Kisah Cinta Aina

Kisah Cinta Aina
19. Pekerjaan Rangkap Dua


__ADS_3

Setelah mengubungi kepala bagian, Wisnu mengambil berkas-berkas yang harus dia tanda tangani. Hari ini dia sangat sibuk dengan beberapa berkas yang sudah masuk di mejanya yang siap di tanda tangani. Dia mengabaikan sahabatnya yang sejak tadi memperhatikannya.


"Sibuk pak bos?" tanya Riyan dengan nada meledek.


Yang di tanya hanya cuek dan tidak menghiraukan omongan sahabatnya itu. Tak lama, pintu di ketuk dari luar.


"Masuk."


Lalu seseorang membuka pintu dan masuk. Dia duduk di depan atasannya itu setelah di persilakan duduk. Riyan melihat pak Iwan kebingungan dengan pemanggilan dirinya oleh pak CEO.


"Pak Andi, saya butuh sekretaris baru. Dan saya pengen ngambil karyawan dari bagian keuangan. Bisa pak Andi tunjuk satu orang yang mampu untuk jadi sekretaris saya?" kata Wisnu.


Pak Andi diam, dia heran kenapa harus ngambil dari bagian keuangan. Bukan membuka lowongan perekrutan kembali untuk posisi itu.


"Pak Andi bisa kan menunjuk satu orang untuk jadi seoretari saya?" katanya lagi.


"Mm, apa tidak buka lowongan kerja aja pak, buat sekretarinya. Soalnya saya agak ragu, apa nanti dia bisa." kata pak Andi ragu.


"Kata Riyan ada karyawan yang bisa menggantikan Maya. Soalnya saya butuh mendadak sekali, kalau mengambil yang baru jadi harus mengajarkan dia, lebih lama lagi nantinya. Besok lusa saya harus meeting dengan klien penting." kata Wisnu.


Pak Andi tampak berpikir, kira-kira siapa yang pantas jadi sekretaris CEO itu. Riyan tahu apa yang di pikirkan pak Iwan, dia pun membantu mencarikan pilihan.


"Yang dari cabang Cirebon kalau tidak salah, pak Andi." celetuk Riyan.


"Oh, Aina saraswati?" kata pak Andi.


"Iya, dia itu."


"Mm, dia memang bagus sih kerjanya, tapi belum sebulan dia mengerjakan tugasnya pak. Lagi pula target kita kan sebentar lagi selesai pak. Dan di bagian keuangan dia sangat di butuhkan sekali, karena kerjanya rapi dan sangat teliti. Jadi agak berat harus di pindahkan jadi sekretaris." kata pak Andi keberatan.


Dia sudah merasa cocok dengan Aina, jika harus di pindahkan jadi sekretaris. Maka akan susah lagi memperbaikinya dan membutuhkan banyak waktu lagi. Kenapa tidak menghubungi bagian HRD aja,pak. Minta di carikan pengganti Maya." kata pak Andi mengusulkan.


"Saya butuh cepat pak Andi. Ya sudah begini saja, dalam seminggu ini dia tetap bekerja di bagian keuangan untuk menyelesaikan tugasnya, setelah selesai dia akan jadi sekretaris tetap saya. Tapi mulai besok dia sudah jadi sekretaris saya, karena lusa saya harus meeting dengan klien penting banget." jelas Wisnu pada anak buahnya itu.


"Jadi, tugas Aina rangkap pak?" tanya pak Andi.


"Lo yang bener aja, sih! Kasihan dia kalo kerja dobel-dobel begitu. Ngga ada yang lain apa?" protes Riyan.


"Iya pak, kasihan Aina." pak Andi menimpali.


Semua nampak berpikir, mencari jalan keluarnya. Wisnu tampak malas untuk berpikir lama, lalu dia mengatakan pada pak Iwan.


"Ya sudah, orangnya suruh menghadap kesini saja. Biar dia yang memutuskan sendiri." kata Riyan tiba-tiba.


"Boleh juga, tapi kalo saya lihat dia oke tetap saya mau pake dia buat seketaris saya." kata Wisnu.


