Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
11. Mengantar Ibu Belanja


__ADS_3

"Ai, kamu melamun?" tanya ibunya.


Mengagetkan Aina yang sedang mengingat masa lalu dengan Arya dulu. Dia tersenyum dan menunduk karena malu ibunya tahu dia sedang melamun.


"Kamu melamun apa?" tanya ibu Erni lagi.


"Ngga kok Bu.Hanya ingat waktu kecil bermain dengan Shella, ngga nyangka dia akan menikah secepatnya." kata Aina berbohong.


"Oh, ibu kira kamu sedih karena mau di langkahi adikmu Shella." kata ibu Erni lagi.


"Ngga bu, kan aku sudah katakan waktu itu. Aku terima dan ikhlas di langkahu adikku. Dia kan yang lebih dulu mendapatkan jodoh? Buat apa sedih." kata Aina membesarkan hatinya dan menenangkan ibunya.


"Maafkan adikmu ya, sayang. Benar kata kamu, lebih baik secepatnya Shella menikah. Ibu takut mereka tidak terkendali." kata ibu Erni.


Aina tersenyum, dia kembali membereskan berkas yang mau dia bawa pagi ini ke kantor. Ibu Erni masih menunggu jawaban Aina tentang waktu mereka belanja.


"Jadi bagaimana Ai?"


"Apanya bu?"


"Ya waktu antar ibu belanja."


"Ooh, ya nanti Aina kabari ibu kalau sudah sudah pulang, atau langsung ketemu di mall aja Bu?" jawab Aina.


"Boleh juga. Di tempat mall biasa ya Ai, biar ngga bingung. Terus sepulang dari mall langsung ke butik langganan ibu." kata ibu Erni lagi.


"Langsung beli atau pesen dulu Bu? Soalnya waktunya mepet, cuma sehari kan?" kata Aina.


"Langsung beli aja, nanti cari yang pas aja ukurannya." kata ibu Erni.


"Oke, Bu. Oh ya, Aina sudah janji sama Jhody menggajak dia jalan. Ngga apa-apa kan Bu, kalau Jhody ikut? Soalnya sudah ngga ada waktu lagi buat menemani dia jalan-jalannya." kata Aina.


"Ya ngga apa-apa. Nanti ibu yang bilang sama dia. Ya sudah kamu berangkat aja dulu, nanti kesiangan." kata ibu Erni mengingatkan.


"Ya bu. Aina berangkat dulu ya Bu."


"Ya, hati-hati sayang."


_


Di kantor Aina langsung menyerahkan berkas-berkas yang tadi di bawanya. Dia menuju ruang pak Sony dan langsung mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Ya, masuk."


Aina pun menarik handle pintu lalu membukanya, dia masuk ke dalam ruangan. Terlihat pak Sony sedang menerima telepon, Aina masih berdiri sambil memperhatikan atasannya itu. Yang di perhatikan menatap Aina balik, dengan gerakan tangan mempersilakan Aina untuk duduk.


Aina pun duduk. Setelah selesai menelepon, pak Sony menanyakan maksud Aina keruangannya. Masih menunggu pak Sony selesai bicara di telepon. Dan pak Sony pun menyudahi obrolannnha di telepon, menatap Aina dan bertanya.


"Ada apa, Aina?" tanya pak Sony.


"Laporan sudah saya bereskan, pak." jawab Aina.


"Itu bagus, kamu menyelesaikan sesuai waktu yang saya tentukan. Jangan lupa nanti kamu berangkat di bawa. Lalu nanti kalo sudah masuk kantor serahkan saja ke bagian kepala keuangannya. Kamu bilang aja, kamu di utus oleh saya dari cabang Cirebon. Nanti di sana langsung mengerti dan akan menempatkan kamu yang sesuai bagian kamu. Tiga hari lagi ya Ai,berangkat." kata pak Sony.


"Iya, pak. Tapi, saya belum cari kos-kosan di sana pak. Apa bisa masuk kerjanya di longgarkan untuk nyari kos-kosa?"


"Kabar baiknya Ai, dari pihak perusahaan akan memberikan tempat tinggal sementara. Jadi mungkin sekitar semingguan di sana. Lalu selama kerja seminggu itu kamu bisa cari kos-kosan di hari senggang, misal hari Sabtu atau Minggunya." kata pak Sony.


Aina tampak senang dengan penjelasan atasannya itu. Dia tak perlu repot dan terburu-buru untuk berangkat nanti. Senyum cerianya dia tampilkan.


