
Sepulang dari jalan-jalan, Riyan langsung pamit untuk berangkat lagi ke Jakarta karena sudah sore. Dia meyakinkan Aina bahwa segera datang orangtuanya akan untuk melamar Aina secara resmi. Dia tidak mau menunda-nunda sesuatu yang baik.
Bila perlu orang tuanya datang pernikahan itu langsung terjadi walaupun secara sederhana.Sedangkan Aina berangkat hari Minggu siangnya naik kereta. Sebenarnya Riyan menawarkan berangkat bareng, tapi Aina menolaknya karena masih ingin bersama keluarganya.
Sampai di Jakarta, malam hari Riyan langsung ke rumah orangtuanya. Dia langsung menemui ibu Sarah untuk membicarakan lamaran dan pernikahannya dengan Aina.
"Ma, papa mana?" ketika sampai rumah dan hanya menemui mamanya saja di rumah.
"Tumben cari papa, ada apa?" tanya ibu Sarah heran.
"Riyan mau bicara serius dengan papa dan mama juga. Papa kemana?" jawab Riyan.
"Papa lagi keluar sebentar katanya, memang mau bicara apa?" tanya ibu Sarah makin penasaran.
"Ya udah bicaranya tunggu papa pulang, cuma sebentar kan?" kata Riyan lagi yang masih penasaran mamanya.
Tapi ibu Sarah diam saja. Riyan pun berlalu dari hadapan ibu Sarah menuju kamarnya. Dia ingin berbaring di kasurnya karena merasa sangat cape. Tak terasa Riyan tertidur dengan pulas, rasa lelah dan kantuknya tak tertahan.
Tok-tok-tok..
Suara ketukan pintu di kamar Riyan. Dua kali tidak ada sahutan, lalu pintu di buka perlahan. Ternyata tidak di kunci. Ibu Sarah masuk dan melihat anaknya sedang tidur pulas.
Kemudian dia keluar lagi dari kamar anaknya itu karena tidak tega untuk membangunkannya. Menunggu anaknya bangun dari tidurnya, mungkin dia kelelahan seharian bekerja.
"Bagaimana ma, masih tidur?" tanya pak Johan pada istrinya.
"Masih,,pa." jawab ibu Sarah.
"Ngga di bangunkan aja?"
"Ngga tega lihatnya, sepertinya dia kelelahan banget pa." kata ibu Sarah.
"Memang dia mau bicara apa?"
"Di tanya tadi ngga jawab. Ya udah tunggu dia bangun aja, kalaj ngga sekarang ya besok aja."
"Ya udah, kita juga butuh istirahat kan ma."
"Iya pa, ya udah ayo kita tidur." ajak istrinya itu.
"Tidur aja nih ma? Ngga ada yang lain?" goda pak Johan pada istrinya.
"Ish,si papa suka begitu deh. Biasanya juga main sosor aja." ucap istrinya tak mau kalah. Pak Johan malah tertawa.
"Siapa yang main sosor aja ma?" tanya Riyan yang tiba-tiba sudah ada di belakang mamanya.
Mulutnya masih menguap dan tangannya mengucek mata yang masih ngantuk. Dia duduk di sofa, mencoba untuk menyadarkan diri dan mengingat apa yang akan dia bicarakan dengan kedua orang tuanya.
"Eh, kamu udah bangun?" kata ibu Sarah.
"Iya ma, Riyan kan mau ngomong sama papa dan mama juga." kata Riyan.
"Serius banget ya sampai harus papa mama juga." kata ibu Sarah.
"Iyalah ma, kan ini menyangkut masa depan Riyan." kata Riyan, membuat ibu Sarah dan pak Johan saling pandang.
"Ya sudah, ngomong aja sekarang." kata pak Johan.
"Begini pa, ma. Kemarin Riyan pergi ke Cirebon." kata Riyan menjeda ucapannya.
"Mau apa pergi ke Cirebon?" tanya mamanya penasaran.
