
Sudah jalan sembilan bulan kandungan Aina, dia sudah merasa kerepotan dan sering merasa lelah. Minggu yang lalu dia sudah pindah ke rumah mertuanya, untuk berjaga-jaga kalau mendadak Aina melahirkan. Jadi ada yang bisa di mintai tolong, yaitu ibu Sarah atau pembantunya.
Memang mertuanya menyarankan harus pindah rumah, dan karena Riyan belum sempat membeli rumah. Jadi dia di sarankan untuk tinggal sementara menjelang melahirkan sampai empat puluh hari setelah melahirkan.
Kini Aina sedang berjalan santai di hari Minggu pagi dengan suaminya, tanpa memakai alas kaki. Kakinya sudah mulai bengkak, jadi pagi-pagi harus sering jalan-jalan untuk melancarkan jalan lahir anaknya nanti.
"Kamu ngga capek sayang?" tanya Riyan menggandeng istrinya yang jalan pelan sekali.
"Capek mas, tapi aku suka kok. Jalan pagi sama kamu rasanya menyenangkan." kata Aina dengan senyum mengembang.
"Emm, sayangnya cuma hari Minggu aja ya. Coba setiap hari." kata Riyan.
"Aku kan setiap pagi jalan-jalan mas, kadang kamu ngga ikut karena setelah sholat subuh suka tidur lagi." kata Aina.
"Emm, aku mengantuk sayang. Kamu tahu sendiri kalau sekarang aku sering pulang malam. Maafkan aku ya, nanti aku sering ajak kamu jalan-jalan pagi lagi." kata Riyan.
"Kita beli bubur ayam aja di pinggir jalan itu ya mas. Aku pengen makan bubur ayam sarapannya." kata Aina menunjuk pedagang bubur ayam di gerobak kaki lima.
"Tapi kamu kuat ngga jalan sampai sana?" tanya Aina.
"Kuat kok." jawab Aina, meski dia sudah merasa lelah.
"Kenapa perutnya di pegang begitu?" tanya Riyan mulai curiga.
"Ngga apa-apa mas, ayo jalan aja ke gerobak bubur ayam itu." kata Aina merasa sedikit lagi mereka sampai di penjual bubur ayam gerobak.
Kini mereka sampai, meski tadi Aina merasa sedikit keram perutnya. Namun dia masih bisa menahannya karena sejak tadi dia ingin makan bubut ayam yang pedas dan banyak duan bawangnya. Dia membayangkannya sampai menelan ludah karena ingin sekali makan bubur ayam itu.
Mau tidak mau Riyan menuruti kemauan Aina. Dia juga baru kali ini Aina memaksa meminta makan makanan, karena biasanya sejak hamil tidak pernah meminta apa pun atau mengidam makanan apa saja.
Mereka duduk di bangku panjang, Riyan memijat kaki istrinya dengan lembut. Dia merasa kasihan sejak dari rumah orang tuanya berjarak hampir satu kilo meter, Aina terus berjalan. Jadi dia merasa kasihan dengan Aina yang membawa perut besar harus berjalan sejauh hampir satu kilo meter.
"Makan di sini atau di bungkus bu?" tanya tukang bubur ayam.
"Di sini aja mas, sekalian istirahat." jawab Aina.
"Baik bu."
Tukang bubur itu pun meracik bubur ayam dua porsi untuk Aina dan Riyan. Aina merasa lebih baik setelah di pijat suaminya. Entah nanti apakah pulang ke rumah mertuanya itu harus jalan lagi atau naik angkot saja.
"Pulang naik angkot ya." kata Riyan.
"Iya mas, sekarang baru merasa capek sekali. Kaki juga sedikit berat tadi itu." kata Aina.
"Hemm, tadi di bilangin ngeyel sih." ucap Riyan.
"Ya kan, ngga terasa mas jalan sejauh hampir satu kilo meter. Kalau jalan sendiri paling dua rumah dari rumah mama terus balik lagi itu juga cukup lelah." kata Aina memakan bubur ayamnya.
"Terus, sekarang karena jalan sama aku. Kamu terlalu senang?" tanya Riyan.
"Heheh, iya mas. Soalnya kan jarang kita jalan berdua." kata Aina menyuap kembali buburnya.
Kali ini Riyan mengelap bibir Aina yang belepotan makan bubur, Aina hanya tersenyum saja. Dan mereka makan bubur dengan santai, setelah itu keduanya pun pulang dengan menaiki angkot.
