
Sampai di kantor Wisnu, Riyan masuk tanpa menyapa Aina terlebih dahulu. Tanpa mengetuk langsung menerobos dan duduk dan membanting pantatnya dengan kasar. Matanya menatap Wisnu dengan tajam, yang di tatap malah keheranan dengan sahabatnya itu.
"Ada apa?" tanya Wisnu heran.
"Lo yang kenapa?" tanya Riyan balik masih dengan tatapan tajamnya.
"Lho, gue kenapa?" tanya Wisnu heran, kedua tangannya menengadah,dia bingung dengan sikap sahabatnya itu.
"Jangan pura-pura bego Lo!" ucap Riyan kesal.
"Hei, bro.Lo datang-datang ke kantor gue dengan marah-marah ngga jelas. Malah tanya gue kenapa, memang ada apa?" masih penasaran. Riyan mendengus kesal.
"Lo kenapa menyuruh Aina menyerahkan berkas ke kantornya pak Budi?" tanya Riyan.
"Ya kan, dia sendiri yang minta kalau berkas itu harus sekretaris gue langsung. Ya gue suruh lah dia ke sana." jawab Wisnu dengan masih belum mengerti maksud kemarahan Riyan.
"Itu cuma modus asistennya doang, biar ketemu Aina langsung." kata Riyan. Dan Wisnu tahu apa penyebab Riyan marah padanya.
"Hahah! Jadi ceritanya Lo lagi cemburu nih?" Wisnu tertawa keras dengan tingkah sahabatnya itu. Riyan hanya diam saja, muka kesalnya masih belum juga hilang.
"Memangnya Lo pacarnya, Aina?" ledek Wisnu sambil tersenyum sinis.
"Sialan Lo!"
Wisnu kembali tertawa. Dia senang meledek Riyan. Dia tahu Riyan belum pernah menyatakan cinta pada Aina sekalipun. Dengan tatapan sinis itu tawanya kembali pecah.
"Diam Lo kampret, seneng banget ngeledekin gue.",Riyan masih dengan mode kesalnya.
"Jangan lama-lama,,bro. Nanti seperti dulu lagi, di salip sama cowok lain, karena Lo letoy banget masalah cinta." ucap Wisnu.
"Maksud Lo apa?"
"Maksud gue, kalau cinta ungkapkan dong ke orangnya. Jangan lama-lama, bila perlu langsung lamar dia. Jangan seperti yang dulu, kelamaan menyatakan cinta akhirnya di ambil orang. Menyesa jadinya, ngga ada gunanya. Yang ada Lo makin mengurung diri di pojokan kamar mirip cewek di putus cinta. Tujuh hari tujuh malam lagi ngga keluar-keluar." kembali Wisnu meledek Riyan.
Satu bolpoin melayang ke arah Wisnu, dan mengenai pelapis Wisnu. Wisnu kaget, sedangkan Riyan diam saja tanpa rasa bersalah.
"Sakit bego!" teriak Wisnu sambil mengusap pelipisnya.
"Lo masih meledek gue, meja Lo yang akan berantakan." kata Riyan mengancam.
"Sensi banget yang lagi cemburu."
Satu bola kertas kembali melayang ke arah Wisnu, tapi Wisnu lebih siap dan dia pun menghindar dari serangan Riyan.
"Mending Lo gerak cepat deh, sebelum temannya itu menemui bapaknya Aina." ucap Wisnu yang kali ini lebih serius.
"Tapi tuh cowok, katanya sahabatnya Aina doang." kilah Riyan.
"Yaelah, lo ngga tahu kalau cowok itu kelihatannya suka sama Aina. Makanya kemarin gue telepon lo suruh datang ke restoran lo itu, supaya dia ngga leluasa ngobrol sama itu cowok. Lo ngga peka banget sih jadi orang." Wisnu kali ini kesal dengan sikap Riyan yang terlalu lambat.
"Oke! Gue ngerti. Gue lagi mikir aja, gimana caranya menyatakan cinta sama Aina."kilah Riyan.
"Bilang aja Lo takut di tolak." kembali Wisnu meledek Riyan.
"Apa langsung gue lamar aja ya?" kata Riyan tampak berpikir.
