Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
65. Di Hianati Viola


__ADS_3

Setelah pulang dari kantor, Wisnu langsung merebahkan tubuhnya di ranjangnya. Suara dering telepon membuyarkan Wisnu dari tidurnya. Dia mengambil ponselnya dan mengangkat telepon tersebut.


"Halo.."


"Halo Wisnu, sudah pulang ke rumah?" tanya suara di seberang sana.


"Sudah ma, aku lagi di kamar. Ada apa mama menelepon?" tanya Wisnu,dia masih pejamkan matanya.


"Besok mama pulang, nanti jemput mama ya." kata mamanya.


"Iya." jawab Wisnu singkat. Memang dia sedang tidak ingin banyak bicara. Dia hanya ingin tidur.


Lalu telepon di matikan.


Tiba-tiba Wisnu ingat Viola. Dia lalu menghubungi Viola, berharap beban berat yang dia rasakan berkurang jika menghubungi Viola. Dia ingin bertemu Viola malam ini. Wisnu mengambil ponselnya yang tadi dia letakkan di meja. Mencari nomor Viola dan langsung menghubunginya.


"Halo?" kata Viola di seberang sana.


"Bisa ngga nanti malam kita ketemu?" tanya Wisnu. Lama tak ada jawaban.


"Vie?"


"Bisa, tapi jangan di kafe sahabatmu. Aku ngga mau." kata Viola.


"Oke, nanti aku jemput."


"Ngga usah, nanti kita ketemu di sana aja. Kita ketemu di kafe 99."


Klik!


Lalu Viola mematikan sambungan teleponnya. Wisnu menatap ponselnya, ada kecewa ketika Viola langsung menutup teleponnya. Wisnu bergegas mandi dan ganti baju, dia akan bersiap-siap untuk ketemu sama Viola.


Malam hari, jam tujuh Wisnu sudah siap dengan baju kemeja dan celana jeans hitam. Dia tidak makan di apartemen karena rencananya dia akan makan malam dengan Viola. Pukul tujuh tepat dia berangkat menuju kafe 99. Dalam perjalanan, segala yang dia harapkan terjadi malam ini.


Mungkin dia akan mendadak melamar atau meminta Viola jadi istrinya. Tak peduli nanti sahabatnya akan terus meledeknya, dia akan buktikan bahwa dia sungguh-sungguh dengan Viola. Masalah yang dia hadapi dia sisihkan terlebih dahulu dari pikirannya.


Setengah jam di perjalanan, akhirnya Wisnu sampai juga di kafe 99. Dia memarkirkan mobilnya dan langsung turun. Masuk ke dalam kafe mencari tempat yang nyaman dan strategis. Di sudut ruangan terlihat masih kosong, langsung Wisnu menuju ke sana. Dia sengaja mencari kursi yang hanya di duduki berdua saja.


Sepuluh menit, Viola datang. Dia edarkan pandangan mencari Wisnu, dan Wisnu melambaikan tangannya sambil tersenyum. Viola menghampiri Wisnu yang menatapnya sambil tersenyum. Lalu Wisnu menarik kursi yang akan di duduki Viola sebelum Viola menariknya.


"Terima kasih." Viola tersenyum tipis, Wisnu hanya mengangguk.


Mereka duduk saling berhadapan, lama mereka saling diam. Hingga waiters datang menghampiri menanyakan pesanan.


"Coffee latte satu dan, ..."


"Aku mocca aja."


"Sekalian buku menu makan malamnya mba." kata Wisnu pada waiters.


"Aku udah makan, maaf." kata Viola dingin.


"Oh ya, ngga jadi mba. Cukup itu saja." kata Wisnu, padahal dia sangat lapar sekali.


Lalu waiters pergi meninggalkan mereka berdua. Masih saling diam, di tatapnya Viola yang terlihat acuh. Wisnu heran, mengapa sikap Viola berubah. Tapi dia masih berpikiran positif.


