
"Makan yang enak di mana Ai?" tanya Riyan.
Aina diam, dia masih memikirkan lamaran Riyan tadi. Hingga Riyan bertanya lagi, namun Aina tidak juga menjawab. Riyan menoleh ke arah Aina, lalu tersenyum tipis.
"Ai?" Riyan memanggil.
"Ya mas?" jawab Aina kaget.
"Kamu ngelamun?" tanya Riyan.
"Oh, ngga kok. Aku penasaran aja sama mas Riyan." kata Aina beralasan.
"Itu namanya melamun, melamun calon suami yang ganteng ini." ucap Riyan tersenyum.
"Ish, percaya diri banget merasa ganteng." cibir Aina dengan cemberut, lalu tersenyum
"Hahah!"
"Terus kita mau kemana?" tanya Aina menatap Riyan yang masih tertawa renyah.
"Kan cari makan, kemana lagi. Aku tadi tanya di mana tempat makan yang enak, kamu malah melamun orang ganteng ini." kata Riyan lagi dengan menggandeng tangan Aina erat.
"Tuh kan, narsis lagi mas Riyan."
"Ya udah, di mana makan yang enak?"
"Cari makannya sekitar sini aja, tadi ayah bilang ngga boleh jauh-jauh dan ngga boleh lama-lama cari makannya." kata Aina.
"Di mana?" tanya Riyan, dia tidak mau berdebat lama-lama karena perutnya benar-benar lapar.
"Pecel lele suka ngga?" tanya Aina.
"Suka aja, aku ngga milih-milih makanan." jawab Riyan.
"Ya udah, di seberang jalan sana aja. Dekat mini market, pecel lelenya enak." kata Aina.
"Ya udah kita makan di sana."
"Mas Riyan aja yang makan, aku udah makan tadi sama ayah dan ibu." kata Aina.
"Kalau begitu, temani aku makan aja." ucap Riyan.
Aina mengangguk, dia mengeratkan genggaman tangan Riyan. Lalu keduanya menyeberang jalan menuju warung pecel lele. Riyan senang menggandeng tangan Aina. Menatap Riyan lalu tersenyum malu. Sampai di sana, keduanya mencari duduk yang enak dan nyaman. Aina dan Riyan menunggu pesanan.
"Aku akan jawab semua pertanyaan kamu Ai." kata Riyan seolah tahu rasa penasarannya itu.
"Tapi setelah makan, supaya kuat untuk menjawab setiap pertanyaanmu" ucap Riyan lagi.
Aina tersenyum. Dia malu Riyan mudah sekali menebak apa yang ada di pikirannya.
Setelah makanan datang, Riyan langsung menyantap makanannya. Dia benar-benar lapar, Aina memperhatikan Riyan makan, dia merasa kasihan.
Mau bertanya tapi tadi sudah di peringatkan, mau tidak mau hanya melihat Riyan makan. Kembali senyum Aina merekah, dia merasa malu sendiri mengaku bahwa dia juga mencintai laki-laki yang sedang makan dengan lahap itu.
__ADS_1
Tidak banyak pembicaraan di antara mereka berdua, hanya rasa bahagia di hati lebih dari biasanya dengan kedekatan mereka. Benih-benih cinta Aina dan Riyan akhirnya berkembang menjadi satu. Senyum Aina tak pernah luruh, juga Riyan dalam menikmati makannya juga merasakan hal yang sama.
Setelah selesai, mereka kembali ke rumah. Ada keraguan di hati Aina, ingin mendengarkan alasan dan penjelasan Riyan tapi sudah terlalu lama di luar.
"Makasih ya sudah menemani aku makan." ucap Riyan setelah sampai rumah.
"Iya." jawabnya singkat, Aina masih ragu untuk bertanya.
"Besok siang aku ajak kamu jalan. Banyak yang harus aku jawab dari semua pertanyaanmu." kata Riyan sambil tersenyum.
Aina diam, dia tidak rela jika Riyan harus pergi.
Nginep di mana mas?" tanya Aina.
"Di rumah Tante Irma." jawab Riyan.
"Oh."
"Kenapa?"
"Ngga apa-apa." jawab Aina. Dia diam.
"Mas Riyan.."
"Emm..?" menatap Aina teduh, sesungguhnya dia sangat rindu dan tak mau pergi, tapi ini sudah malam dan sudah terlalu lama mengajak Aina keluar.