_
Dua hari setelah jalan-jalan pagi hari Minggu itu, perut Aina merasa mulas. Di dalam kamar, siang hari dia merasa perutnya keram. Meringis kesakitan, namun dia tahan. Aina bangun dari tidurnya, dia hendak kekiar dari kamar untuk menemui mertuanya dan bertanya apakah sudah ada tanda-tanda melahirkan.
Namun, baru saja melangkah. Dari bawahnya dia merasakan rembesan air keluar. Dia panik, buru-buru dia ambil ponselnya dan menghubungu suaminya. Tersambung namun belum di jawab, Aina gelisah.
Akhirnya dia memutus sambungan, dia keluar dari dalam kamar dan menuju ruang dapur. Jika tidak menemui mertuanya, maka akan bertemu pembantunya.
__ADS_1
"Mbok Sum, mama kemana?" tanya Aina lirih dengan menahan perutnya yang mulai sakit.
"Eh, non Aina kenapa?" tanya mbok Sum.
"Perutku sakit mbok, mungkinkah mau melahirkan?" ucap Aina masih meringis.
"Aduuh, duduk dulu di kursi ya non. Saya panggilkan ibu dulu di kamar." kata mbok Sum.
"Iya mbok. Sssshh, eeuh." kata Aina menahan sakitnya.
Mbok Sum pun bergegas pergi meninggalkan Aina, dia menuju kamar ibu Sarah untuk memberitahu menantunya mau melahirkan. Mbok Sum juga ikut cemas dengan Aina, karena dia melihat air ketuban sudah keluar.
Tok tok tok
"Nyonya, tolong buka pintunya!" teriak mbok Sum.
Klek!
Pintu terbuka, ibu Sarah heran kenapa pembantunya itu panik bukan main.
"Ada apa mbok?" tanya ibu Sarah.
"Non Aina sepertinya mau melahirkan, dia ada di meja makan nyonya sedang duduk menahan sakit. Tadi saya lihat air ketubannya merembes keluar." kata mbok Sum.
"Ya Allah, cepat kamu katakan sama supir untuk siapkan mobil. Apa Riyan sudah tahu?" tanya ibu Sarah ikut panik juga.
"Saya tidak tahu nyonya, mungkin belum. Karena keluar dari kamarnya non Aina seperti sudah menahan sakit." ucap mbok Sum.
"Ya sudah, ngga apa-apa. Nanti di jalan di telepon, kamu cepat beritahu supir untuk siapkan mobil. Lalu ambil perlengkapan melahirkan di kamar Aina ya." kata ibu Sarah.
Dia bergegas menuju meja makan, terlihat Aina sedang meringis memegangi perutnya. Dengan cepat dia menghampiri menantunya itu.
"Tadi di telepon, tapi belum di angkat. Aku keburu sakit mah. Eeeuh!" ucap Aina.
"Ayo kita ke mobil, supir sudah menyiapkan mobil. Nanti mbok Sum ambil perlengkapan melahirkan, Riyan nanti di jalan mama yang kasih tahu." kata ibu Sarah.
Mereka lalu bergegas keluar rumah menuju mobil yang sudah di siapkan. Aina menahan sakitnya yang berulang-ulang itu. Dia masuk ke dalam mobil kemudian di susul oleh ibu Sarah. Mbok Sum datang membawa tas besar berisi perlengkapan bayi dan milik Aina setelah melahirkan.
"Jalan mang, kita ke rumah sakit." kata ibu Sarah.
"Baik bu."
Ibu Sarah lalu mengambil ponselnya, dia menghubungi anaknya yang masih berada di restoran. Terhubung tapi belum di angkat, sedang apa dia? Pikir ibu Sarah.
Namun dia sekali lagi menghubungi anaknya, Riyan. Tersambung dan di jawam.
"Halo ma? Ada apa, tadi Aina menelepon aku sedang rapat." kata Riyan di seberang sana.
"Istrimu mau melahirkan, kamu ke rumah sakit aja langsung ya. Ini mama sama Aina mau ke rumah sakit, jadi kamu langsung ke rumah sakit aja." kata ibu Sarah.
"Ooh, benarkah? Anakku mau keluar?!" tanya Riyan dengan semangat.
"Iya cepat kamu ke rumah sakit ya."
"Iya ma, aku segera ke rumah sakit. Tapi rumah sakit apa,"
"Rumah sakit Husada, yang dekat aja."
"Iya ma, tapi Aina baik-baik aja kan?"
"Orang mau melahirkan mana ada baik-baik aja. Yang ada sakit Riyan, kamu itu pertanyaannya ada-ada aja. Ya sudah, mama tutup dulu teleponnya.
__ADS_1
"Iya ma, aku segera kesana."