"Itu lebih baik, datangi aja langsung bapaknya. Gue jamin Aina ngga bakal nolak."
"Gue pikir-pikir dulu deh."
"Jangan kelamaan mikir, cara berpikir Lo tentang cinta itu terlalu sulit. Seperti memecahkan rumus matematika yang muter-muter jawabannya." Riyan menatap Wisnu lama.
__ADS_1
"Lo tahu banget gue ya." ucap Riyan.
"Kan gue sahabat Lo ganteng." jawab Wisnu dengan nada gemulai dan tangan menempel di pipi.
"Idih, geli gue lihat lo sepeti itu!" Riyan bangkit dan melangkah keluar dari ruangan Wisnu.
Wisnu kembali tertawa terbahak-bahak. Dia senang meledek sahabatnya itu. Riyan ingin menemui Aina, tapi Aina tidak ada di kursi kerjanya.
_
Di kantor Riyan, dia tampak berpikir. Kursi yang bisa berputar 360 derajat itu dia goyang-goyangkan ke kiri ke kanan tak berhenti. Dia memikirkan pembicaraannya tadi dengan Wisnu. Ada benarnya dia harus bergerak cepat.
Dulu di pernikahan adiknya Aina, ada salah satu teman kuliahnya yang kelihatan sekali laki-laki itu menyukai Aina. Dan sekarang tambah satu lagi saingannya. Lalu Riyan mengirimi pesan wasthap ke nomor Aina.
'Sore nanti aku antar pulang.'begitu pesan yang di kirim Riyan.
Tring.
Satu pesan balasan dari Aina,
'Iya, mas Riyan.' jawaban singkat dari Aina.
Lalu Riyan meneruskan pekerjaannya yang tadi tertunda karena melamun. Dia sedang bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang dengan Aina sore ini.
Setengah lima Riyan keluar dari ruangannya. Dia langsung menuju ruangan Wisnu untuk menyerahkan laporan keuangan yang sudah di periksa dan harus di tanda tangani. Sebelum masuk ruangan Wisnu, Riyan menghampiri Aina terlebih dahulu.
"Ai, tunggu di bawah aja dulu ya. Aku mau menyelesaikan tugas bos dulu." kata Riyan pada Aina.
"Baik pak." jawab Aina singkat.
Lalu Riyan masuk ke ruangan Wisnu, sedangkan Aina membereskan berkas-berkas yang tadi berantakan di atas mejanya. Satu tablet tentang jadwal kerja Wisnu di masukkan ke dalam laci meja lalu menguncinya. Setelah selesai,dia langsung pergi ke lift dan menekan tombol turun ke lantai dasar.
"Asyik banget ya main game. Sampai ngga sadar ada orang ganteng berdiri sejak tadi." ucap Riyan sambil tersenyum.
Aina mendongak, dia membalas senyum lalu bangkit dari duduknya dan memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Udah selesai main gamenya?" tanya Riyan sambil berjalan yang di ikuti Aina.
"Dari pada menunggu lama tadi, jadi main game aja." jawab Aina.
Lalu mereka menuju mobil Riyan yang ada di parkiran khusus karyawan penting di perusahaan.
"Sebelum kita pulang, kita jalan-jalan dulu ya sekalian cari makan malam." kata Riyan yang membuka pintu mobil untuk Aina.
Aina hanya tersenyum malu dengan perlakuan Riyan tersebut. Sangat manis sekali, karena Aina tidak pernah di perlakukan manis seperti itu oleh siapa pun. Membuat hatu Aina berbunga-bunga.
"Terima kasih." lalu Aina masuk, Riyan melangkah menuju pintu mobil sebelahnya setelah menutup pintu mobil sebelah Aina.
Mobil keluar dari area parkir, di depan gerbang tampak ada mobil Anto berhenti, Riyan bersyukur kali ini tepat mengantarkan Aina pulang sebelum saingannya itu mendahului menjemput Aina pulang.
"Lho, itukan mobil Anto?" kata Aina menatap mobil Anto yang sedang parkir di depan pintu gerbang.
"Udah biarin aja, paling dia balik lagi kalau tujuannya sudah selesai." kata Riyan ambigu.
"Mau apa ya Anto." tanya Aina penasaran.
