
Pergi ke Jogja rencananya menunggu ibunya pulang dari Malaysia, tapi mendadak ibunya memberi kabar bahwa pulang ke Indonesia di batalkan karena suaminya, papa Wisnu mendadak tidak enak badan.
Mau tidak mau,Wisnu berangkat tanpa di temani mamanya. Dia merapikan bawaannya di koper,tidak banyak yang dia bawa. Hanya beberapa pakaian. Dia sengaja meminta Riyan mengantarnya di bandara.
Sesampainya di bandara,Wisnu langsung menuju boarding pass.
"Gue berangkat dulu." kata Wisnu pada sahabatnya itu.
"Oke, sampai di Jogja kabarin gue." kata Riyan. Wisnu mengacungkan jempol pada Riyan. Sejenak Wisnu menatap Riyan.
"Ada apa?" tanya Riyan heran.
"Gue berasa selingkuhan kalau begini. Di antar terus suruh memberi kabar kalau udah sampai di Jogja."ucap Wisnu merasa aneh sendiri.
Mereka saling memgedik kan pundaknya, merasa lucu sendiri. Lalu keduanya tertawa lepas. Saling melambaikan tangan,dan masih saling tertawa.
Sampai di bandara Adisucipto, tanpa ada yang menjemput Wisnu langsung naik taksi online yang dia pesan setelah sampai di bandara. Setelah sampai di tempat rumah yang bangunan Jawa, mobil berhenti.
Wisnu keluar dari mobil dan membayar ongkos sesuai tarif. Dia langsung masuk dan di sambut oleh wanita paruh baya yang menempati rumah itu. Halamannya asri, ada beberapa pohon, seperti mangga, pohon nangka dan pohon sawo. Juga beberapa tanaman hias yang mengelilingi di setiap beranda.
Sungguh pandai merawat tanaman yang menjaga rumah papanya itu yang sudah lama tidak pernah dia kunjungi. Wanita paruh baya itu menghampiri Wisnu dengan senyuman hangat.
"Den Wisnu sudah sampai." kata wanita paruh baya itu.
"Iya Bu Yem." kata Wisnu. Dia langsung melangkah masuk.
"Mbok Yem kaget lho, waktu tuan besar memberi kabar kalo den Wisnu mau tinggal di sini." kata mbok Yem lagi.
"Kenapa mbok, ngga senang ya?"
__ADS_1
"Ya ndak tho, malah si mbok seneng sekali. Jadi rumah ndak sepi lagi." ucap mbok Yem.
Lalu Wisnu masuk ke dalam rumah, dia melihat sekeliling rumah. Mengingat dulu dia waktu masih kecil, tak banyak yang berubah di rumah itu.
"Oya mbok, di pangkalan kayu siapa yang jaga?" tanya Wisnu.
"Yang jaga Erin tetangga sebelah den Wisnu." jawab mbok Yem sambil membawa koper ke ruang kamar paling depan.
Sedangkan Wisnu duduk di kursi bergaya klasik berbahan kayu jati.Wisnu berpikir, Erin siapa? Apa dia dulu kenal dengan Erin. Seingat dia dulu kenal anak perempuan kecil yang suka main ke rumahnya itu namanya Mila. Tapi mungkin sekarang sudah berbeda, tetangga rumahnya sekarang sudah banyak dan berdekatan.
Mbok Yem keluar dari kamar yang akan di tempati Wisnu, dia. menuju ke dapur untuk mengambil minum untuk majikannya itu. Setelah selesai, mbok Yem membawa minuman teh hangat di hadapan Wisnu yang sedang tiduran di kursi panjang.
"Den Wisnu, kalau mau istirahat di kamar saja. Mbok Yem sudah merapikan tempat tidurnya." kata mbok Yem meletakan nampan di sampingnya juga.
"Ngga apa-apa mbok, lagi bernostalgia dengan masa lalu." jawab Wisnu sekenanya. Padahal dia teringat dengan masalah yang dia hadapi.
"Den Wisnu, kata papanya den Wisnu akan tinggal lama di sini,meneruskan usaha tuan besar yang di sini." kata mbok Yem ragu-ragu.
Setidaknya dia membenarkan ucapan papanya itu,walau ada rasa kesal kenapa semua terjadi dengan cara yang tidak benar.