Pak Andi dan Riyan hanya menatap pasrah. Ini artinya sama saja dengan pemaksaan. Karena secara nyata,kinerja Aina cukup bagus.


"Pak Andi, cepat suruh kesini orangnya. Jangan buang waktu lagi." titah Wisnu.


"Baik pak, saya akan suruh dia ke sini. Saya pamit dulu pak." kata Andi, lalu dia pun pergi dari ruangan bosnya.

__ADS_1


Riyan hanya menatap bos sekaligus sahabatnya itu dengan ekspresi dingin.


"Kenapa Lo, lihat gue seperti itu?" tanya Wisnu santai.


"Terserah apa kata bos, bos kan yang berkuasa di sini." ujar Riyan sinis.


"Eh, kenapa jadi lo yang sewot sih? Gue butuh tenaga tambahan buat kerjaan gue, hak gue dong mau menunjuk siapa aja yang jadi sekretaris gue nanti. Lagi pula, lo juga yang rekomendasi dia ke gue." kata Wisnu tak mau di salahkan.


"Tapi ide Lo konyol, dia belum juga sebulan kerja di sini, sudah mau di kasih beban berat kayak gitu. Kalo buat meeting dengan klien, di temenin sama gue juga bisa bertemu klien Lo itu. Apa sih yang sulit buat presentase doang. Tunggulah seminggu lagi dia menyelesaikan tugasnya, baru Lo angkat dia jadi sekretaris Lo." kata Riyan kesal.


"Kita lihat aja nanti, dia mau apa ngga. Dan Lo, sana masuk ke ruangan Lo lagi. Gue udah selesai ya sama Lo. Gue ngga mau kalo nanti dia ke sini ada Lo, malah ngasih masukan yang salah." kata Wisnu tanpa merasa salah.


Sedetik kemudian, sebuah pensil di meja sofa yang tergeletak akhirnya melayang cepat ke arah Wisnu. Wisnu yang tidak siap dengan lemparan mendadak itu, menjadi kaget dan tak bisa menghindar. Pensil itu mendarat mulus di pipi Wisnu.


"Lo kurang ajar banget ya sama bos." katanya sambil mengelus-elus pipinya yang terasa sakit itu.


Riyan hanya menggidikkan pundaknya.


Tak lama, pintu di ketuk dari luar. Riyan dan Wisnu melihat ke arah pintu bersamaan.


"Masuk." kata Wisnu.


Lalu pintu di buka dari luar dan terlihat seorang perempuan,dia berhenti di pintu, dia tidak langsung masuk. Baik Wisnu maupun Riyan melihat perempuan yang berdiri mematung di depan pintu. Mereka terdiam karena terhipnotis dengan rasa penasaran mereka.


"Apa, saya boleh masuk pak?" tanya perempuan itu yang tak lain adalah Aina.


"Oh, ya masuk aja Aina. Kamu di tunggu oleh pak bos." jawab Riyan,dia menghampiri Aina kemudian menjabat tangannya.


"Ya sudah, kalau ngga mau salaman sama saya." kata Riyan.


"Maaf, pak Riyan bukan ngga mau, saya hanya kaget saja." Aina beralasan.


"Ehem, kalian jangan mengobrol sendiri, di sini saya yang memanggil kamu, bukan dia." kata Wisnu sinis.


Tatapan tidak suka pada asisten pribadinya itu dia layangkan dengan jengah. Riyan menanggapi ucapan Wisnu dengan santai saja.


"Oh, ya pak maaf." lalu Aina duduk.


"Kamu karyawan bagian keuangan yang di rekrut dari cabang mana?" tanya Wisnu basa basi.


"Cirebon, pak." jawab Aina singkat.


"Tugas kamu di keuangan berat tidak?"


"Ya, lumayan pak. Tapi saya bisa mengatasi sama rekan lainnya."


"Jika tugas kamu saya tambahkan jadi dua, bagaimana?" tanya Wisnu.


"Maksud bapak bagaimana?" tanya Aina tidak mengerti.


"Maksud saya, tugas kamu rangkap dua sementara. Nanti kalau di bagian keuangan sudah selesai, tugas kamu jadi satu lagi." jelas Wisnu.

