
Dia adalah sosok yang menyenangkan, dan mudah untuk akrab dengan siapa saja. Pribadinya yang baik, jauh dari kata playboy beda dengan sahabatnya. Hanya saja dia tidak mudah mendapatkan pacar, bisa di katakan jomblo abadi begitu kata Wisnu.
Bukan karena tidak bisa, hidupnya terlalu santai sehingga masalah pacar pun dia abaikan walaupun banyak wanita cantik yang mengejarnya. Beda dengan sohibnya, dia tidak manfaatkan wajah tampannya untuk memikat para wanita yang mengejarnya. Prinsipnya ketika dia jatuh cinta maka dia akan mengejarnya sampai manapun.
Namun karena wanita yang dia suka, terlebih dulu di sukai sahabatnya maka lebih baik dia yang mengalah. Dia akan mencari yang lain lagi. Riyan adalah asisten pribadi dari Wisnu sahabatnya. Asisten yang lebih santai dari bosnya.
Bukan salah dia sebenarnya, ayah dari Wisnu yaitu pak Hutama memaksanya menjadi asisten putranya. Yang kadang kalau bekerja suka seenaknya saja. Seperti saat ini, tanpa penjelasan Wisnu tiba-tiba pergi keluar kota dan menunjuknya untuk menuntaskan segala jadwal kerjanya selama dua hari.
Riyan baru berumur dua puluh sembilan tahun, tidak jauh beda dengan Wisnu. Dia mempunyai usaha kafe dan resto yang ada di Jabodetabek, cukup sukses sebenarnya. Namun dia belum bisa fokus pada bisnisnya itu karena permintaan pak Hutama.
Bisnisnya dia percayakan pada manajer di cabang masing-masing. Dan beberapa Minggu ini dia mulai fokus pada kafe dan restonya, karena suatu hari dia akan keluar dari perusahaan Media Karya Hutama.
"Ai, kamu masih dengar gosip-gosip di kantor?" tanya Riyan di sela perjalanan yang terjebak macet.
"Ya, masih sih. Tapi saya ngga ambil pusing, pak. Karena saya tidak seperti apa yang mereka tuduhkan pada saya." kata Aina datar.
"Jangan dengarkan, mereka hanya iri pada kamu karena kamu di angkat jadi sekretaris CEO." kata Riyan.
"Sejujurnya, posisi saya sekarang itu tidak enak karena bukan bidang saya." kata Aina menghela nafas panjang.
Riyan menoleh ke arah Aina. Dia melihat Aina yang terlihat kurang bersemangat. Apakah dia sudah di tembak oleh Wisnu? Pikir Riyan.
"Tapi kamu bisa melakukannya dengan baik, lagi pula banyak ynag menginginkan jadi sekretaris lho. Dan juga gajinya besar, apa yang membuat kamu tidak enak?" tanya Riyan heran.
Dia melajukan mobilnya yang sudah mulai renggang antrian kendaraan. Berurai sesuai jurusan masing-masing jalan yang tertera di plang di pinggir jalan.
"Ya, ilmu saya jadi kurang bermanfaat karena tidak di gunakan." jawab Aina.
"Itu alasan kamu aja, lagi pula atasan kamu suka kok cara kerja kamu dan suka orangnya juga kan?" tanya Riyan menyelidik.
Aina diam, dia mencerna kata-kata Riyan. Dia menoleh menatap secara intens, Riyan balik menatapnya. Beberapa menit mereka saling menatap, ada rasa senang di hati Aina. Lalu dia palingan wajahnya ke kaca jendela karena malu, wajahnya bersemu merah.
Entah apa yang ada di hatinya, tiba-tiba jantungnya berdetak. Sejurus kemudian dia kembali menatap ke depan, tapi Riyan masih menatapnya. Sesekali melihat ke depan.
"Ai, apa Wisnu sudah mengatakan suka padamu?" tanya Riyan penasaran, Aina malah menunduk dan menghela nafas panjang.
"Sudah." jawab Aina singkat.
Tiba-tiba hati Riyan kecewa, wajah datarnya kembali dia tunjukkan. Matanya menatap ke depan dan pikirannya entah kenapa jadi tidak fokus.
"Oh, lalu kamu bagaimana?" tanyanya tanpa menoleh ke Aina.
Antrian kendaraan kembali terjadi, macet di ibukota selalu menjadi makanan tiap hari bagi pengendara. Karena obrolan canggung bagi Aina itu, suasana macet tidak membuat mereka kesal. Pikiran keduanya berkecamuk.
"Saya belum menjawabnya, lagi pula terlalu cepat untuk menyatakan perasaan. Kita kan baru kenal juga baru sebagai atasan dan sekretaris. Nanti apa kata orang, jika memang saya pacaran dengan pak Wisnu." kata Aina datar.
__ADS_1
"Jangan dengarkan omongan orang-orang Aina. Jika kamu suka, kenapa harus pikirkan orang lain. Lagi pula kan sama-sama suka, apa salahnya?" kata Riyan.
"Ngga ada yang salah, hanya saja ini terlalu cepat dan mendadak. Lagi pula saya belum mengenal dekat dengan pak Wisnu." kata Aina lagi.
"Kalau sudah dekat, nanti juga tahu tentang dia Ai. Baguskan kamu pacaran sama Wisnu." ucap Riyan, padahal hatinya sedih.