Aina masih menunduk, tidak berani menatap Riyan. Lalu tanpa di duga, Riyan menarik tubuh Aina dan memeluknya erat. Aina tidak menolak, lama mereka berpelukan. Keduanya menumpahkan segala rasa dengan berpelukan erat. Setelah merasa cukup, Riyan melepas pelukannya.
Lalu Riyan pergi meninggalkan Aina yang menatapnya dengan senyum. Lalu melambaikan tangan, setelah mobil Riyan pergi barulah Aina masuk.
_
Sampai di rumah Tante Irma, Riyan langsung mengetuk pintu dan mengucap salam.
"Assalamualaikum.."
"Wa alaikum salam."
Pintu langsung di buka. Ibu Irma kaget dengan kedatangan Riyan di rumahnya.
"Lho, Riyan malam-malam begini kok ada di sini?" tanya tantenya heran.
"Riyan mau menginap di sini sehari tante." kata Riyan langsung masuk tanpa menghiraukan pertanyaan dan rasa terkejut tantenya itu. Dia langsung duduk di sofa.
"Kamu lagi ada tugas di sini? Malam-malam begini. Jam berapa ini?" tanya ibu Irma masih penasaran dengan keponakannya yang tiba-tiba ada di rumahnya, malam hari pula.
"Ngga tante, habis melamar anak orang." jawab Riyan santai.
"Hah, apa? Siapa?" tanya ibu Irma bingung sekaligus penasaran.
"Udah deh Tante, nanti aja ceritanya. Riyan capek, pengen tidur. Besok Riyan bisa cerita." lalu Riyan masuk ke kamar meninggalkan ibu Irma yang masih kebingungan.
Pagi harinya Riyan bangun, sholat subuh. Setelah selesai dia langsung mengecek semua email yang masuk tadi malam. Dia sengaja bangun pagi agar lebih tenang ketika jalan berdua dengan Aina tanpa adanya gangguan pekerjaan. Satu ketukan pintu terdengar dari luar.
__ADS_1
"Yan, udah bangun belum?" tanya Tante Irma.
"Udah Tante, masuk aja ngga di kunci kok." jawab Riyan yang masih sibuk mengecek dan memeriksa semua email dari Denis.
Ibu Irma pun membuka pintu lalu masuk, kemudian langsung duduk di tepi ranjang sambil menatap Riyan yang sibuk dengan ponselnya. Dia masih penasaran dengan ucapan keponakannya itu.
"Ada apa Tante?" mengalihkan pandangannya pada ibu Irma dan kembali menatap ponselnya.
"Tante masih bingung dengan ucapan kamu tadi malam. Kamu habis melamar siapa?" tanya ibu Irma.
Riyan menghela nafas panjang, lalu menatap ibu Irma. Dia tersenyum penuh pebahagiaan.
"Kakak iparnya Arya, Tante. Teman kerja Riyan." masih mengulas senyum.
"Ah, yang benar Yan?" tanya ibu Irma tidak percaya.
"Kenapa? Aneh?" tanya Riyan sambil memicingkan matanya.
"Ya ngga apa-apa. Akhirnya ponakan tente ngga jomblo lagi, mau nikah pula. Tante senang dengarnya" kata ibu Irma sambil tersenyum senang.
"Yee, memangnya aku mau menjomblo aja." kata Riyan.
"Heheh. Eh, tapi mama kamu udah tahu belum?"
"Belum, Riyan dadakan meelamrnya." kata Riyan santai.
"Lho,kok bisa?"
"Ya bisalah, tan. Tapi tante jangan bilang mama dulu ya. Mau kasih kejutan sama mama."
"Memang mama kamu udah pernah ketemu sama calon istri kamu?"
"Pernah sekali."
"Terus kapan rencana nikahnya?"
"Pengennya sih secepatnya Tante, takut Aina di godain laki-laki lain." kata Riyan lagi.
"Deeh yang bucin, ngga mau caisnya di godain." ibu Irma mencibir ponakannya itu.
"Apa itu cais?"
"Calon istri."
"Ya udah, Tante mau menyiapkan sarapan dulu deh. Tapi, kamu mau pulang kapan?" tanya ibu Irma.
"Nanti sore Tan, siang ada janji sama cais." kata Riyan menirukan omongan tantenya. Ibu Irma hanya tertawa kecil dan geleng-geleng kepala, kemudian keluar dari kmaar Riyan.
_
_
*******************
__ADS_1