Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
17. Mulai Bekerja


__ADS_3

Setelah acara meeting dengan CEO dan mempresentasekan hasil kerjanya, Aina dan yang lainnya sudah bisa bekerja. Kali ini tidak sesantai dahulu di kantor cabang, karena memang dalam satu bulan ke depan semua karyawan yang di ambil dari kantor cabang harus kerja dengan konsentrasi tinggi.


Waktu yang di berikan oleh kepala bagian keuangan sebenarnya kurang, tetapi dengan bekerja sama dan tidak main-main akan cepat selesai tepat waktu. Maka dari itu, semua di haruskan fokus dalam bekerja, setidaknya dalam Minggu pertama mereka bekerja.


Aina di tempatkan di bagian keuangan dengan beberapa karyawan dari kota Semarang dan Bandung di level satu, karena bagian ini membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi. Jadi mau tidak mau Aina harus fokus dalam bekerja, toh dia tidak punya seseorang yang harus di perhatikan.


Mungkin itu yang membuatnya harus di tempatkan di level satu,karena dua orang lainnya juga sepertinya sama dengannya.


"Kamu dari cabang,apa?" tanya rekan yang dari Bandung pada Aina.


"Saya dari Cirebon." jawab Aina singkat.


"Oh, Cirebon." kata Citra yang dari Bandung itu dengan nada sinis.


Aina hanya menanggapi santai, bukan asal daerah yang dia banggakan. Tapi yang jelas dari daerah seperti Cirebon pun mampu bersaing dengan dari kota-kota besar. Dia di tempatkan di bagian yang sangat vital,walaupun satu rekan kerjanya itu terlihat sangat angkuh.


Pukul satu siang mereka selesai makan siang, sebenarnya Aina kurang begitu suka dengan dua rekan kerjanya. Yang satu angkuh dan satunya lagi cuek,tapi mau bagaimana lagi. Mereka di pilih untuk di satukan bekerjasama dalam satu bidang yang sama. Semoga saja bisa di ajak kerja sama, pikir Aina.


_


Pagi-pagi Aina sudah siap untuk berangkat kerja, dia merapikan blezer berwarna peach yang ia padukan dengan setelan kemeja orange dan rok hitam selutut. Rambut panjang sepunggung dia biarkan tergerai bebas. Dan polesan makeup wajahnya hanya natural saja, Aina malas harus berdandan lebih.


Baginya,dandanan dan gaya busana yang kelihatan monoton, tapi dia cuek saja.Yang penting dia merasa nyaman dengan penampilannya. Setelah selesai berdandan,Aina siap-siap untuk sarapan ke ruang makan dengan rekan kerja lainnya.


Aina keluar dari kamarnya lalu menuju meja makan,di sana sudah ada beberapa yang siap sarapan dan sudah selesai sarapan. Hari ini Aina hanya akan sarapan roti selai kacang saja,karena dia harus buru-buru. Lebih cepat lebih baik untuk datang ke kantor dan segera menyelesaikan misinya.


"Eh, yang dari Cirebon baru keluar." kata Citra dengan nada tetap sinis dari kemarin.


Aina menatap Citra dengan wajah dingin dan acuh.


"Namaku Aina, kalo kamu mau tahu." kata Aina.

__ADS_1


"Ya ya, kita memang satu tim jadi kupikir ngga apalah tahu nama kamu, lain kali kalo sudah di tempatkan sesuai skill ku." ucap Citra angkuh.


Dia buru-buru menyelesaikan makannya dan langsung pergi ke kantor.


Semua karyawan di bagian keuangan di kumpulkan untuk briefing sejenak sebelum mulai kerja. Ada pak Andi sebagai kepala bagian keuangan,dia membagi empat level bagian. Level satu itu bagian yang sangat rumit dan semua laporan terlebih dulu masuk ke level satu, Aina, Citra dan Suci di level satu.


Sedangkan yang lainnya di bagian dua,tiga dan empat. Pak Andi menyuruh bagian level satu untuk mengambil semua berkas dari seluruh cabang untuk di periksa dan di koreksi terlebih dahulu.


Setelah briefing selesai, mereka menempati tempatnya masing-masing. Antara rekan satu dan yang lainnya harus sering komunikasi agar tidak terjadi kesalahan yang fatal, sehingga pekerjaan cepat selesai. Aina mengesampingkan egonya demi selesainya pekerjaan mereka.