"Ma, tunggu Riyan selesai ngomong dong." ucap suaminya. Riyan mendesah lalu tersenyum.
"Riyan kemarin habis meelamar Aina ma ,pa." ucap Riyan hati-hati, karena akan membuat kaget ibunya.
__ADS_1
"Ah yang bener?Kok ngga bilang-bilang dulu sama mama papa sih Yan?" protes mamanya.
"Meelamarnya dadakan ma, karena ngga ada rencana tadinya." kata Riyan.
"Kok bisa begitu? Bagaimana ceritanya?" ibu Sarah terus saja bertanya.
"Ma, biar Riyan selesaikan dulu ceritanya." kata pak Johan pada istrinya yang tidak sabar dengan cerita anaknya.
"Ya habis mama penasaran aja, pa. Masa melamar kita ngga tahu." kilah ibu Sarah.
"Ya makanya dengarkan dulu, pasti punya alasan anakmu melakukan itu. Papa jadi emosi nih lama-lama sama mama." ucap pak Johan kesal.
"Udah pa,,ngga apa-apa kok. Niat Riyan sih tadinya mau main aja kesana, tapi setelah di sana ada temannya Aina datang juga. Awalnya juga Riyan pesimis dengan kehadiran temannya itu,,tapi ngga tahu bicara apa sama Aina temannya pulang ngga melanjutkan lagi niatnya."
"Niat melamar juga?"
"Mungkin."
"Ya tanpa pikir panjang, Riyan langsung minta sama ayahnya."
"Terus di terima?"
"Ya aku pancing buat Aina yang memastikan kalau lamaranku langsung di terima. Riyan yakin Aina juga cinta sama Riyan, makanya aku langsung lamar dia." diam sejenak.
"Jadi, bagaimana?"
"Di terima dan mama sama papa suruh melamar secara langsung. Kalau bisa Minggu depan mama papa ke sana dan langsung menentukan pernikahan secepatnya." kata Riyan seolah tidak sabar ingin segera menikah dengan Aina.
"Duh, yang pengen cepat nikah. Jadi ngga sabar untuk melamar." ledek mamanya sambil tersenyum.
"Ya aku ngga mau lama-lama ma. Dulu kan mama menyuruh Riyan cepat nikah." kata Riyan.
"Bagaimana pa?" tanya ibu Sarah.
"Boleh, lebih cepat lebih baik." jawab Riyan dengan penuh semangat.
"Tapi setuju ngga calon mertua kamu habis lamaran besoknya menikahkan putrinya?" tanya pak Johan. Riyan tampak berpikir.
"Nanti Riyan tanya sama Aina mau ngga begitu." kata Riyan.
"Ya udah, mama tunggu keputusan dia aja. Jika memang harus menikah secepatnya juga mama dan papa tidak masalah. Dan lagi pula, yang pengen cepat menikah sepertinya sudah ngga sabar aja nih." kata ibu Sarah.
"Jelaslah ma, kan anakmu itu lelaki sejati. Meminta secara langsung dengan dadakan pula, kemudian langsung menikah. Jarang kan yang seperti itu." kata pak Johan.
"Ya, terserah kamu aja Riyan. Mama sama papa hanya mendukung keputusan kamu itu." kata ibu Sarah lagi.
Riyan senang, pembicaraan pun selesai tanpa ada kendala apa pun. Tinggal satu masalah bicara dengan ayahnya Aina saja.
_
Minggu sore Aina berangkat ke Jakarta lagi, karena besok harus masuk kantor. Dia juga menghubungi Riyan jika dia sudah biak kereta menuju Jakarta. Dan Riyan akan menjemputnya di stasiun nanti malam.
Tiga jam di kereta, akhirnya sampai juga di Jakarta. Di stasiun sudah menunggunya untuk menjemput calon istrinya. Di pintu keluar, Riyan mencari-cari Aina. Tak lama Aina pun muncul, senyum termanis Aina tampilkan pada Riyan. Dia sangat senang tak terkira.
