Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
27. Gagal Kencan


__ADS_3

Selama Wisnu keluar kota, Aina selalu bekerja dengan Riyan. Tapi tiga hari setelah bepergiannya itu, Wisnu kembali kerja dan Riyan pun kembali mengurus bisnis restorannya. Seperti biasa, Aina menjadwal ulang semua kegiatan yang berantakan selama dua hari.


Yang kemarin bertemu klien gagal karena klien hanya mau bertemu dengan pemilik perusahaan saja, tidak mau di wakilkan. Pagi-pagi Wisnu sudah sampai di kantornya, dia seperti biasa di buatkan kopi pada Aina. Aina langsung tanggap dan segeraembuat kopi untuk atasannya itu.


Tok tok tok


"Masuk."


Lalu Aina masuk membawa kopi dan meletakkannya di meja, kemudian dia hendak melangkah pergi. Tapi Wisnu menahannya, dia memanggil Aina.


"Aina." panggilnya Wisnu.


"Ya pak?"


"Duduk dulu." perintahnya pada Aina.


Lalu Aina duduk di kursi depan meja bosnya itu. Menunggu perintah apa selanjutnya dari Wisnu untuknya. Wisnu masih sibuk merapikan berkas-berkasnya, kemudian dia menatap Aina yang menunggunya memberi perintah atau tugas.


"Ada apa pak?" tanya Aina.


"Besok malam kita pergi kencan." kata Wisnu langusng saja apa yang akan dia lakukan.


Aina memicingkan matanya, dia tampak berpikir. Kencan? Kencan dengannya?


"Maksudnya apa?" tanya Aina memastikan ucapan Wisnu.


"Kita akan makan malam besok. Karena besok hari Sabtu, aku mengajak kamu kencan Aina." kata Wisnu mantap.


Kursinya dia goyang-goyangkan ke kiri dan ke kanan. Aina hanya melihatnya dengan wajah kebingungan. Wisnu tersenyum, lalu dia menatap Aina lembut. Yang di tatap salah tingkah, sempat deg-degan di tatap seperti itu oleh Wisnu.


Wisnu tertawa lepas, membuat Aina makin salah tingkah. Wajahnya menunduk malu, Wisnu masih tertawa lepas. Membuat Aina semakin malu.


"Besok kamu pulang cepat, lalu dandan yang cantik. Nanti supir saya menjemput kamu di kosan." ucapnya lagi.


Aina masih menunduk, dia tersenyum tipis. Apa mungkin dia sudah menganggap aku pacarnya?pikir Aina. Biarlah, aku coba dekat dengan pak Wisnu.


"Kalau begitu, saya permisi pak." kata Aina.


"Aina."


"Ya?"


Wisnu mengeringkan matanya sambil tersenyum. Aina pun ikut tersenyum, dia tersipu. Lalu dia beranjak dari duduknya dan melangkah keluar ruangan Wisnu. Wisnu mendesah setelah Aina keluar, wajahnya menengadah ke atas sambil di pejamkan matanya.


Dia teringat tiga hari dalam pencariannya pada seseorang, yang selama ini mengganggunya. Dia akan mencoba berkencan dengan Aina dan melupakan orang yang selama ini membuatnya penasaran karena sekilas kehadirannya.


_

__ADS_1


Sepulangnya dari kantor, Aina langsung beres-beres kamarnya yang sejak tadi pagi berantakan. Karena dia buru-buru berangkat kerja. Lalu dia membersihkan tubuhnya yang terasa penat karena seharian dia dan Wisnu bekerja di luar kantor.


Setelah selesai mandi, dia membongkar lemari dan mencari baju yang pas buat makan malam dengan Wisnu. Tampak bersemangat Aina mempersiapkan dirinya, mulai memilih baju, merias wajah dan merapikan rambutnya. Dia ingin tampak sempurna, karena ini adalah kencan pertamanya.


Entahlah dia tidak tahu sikap Wisnu yang tiba-tiba manis, padahal Aina belum memberikan jawaban atas ucapan Wisnu Minggu lalu. Tapi Wisnu sudah menganggap Aina pacarnya.


Ting.


'Sedang apa?'


Satu notif pesan wasthap dari seseorang yang Aina tidak tahu. Tapi di situ tertulis nama 'orang ganteng'. Aina heran, siapa yang menamai nomer itu. Lalu dia membuka pesan itu,dia lihat Foto profil yang ada di pesan itu.


Dia tersenyum melihat siapa orangnya. Dia baru ingat, beberapa hari lalu Riyan meminta nomor teleponnya. Lalu dia mengetik pesan.


'Sedang duduk, balas pesan mas Riyan." tulis Aina sambil tersenyum. Notif bunyi lagi. Hanya emotikon tertawa yang di kirim Riyan.


'kamu udah pulang?'


'Sudah dari tadi.'


'Terus sekarang sedang apa? selain balas pesan aku?'


'Mau siap-siap pergi kencan.'


Ups!


'sama Wisnu?'


'Iya.'


Tulis Aina ragu-ragu. Dia gigit bibirnya, takut Riyan kecewa. Eh? Kengapa Aina berpikir seperti itu? Dia pejamkan matanya, lalu mendesah pelan.


'Ya udah, selamat berkencan.'


'Terima kasih mas Riyan.'


