Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
61. Rencana Resign


__ADS_3

Setelah kegiatan subuh tadi di kamar mandi, wajah bahagia terpancar setiap saat. Riyan selalu menunjukkan rasa cintanya pada Aina. Seperti pagi ini, Riyan membuatkan sarapan nasi goreng kambing. Dia buatkan spesial buat istrinya tercinta, sedangkan Aina sendiri sudah bergulat dengan pakaian kotor yang akan di cuci.


Pagi ini Aina benar-benar sibuk, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci pakaian dirinya dan suaminya. Layaknya ibu rumah tangga, Aina mengerjakannya dengan teratur dan rapi.


"Sayang, ayo sarapan dulu." ucap mesra suaminya itu.


Aina hanya tersenyum dan menghentikan kegiatannya. Lalu mengikuti Riyan untuk sarapan. Mereka duduk berhadapan, Aina memperhatikan Riyan menyiapkan nasi goreng buat dirinya.


"Terima kasih, mas." lalu Aina menyuapkan satu sendok nasi goreng buatan suaminya itu.


"Mm, enak mas nasi gorengnya. Mas Riyan bisa masak juga ternyata." puji Aina dengan mengunyah nasi gorengnya.


"Buat apa suamimu ini punya restoran kalau ngga bisa masak." ucap riyan.,Dia masih memperhatikan istrinya makan.


"Tapi ini benaran enak sih. Aku suka, mas.",ucap Aina tulus, dia mengambil lagi nasi goreng yang membuatnya ketagihan.


Riyan menatap Aina yang makan dengan lahap. Tangan kanannya menopang dagunya, senyum mengembang. Dia sangat senang memandang istrinya yang sedang makan itu.


"Mas Riyan kok belum di makan nasi gorengnya." kata Aina,,dia terus melahap sarapannya.


"Lihat kamu makan aja aku udah kenyang." ucapan Riyan membuat Aina diam.


"Pagi-pagi udah menggombal, mana ada lihat orang bikin kenyang."


"Ada. Aku contohnya, lihat istri suka banget masakanku rasanya sudah kenyang." Aina mencibir,,dia hafal sekali gombalan suaminya itu.


Satu piring habis tak tersisa. Aina merapikan semua peralatan makan dan masak tadi di dapur. Selagi Aina mencuci piring,,Riyan memakan sarapannya yang tadi di biarkan saja karena melihat istrinya makan dengan lahap.


Baru setelah habis makanan di piring, dia serahkan pada Aina untuk di cuci. Kemudian mengambil buah dari dalam kulkas.


"Nanti siang aku mau ke restoran. Mau ikut ngga?",kata Riyan seraya mengambil buah jeruk di dalam kulkas. Aina tampak berpikir.


"Ikut aja, soalnya sorenya kita ke rumah mama.",Riyan menyuapi buah jeruk pada istrinya.


"Boleh.,Jam berapa ke sananya?" selesai mencuci Aina kembali ke meja makan,,melap sisa-sisa butiran nasi di meja.


"Habis duhur aja.,Nanti kita makan siang di restoran.",mengikuti Aina di meja makan.,Dia masih mengupas jeruk yang kedua lalu memakannya sendiri.


"Tadi cuci bajunya udah selesai?" tanya Riyan.


"Udah, tinggal di jemur aja.",jawab Aina meninggalkan suaminya menuju tempat cuci pakaian.


"Ya udah, nanti kalau selesai jemur ke kamar ya. Ada yang ingin aku bicarakan." ucap Riyan sambil berlalu ke kamarnya, ada senyum yang penuh arti.

__ADS_1


_


Aina masuk ke kamar, dia melihat suaminya duduk bersandar sambil bermain laptop. Aina duduk di pinggir tempat tidur, dia penasaran dengan ucapan Riyan tadi, walau sebenarnya keringat bercucuran setelah menjemur pakaian tadi karena terkena sinar matahari langsung.


Riyan berhenti bermain laptop dan meletakan laptopnya di meja, lalu tangannya melap keringat di pelipis Aina.


"Capek ya?"


"Ngga kok. Tadi mas Riyan katanya mau bicara, memangnya mau bicara apa?" tanya Aina mengibaskan rambut yang terasa panas.


"Itu baju basah kena keringat, di lepas aja." tak mengindahkan pertanyaan Aina.


Aina bingung, kenapa jadi membicarakan baju basah oleh keringat. Dia tidak mengerti apa yang di katakan Riyan.


"Iya nanti aku lepas, mas Riyan mau bicara apa?" tanya Aina lagi.,Tanpa di minta Riyan melepas baju Aina.


"Mas mau apa sih?" tanya Aina kaget dengan tingkah Riyan.


"Mau melepas baju kamu, kan basah." ucapnya.


"Ngga apa-apa nanti sekalian mandi di lepas."


"Udah sama aku aja, kamu kan capek.",ucap Riyan beralasan, Aina pun pasrah.


"Mas, mau ap.."