Lalu Riyan menghampiri Aina dan mengambil koper dari tangan Aina. Senyuma Aina tak lepas dengan manisnya perlakuan Riyan yang membukakan pintu untuknya.
"Kamu lelah?" tanya Riyan lembut. Aina hanya mengangguk saja.
"Udah makan belum?" tanya Riyan lagi.
"Kalau malam sih belum." jawab Aina malu-malu.
"Ya udah, kita cari makan dulu."
"Iya."
__ADS_1
Lalu keduanya mencari makan yang terdekat dengan stasiun. Riyan ngga mau Aina semakin lapar jika harus muter-muter cari tempat yang enak.
"Kita makan di mana?" setelah mereka sudah naik mobil.
"Di sekita sini aja ya, takut kamu udah kelaparan." jawab Riyan.
"Ngga apa-apa kalau mas Riyan punya tempat makan favorit buat di kunjungi."
"Tempat favoritnya jauh dari sini, mending cari yang dekat aja. Ngga apa-apa kan?" tanya Riyan.
"Ngga apa-apa kok."
Tak berapa lama, Riyan menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang menyajikan olahan bebek.
"Wah, aku suka bebek goreng, mas." wajah sumringah Aina membuat Riyan tersenyum senang. Dia tidak menyangka hal sederhana seperti ini membuat Aina senang.
"Ayo masuk." kata Riyan sambil menggandeng tangan Aina masuk ke dalam restoran.
Setelah duduk, lalu memesan menu yang menggugah selera. Setengah jam pesanan pun datang. Tanpa menunggu lama lagi, Aina langsung melahap makanan yang tersaji. Riyan hanya memandangi Aina dengan senyum mengembang.
"Mas Riyan ngga makan?" tanya Aina masih menikmati makanannya.
"Kalau orang lapar, enak banget makannya ya. Lahap." ucap Riyan masih menatap Aina.
Aina hanya tersenyum, dia memang lapar sekali. Lalu Riyan pun ikut makan dengan lahap, dia juga sebetulnya sangat lapar.
"Ai, Minggu depan mama sama papa mau datang menemui ayahmu. Sekalian membicarakan hari pernikahan kita." kata Riyan di sela-sela makan mereka.
Aina yang sedang asyik makan, tiba-tiba berhenti dan menatap Riyan.
"Nanti beritahu ayah ya, kalau orang tuaku Minggu depan akan datang." sambung Riyan lagi.
"Mm, emang rencananya kapan menikahnya?" tanya Aina ragu.
"Pengennya sih habis lamaran resmi, langsung nikah besoknya." kata Riyan santai. Dia melirik Aina yang tampak tegang.
"Kenapa?" tanya Riyan melihat wajah tegang Aina.
"Apa ngga terlalu cepat mas, maksudnya mendadak kan?",tanya Aina ragu.
"Lebih cepat lebih baik. Dan kalau kamu bicara sama ayah besok, ngga mendadak kok."
"Ya udah, besok pulang kantor aku telepon ayah ya, agar nanti aku aja yang ngomong sama ayah." kata Riyan lagi
"Ya udah, terserah mas Riyan aja." kata Aina pasrah.
"Kenapa? Kok sepertinya terpaksa jawabannya." tanya Riyan heran.
"Ngga kok mas, cuma kaget aja. Mendadak begitu, aku ngga tahu ayah akan setuju apa ngga.",jawab Aina ragu.
Sesungguhnya dia sangat gugup jika dia dalam waktu dekat sudah jadi istri Riyan. Apa lagi membayangkan malam pertama dengan Riyan, bagaimana nantinya.
"Ayah pasti setuju." kata Riyan yakin.
"Kok bisa seyakin itu?" tanya Aina lagi.
"Yakinlah, karena anaknya akan bahagia bersama orang yang tepat." jawab Riyan penuh percaya diri.
Aina hanya tersenyum, entah apa yang dia pikirkan. Dan dia memang sangat yakin ayahnya akan menyetujui rencana Riyan itu.
_
_
*****************
__ADS_1