Aina meletakkan ponselnya, dia kembali berpikir. Entah mengapa hatinya kecewa. Sesuatu perasaan yang tidak di mengerti Aina. Tak lama, suara deru mobil berhenti di depan rumah kosnya. Aina melirik jam di dinding dan langsung siap-siap pergi menemui supir suruhan Wisnu itu.


_


Mobil pun berhenti di parkiran sebuah restoran mewah yang bertuliskan De'Riyan terpampang jelas di depan bangunan itu. Aina melihat nama restoran itu, dia mengingat nama restoran yang dulu dia singgah di restoran dengan nama yang sama De'Riyan. Apakah ini restoran milik mas Riyan? pikir Aina.


Dia melangkah ragu, di depan pintu dia di sambut oleh pelayan dengan ramah. Lalu Aina masuk ke dalam, dia tidak melihat satu orangpun yang makan di sana. Apakah Wisnu reservasi tempat ini?pikir Aina.


Pelayan menunjukkan tempat duduk yang sudah di pesan, lalu Aina pun duduk. Aina mengambil ponselnya dan melihat siapa yang mengirimi pesan.


'Maaf, aku telat datangnya.' di lihat jamnya terkirim dua puluh menit yang lalu.

__ADS_1


Dia letakkan lagi ponselnya di meja. Pelayan datang membawa minuman dan puding sebagai pembuka menu utama, sembari menunggu Wisnu datang. Aina pun meminum jus yang tadi di suguhkan lalu kemudian memakan puding yang sudah tersedia.


Sepuluh menit Aina menunggu,Wisnu belum juga muncul. Untuk mengurangi rasa bosan, Aina mengambil ponselnya dan bermain game di ponselnya. Tak lupa sebelum main game dia memotret makanan yang sebentar lagi habis itu. Sudah satu jam Aina menunggu,dia mengakhiri permainan gamenya.


Lalu mencari nomor dan menghubunginya. Tapi nomor yang hubungi tidak juga menjawab teleponnya. Dia telepon ulang,namun tidak juga di jawab. Dia letakkan lagi ponselnya,sembari melihat ke pintu siapa tahu Wisnu tiba-tiba datang. Tapi nyatanya sudah dua jam lebih Aina menunggu, Wisnu tidak juga datang.


Lalu Aina memposting foto yang tadi dia ambil di wasthap dengan caption 'dua jam lebih duduk manis di De'Riyan resto tanpa teman'.


Satu menit, notif pesan wasthap masuk.


'Kamu tunggu di situ, aku temani.' pesan dari Riyan. Aina tersenyum kecut membaca pesan itu, dia tidak membalasnya. Kembali dia minum jus gelas yang kedua. Seperti ini lagi,selalu di permainkan.


Hatinya sedih dan kecewa, kenapa dia selalu bertemu dengan orang seperti ini lagi, selalu membuat Aina berharap tapi nyatanya berakhir mengecewakan. Tak terasa airmatanya menetes, wajahnya dia tundukkan. Pundaknya bergetar. Tapi cepet-cepat Aina menghapus air matanya, dia tidak mau Riyan melihatnya naif seperti ini.


Lima belas menit, Riyan tiba di hadapan Aina yang sedang menunduk, dia pegang pundak Aina. Aina mendongak, dia tersenyum melihat siapa yang menatapnya itu. Riyan pun duduk di depan Aina. Riyan menatap Aina dalam,ada raut kecewa di sana.


Yang di tatap hanya tersenyum, entah senyum senang atau kecewa. Tapi saat ini Aina sedang kecewa. Tapi hatinya lega, karena dia tidak sendirian di sana.


"Kamu belum makan?" tanya Riyan memecah kesunyian.


Aina hanya menggeleng, lalu tersenyum lagi. Riyan memanggil pelayan dan menyuruhnya menyiapkan makanan,,walaupun sempat ragu tapi pelayan itu pergi juga menyiapkan makanan. Tak berapa lama makanan datang. Semua yang tadi di pesan Wisnu di sandingkan di depan mereka.


"Sayang kalau di lewatkan makannya, kan sudah di bayar." kata Riyan menutupi rasa canggung Aina.


Lalu Aina pun mengikuti Riyan makan. Dia lupakan kejadian beberapa jam lalu, dia nikmati makan malam bersama Riyan. Mood yang tadi hancur kini kembali lagi, mungkin lebih menyenangkan. Karena dia tahu kini perasaan hatinya pada siapa dia berlabuh.


Aina melahap semua makanan di depannya. Riyan melihatnya sambil tersenyum, dia kini lega karena Aina tidak terlihat kecewa lagi.


"Sepertinya kamu lapar banget." ledek Riyan.


"Menunggu itu bikin lapar, lagi pula udah di bayar resevasinya. Kan sayang kalo ngga di makan." jawab Aina. Dia melahap satu suapan terakhir.


"Terus?"


"Terus apa?" balik tanya.


"Meneruskan kencan atau..."


"Antarkan aku pulang aja." sergah Aina, Riyan terkekeh.


"Oke." lalu Riyan dan Aina bangkit dari duduknya.


Dalam hati Riyan akan melabrak besok di apartemen Wisnu. Dia benar-benar jengkel, dia sudah curiga ketika tiga hari keluar kota adalah ada hubungannya dengan ketidak hadirannya malam ini. Dia ingin menanyakannya besok.


_


_

__ADS_1


****************


__ADS_2