Riyan sudah membungkam mulut Aina dengan ******* lembut awalnya. Lama-lama jadi lebih menuntut. Satu tangan sudah beraksi di dada Aina, dia meremas buah dada istrinya. Aina mendesah, dia pasrah apa yang di lakukan suaminya itu. Kemudian selanjutnya, pergulatan panas pun terjadi.


Setengah jam pergulatan itu terulang, Riyan memeluk istrinya, dia benar-benar bahagia. Sehingga kegiatan panas yang tadi dia lakukan selalu ingin di lakukan ya lagi.


"Mas Riyan tadi mau bicara apa?" tanya Aina lagi, rasa penasarannya belum hilang.


Riyan tampak berpikir,dia mencari cara mengatakan apa keinginannya dalam hati dengan tepat supaya Aina mau mengikuti keinginannya.


"Sayang, kamu minggu depan resign dari kantor Wisnu ya." kata Riyan pelan.


"Lho, kenapa aku berhenti bekerja?" tanya Aina heran,,dia menatap suaminya bingung.


"Dengarkan dulu sayang, Minggu depan resign. Fokus mengurusi resepsi pernikahan. Setelah resepsi nanti aku tempati kamu ke bagian keuangan di restoran. Bagaimana?" tanya Riyan.


"Hah, beneran? Aku mau di tempatkan di bagian keuangan lagi mas?" tanya Aina tak percaya.


Riyan tersenyum dengan reaksi istrinya. Dia mencium sekilas bibir Aina. Dia benar-benar gemas senyum penuh ceria istrinya itu.

__ADS_1


"Iya. Biar aku lebih dekat aja sama istriku. Lagi pula di restoran aku kewalahan kalau harus bolak-balik kantor Wisnu setiap hari." kata Riyan.


"Tapi, nanti bagaimana di kantor pak Wisnu. Yang jadi sekretaris siapa kalau aku resign." tanya Aina memainkan tangan Riyan.


"Tenang aja, aku punya penggantinya. Dia cepat beradaptasi kalau bekerja di tempat yang baru." kata Riyan.


"Siapa?"


"Mm, kasih tahu ngga ya?" membuat Aina penasaran.


"Ish, mas Riyan pakai rahasia segala." Aina cemberut, Riyan tertawa senang.


"Ngga begitu sayang. Aku belum tanya ke orangnya dengan rencanaku itu, dan lagi aku juga belum bicara sama Wisnu. Tadinya hari Senin kemarin waktu itu ngomong sama dia, eh Viola datang. Akhirnya ngga jadi. Senin besok aku bicarakan lagi sama dia tentang rencanaku." kata Riyan lagi.


Obrolan mereka pun akhirnya terhenti ketika waktu sholat duhur sudah berkumandang, inginnya Riyan sekali lagi bercinta dengan istrinya. Tapi karena dia sudah janji akan pergi ke restoran dan sore hari pergi ke rumah mamanya.


****


Sore hari, sepulang dari restoran seperti janjinya tadi siang Riyan membawa Aina ke rumah mamanya. Sesampainya di sana, Aina langsung di sambut bahagia oleh mertuanya. Aina senang,,dia merasa tidak canggung dengan keluarga suaminya itu.


"Sayang, kenapa baru kemari?" kata ibu Sarah, Aina hanya tersenyum lalu melirik suaminya.


"Riyan sibuk banget ma, jadi baru bisa kemari.,Kan ngga mungkin cuma Aina saja yang kesini, nanti di kira lagi berantem" kata Riyan seolah tahu Aina tidak bisa menjawab pertanyaan mamanya.


"Kalian menginap ya di sini. Mama pengen mengobrol banyak buat rencana resepsi nanti. Kan harus di rundingkan sama kalian." kata ibu Sarah memohon.


"Minggu depan aja ma,,Aina bebas kok dari pagi sampai sore." kata Riyan lagi.


"Lho, memang ngga kerja?"


"Riyan suruh resign, nanti Aina aku tempatkan di restoran aja, ma."


"Wah, bagus itu. Ya udah ngga apa-apa Minggu depan." kata ibu Sarah.


Antara menantu dan mertua tidak terlalu lama untuk saling akrab. Karena memang Aina orangnya enak di ajak bicara walaupun dia pendiam. Ibu Sarah senang sekali dengan menantunya itu, tata Krama kesopanan pada orang lebih tua tidak di lupakan ya meski dia hidup di kota.


Menjelang malam, mereka pulang ke apartemen. Rasa lelah Aina rasakan. Dia langsung mandi setelah sampai dan langsung merebahkan badannya karena sudah mengantuk. Malam ini Riyan membiarkan istrinya istirahat dengan damai, tanpa gangguan olehnya.


Dia kasihan juga jika meminta jatah lagi sama istrinya itu. Riyan pun menyusul untuk tidur, dia baringkan badannya di samping Aina. Sebelum tidur, tak lupa dia mencium bibir Aina yang sekarang sudah menjadi candunya. Riyan menarik tubuh Aina lalu memeluknya dengan erat.


_


_

__ADS_1


******************


__ADS_2