
Tak ada kata lelah untuk mencari cinta sejati dalam hidupnya. Namun dia pasrah pada apa yang sudah di gariskan di hidupnya. Tak pantang menyerah dan dia yakin, bahwa Tuhan akan mengirimkan cinta sejatinya, entah itu kapan dia tidak tahu.
Walaupun perjalanan untuk mendapatkan cinta sejatinya, tidaklah mudah dan berliku-liku.
Tak apa cinta hanya singgah sebentar di hatinya, walaupun pada akhirnya, dia harus rela untuk melepaskannya kembali. Cinta juga mengajarkannya untuk ikhlas dalam menerima nasib.
Walau pada akhirnya cintanya membuat dia kecewa dan menangis. Setegar apapun hati menahan sakit, pada akhirnya menangis juga.
Kehidupannya biasa saja, tidak ada cerita dramatis tentang cintanya. Hanya saja, perjalanan cintanya yang selalu kandas sebelum bersemi indah bahkan sebelum menjalin hubungan. Katakanlah, Aina selalu gagal dalam cintanya. Untuk saat ini, mungkin dia hanya akan memikirkan hidupnya, karir dan keluarganya. Cinta?
Ia kesampingkan terlebih dahulu. Menata hatinya yang belum sembuh karena rasa kecewa. Mungkin bisa di bilang, trauma jatuh cinta tapi dia percaya, suatu saat nanti cinta sejatinya datang tanpa dia cari.
"Aina, kamu ngga kerja?" tanya Erni Kusuma, ibu sambungnya.
"Kerja kok, Bu. Ini lagi siap-siap berangkat." jawab Aina sambil merapikan berkas-berkas yang kemarin dia bawa pulang.
Ibu Erni memperhatikan gerak-gerik Aina sampai dia duduk di tepi ranjang Aina. Aina sendiri memang sibuk dengan pekerjaannya, sampai beberapa kali dia lupa memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya.
"Ada apa, Bu?" tanya Aina.
Ia yakin ibunya ingin mengatakan sesuatu, jika ibu sambungnya itu masuk kekamarnya pagi-pagi sebelum berangkat kerja. Dia melirik sekejap pada ibu Erni lalu kembali merapikan berksnya lagi.
"Bisa antar ibu belanja tidak, Ai?" tanya Erni masih memperhatikan Aina merapikan berkas-berkasnya.
"Belanja apa, Bu?" tanya Aina.
"Besok lusa, malamnya kan ada lamaran buat adikmu dari pacarnya. Ya, rencananya mau sekalian tunangan. Ibu belum siap-siap Ai membeli keperluan untuk acara tunangan itu. Belum beli bahan makanan buat jamuannya, belum beli baju juga. Masa, mau ada acara penting begitu penampilan ibu biasa saja, kan malu sama calon besan, Ai." kata ibunya berharap Aina mau mengantarnya ke mall beli keperluan nanti.
Aina menghela nafas berat, agak lama dia berpikir. Sebenarnya dia enggan mengurusi segala ***** bengek semacam itu. Tapi, karena hanya dia satu-satunya anak perempuan yang bisa di ajak bertukar pendapat tentang rencana pertunangan itu. Selain Shella sang adik, mau tidak mau dia harus menyetujuinya.
"Ai, bisa kan antar ibu belanja?" tanya ibunya berulang.
Aina tersenyum tipis, "bisa kok Bu." jawab Aina.
"Makasih ya, Ai. Ibu tunggu siang nanti yah. Kamu izin aja kerjanya setengah hari, nggak apa-apa kan sama bos kamu?" tanya Erni.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Nanti Aina izin ke bos Aina dulu." jawab Aina.
__ADS_1
Walaupun sebenarnya Aina agak kesal sama calon tunangan adiknya itu, yang tidak lain adalah temannya. Arya Dwi Saputra, teman sewaktu kuliah dulu.
Arya adalah calon tunangan Shella adik tirinya. Dia teman yang menurut Aina telah mempermainkan perasaanya. Meski itu hanya versi Aina. Tapi, dia benar-benar kesal padanya juga sakit hati.
Dulu Aina sempat di buat berharap pada Arya. Dengan banyaknya perhatian untuknya, Aina kira Arya menyukainya. Tetapi Arya mendekatinya hanya untuk memanfaatkannya saja, agar lebih dekat pada adiknya Shella. Pikiran Aina melayang pada dua tahun yang lalu, ketika dirinya masih kuliah semester akhir.
