Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
53. Kencan Pertama


__ADS_3

"Kita mau kemana mas?" tanya Aina setelah mereka sudah di mobil.


"Ya terserah kamu, kan kamu yang tahu daerah ini." kata Riyan sambil menyetir mobil pelan.


Aina tampak berpikir, dia ketuk-ketuk dagunya dengan jari telunjuk. Riyan menoleh ke arahnya lalu tersenyum melihat Aina seperti itu. Lucu, pikirnya.


"Cari tempat yang sejuk-sejuk aja. Di daerah Kuningan, mas. Kita sekalian refreshing pikiran." kata Aina.


"Boleh, itu juga menarik." kata Riyan.


"Nanti kita cari di gugel map aja, mas." kata Aina lagi.


"Siap tuan putri" Aina menoleh ke arah Riyan dan tersenyum malu.


"Kenapa?"


"Ngga apa-apa."


Satu jam perjalanan ke arah Kuningan, mereka sampai tempat yang di tuju. Riyan memarkirkan mobilnya di parkiran, kemudian mereka turun dan menuju tempat pembayaran tiket masuk. Meski sebuah tempat wisata alam, tetapi tetap membayar uang masuk tempat wisata.


"Kamu pernah ke sini?"


"Belum, tapi katanya tempatnya bagus. Bagus buat orang pacaran." kata Aina tanpa sadar. Riyan menoleh, dia pandangi Aina yang menatap sekeliling mencari entah apa.


"Jadi kita lagi pacaran nih ceritanya?" tanya Riyan.


"Hah?"


"Ya udah, ayo kita cari tempat yang nyaman buat pacaran." ucap Riyan.


Aina makin bingung, lama dia berpikir. Lalu tiba-tiba tersenyum sendiri. Riyan pun ikut tersenyum, gemas juga pikirnya. Selain masalah pekerjaan, Aina begitu lambat menanggapinya, membuat Riyan jadi gemas di buatnya.


Lalu mereka menuju kafe yang terlihat cocok untuk menikmati tempat yang nyaman buat para pecinta alam. Setelah mereka mendapatkan tempat duduk, lalu mereka memesan makan siang karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu.


_


Setelah mereka menikmati makan siang, mereka jalan-jalan di sekitar tempat kafe, karena pemandangan dari kafe juga sangat bagus. Mereka duduk di sebuah bangku yang kebetulan menghadap ke arah hamparan sawah yang menyejukkan. Pengelola kafe ini sangat pintar memanjakan pengunjungnya, untuk terus berlama-lama menikmati suasana alam terbuka.


Pantas saja pengunjung tak pernah sepi dan selalu ramai. Setelah keduanya duduk, mereka terdiam sejenak. Lalu Aina bertanya tentang unek-unek yang selama ini di pendamnya sejak semalam.


"Mas Riyan ngga mau cerita?" tanya Aina yang sejak tadi sudah menunggu Riyan cerita.

__ADS_1


"Boleh ngga sih aku cium kamu?" kata Riyan menatap Aina penuh cinta tanpa mengindahkan pertanyaan Aina. Aina sedikit menjauh duduknya mendengar ucapan ngaco menurutnya.


"Hahah! Kamu lucu Ai. Aku jadi pengen cepet-cepet nikahin kamu." Riyan tertawa lepas melihat tingkah Aina barusan.


Dia senang menggoda Aina. Aina cemberut, dia kesal. Riyan masih sempat-sempatnya menggoda ketika dia masih penasaran dan serius bertanya tentang cerita Riyan.


"Mas Riyan jangan bercanda terus dong, ngga lucu!" masih mode cemberut.


"Siapa yang bercanda, aku memang pengen cepet nikahin kamu. Kalau perlu Minggu depan. Bagaimana?"


"Mas Riyan!"


"Deal Minggu depan?"


"Ish!"


"Berarti deal ya."