"Apa bagusnya?" ucap Aina seperti biasa saja.
"Hahah, dia itu tampan Ai lalu kaya terus CEO lagi. Kan bagus." ucap Riyan dengan tawa datar tanpa kelucuan.
"Tapi biasanya CEO tampan dan kaya banyak ceweknya pak." ucap Aina.
"Tapi Wisnu ngga seperti itu, aku sudah mengenal dia sejak lama." ucap Riyan berusaha membela sahabatnya.
"Pak Riyan kenal sejak kapan?"
"Aku kenal sejak kuliah, tapi keluarga kita saling dekat juga." jawab Riyan.
"Oya, saya selalu penasaran dengan jabatan asisten yang bapak pegang." kali ini Aina mengalihkan pembicaraan.
"Hahah, kamu penasaran jabatanku atau orangnya Aina?" tawa renyah Riyan membuat Aina tersenyum, dia suka tawa Riyan. Tanpa beban.
"Bisa dua-duanya, karena pak Riyan jarang ada di kantor. Asisten pribadi kok ngga selalu ada di kantor, aku lihat pak Riyan banyak di luar. Masuk ke kantor sesuka hati, maaf kalau bertanya soal itu."
Riyan terkekeh dengan ucapan Aina. Dia senang dengan pertanyaan Aina, memang banyak yang bertanya tentang dirinya. Berarti Aina selama ini memperhatikannya.
"Kenapa begitu?" tanya Aina heran.
"Kamu mau tahu aja apa mau tau banget?" goda Riyan, senyumnya masih mengembang. Aina ikut tersenyum malu.
"Aina?"
"Ya?" menatap Riyan dan mengerjapkan matanya.
"Kita sudah sampai, ayo turun." ajak Riyan.
Aina menoleh ke jendela, dia tidak tahu kalau mobil sudah berhenti sejak tadi. Lalu segera saja menarik gegang pintu mobil dan mendorongnya.
"Oh ya, maaf. Saya tidak tahu kalo sudah sampai." lalu Aina keluar dari mobil dan mengikuti langkah Riyan.
_
Setelah satu jam kunjungan itu, mereka lanjut makan siang. Di restoran terdekat saja, Aina tidak tahu jika Riyan punya restoran sejabodetabek.
"Kita makan di restoranku aja ya Ai?" kata Riyan setelah mereka meninggalkan bangunan yang belum jadi itu.
__ADS_1
"Pak Riyan punya restoran?" kata Aina kaget campur penasaran. Riyan tersenyum penuh arti.
"Hanya restoran kecil-kecilan kok, buat nambah penghasilan aja." jawab Riyan merendah.
"Memangnya gaji dari perusahaan kecil?" tanya Aina polos.
"Ngga juga, buat masa depan aja. Di perusahaan kan aku ngga selamanya bekerja di sana, jadi ya kalau sewaktu-waktu aku keluar dari kantor ada kesibukan lainnya." kata Riyan, Aina hanya manggut-manggut.
Lima menit dari tempat kunjungan, mereka sampai di restoran yang cukup besar dan lumayan ramai di jam makan siang seperti sekarang. Aina melangkah mengikuti Riyan, dia takjub dengan restoran yang katanya kecil tapi ternyata besar dan nyaman.
Sampai di dalam restoran semua pelayan membungkukkan badannya memberi hormat pada sang pemilik, mereka memperhatikan bos mereka yang membawa seorang wanita ke restorannya. Pemandangan itu sangat langka bagi pegawainya, karena jarang sekali bosnya itu mengajak wanita ke restorannya.
Lalu Riyan mengajak Aina masuk ke ruang privasi yang ada di lantai atas. Belum sempat bertanya, Aina sudah di suguhkan berbagai fasilitas yang cukup memuaskan. Dia takjub dengan segala yang di lihatnya.
"Pak Riyan, kok bohong sih?" kata Aina.
"Bohong kenapa?"
"Katanya kecil, tapi ini sih restoran kelas atas mas, eh pak Riyan. Maaf salah." kata Aina kikuk.
Wajahnya tegang dan bersemu merah karena malu dengan ucapannya tadi. Riyan tersenyum, dia pandangi wajah Aina dengan lembut. Hatinya berdebar, dan berdetak halus.
"Aku suka kamu panggil mas Riyan, Ai. Lebih akrab kedengarannya." kata Riyan.
"Maaf, tadi saya keceplosan aja pak Riyan." ucap Aina meralat.
"Ngga apa-apa, kamu panggil aku mas aja kalau di luar kantor. Kalau panggil pak itu rasanya tua banget, padahal aku belum menikah lho. Masih muda dan tampan." kata Riyan begitu percaya diri.
"Mm, baik pak."
"Aina!"
"Iya, mas Riyan." kata Aina malu-malu.
"Nah, gitu dong. Ya udah, kamu mau makan apa?" tanya Riyan.
"Terserah mas Riyan aja. Aku ngga tahu menu yang enak di sini."
"Oke, aku samakan saja dengan pesanan aku."
Lalu Riyan memencet tombol untuk memanggil pelayan, tak berapa lama pelayan datang dan menghampiri Riyan. Riyan menyebutkan beberapa menu makanan dan minuman lalu pelayan mencatatnya. Setelah selesai, pelayan itu pergi keluar.
_
_
__ADS_1
*******************