Flashback:
"Ai, pulang jam berapa?" tanya Arya ketika mereka bertemu di lorong kelas.
"Mm, belum tau. Masih ada satu mata kuliah lagi sih sebenarnya. Mungkin agak sorean baru bisa keluar kelas. Memang kenapa?" tanya Aina.
"Nanti aku antar ya, pulangnya?" kata Arya.
Aina mengernyitkan dahinya aneh, tumben. Pikir Aina, karena tidak pernah Arya melakukan itu padanya.
"Ada apa? Tumben banget mau mengantarku pulang?" Aina curiga, walaupun dia sedikit senang.
"Nggak ada apa-apa, cuma mau mengantar pulang kamu aja. Memangnya nggak boleh?" tanya balik Arya.
"Mm, boleh aja sih. Lumayan irit ongkos. Heheh." jawab Aina sambil tertawa kecil.
"Ya." jawab Aina sambil berlalu menuju kelas.
Kelas Aina pun masuk, hanya satu mata kuliah saja. Dan butuh waktu satu jam setengah jam mata kuliah terakhir. Setelah cukup lama Aryan menunggu, pukul dua tiga puluh. Aina pun keluar dari kelasnya. Dengan bergegas, Aina menuju kantin di mana Arya sudah menunggunya di sana.
Dia melihat Arya sedang asyik mengobrol dengan Aldo. Aina melangkahkan kakinya menghampiri Arya dengan wajah sumringah. Dari jauh Aldo melihat Aina berjalan menghampirinya dengan senyum di bibirnya.
Aldo menyikut lengan Arya memberi tanda bahwa Aina sudah datang. Arya menoleh ke arah Aina, kemudian tersenyum. Dia lalu bangkit dari duduknya ketika Aina sudah di hadapannya.
"Do, gue duluan ya?" kata Arya.
"Hati-hati lo Ya, nanti jatuh cinta beneran." sahut Aldo.
Arya hanya menanggapi dengan senyuman, sedangkan Aina wajahnya sudah merona bak buah tomat yang sudah matang. Senyum tipisnya tersungging indah di balik wajahnya yang tertunduk.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan Aldo yang memandanginya. Setelah sampai di parkiran, Arya naik motornya, juga Aina membonceng di belakang Arya. mengambil helmnya, dan memberikan helm itu pada Aina.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Aina.
Arya mengangguk lalu menstater motornya. Aina tidak berani berpegangan pada pinggang Arya. Arya sendiri tidak memaksa Aina untuk berpegangan padanya.
"Nggak apa-apa kan naik motor?" tanya Arya.
"Nggak kok, malah lebih asyik." jawab Aina.
"Oke, kita jalan." ucap Arya.
Arya pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Mereka sesekali mengobrol di jalan, Arya banyak bertanya tentang kuliah Aina dan juga keluarganya. Aina juga tidak keberatan menceritakan tentang keluarganya pada Arya.
Tak berapa lama, motor Arya berhenti di depan rumah Aina. Aina pun turun, dia melihat adiknya Shella datang dan menghampirinya dan tersenyum pada Arya.
"Hai kak Aina." sapa Shella.
"Kamu baru pulang?" tanya Aina.
"Iya, tadi di ajak teman jalan ke mall." jawab Shella dengan cerianya.
Lalu Shella pun masuk, Arya memandang Shella hingga hilang masuk ke dalam rumah. Sekilas dia melihat Shella menatapnya sebelum menghilang, Arya pun tersenyum dan menunduk kepalanya.
"Kamu mau mampir ke rumah?" tanya Arya.
"Eh, ngga usah. Aku langsung pulang, lain kali aja ya." jawab Arya gugup karena kaget Aina mengajaknya mampir ke rumahnya.
"Ya udah, terima kasih ya atas tumpangannya." kata Aina.
"Iya, santai aja Ai." ucap Arya.
Sejak hari itu, Arya sering mengantarkan Aina pulang. Kadang dia mampir dan ngobrol dengan adiknya, Shella ketika Aina sibuk membuatkan minuman. Bahkan di hari liburpun Arya sering datang dan ngajak jalan bertiga.
Tanpa Arya tahu, dalam hati Aina sudah timbul benih-benih cinta untuknya. Aina hanya malu untuk menunjukkan rasa sukanya pada Arya. Namun, tanpa sepengetahuan Aina. Justru Arya menyukai adiknya Shella. Terkadang, tanpa sepengetahuan Aina, Arya beberapa kali jalan dengan Shella.
_
_
__ADS_1
**************