"Dih, siapa juga yang deal? Aku tuh masih penasaran dari tadi malam, kenapa mas Riyan tiba-tiba datang dan langsung melamar aku." kata Aina menunduk malu.


"Jadi ngga mau di lamar nih?" tanya Riyan masih dengan menggoda Aina.


"Ya ngga juga, maksudnya kenapa bisa tiba-tiba melamar aku, maksudnya. Ish, mas Riyan kenapa ya bikin aku kesal aja!" rasa kesal Aina kian memuncak, wajah merah padam terlihat jelas menahan emosi.


Aina diam saja, dia membuang wajahnya kesamping. Rasa kesalnya pada Riyan yang selalu bercanda di saat dia ingin bicara serius.


"Karena aku mencintaimu. Aku takut kamu keburu di lamar orang. Makanya kemarin langsung melamar kamu." ucapan Riyan menatap Aina yang masih Aina diam dan belum menoleh ke arahnya.


Aina menunduk, tiba-tiba wajah tersipu malu mendengar ucapan Riyan, pipi Aina memerah. Dia menoleh ke arah Riyan yang terlalu dekat dengannya. Dan tentu saja, itu membuat Riyan dengan cepat mencium pipi Aina yang masih memerah..


Cup.


Aina semakin terkejut, pipinya yang memerah semakin memerah karena Riyan mencium pipinya secara mendadak. Riyan terssnyum, dia membelai pipi yang memarah itu.


"Kamu cantik jika sedang merah pipinya, Aina." kata Riyan masih menatap Aina.


Keduanya saling menatap, namun Aina memutus tatapannya pada Riyan karena degup jantungnya semakin kecang. Tatapan Riyan sangat menusuk dalam di hatinya, sehingga Aina jadi salah tingkah.


"Terus, kenapa tiba-tiba malam sudah ada di rumah. Katanya waktu di telepon lagi sibuk, kok sempat-sempatnya datang ke rumah." tanya Aina tidak berani menatap lagi ke arah Riyan.


"Kan sudah aku bilang, aku takut kamu di ambil orang. Buktinya waktu aku sampai rumahmu, sudah ada teman kamu. Ketemu ayahmu pula. Aku sudah gelisah lihat temanmu itu ngobrol sama ayahmu. Rasanya seperti runtuh duniaku." kata Riyan, matanya menerawang jauh ke arah hamparan sawah.

__ADS_1


"Masa sampai seperti itu?" kata Aina penasaran.


Riyan menghela nafas panjang,dia tampak berpikir. Jika dia cerita masa lalu, apakah Aina tidak cemburu. Dia kembali mstatap wajah Aina dengan seksama.


"Dulu, aku pernah suka sama seorang perempuan. Karena aku terlalu lama menyatakan cinta sama dia, dia sudah lebih dulu dengan orang lain. Aku kecewa pada diri sendiri, kenapa ngga secepatnya menyatakan cinta padanya." Riyan menghela nafas panjang lalu menunduk.


Aina masih menunggu cerita selanjutnya. Ada rasa cemburu di hati Aina, tapi dia diam saja. Menarik nafas berat, baru juga satu hari hatinya kenapa sedikit sakit dengan cerita Riyan itu. Apakah Riyan masih mencintai gadis yang dia ceritakan?


"Makanya, ketika aku hubung kamu kemarin siang, dan dengar teman kamu mau datang ke rumah, buru-buru aku langsung ke Cirebon. Padahal waktu itu sedang menunggu klien, tapi aku batalkan, biar asistenku yang menemuinya. Aku ngga mau kejadian dulu terulang lagi. Tapi ternyata aku terlambat, temanmu sudah datang lebih dulu. Aku langsung pesimis. Di tambah lagi kamu mengajak dia bicara berdua, aku semakin tidak percaya diri. Kekecewaanku akan terulang lagi, dan akan lebih dalam rasa sakitnya." ucap Riyan sedih.


