
Seperti apa yang Riyan katakan, pulang dari kantor dia menghubungi calon mertuanya. Dia memberitahukan semua rencana orangtuanya dan rencana pernikahannya. Ayah Aina setuju saja dengan semua rencana calon menantunya itu.
Bukan dia mau mengikuti rencana Riyan, dia tidak mau Aina terlalu lama sendiri. Bagi ayahnya kebahagiaan anaknya itu lebih penting. Mungkin akan ada gunjingan dari saudara dan tetangga mengapa Aina menikah secara mendadak. Dia akan diam dan tidak menghiraukan omongan orang.
"Oke, ayah setuju dengan rencana kamu. Besok ayah akan urus semuanya." kata pak Edi ketika Riyan menghubunginya sora hari.
Riyan tampak senang dengan tanggapan calon mertuanya. Dia menatap Aina yang juga sama senangnya seperti dirinya.
"Iya yah. Untuk resepsi di Jakarta ngga apa-apa kan?" kata Aina.
"Ya terserah kalian saja, bagaimana baiknya." kata pak Edi lagi.
"Alhamdulillah, terimakasih ayah. Nanti Aina akan saya minta ijinkan pulang hati Jum'at."
"Ya, ayah juga akan memberitahu semua tetangga, agar tidak ada gosip jelek dari mereka." kata pak Edi.
"Iya ayah. Kalau begitu, saya tutup teleponnya. Assalamu alaikum." kata Riyan.
"Wa alaikum salam."
Klik!
Sambungan telepon itu terputus. Aina menunduk, dia tidak percaya ayahnya akan menyetujui rencana dadakan itu. Tapi dia senang, pada akhirnya ada orang yang dengan berani meminta pada ayahnya tanpa ragu dan penuh keyakinan.
Dia pandangi wajah Riyan yang tampak sibuk merapikan file-file kerjanya. Saat ini Aina di tempat restoran Riyan, di kantornya tepatnya. Aina sungguh bahagia, benar-benar bahagia.
Lalu Riyan menghampiri Aina yang masih menatapnya. Dia tarik tangan Aina lalu di pegang ya erat.
"Aku benar-benar cinta sama kamu. Makanya aku ngga sabar ingin memiliki dirimu seutuhnya." ucap Riyan romantis.
"Terima kasiblh mas Riyan mau menerima aku. Aku yang selalu kaku dan ngga bisa bergaul dengan orang." ucap Aina terharu.
"Sst, .... Aku cinta kamu karena memang aku cinta kamu." kata Riyan.
"Hahah! Kok begitu sih, di ulang-ulang. Sama aja kan mas.",kata Aina,dia sangat lucu dengan kalimat yang di ucapkan Riyan.
"Huh ... mau romantis malah di tertawakan. Ya udah kita pulang aja." ucap Riyan pura-pura kesal.
"Eh, mas Riyan marah?." kata Aina merasa bersalah.
Riyan tersenyum, dia menarik tubuh Aina dan memeluknya erat. Dia berpikir di kantor keadaannya sudah sepi, karyawan sudah pulang semua. Jadi dia bebas bermesraan dengan Aina di kantor.
__ADS_1
"Aku ngga marah kok, cuma lucu aja. Kamu ngga bisa mesra ya, dan selalau di anggap bercanda." kata Riyan.
"Maaf mas Riyan, aku ngga tahu kalau mas Riyan benar begitu."
"Begitu apa?"
"Yaa, begitu."
"Iya, begitu apa?"
"Ish, udah deh. Sekarang aku yang kesal sama mas Riyan." ucap Aina merajuk.
"Hahah!"
Lalu Aina bangkit dari duduknya mengikuti Riyan yang sudah berdiri. Lalu mereka pulang, tak lupa Riyan mengantar Aina sampai kos-annya.
_
Setelah menikah nanti, Riyan punya banyak rencana. Dia ingin Aina keluar dari kantor Wisnu dan dia tarik ke restorannya untuk membantunya. Dia yakin Aina tidak akan mau jika harus diam di rumah sebelum mereka punya anak. Sebuah rencana yang matang sudah dia susun.
Tapi sebelumnya dia akan mencarikan pengganti Aina agar Wisnu tidak marah-marah dan kebingungan sendiri.
Hari yang di tunggu akhirnya datang juga. Hari Sabtu keluarga Riyan sudah ada di Cirebon dan malamnya kedua orangtuanya sudah bertandang ke rumah Aina, dan melamar secara resmi. Mereka sebelumnya menghubungi ibu Irma untuk menampung rombongan keluarga inti Riyan saja. Karena memang rencananya resepsi pernikahan di adakan di Jakarta.
Awalnya semua heran kenapa bisa mendadak, jadi dengan seadanya di jelaskan oleh keluarga Aina. Sehingga tidak ada lagi gunjingan negatif pada anaknya itu.
Pukul sembilan rombongan mempelai laki-laki sudah datang. Riyan tampak gagah dengan setelan jas hitam dan sarung. Karena memang adat di sana jika acara akad nikah mempelai laki-laki yang akan ijab kabul harus memakai sarung dan jas.