"Emm Vie, kamu ngga sibuk kan malam ini?" tanya Wisnu canggung. Entah mengapa Wisnu begitu canggung menghadapi sikap dingin Viola,tidak seperti biasanya.


"Aku ngga mau berbasa basi Wisnu, kamu mau bicara apa?"langsung saja Viola menanyakan maksud Wisnu mengajaknya ketemu.

__ADS_1


"Vie, kita menikah yuk?" dengan rasa gugup, Wisnu memberanikan diri mengungkapkan isi hatinya.


Viola diam, dia menatap Wisnu dengan tatapan tanpa ekspresi. Wisnu berharap Viola menerima ajakannya menikah.


"Vie.."


"Maaf Wisnu, selama ini yang kita jalani jalan berdua tidak pernah ada rasa apapun di hatiku. Aku hanya bosan ketika harus sendiri di kota ini sebelum kekasihku datang." ucap Viola datar, tanpa ada melihat ekspresi terkejut Wisnu dengan ucapannya itu.


"Vie, kamu ..."


Belum selesai Wisnu berbicara, dari arah pintu masuk menuju tempatnya dan Viola berbicara. Seorang laki-laki yang tak asing bagi Wisnu menghampiri sambil tersenyum. Dia menghampiri Viola dan Viola menengok lalu berdiri dan menyambut tangan laki-laki itu.


"Honey, sudah selesai bicaranya?" kata laki-laki itu yang ternyata adalah Rama. Viola bergelayut manja di lengan Rama.


"Bagiku sudah honey." kata Viola masih bergelayut manja.


Wisnu menyaksikan semua itu, dia tak percaya apa yang di lihatnya barusan. Dadanya bergemuruh, tangannya mengepal kuat.


"Halo bro, sudah selesai kan Lo pinjam cewek gue bicara?" tanya Rama sambil tersenyum sinis.


Dia sengaja meledek Wisnu. Wajah merah padam Wisnu tak bisa dia sembunyikan, dia benar-benar marah. Wisnu menarik nafas panjang dan membuang wajahnya kesamping, kemudian menatap Rama lagi.


"Apa maksudnya ini?" tanya Wisnu geram.


"Viola pacarku, dan kamu cukup berbicara sampai di sini. Dan jangan pernah menghubunginya lagi." ucap Rama menekankan dengan mata tajamnya.


"Brengsek kalian berdua! Jadi semuanya ulah kalian?" masih dengan nada marah Wisnu berkata.


"Hahah! Lo sudah kalah dan semua yang Lo miliki sudah gue miliki." kata Rama tertawa mengejek.


"Kenapa Lo tega sama gue?! teriak Wisnu menatap tajam pada Rama.


Setelah mengucapkan ancaman yang begitu menakutkan Rama dan Viola berlalu meninggalkan Wisnu yang masih tidak percaya dengan semuanya. Wisnu menggebrak meja. Dia benar-benar marah, lalu dia mengambil dompet dan menarik beberapa lembar lalu dia pergi meninggalkan kafe.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Riyan yang dia telepon.


"Halo, Lo masih di restoran ngga?" tanya Wisnu.


"Masih.,Apa apa?" tanya Riyan di sana.


"Gue mau ke sana, jangan pulang dulu."


"Oke."


Klik!


Lalu sambungan telepon di tutup. Wisnu langsung tancap gas, dia mengendarai mobil dengan kencang,tak peduli beberapa mobil membunyikan klakson memperingatkan.


_


Sampai di restoran Riyan,Wisnu langsung menuju ruang kantor yang biasa tempati. Dia mengetuk pintu dan yang membuka adalah Aina.


"Selamat malam pak Wisnu.",kata Aina sopan. Wisnu hanya diam saja, dia langsung melangkah masuk lalu duduk di sofa.


"Suamimu kemana?" tanya Wisnu.


"Mas Riyan lagi ke dapur dulu sebentar." kata Aina lagi.


Tak berapa lama, Riyan masuk membawa makanan untuk istrinya. Dia melihat Wisnu sudah duduk dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Sayang, ini makanannya." kata Riyan pada Aina.