"Terus nanti saya di antar ngga sama pak Sony. Kan saya ngga tahu harus bertemu siapa nanti." tanya Aina.


"Kalau mau di antar sama saya, kamu harus berangkat hari Minggu. Karena kebetulan hari Minggu saya ada pertemuan dengan saudara dari istri saya, ya bisalah sekalian. Bagaimana, kamu mau?" tanya pak Sony.


Aina diam, dia berpikir sejenak. Lalu, "Bisa sih pa, tapi apa ngga merepotkan nanti sama istri bapak?" tanya Aina ragu.


"Kalau menurut saya sih ya mending bareng saya aja. Nanti setelah di sana, saya langsung menghubungi asisten pribadi CEOnya. Biar nanti kamu langsung ke tempat tinggal sementara itu." kata pak Sony.

__ADS_1


"Bapak kenal dengan CEO barunya?" tanya Aina.


"Ya kenal domg Ai, kamu ini ada-ada aja. Saya kepala cabang yang mengurusi anak cabang perusahaan, jadi saya kenal. Kita sering meeting kan sama CEOnya."


"Ya baiklah, saya ikut pak Sony saja berangkatnya. Tapi istri pak Sony ngga keberatan kan?" tanya Aina memastikan.


"Iya, tenang aja. Istri saya juga pasti senang di jalan ada temen buat ngobrol." kata pak Sonya, Aina tersenyum senang.


"Pak, boleh ijin hari ini pulang?" tanya Aina kemudian.


"Mau apa kamu izin tengah hari?" tanya pak Sony heran.


"Mau mengantar ibu belanja, pak." kata Aina jujur.


"Oh, ya udah ngga apa-apa. Untuk tiga hari ke depan kamu agak santai di kantor, tapi ngga boleh bolos kerja!"


"Siip, pak. Ngga akan bolos, cuma santai aja. Saya kan pegawai teladan pak." ucap Aina dengan percaya diri. Pak Sony hanya mencebikkan bibirnya.


"Ya udah, pak. Saya keluar dulu, sebelumnya saya ucapkan terima kasih pada bapak yang telah memberikan kesempatan untuk kemajuan karir saya." kata Aina sambil membungkukkan badan tanda hormat.


Lalu Aina keluar dari ruangan pak Sony setelah bosnya itu memberinya izin. Dia langsung merapikan mejanya setelah sampai. Dia melirik jam di tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Setelah sudah beres, dia langsung pergi dari meja kerjanya dan langsung menghubungi ibu serta adiknya.


_


"Assalamu alaikum Bu, Aina lagi di jalan nih. Ibu sudah berangkat belum?" tanya Aina pada ibunya melalui telepon.


"Walaiakum salam. Iya nih, baru mau siap-siap." jawab ibu di seberang sana.


"Ya udah, nanti Aina tunggu di butik dulu aja ya, biar ngga bingung nyarinya." kata Aina.


"Ya udah. Ini ibu sudah mau otewe"


"Oya Bu, Jhody udah di kasih tahu belum? Kalau belum, biar Aina yang kasih tahu." kata Aina.


"Ibu belum ngasih tahu. Ya udah kamu aja yang ngasih tahu, kan kamu juga yang ngajak." kata ibu.


"Wa Alaikum salam."


Lalu Aina pun mencari nomer adiknya,kemudian teleponpun tersambung.


"Assalamu Alaikum, Jhody?"


"Wa Alaikum salam, kak. Ada apa?"


"Kamu jadi ngga ikut kakak jalan-jalan?"


"Jadi dong, kak."


"Tapi kamu ngga bolos kan sekolahnya?"


"Ya enggaklah, memang hari ini belajarnya cuma sampe jam dua belas. Guru-gurunya ada rapat dengan kepala sekolah."


"Oh, ya udah. Kamu datang aja ke butik langganan ibu." kata Aina.


"Ngga di jemput nih? ongkos Jhody soalnya kurang. Kan jauh tempatnya dari sekolah." kata Jhody beralasan.


"Kamu pake aplikasi ojek online aja, nanti kakak yang bayar di sini."


"Oke kak. Assalamu Alaikum."


"Wa Alaikum salam.."


Aina menutup teleponnya, yang berbarengan dengan taksi berhenti di depan pagar butik. Aina mengeluarkan lembaran warna merah dan menyerahkannya ke supir taksi. Supir taksi hanya mengangguk.


Lalu Aina pun keluar dari taksi dan langsung masuk ke dalam butik. Dia di sambut oleh pegawai butik dengan ramah.


