
Siang ini, Aina sengaja makan siang di luar. Karena Wisnu tidak ada di kantor, entah sedang ngurusin apa dia tidak bilang pada Aina. Tapi Aina tak ambil pusing, dia ingin makan siang di luar.
Jika ada Riyan, dia akan makan siang bareng dengannya. Tapi Riyan tidak masuk kantor, mau tidak mau dia keluar kantor sendiri. Karena dia tak mau mendengar gosip lagi tentangnya di kantin.
Baru sampai gerbang hendak menyeberang, Aina mendengar namanya di panggil dari dalam mobil yang sejak tadi parkir di depan pagar. Kemudian keluarlah Anto yang sejak tadi menunggunya. Pucuk di cinta ulam tiba, Aina keluar kantor dan Anto tak membuang kesempatan itu.
"Makan siang sama aku yuk." ajak Anto yang langsung menarik tangan Aina untuk di bawa ke dalam mobilnya.
Aina heran, namjn akhirnya dia mau tidak mau harus ikut Anto kemana dia membawanya pergi. Dia masuk mobil lalu duduk dengan tenang. Walaupun agak kesal dengan perlakuan Anto tiba-tiba itu.
Anto pun melajukan mobilnya, dia mengendarai dengan pelan karena tak mau membuang waktu bersama Aina nanti. Sepuluh menit, mobil Anto berhenti di depan restoran tradisional khusus makanan daerah mereka. Lalu keduanya turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam restoran. Mereka memesan apa yang di sukai, lalu menunggu pesanan datang.
"Ai, nanti sore pulang kan?" tanya Anto.
"Iya." jawab Aina singkat.
"Bareng aku aja, aku juga pulang libur panjang ini." kata Anto menawarkan diri.
"Tapi aku udah pesan tiket." kata Aina menolak.
__ADS_1
"Ngga apa-apa, di cancel aja." kata Anto.
"Ih, sayanglah di cencel. Udah bayar juga." Anto tertawa, dia merasa lucu dengan ekspresi wajah Aina.
Entah kenapa sejak bertemu Aina lagi untuk pertama kali setelah pertemuan di meeting waktu itu, debaran jantungnya tak beraturan. Dia melihat Aina yang berbeda. Untuk itu, dia tak mau membuang kesempatan untuk mendekati Aina sebagai laki-laki yang menyukai perempuan.
Bukan sebagai sahabat lagi, walau awalnya dia ingin seperti dulu lagi. Tapi ada rasa lain di hati Anto pada Aina. Ya, dia menyukai sahabat sewaktu masa SMA dulu. Namun harus putus hubungan karena ulah salah satu temannya dulu.
"Ngga apa-apa, Ai. Enak juga di mobil, bisa berhenti dan istirahat di rest area." ucap Anto lagi, membujuk Aina.
"Di kereta juga bisa istirahat." kilah Aina. Sayang sekali kan kalau di hanguskan tiketnya, pikir Aina.
Anto diam, dia tidak bisa berdebat lagi. Menarik nafas kasar dan membuangnya kesamping. Membelokkan mobilnya di sebuah restoran sunda, karena dia tahu Aina suka sekali makanan yang ada lalapannya.
"Mana bisa kasih tahu, aku ngga punya nomor kamu." ucap Aina tanpa sadar.
"Sini ponsel kamu." ucap Anto.
Mau tak mau Aina mengambil ponselnya di tasnya lalu menyerahkan pada Anto. Tak ada salahnya aku akrab lagi dengan dia, pikir Aina. Lalu Anto menyimpan nomor Aina,dan menyerahkan kembali ponsel Aina. Setelah lama menunggu, pesanan mereka pun datang.
__ADS_1
Usai makan, mereka bercerita masa lalu yang indah dan lucu sebelum kejadian waktu itu. Tawa gembira keduanya mengenang masa lalu sangat menyenangkan. Tak terasa waktu jam makan siang sudah usai, lalu keduanya pergi dari tempat makan itu. Anto mengantar Aina ke kantornya,lalu dia pergi setelah Aina masuk ke dalam gedung kantornya.
****
Jam setengah lima Aina keluar dari kantor, dia memesan ojek online untuk mengantarnya ke sebuah toserba. Dia tidak ke mall, karena akan makan banyak waktu. Dia hanya mau membeli oleh-oleh sekedarnya saja untuk di bawa pulang. Tak lupa dia beli kaos untuk Jhody adiknya, dia merasa bersalah waktu itu dia janji mengajak jalan-jalan adiknya itu.
Lama Aina memilih kaos yang ukuran anak SMP, dia akan membeli tiga buah kaos untuk adiknya. Warna merah marun, putih dan biru muda dia ambil. Lalu segera menuju ke kasir untuk membayar kaos yang tadi dia pilih. Antrian agak panjang, dia sabar menunggu antrian yang mulai bergerak maju.
Matanya melihat seorang wanita cantik yang sedang bergelayut manja di lengan seorang laki-laki berkemeja hitam berdasi merah. Sesaat Aina tertegun memandang laki-laki yang lengket dengan wanita cantik itu, dia perhatikan dengan seksama. Ah, ternyata dia hanya mirip saja. Kata Aina dalam hati.
Aina pun mengagumi wanita cantik yang sejak tadi bergelayut manja, lama dia menatap wanita itu. Hingga wanita itu menoleh ke arahnya, Aina mengalihkan pandangannya ketika sadar wanita itu terus saja di perhatikan olehnya. Satu tepukan di belakang membuat Aina sadar, orang di belakangnya mengingatkan bahwa antrian sudah berkurang dan dia harus maju ke depan untuk membayar baju yang dia bawa.
"Mbak, maju dong." ucap laki-laki di belakangnya.
"Oh ya, maaf mas." kata Aina, dia pun maju untuk membayar belanjaan yang dia ambil tadi.
Suasana mall sangat ramai, karena memang waktunya libur panjang besok. Setelah selesai membayar, Aina pun langsung pulang ke kos-kosannya untuk mempersiapkan pulang naik kereta sore ini.
_
__ADS_1
_
********************