__ADS_1


"Maaf pak, rangkap maksudnya apa ya?saya masih kurang paham, maaf."kata Aina bingung.


Wisnu melirik Riyan sebentar, kemudian dia jelaskan lagi. Aina siap mendengarkan apa yang di jelaskan Wisnu.


"Begini, saya tahu tugas kamu di keuangan sangat berat dan sedang deadline kan? tapi saya lagi butuh sekretaris, karena sekretaris saya yang dulu risign jadi saya pengen kamu jadi sekretaris saya." kata Wisnu.


"Tapi tugas saya di keuangan, bagaimana?Soalnya saya yang megang level satu, karena level itu inti dari yang lainnya. Semua laporan saya yang handle. Ya, maksudnya saya punya tim pak."


"Ya, maka dari itu saya minta kamu. Biar tim yang lain saja yang handle kerjaan kamu, soalnya lusa saya harus meeting dengan klien penting. Dan saya harus bawa sekretaris."


"Tapi, maaf pak. Di tim hanya saya yang bisa menghandlenya. Karena yang lainnya belum cukup paham. Maaf kalau saya sedikit sombong, tapi kenyataannya seperti itu. Mereka mengandalkan saya untuk kejar target itu." kata Aina.


"Oke, kamu tidak perlu keluar dulu dari keuangan, dua hari ini saya pinjam kamu tapi kamu tetap mengerjakan tugas di keuangan. Dan juga jadi sekretaris saya mulai besok." kata Wisnu dengan penekanan.


Dia tidak mau bertele-tele lagi, sedangkan Aina tampak berpikir. Dia menoleh ke arah Riyan. Yang di lirikpun cuma mengangkat bahu,dia juga bingung.


"Bisa saya pikirkan lagi, pak. Karena saya juga takut jika mengerjakan rangkap begitu nanti jadi tidak fokus." kata Aina.


"Tidak ada penawaran lagi Aina, besok kamu sudah ada di meja sekretaris depan sana. Saya sudah ngomong sama pak Andi kalau kamu saya rekrut jadi sekretaris saya. Nah, sebagai tugas pertama. Kamu bawa dan pelajari proposal di map ini dan besok kamu harus sudah mengatur jadwal untuk yang lainnya. Oya, untuk besok kamu ketik ulang proposalnya. Dan perbaiki yang salah. Oke, cukup ya Aina." kata Wisnu tanpa mau mendengarkan alasan Aina lagi.


"Tapi pak ..." kata Aina menggantung.


"Saya tidak mau ada penolakan. Kalau begitu, silakan kembali ke ruangan kamu." kata Wisnu tegas.


Aina hanya diam, dia tidak tahu harus bagaimana selain hanya mengangguk. Lalu dia pamit keluar, di ikuti Riyan yang sejak tadi sudah kesal dengan sikap sahabatnya itu. Riyan mengikuti Aina dan memanggilnya.


"Aina!" panggilnya.


Aina menoleh dan berhenti. Riyan menghampiri Aina dan mengatur nafasnya.


"Ya, pak Riyan?"


"Kamu ngga apa-apa dengan tugas rangkap begitu?" tanya Riyan.


"Ya, mau bagaimana lagi. Pak CEO sudah tegas begitu, ngga bisa di bantah lagi. Saya bingung pak." keluh Aina.


"Ya sudah, turuti saja dulu. Nanti saya akan berbicara dengan bos sableng itu. Sebenarnya saya juga bisa, tapi dia ngga mau." kata Riyan.


"Tadi pak Andi cuma bilang, saya di panggil pak Wisnu. Ngga bilang mau di pindahkan jadi sekretaris."


"Pak Andi juga tadi keberatan, karena katanya lagi sibuk-sibuknya kan."


"Iya pak, dan pak Andi sih pengennya sebelum waktu yang di tentukan habis, harus sudah selesai semua." keluh Aina lagi.


Mereka akhirnya berpisah, Aina menuju lift dan Riyan kembali keruangannya. Kebingunan yang Aina rasakan membuat dia jadi berpikir keras, bagaimana jika keduanya harus di kerjakan dengan baik.


_


_


*****************

__ADS_1


__ADS_2