"Selamat siang, mba. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai itu sopan.


"Saya memang mau cari baju, tapi lagi tunggu ibu saya dulu. Lagi di jalan. Boleh lihat-lihat dulu?" tanya Aina.

__ADS_1


"Oh, boleh silakan mba banyak pilihan. Mari silakan, mba." kata pegawai itu.


"Ya, terima kasih." Aina tersenyum lalu mengikuti pegawai tersebut. Dia melihat-lihat baju-baju yang menggantun rapi, mencari-cari yang cocok untuk dirinya.


Tak lama melihat-lihat,ponsel Aina berbunyi. Dua panggilan dari ibu dan adiknya. Kemudian dia balik melangkah ke depan pintu masuk. Dia melihat ibunya yang sudah mau masuk butik. Aina melambaikan tangannya dan tersenyum pada ibunya.Kemudian ibunya menghampiri Aina.


"Kamu udah lama, Ai?" tanya ibunya.


"Baru lima menit Bu.Oya, Aina keluar dulu jemput Jhody." kata Aina.


"Lho, katanya udah di kasih tahu, kenapa di jemput. Suruh naik ojol aja." ucap ibu Erni.


"Iya, ini anaknya sudah ada di depan parkiran Bu. Minta di bayarin ongkosnya." kata Aina sambil keluar.


Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja,lalu ibu Erni langsung ke tempat pakaian wanita dan memilih-milihnya.


"Lama banget sih kak keluarnya?" tanya adiknya sewot.


"Tadi ibu juga baru datang." kata Aina.


"Kasihan tuh Abang ojolnya nungguin lama." kata Jhody masih muka masam.


"Iya bawel, di bayarin aja pake marah-marah terus. Sana masuk dulu." ucap Aina mulai kesal pada adiknya itu.


"Iya."


"Nih bang, maaf ya lama."


"Iya ngga apa-apa mba."


Lalu Aina bergegas masuk kembali dan mencari ibunya di dalam. Dia melihat ibunya sedang memilih-milih baju yang di dampingi oleh pegawai butik yang dengan setianya mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Di belakangnya adiknya mengikuti dengan wajah kesal.


Berulangkali dia merengek pada ibunya untuk cepat mengambil baju yang dia sukai,namun ibunya masih saja memilih-milih apa yang dia suka. Aina menghampiri ibu dan anak itu.


"Jhody, kamu kenapa cemberut aja?" tanya Aina memegang pundak adiknya.


"Ini nih kak, ibu lama banget milih-milih bajunya. Kan kasihan tuh mbanya, kecapean ngikutin ibu terus." jawab Jhody dengan wajah masam.


"Kamu kalau cape duduk aja sana tuh di pojokan, ada bangku buat nungguin. Bawel banget sih kamu!" kata ibu ketus.


Aina hanya menghela napas,sedangkan adiknya masih dengan wajah kesalnya.


"Bu, sebentar lagi sore. Milih bajunya jangan lama-lama yah, kita juga belum belanja yang lainnya kan Bu?" kata Aina mengingatkan perdebatan ibu dan anak itu.


"Iya, nanti bentar lagi juga dapat bajunya Ai, belum ada yang cocok aja. Kalo beli mendadak begini ya ini resikonya. Lama." jawab ibu beralasan.


"Ya udah ya Bu, Aina duduk-duduk aja di sana sama Jhody." kata Aina akhirnya, memang lama juga ibunya berbelanja baju di butik.


"Kamu ngga milih-milih baju Ai?" tanya ibu Erni.


"Ngga Bu. Baju Aina banyak yang belum ke pake.Udah ibu aja yang beli."


Lalu Aina pergi menghampiri adiknya yang sedari tadi cuma cemberut. Duduk di sampingnya sambil mengobrol agar adiknya itu tidak kesal pada ibunya.


Tak berapa lama, ibu menghampiri kedua anaknya yang sedang asyik bermain ponselnya masing-masing.


"Udah selesai Bu?"


"Udah,ayo kita langsung bayar aja. Kelamaan di sini nanti tambah ngiler." Aina hanya mengernyitkan dahi heran.


"Ya udah ayo. Kita langsung ke mall."


Lalu ketiganya pergi meninggalkan butik dengan menenten beberapa paperbag di tangan. Dan jadi pembawa barang tentu saja anak bungsunya, Jhody yang sejak tadi hanya cemberut saja.


_


_


*****************

__ADS_1


__ADS_2