"Mm...maaf den, kalah mbok Yem kepo. Yang di Jakarta itu gimana kalo den Wisnunya di Jogja." takut-takut mbok Yem bertanya.
Wisnu menatap mbok Yem, dia sedikit tidak suka jika pembantunya itu ikutan kepo dengan masalahnya. Tapi dia berpikir lagi,biarlah tidak apa-apa. Untuk mengurangi beban di hati dan pikirannya. Mbok Yem masih diam, tidak enak dengan tatapan tajam majikannya itu.
"Ngga apa-apa kalau den Wisnu ngga cerita. Oya, mbok akan siapkan makan siang dulu." lalu mbok Yem beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Wisnu yang masih terpaku.
****
Pukul lima sore Wisnu bangun dari tidurnya setelah makan siang tadi. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya. Tak lama pintu kamar di ketuk dari luar, mbok Yem memanggil.
__ADS_1
"Den Wisnu sudah sore." suara mbok Yem.
"Iya mbok, saya sudah bangun." dia lalu melangkah ke pintu dan membukanya, terlihat mbok Yem membawa handuk di tangannya dan menyerahkan pada Wisnu.
"Ini handuknya den, maaf baru di cuci tadi." kata mbok Yem.
"Iya mbok." Wisnu menerima handuk yang di sodorkan mbok Yem.
Lalu dia melangkah keluar menuju kamar mandi. Dia akan mandi dan juga sholat ashar. Dia baru ingat akan kewajibannya itu, sejak dirinya di depak dari perusahaan itu. Mungkin itu kesalahannya, dia meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim, hingga apa yang dia dulu miliki di ambil orang. Dia menyadarinya, makanya dia menerima nasib yang dia jalani sekarang. Di balik peristiwa pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
Wisnu cepat-cepat mandi dan berwudhu, setelah itu baru sholat ashar. Dia begitu khusyu dalam sholatnya. Hatinya begitu tenang setelah menunaikan kewajiban lima waktu. Menjelang magrib, Wisnu jalan-jalan sekitar rumah yang sekarang di tempatinya. Dia akan ke pangkalan kayu besok pagi.
Setelah di pikir-pikir, ada baiknya dia di sini. Menenangkan pikiran dan hatinya yang penuh dengan kemarahan. Marah pada kedua orangtuanya, pada sepupunya yang telah mengambil semua miliknya dan cintanya. Ya Viola ternyata hanya memanfaatkannya saja.
Hanya satu yang dia percaya, sahabat yang selalu mempercayainya dan selalu ada di saat dia terpuruk dan siap membantu kapan saja. Walau kadang di setiap pertemuan mereka selalu saja ada perdebatan yang tidak penting.
Namun seperti itu antara dirinya dan Riyan sejak kuliah dulu. Wisnu tersenyum sendiri mengingat sahabatnya itu, selalu mengingatkan dan mengalah padanya jika memang dia bersungguh-sungguh.
Dia menyesal mengapa dia dulu mempermainkan istri sahabatnya itu, tapi dia kembali berpikir jika dia tidak begitu, sahabatnya belum akan menikah saat ini.
Ah, sahabat yang seperti saudara. Kenyataannya mempunyai saudara sepupu yang tega mengambil miliknya tak akan berarti dengan sahabatnya Riyan.
Terkadang hidup ini aneh, lebih baik berkawan dengan orang lain yang peduli padanya di banding dengan keluarganya. Wisnu berhenti di sebuah bangku yang telah usang di pinggir jalan namun masih kuat untuk di duduki. Dia duduk di situ,memandangi sekitarnya.
Senja telah pergi,malam mulai merangkak naik. Orang-orang lalu lalang, ada yang baru pulang kerja juga ada yang siap pergi ke masjid untuk melaksanakan kewajibannya pada sang pencipta-Nya.
Lalu dia bangkit dari duduknya melangkah lurus ke depan melewati rumahnya. Dia akan sholat di masjid.Rasanya malu, baru sekarang dia ingat pergi ke masjid. Namun lebih baik sekarang daripada tidak sama sekali. Dia masih ingin hidup damai, mencari kebahagiaannya sebelum takdir Tuhan memutus saluran kehidupannya.
_
__ADS_1
_
*****************