
Tepat hari Jum'at yang di tunggu Aina pun tiba. Dia menunggu Wisnu untuk menyerahkan surat pengajuan cuti. Seharusnya hari ini dia masuk kerja tapi sudah pukul delapan lebih,Wisnu belum ada di ruangannya.
Aina menghela nafas, dia gelisah. Tadi pagi ibunya menelepon untuk segera pulang. Kalau Sampai hari ini Wisnu tidak juga masuk, tiket kereta api yang dia beli jauh-jauh hari akan hangus. Rencananya sore ini dia pulang,jika pengajuan cutinya di setujui.
Tiga hari dia mengajukan libur, dari Sabtu besok sampai Selasa, Rabu dia sudah masuk lagi.
Dia pandangi amplop warna coklat di tangannya, dia usap berulang hingga tak sadar seorang telah berdiri di depannya.
"Ehm. Ada yang melamun nih." kata orang yang di depan Aina.
Aina mendongak melihat siapa yang berbicara.Dia tersenyum lalu berdiri.
"Selamat pagi pak Riyan." sapa Aina sopan, masih dengan senyumnya.
"Pagi juga. Atasan kamu belum datang juga Ai?" tanya Riyan melirik pintu ruang Wisnu yang masih tertutup dan sepi.
"Belum pak." ikut melihat ruangan bosnya juga.
"Dia tuh kemana sih? padahal tiap hari aku ke apartemennya tapi masih kosong juga. Untung om Hutama kemarin ngga jadi pulang ke Indonesia, bisa gawat kan kalau benar pulang." gerutu Riyan, rupanya dia sudah kesal sekali. Aina hanya mendengarkan saja.
"Dia pikir perusahaan sebesar ini untuk main-main saja." katanya lagi.
Sejak tadi Riyan ngomel-ngomel tentang Wisnu, pasalnya sejak dia di angkat jadi CEO. Selalu saja merepotkan dirinya. Walaupun kerja santai, tapi dia tetap saja di buat sibuk jika Wisnu tidak masuk kantor seperti sekarang ini.
"Lo lagi ngomongin gue?" tanya seseorang yang tiba-tiba.
Aina dan Riyan menoleh ke arah suara tersebut. Sontak saja mereka kaget, orang yang di tunggu selama ini akhirnya datang juga. Riyan menarik lengan Wisnu kasar menuju ruangan Wisnu.
Dia dudukkan Wisnu dengan sedikit kasar, emosinya kembali memuncak melihat wajah Wisnu yang merasa tak berdosa. Tatapan tajam Riyan pada Wisnu.
"Lo kemana aja selama ini?" dengan napas naik turun Riyan berkacak pinggang, Wisnu diam sejenak dia berpikir.
"Lo ngga usah tahu!" ucapnya ketus.
"Brengsek Lo, gue sama Aina kelimpungan dengan kerjaan Lo ya, seenaknya aja gue ngga usah tahu, kalau begitu gue keluar dari kantor Lo!" makin emosi, Riyan mengusap wajahnya kasar.
Dia tidak habis pikir dengan sifat kekanak-kanakan sahabtnya itu. Wisnu diam, dia menatap Riyan tajam. Lalu menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Gue mau cerita, tapi ngga sekarang. Gue belum bisa cerita, please jangan paksa gue cerita sekarang." kata Wisnu.
"Oke, Lo siap cerita kapan datang aja ke restoran gue yang di Kemang. Gue kalau ngantor di situ." ucap Riyan masih kesal pada Wisnu.
Setelah perdebatan itu, mereka saling diam. Detik kemudian pintu di ketuk dari luar.
Tok-tok-tok..
"Masuk" ucap Wisnu.
Pintu terbuka, berdiri di depan pintu Aina yang terlihat bingung dengan pemandangan di dalam ruang bosnya. Dia berdiri di depan pintu tanpa masuk ke dalam.
"Masuk, Aina." ucap Wisnu lagi, lalu Aina masuk.
Dia berdiri di depan Wisnu dengan ragu, melirik Riyan yang masih diam saja. Wisnu menatap Aina yang sesekali melirik Riyan.
