesan wathap pada Aina lalu dia nonaktifkan ponselnya. Dia menghampiri Viola yang masih ketakutan dan menarik pundak wanita itu untuk di sandarkan di bahunya. Jujur saja, Wisnu masih punya rasa pada Viola, hingga Viola menemuinya dia merasa senang walaupun dia kaget.


_

__ADS_1


_


*****************


__ADS_2