"Emm, makannya di dapur aja ya mas. Barangkali pak Wisnu mau mengobrol penting." kata Aina.


"Udah kamu di sini aja makannya, biar nanti kita mengobrol di rooftof aja." kata Riyan, Aina pun menurut.


Kemudian Riyan mengajak Wisnu ke roortof. Sambil membawa minuman dingin. Hawa dingin angin malam tak membuat hati dan pikiran Wisnu ikut dingin.,Dia masih diam, minuman di tangannya sekali lagi di teguknya sampai tandas.


"Ada apa?"tanya Riyan penasaran.


"Lo bener, ternyata Viola hanya manfaatin gue dan sekongkol sama Rama. Gue bodoh banget percaya begitu aja sama wanita ular itu." kata Wisnu.


Dia menatap jajaran gedung menjulang tinggi di tengah gelapnya malam. Dia menghela napas panjang,sesuatu yang menyesak di dada membuat matanya memerah menahan amarah.


"Terus, Lo gimana selanjutnya?" tanya Riyan lagi.


"Gue ngga tahu. Besok gue harus ke kantor untuk terakhir kalinya, juga mau ngambil berkas apartemen yang kemarin gue beli." kata Wisnu.


"Kenapa Lo ceroboh banget di simpan di kantor."


"Iya, gue lupa ambil."


"Apartemen itu Lo mau apain?"


"Mau gue jual lagi kalo bisa, buat modal usaha di Jogja." kata Wisnu.


"Jadi beneran Lo mau nerusin usaha di Jogja?"


"Gue mau menenangkan diri di Jogja. Gue juga ngga mengerti kenapa yang di Jogja." kata Wisnu tampak berpikir.


"Usaha meubel yang di Jogja itu punya om Hutama atau satu cabang yang di Jakarta ngga?" tanya Riyan penasaran.


"Usaha meubel itu usaha rintisan papa waktu muda dulu. Dan bukan cabang dari Jakarta." jawab Wisnu.


"Mungkin om Hutama ngga mau Lo di bawah pimpinan Rama. Dan kemungkinan om Hutama tahu segala kelicikan keponakannya itu, tapi beliau ngga bisa berbuat banyak kecuali mengikuti permainan Rama." ucap Riyan.


Wisnu menoleh ke arah sahabatnya itu. Dia tidak percaya analisa Riyan bisa masuk akal juga. Tapi dia tidak mau sahabatnya ikut campur urusan keluarganya, dan dia yang jadi sasaran kemarahan Rama.


"Oya, Lo harus hati-hati. Tadi dia sempat mengancam gue, jika Lo turut campur Lo akan dapat balasan. Entah apa maksudnya, tapi Lo harus hati-hati sama dia." kata Wisnu.


"Tenang aja,gue bisa jaga diri. Jadi kapan lo mau ke Jogja?" tanya Riyan.


"Minggu depan, setelah semuanga beres di kantor. Gue kecewa banget sama Viola, dia memanfaatkan gue hanya untuk Rama." kata Wisnu.


"Sudahlah, jangan sedih begitu. Laki-laki harus kuat, lo bisa mendapatkan yang lebih baik di sana."


"Hemm, gue tidak tahu. Tapi gue pengen menenangkan diri di Jogja, dan memulai karir dari nol lagi." kata Wisnu.


"Semoga kamu bisa sukses." kata Riyan.


"Terima kasih, bro. Kalau begitu gue pulang dulu, udah malam. Kasihan istri Lo harus menunggu lama pulangnya." kata Wisnu.


"Ngga apa-apa. Aina pasti memahami masalah Lo." kata Riyan.


Lalu keduanya turun dan masuk lagi ke kantor Riyan. Karena rooftof pintunya terhubung dengan kantor Riyan. Wisnu pulang dengan perasaan yang masih kacau, dia tidak menyangka Viola bisa berhianat padanya dan bahkan membohonginya.


_


_

__ADS_1


**********************


__ADS_2