"Ada apa Aina?" tanya Wisnu.
"Saya mau menyerahkan ini pak" kata Aina sambil menyerahkan amplop coklat.
__ADS_1
Wisnu menerima amplop itu dengan heran, dia membaca tulisan yang di amplop itu. Pupilnya melebar, dia mendongak menatap Aina.
"Kamu mau cuti, Aina?"
"Iya pak, kalo di acc nanti sore saya pulang." jawab Aina.
Wisnu dan Riyan menatap Aina bersamaan. Yang di tatap hanya diam.
"Kalau saya ngga acc, bagaimana? Soalnya Senin besok kita mau rapat dengan klien." kata Wisnu.
Aina masih diam, dia berpikir. Ini tidak mungkin kan harus ada hari Senin pagi di kantor lagi, sedangkan acara pernikahann adiknya hari Minggu malam Senin. Mana mungkin dia langsung berangkat. Aina menatap Riyan, berharap dia bisa membantu.
"Lo mau ketemu klien siapa sih? Penting banget gitu?" tanya Riyan pada Wisnu yang sedari tadi tahu maksud dari tatapan Aina padanya.
"Ya pentinglah, ngapain juga gue ngomong kalau dia ngga tahu Senin itu sangat penting. Orang ini yang akan menyuntik dana pada perusahaan kita,ngga tanggung-tanggung dua puluh miliar jumlahnya." jawab Wisnu antusias dan bangga.
"Ya udah, sama gue aja. Biar Aina cuti dulu, lagi pula cuma tiga hari kan?" jawab Riyan.
"Lo tahu segalanya yah tentang Aina. Jangan-jangan ada apa-apa Lo sama sekretaris gue?" selidik Wisnu.
"Kenapa memangnya?" tantang Riyan.
"Pak,di acc tidak pengajuan cuti saya?" Aina menyela perdebatan tidak penting dari dua laki-laki itu.
"Mm, boleh aja sih jika hari Senin memang udah ada yang jamin kalau saya ngga sendiri ketemu klien" sambil melirik Riyan.
"Lo ngga usah khawatir, biasanya juga gue yang menghadapinya." sindir Riyan seakan tahu tatapan dari Wisnu.
"Jam berapa kamu berangkat?" tanya Wisnu lagi.
"Jam lima tiga puluh sih, tapi saya berangkat jam empat dari kosan." jawab Aina.
"Lo nanti ngga tepat waktu lagi!" protes Riyan, dia tahu sahabatnya itu suka mengingkari janji.
"Ngga akan, gue cuma merasa bersalah waktu itu ngga menepati janji sama Aina."
"Punya hati juga Lo?" ledek Riyan tidak tanggung-tanggung.
"Berisik Lo, gue baik-baik ngajaknya, kenapa juga Lo yang sewot?!" Wisnu kesal dengan ucapan Riyan yang selalu menyudutkannya di depan Aina.
"Ya udah pak, saya hari ini setengah hari masuk kerjanya ngga apa-apa kan pak?"
"Boleh, tapi saya memaksa yah mau mengantar kamu sampai stasiun?" tanya Wisnu serius dengan penekanan.
"Ngga usah pak, saya bisa ke sana sendiri." jawab Aina.
"Saya tetap memaksa Aina." dengan nada tinggi Wisnu kekeh dengan niatnya. Aina diam saja.
"Baiklah, kamu siap-siap jam berapa?" tanya Wisnu lagi, wajah seriusnya membuat Aina tidak bisa menolak.
"Jam empat saya dari kos-kosan, ke stasiun Senen." akhirnya Aina mengalah, mudah-mudahan saja dia benar mengantarku, batin Aina.
"Lo ngga akan buat Aina menunggu lagi kan?" ucap Riyan sembari menyindir.
"Ck! Udah sana pergi dari ruangan gue, bikin kesal aja Lo kalau di sini." Wisnu mengusir Riyan.
Dengan wajah kesal, Riyan keluar. Dia mensejajari langkah Aina keluar dari ruangan Wisnu.