Walaupun hanya Aina yang lebih banyak menanyakan dan memeriksa dan memperbaiki, tapi dia tidak keberatan mengerjakannya. Dia berpikir agar cepat selesai pekerjaannya.


_


Ketika jam makan siang tiba, mereka ramai-ramai pergi ke kantin untuk mengisi perut kosong yang sejak tadi memanggil minta di isi. Aina pun pergi ke kantin, tak seorangpun mengajaknya pergi ke kantin bersama, dia pergi sendiri.


Sampai di kantin yang terletak di lantai tujuh, Aina mencoba bergabung dengan lainnya. Dia mencoba mengakrabkan diri dengan satu level bagian, tapi di acuhkan.


Bukan tidak suka tapi kurang suka. Dia lebih suka soto sapi. Akhirnya dia memilih pesan siomay dan jus alpukat kesukaannya. Setelah selesai memesan Aina mengambil ponselnya yang dia bawa, tangannya sibuk mencari-cari berita di media sosial tentang kos-kosan putri yang terdekat dan murah.


Agar dia tidak terlihat seperti kambing congek yang di acuhkan. Lima menit makanan datang, buru-buru Aina melahapnya. Dia tidak mau kehadirannya di satu meja dengan Citra dan Suci jadi orang yang di acuhkan. Semua menatap kursi yang Aina duduki, karena kebisingan yang di ciptakan oleh Citra dan Suci.


Seolah mereka mencari perhatian orang-orang di kantin. Tujuh menit makanan pun habis tak tersisa. Tanpa permisi pada kedua orang tersebut Aina buru-buru pergi,karena dia ingat dia belum sholat dhuhur. Setelah sholat dhuhur,Aina langsung ke ruangannya dan meneruskan pekerjaannya.


_


Jam setengah lima sore, semua karyawan siap-siap membubarkan diri. Sebelum pulang ke tempat penginapan Aina rencananya mau mencari kos-kosan yang lebih dekat. Dia sudah mendapatkan alamat kos-kosan itu melalui media sosial.


Aina pun siap-siap dengan tasnya untuk pergi, tapi sebelum dia keluar dia di panggil oleh pak Andi untuk masuk ke ruangannya.


Tok tok tok.

__ADS_1


"Masuk!"


Lalu Aina masuk ke dalam, pak Andi mempersilakan Aina duduk, Aina pun duduk di hadapan pak Andi.


"Bagaimana kerjaan hari ini A..ina?" tanya pak Andi agak ragu menyebut nama Aina.


"Lumayan pak, sebagian sih yang salah terletak pada penempatan jumlahnya jadinya ya, banyak yang harus di koreksi." kata Aina.


"Mm, apa penempatanmu dengan dua orang cukup untuk membereskan kesalahan-kesalahan itu?" tanya pak Iwan.


"Ya cukup sih pak, kalau kerja sama tim bisa solid. Tidak selalu mengandalkan satu orang saja." Aina jujur dengan keadaan timnya.


"Apa tim kamu tidak membantu dan tidak mau bekerjasama?"


"Bukan begitu pak, maksudnya jika satu tim bisa solid dalam pengerjaan, maka semua pasti beres. Makanya, kita selalu berdiskusi terlebih dahulu sebelum mulai membereskan laporan itu." kata Aina.


Pada kenyataannya hanya Aina yang banyak mendiskusikan dan mengoreksi laporan itu hari ini. Tapi Aina tidak mau gegabah dengan omongannya itu.


"Ya sudah, semoga kamu bisa betah di sini dan secepatnya menyelesaikan tugas ini. Karena semua butuh cepat, kalau sudah beres kita bisa santai sedikit dalam bekerja. Paling nanti di akhir bulan akan lebih sibuk seperti hari-hari biasanya." kata pak Andi.


"Iya pak." jawab Aina singkat.


"Kamu boleh pulang."


"Kalau begitu saya permisi pak."


Aina langsung keluar dan dia langsung menuju lift turun ke bawah. Rasanya melelahkan sekali hari ini, dia pikir besok saja dia mencari alamat kos-kosan itu.


_


_

__ADS_1


***************


__ADS_2