Baru setelah bersanding di pelaminan berganti pakaian. Rasa gugup dan deg-degan di rasakan Aina. Dia menunggu di dalam masjid yang di tutup oleh tirai. Aina di dampingi ibu Erni dan adiknya Shella, menunduk saja. Tangannya berkeringat dingin.
Setengah jam menunggu pak penghulu datang, karena penghulu sudah ada janji dengan pernikahan yang lain. Suasana tegang dan khidmat tercipta di sana. Tampak pak Edi yang berhadapan dengan Riyan yang akan mengucapkan ijab kabul. Mereka saling menatap dan tersenyum.
Penghulu memberi khotbah nikah dan setelah itu langsung ijab kabul pun terdengar. Dengan suara lantang dan semangat, Riyan mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas, dan di barengi teriakan 'sah' dari seluruh orang yang hadir dalam masjid.
Suara tepuk tangan dan senyum bahagia dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa penting bagi Aina dan Riyan. Kemudian setelah ijab kabul selesai, Aina keluar dari persembunyiannya. Lalu duduk bersebelahan dengan Riyan.
Dia menyalami tangan Riyan dengan takdim. Riyan mengusap kepala Aina dan mengangkat kepalanya lalu mengecup kening Aina. Setelah semua prosesi nikah selesai, baru kedua mempelai di sandingkan di depan rumah Aina yang sudah di dekorasi secara sederhana.
"Sayang, ngga apa-apa kan acaranya sederhana sekali? Toh ini juga maunya suami kamu." kata ayahnya pada Aina yang sudah ada di rumah.
"Ngga apa-apa ayah, Aina juga sudah senang kok. Lagi pula akan di adakan resepsi di Jakarta. Biar teman dan rekan bisnis mas Riyan bisa datang." ucap Aina.
__ADS_1
"Nanti kamu harus jaga selalu rumah tangga kalian, kalau ada masalah serius harus di bicarakan supaya masalah ngga berlarut-larut. Harus menurut sama suami." nasehat ayahnya.
"Iya yah, Insyaallah akan Aina laksanakan apa yang ayah katakan." jawab Aina. Dia sangat terharu dengan ayahnya.
Sekarang dia sudah bukan tanggung jawab ayahnya lagi, dia harus pandai menjaga rumah tangganya kelak.
_
Sore hari acara pernikahan sudah selesai, tamu dari tetangga dan kerabat sudah pada bubar. Tinggal Aina menunggu di kamar. Dia ingin segera mengganti baju yang membuatnya kepanasan. Dia ingin mandi dan ganti baju santai serta gosok gigi.
Selama Aina di dalam kamar mandi, Riyan belum juga masuk dalam kamar, dia masih sibuk mengobrol dan bercanda dengan keluarganya. Tapi ada yang kurang, dia tidak memberi tahu Wisnu. Biarlah dia tahu nanti setelah di Jakarta nanti. Mungkin nanti awalnya Wisnu akan marah.
Satu jam berbincang, orangtua dan kerabatnya pamit pulang ke rumah ibu Irma. Tak lupa dia mereka menitipkan anaknya pada orangtua Aina. Tentu saja itu hanya simbol dari tradisi yang ada.
Satu persatu mereka meninggalkan rumah pak Edi. Hingga magrib datang, Riyan baru masuk kamar. Dia mencari Aina di kamarnya, tapi tidak ada.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Istrinya ternyata sedang mandi. Riyan merebahkan badannya yang sudah kelelahan. Matanya tertutup, dia membayangkan malam pertama nanti. Lalu senyumnya mengembang.
Pintu kamar mandi sudah dan Aina pun keluar. Dia hanya memakai handuk kimono saja. Aina tersenyum melihat Riyan yang berbaring di kasurnya, lalu Aina keluar kamar menuju kamar Shella.
"Shella, kamu di kamar?" tanya Aina sambil mengetuk pintu.
Pintu kamar terbuka dan Shella muncul di balik pintu.
"Ada apa kak?" tanya Shella.
"Mm, ... kamu punya pembalut ngga?" tanya Aina ragu.
Shella tersenyum, lalu dia masuk mengambil pembalut yang di minta Aina. Dia ingin menjahili kakaknya.
"Wah, gagal malam pertama nih mas Riyan. Duh kasihan banget." ucap Shella meledek Aina.
Aina yang di ledek hanya tersenyum, lalu dia masuk lagi ke kamarnya. Aina masuk kamar dan buru-buru pergi ke kamar mandi karena dia melihat Riyan sudah bangun dari tidurnya.
Lima menit, Aina keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian santai.
"Mas Riyan sholat dulu." kata Aina setelah Aina duduk di sampingnya.
Riyan menarik tabuh Aina dan memeluknya erat. Dia kecup kening Aina beberapa kali lalu wajah Aina dia tarik ke depan wajahnya. Dia tatap lama, lalu di kecupnya bibir Aina. Baru beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan ambil air wudhu.
_
__ADS_1
_
**********************