__ADS_1
"Kalau Wisnu ingkar janji, kamu hubungi aku aja. Aku pasti mengantar kamu sampai stasiun Senen, bila perlu sampai rumah." ucap Riyan pada Aina sebelum keluar dari ruangan Wisnu.
"Ya udah pak, saya permisi dulu." kata Aina sambil membungkukkan badannya, kemudian dia menyusul Riyan keluar.
_
Jam menunjukkan pukul tiga tiga puluh, Aina sudah merapihkan kamar ayang akan di tinggalnya selama beberapa hari. Karena dia tidak mau jika datang ke kos-annya lagi dalam keadaan berantakan. Satu persatu Aina cek sebelum dia keluar ijin sama ibu kos.
Setelah semua beres, Aina pergi ke rumah ibu kos untuk pamitan. Dia bersiap untuk berpamitan, Aina mengetuk pintu rumah ibu kos.
Tok-tok-tok..
"Assalamu Alaikum.." sambil mengetuk pintu Aina mengucapkan salam.
"Wa Alaikum salam." jawab orang yang di dalam rumah.
Lalu pintu terbuka dan muncul ibu paruh baya yang seusia dengan ibunya itu.
"Ada apa, nak Aina?" tanya ibu kos.
"Saya mau pamit pulang dulu Bu, sekalian mau titip kunci kamar." jawab Aina sambil menyalami ibu kos.
"Lho, kok pulang.Kenapa?" tanya ibu kos.
"Di kampung mau ada acara keluarga, jadi saya di suruh pulang kampung. Nanti hari Selasa saya balik lagi kok Bu." kata Aina.
"Oh,ya udah.Kamu hati-hati yah."
"Iya Bu, mari saya permisi dulu. Assalamu Alaikum.."
"Wa Alaikum salam.."
Aina kembali ke kamarnya, dia mengambil koper yang tadi dia letakkan di depan pintu kamarnya. Lalu bergegas keluar dan menunggu jemputan Wisnu yang sudah janji akan mengantarnya sampai stasiun kereta.
Lima belas menit Aina menunggu, dia sedikit gelisah. Wisnu belum juga datang, dia pandangi jalan di depan. Menengok jalan ke arah kanan yang biasa datang mobil, sesekali dia melihat jam di tangannya. Kakinya dia hentakkan bertanda dia sangat gelisah.
Jika telat datang, maka dia akan ketinggalan kereta. Setengah jam dia menunggu, sekarang sudah pukul empat tiga puluh, artinya Aina punya waktu menunggu sepuluh menit lagi. Tiba-tiba dari arah sebelah kanan jalan, mobil sedan hitam berhenti di hadapan Aina.
Aina heran, mobil itu bukan punya Wisnu melainkan Riyan, dan benar saja Riyan keluar dari mobil dan langsung menghampiri Aina.
"Ayo kita berangkat, keburu telat nanti kamu ketinggalan kereta." ucap Riyan langsung mengambil koper Aina dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Aina bengung dengan tingkah Riyan seolah tahu kegelisahannya akan keterlambatannya ke stasiun. Tanpa banyak bicara, Aina langsung masuk dalam mobil.
"Terima kasih." ucap Aina setelah mereka dalam perjalanan menuju stasiun.
"Wisnu tadi telepon kalau dia ngga jadi antar kamu." ujar Riyan berbohong.
Padahal dia tadi tidak sengaja lewat di pertigaan jalan yang menuju kos-an Aina. Dia melihat aina sedang menunggu dengan gelisah, tanpa pikir panjang Riyan langsung menghampiri Aina dan mengantar Aina sampai ke stasiun.
Sampai di stasiun, Aina langsung menuju loket untuk menukarkan tiket lalu langsung masuk ke peron mencari kereta yang akan di tumpanginya. Aina beruntung langsung menemukan kereta yang akan di tumpanginya, setelah memastikan kereta belum berangkat Aina berbalik ke arah Riyan yang melihatnya dari kejauhan.
Dia melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Riyan. Riyan membalas lambaian tangan dan tersenyum lega. Pulang dari stasiun Riyan langsung ke apartemen Wisnu.
_
_
__ADS_1
******************