"Aku bicara sama Anto supaya ngga melanjutkan niatnya itu. Aku memang ngga suka dia dan menjelaskan kenapa aku ngga suka. Sesuatu masa lalu itu belum selesai sama Anto. Makanya aku mengajak dia keluar untuk menyelesaikannya." Aina menghela napas, dia menatap Riyan menunggu reaksi dari laki-laki itu. Tapi Riyan diam saja.


"Dia dulu sahabatku waktu SMA, tapi gara-gara hasutan orang lain, dia memutuskan persahabatan kita. Sampai lulus sekolah tak ada komunikasi. Waktu ketemu di Jakarta juga aku kaget, itu pertemuan pertama aku sama dia setelah dia memutuskan persahabatan. Tapi dia malah minta sama pak Wisnu untuk makan siang berdua. Ya mau bagaimana lagi, pak Wisnu langsung pergi meninggalkan aku. Dia udah minta maaf sih waktu itu juga, aku juga sudah maafkan dia." kata Aina.


"Tapi kamu sering ketemu sama dia, ke kantornya lagi." kata Riyan, pura-pura kesal.


"Eh, waktu itu di suruh pak Wisnu langsung aku yang menyerahkan berkasnya. Padahal aku udah menyuruh kurir untuk menyerahkannya. Tapi ngga tahu kenapa tiba-tiba pak Wisnu bilang harus aku yang menyerahkan sendiri. Aku sebenarnya malas ketemu Anto." Aina beralasan.


"Tapi ketemu juga kan, pulang ke kantor di antar sama dia." cibir Riyan.


Aina menatap Riyan, dia bingung dengan sikap Riyan baru saja. Kemudian dia tersenyum, lalu tiba-tiba ingin menjahili Riyan.


"Mas Riyan cemburu?"


"Iyalah, lihat kamu tertawa senang sama dia, aku cemburu.",tanpa sadar Riyan mengucapkan rasa cemburunya.


"Terima kasih mas Riyan sudah perhatian sama aku. Sudah cemburu juga. Jadi makin cinta sama mas Riyan." kata Aina tersenyum malu, Riyan tersenyum.


"Tapi memang aku ngga suka sama Anto, aku pikir ngga baik juga dendam dan masih kecewa sama dia. Walau bagaimanapun dia dulu pernah jadi sahabatku. Aku selalu menganggapnya begitu dulu sebelum dia memutuskan persahabatan. Tapi dia bilang tadi malam menyukaiku, kan aneh. Aku ngga bisa begitu. Aku jelaskan sama dia kalau aku kecewa padanya, dan sampai sekarang ngga bisa hilang. Mungkin karena aku terlalu sering di kecewakan, makanya aku selalu ngga pernah percaya sama orang yang tiba-tiba suka, tiba-tiba dekat denganku. Aku takutnya mereka akan membuatku kecewa." Aina menunduk, dia diam. Menarik napas pelan.


Riyan menarik tangan Aina lalu menggenggamnya erat. Lalu menatap wajah Aina yang menunduk, lalu dia menarik dagu Aina agar menatap ke arahnya juga.


"Maaf, aku membuat kamu ingat masa lalu yang membuatmu tidak suka. Aku ngga akan membuat kamu kecewa, aku benar-benar cinta sama kamu, Ai. Minggu depan mama sama papa akan menemui ayahmu dan aku minta secepatnya menikahimu." ucap Riyan sambil menarik tubuh Aina ke dalam pelukannya.


Sekali lagi Aina tidak menolak, dia sudah nyaman dengan Riyan. Dia juga sangat mencintai laki-laki itu. Keduanya menatap ke arah hamparan sawah yang menguning itu.


"Aku cinta sama kamu, Aina Saraswati." Kata Riyan penuh keyakinan, dan dia yakin Aina juga mencintainya walau belum terucapkan. Hari semakin sore, mereka jalan-jalan sambil menikmati keindahan alam pegunungan hingga keduanya memutuskan pulang ke rumah.


_


_

__ADS_1


******************


__ADS_2