'Ya mau jemput kamu, Aina.' jawab Riyan dalam hati. Dia tersenyum menang, karena pilihannya mengantar pulang Aina tepat.
Tanpa pikir panjang, Riyan melajukan mobilnya dengan cepat sebelum Anto melihat Aina di mobilnya.
_
__ADS_1
Di taman kota mereka berhenti, jalan-jalan sebentar dan akhirnya duduk di bangku taman di bawah pohon kedondong. Suasana taman kota cukup ramai oleh anak muda yang senang berkumpul dengan teman-temannya.
Mereka memperhatikan tingkah pola anak ABG yang macam-macam. Ada yang bermain sepatu roda, skateboard, bermain bola sepak dan bermain voli. Suasana sore yang adem membuat kedua laki-laki dan perempuan yang sedang duduk di bangku merasa nyaman karena sinar matahari sudah tidak terik lagi.
Bahkan terlihat indah jika di pandang, merah kekuningan. Jika di pantai akan terlihat indah karena sunset begitu sempurna terlihat. Belum ada yang berbicara, mereka masih menikmati pemandangan sore di taman kota itu. Sesekali mereka tertawa melihat anak yang terjatuh karena permainan itu.
Lama mereka diam, Riyan juga menikmati pemandangan di depannya. Dan akhirnya Aina yang lebih dulu membuka suara.
"Senang ya mas, di sini." tanya Aina tanpa menoleh ka arah Riyan.
"Iya, bisa membuang stres juga." jawab Riyan.
"Kita mau apa di sini mas?" tanya Aina yang sejak tadi penasaran kenapa dia di ajak jalan sebelum pulang ke kos-annya.
"Anggap saja lagi kencan." jawaban Riyan membuat Aina terkejut, dia menatap Riyan tak percaya. Dan Riyan menatap balik, membuat Aina merasa malu.
"Kenapa?"tanya Riyan.
Mereka kembali saling menatap lama. Ada debaran jantung tak beraturan di dada Aina. Dia pun memutus tatapannya pada Riyan, dadanya begitu kencang berdetak.
"Ngga apa-apa." jawab Aina gugup. Lalu,
"Kita kan bukan pacaran, mas." kata Aina memancing.
"Anggap saja kita pacaran." jawaban Riyan semakin membuat bingung Aina.
Aina mendesah, baiklah. Kali ini aku akan terima.pikir Aina. Sejujurnya, dia senang. Tapi dia terlalu takut untuk berharap bahwa Riyan menyukainya.
"Aina, aku..." belum sempat Riyan meneruskan ucapannya, ponselnya berbunyi sangat nyaring. Lalu dia mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Halo ma, ada apa?" tanya Riyan pada orang di seberang sana.
"Malam ini makan di rumah ya." kata mamanya.
"Riyan sudah ada janji makan malam sama teman, ma." kata Riyan sambil melirik Aina. Yang di lirik membuang muka ke samping, hatinya sedikit perih ketika Riyan menyebutnya hanya sebagai teman.
"Bawa aja temannya ikut makan malam. Papa minta malam ini semua pada kumpul di rumah katanya." ucap mamanya lagi.
"Ngga bisa besok, ma?" Riyan menawar pada mamanya.
"Ngga bisa sayang, kata papa harus kumpul."
"Ada apa sih, tumben banget papa menyuruh kumpul semua?" tanya Riyan penasaran.
"Ngga tahu, pokoknya kamu datang aja kenapa sih! Ajak aja sekalian temannya." kata mamanya marah.
"Iya." jawab Riyan singkat.
Wajahnya terlihat kesal, lalu sambungan telepon pun berhenti. Dia berpikir, mungkin ini waktu yang tepat mengenalkan Aina pada papa dan mamanya. Wajah sumringah kembali terpancar,,dia tersenyum dan menengok ke arah Aina.
"Ayo kita pulang." ajak Riyan pada Aina.
"Loh, katanya mau cari makan dulu." tanya Aina heran.
"Pulang dulu, baru kita makan malam. Kan mau magrib juga,,sholat magrib dulu baru makan." tanpa membantah, Aina langsung bangkit dan melangkah bersama Riyan.
_
_
******************
__ADS_1