Klik!
Beberapa menit kemudian, mobil sampai di rumah sakit, mereka lalu keluar. Di sambut oleh petugas jaga di baguan UGD. Ibu Sarah segera memberitahu jiia menantunya mau melahirkan. Mereka pun membawa Aina ke dalam ruang bersalin, untuk membantu melahirkan Aina.
Selang dua puluh menit, Riyan datang dengan berlari kecil. Dia begitu khawatir keadaan Aina dan juga anaknya. Merasa penasaran, akhirnya dia pun masuk ke dalam ruang bersalin menemani Aina yang sedang berjuang melahirkan anaknya.
Riyan tampak kasihan, dia ingin menangis melihat Aina menjerit dan menarik nafas panjang. Dokter memberitahu pada Riyan kalau suaminya harus memberi semangat pada istrinya yang mau melahirkan.
"Sayang, sabar ya. Sebentar lagi anak kita keluar. Kamu harus semangat." kata Riyan membisik di telinga Aina.
"Tapi sakit banget mas, hik hik hik." kata Aina menangis.
"Kata dokter kalau sudah lahir anak kita, pasti hilang rasa sakitnya kok." kata Riyan mengecupi kepala Aina.
"Eeeeuuuh, mas ini mau keluar."
"Iya, bu tahan ya. Kami menyiapkan dulu peralaratannya."
Dokter di bantu suster mempersiapkan peralatan melahirkan, seperti mau membedah orang di operasi. Aina sudah tidak tahan, dia ingin mengejan sekuatnya agar keluar anaknya. Baru setelah selesai, dokter membimbing Aina untuk mengejan lalu tarik nafas.
Beberapa kali Aina mengejan, dia sampai putus asa karena anaknya belum juga keluar. Riyan terus memberi semangat pada istrinya. Dan tak lama, satu kali Aina mengejan. Suara tangis bayi pun keluar.
Oek oek oek!
Riyan tampak senang, dua akhirnya menarij nafas lega. Tapi kemudian dia melihat istrinya lunglai, Riyan panik. Dokter menepuk pipi Aina dan dia pun sadar kembali.
"Syukurlah sayang, aku takut banget kamu ...."
"Apa sih mas, aku lelah habis mengejan kuat. Wajar aja aku mengantuk." kata Aina.
"Aku hanya takut aja sayang."
"Nah, pak ini anaknya saya bawa ke ruang inkubator dulu ya. Dia jagoan, selamat ya pak." kata dokternya.
"Terima kasih. Tapi nanti anak saya di baea kesini lagi kan?" tanya Riyan.
"Tentu saja pak, kami membersihkannya dulu. Baru nanti setelah bersih di berikan sama ibunya untuk di tempelkan sama asinya." kata dokter.
Kemudian dokter dan suster membersihkan bagian sisa-sisa melahirkan. Riyan keluar menunggu anaknya kembali. Dia sangat senang, ibunya pun memeluk Riyan dengan rasa senang karena cucu jagoannya sudah lahir.
"Mama senang rasanya, Yan. Cepat kamu beritahu mertuamu, telepon mereka bahwa cucunya sudah lahir." kata ibu Sarah.
"Oh ya benar, aku telepon ayah dulu ma." kata Riyan.
Dia pun menelepon mertuanya yang ada di Cirebon. Dengan senang hati pak Edi mendengar bahwa Aina sudah melahirkan. Dia nanti akan datang bersama istrinya dan adiknya Aina.
Kebahagiaan Riyan cukup sudah, mempunyai istri yang baik dan juga mempunyai anak laki-laki. Sudah cukup bagi Riyan bahwa harta paling berharga adalah anak dan istrinya. Setelah itu dia akan membeli rumah yang dekat dengan ibunya.
Aina juga bahagia bisa melahirkan dengan selamat, memberikan kebahagiaan pada suami dan juga keluarganya. Senyum Aina mengembang, dia benar-benar bahagia mempunyai suami seperti Riyan dan juga jagoan kecil. Tidak ada yang akan selalu mengalami.kegagalan dalam sebuah percintaan pada seorang, Aina juga percaya bahwa kebahagiaan akan selalu datang ketika dia sudah bersabar menerima nasib buruk padanya, terutama masalah cinta.
_
_
\=\=> terima kasih yang sudah setia dgn cerita othor ya, semoga kalian selalu di beri kesehatan dan kemudahan dalam mencari rezeki. Amiiinn.. ππππβΊοΈ
>>>>>>>>>>>>>>>> the end <<<<<<<<<<<<<<<<<
**************
__ADS_1